Selamat

Rabu, 22 September 2021

14 September 2021|21:00 WIB

Childfree; Antara Intervensi Sosial Dan Otonomi Keluarga

Childfree boleh saja, asal ada pertimbangannya

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Arief Tirtana,

Editor: Rendi Widodo

ImageIlustrasi kelahiran bayi. Sumber foto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Setelah lebih dari sebulan menikah, Nadira tak punya sedikitpun keinginan untuk hamil dan memiliki anak. Bukan lantaran dirinya memilih untuk menunda kehamilan di usia rumah tangga yang baru seumur jagung. Lebih dari itu, sebelum menikah, Nadira sudah mantap menjalin komitmen bersama pasangannya untuk kelak tidak memiliki anak atau yang populer dalam istilah childfree.

Komitmen yang dipilih Nadira bersama sang suami bisa dibilang merupakan hal yang masih sangat tabu dalam kehidupan berkeluarga di Indonesia. 

Ini setidaknya terbukti dari polemik yang muncul ketika beberapa waktu lalu ada seorang influencer di media sosial yang mempublikasikan keputusannya untuk tak memiliki anak setelah menikah. Komentar miring hingga hujatan datang silih berganti. Meski ada juga yang dengan bijak memberikan dukungan.

Sadar akan hal tersebut. Nadira pun lebih memilih untuk diam dengan keputusannya. Alih-alih menceritakannya ke orang lain. Teman dan keluarga terdekat pun tak semuanya diberitahu oleh wanita 27 tahun tersebut.

"Karena tidak semua orang punya pikiran yang open minded. Kalau ditanya kapan punya momongan, saya jawab 'doaian saja ya'," kata Nadira kepada Validnews (10/9).

Setali tiga uang, hal yang sama juga dialami oleh Rafie. Meski sudah menjalani bahtera rumah tangga dengan komitmen childfree selama 10 tahun. Dirinya masih enggan untuk buka-bukaan mengenai keputusannya kepada semua orang. Termasuk ke orang tuanya sendiri.

Namun, Rafie menampik adanya ketakutan akan pandangan atau stigma negatif yang mungkin didapatnya. Keputusannya lebih kepada upaya untuk tetap bijak, dan juga mempertimbangkan faktor pekerjaannya saat ini di instansi pemerintah yang tak memungkinkannya untuk seterbuka itu mengenai pilihan childfree.

"Karena lingkungan pekerjaan tak memungkinkan kami speak up. Lain cerita kalau misalkan karena satu hal saya pindah kerjaan ke swasta atau wirausaha, yang tidak ada tuntutan. Saya akan blak-blakan saja," tutur Rafie.

Ketidakterbukaan para pemilih kehidupan childfree bisa dimaklumi. Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida mengakui bahwa dalam konteks masyarakat Indonesia yang lebih komunal dan kolektif, orientasi atau pilihan hidup childfree, masih tak akan mudah untuk bisa diterima secara sosial. 

Terlebih oleh keluarga atau kerabat, di mana menikah dan punya anak masih menjadi harapan, bahkan sebuah tuntutan. Saat anak dipandang sebagai pelanjut keturunan, marga dan sebagainya. 

“Sebab itu saya sampaikan childfree itu menghadapi tantangan sosial, kultural, dan agama,” kata Ida kepada Validnews (10/9).

Niat baik childfree
Dosen sekaligus Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Yusar Muljadji, berpendapat bahwa kemunculan fenomena childfree tidak lepas dari adanya kesadaran nilai-nilai baru yang sama sekali bertolak belakang dengan nilai mainstream yang ada di Indonesia.

Menurut Yusar, ada tiga faktor besar yang menyebabkan fenomena childfree tersebut. Mulai dari pendekatan demografis, yaitu untuk tidak menambah populasi manusia yang dipandang akan semakin membebani bumi. Pendekatan ekonomis, karena memiliki anak dinilai membutuhkan biaya tak sedikit dan berakibat pada beban ekonomi rumah tangga.

Selain itu, ada juga yang berpendekatan politis. Yakni adanya pandangan otonomnya individu/pasangan untuk menentukan arah hidupnya.

Semua pandangan itu pada hakikatnya bertolak belakang dengan pandangan umum. Apalagi dengan budaya komunal Indonesia yang memahami, bahwa pasangan menikah bukan hanya menyatukan dua individu tetapi juga dua keluarga besar. Pernikahan sebagai upaya melangsungkan keturunan sekaligus memandang bahwa anak merupakan titipan Tuhan yang sudah ada rezekinya.

Diakui oleh Nadira, bahwa faktor-faktor ekonomis, demografis dan politis itu juga yang akhirnya mendorong komitmennya bersama suami untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Terlebih dengan latar belakangnya sebagai pribadi yang kurang menggemari anak kecil. Ada rasa khawatir dari Nadira, tak mampu untuk menjadi orang tua yang baik jika sampai kelak memiliki anak.

“Memang benar anak itu rezeki. Tapi tanggung jawabnya besar. Kalau kita tidak bisa mendidik, kalau kita tidak bisa luangkan waktu, kasian anaknya,” tukas Nadira.

Rafie bersama sang istri pun demikian. Dirinya merasa bukanlah pasangan yang kelak akan menjadi tipe orang tua yang baik buat sang anak. Dirinya pun tidak mau untuk mengambil risiko punya anak saja dulu, dan berharap munculnya insting sebagai orang tua kemudian.

“Ya kalau muncul? Kalau enggak, ya kita mengorbankan satu nyawa lagi. Ibaratnya lahirkan anak yang dia punya luka batin karena orang tuanya tidak merawat dengan baik. Kasihan anaknya sih. (Jadi) lebih baik enggak (punya anak) sekalian,” tuturnya.

Meski begitu, Rafie menampik anggapan bahwa semua orang yang memutuskan childfree adalah mereka yang tidak menyukai anak kecil. Sebab dirinya masih sangat suka dengan anak kecil, dan kerap menghabiskan waktu dengan beberapa keponakannya.

Begitu juga soal finansial dan intelektual. Rafie sama sekali tak memiliki masalah. Ekonomi mereka sudah sangat cukup dan secara intelektual mereka juga sudah sangat memahami hal-hal terkait parenting, sebelum memutuskan untuk childfree.

Kesiapan memiliki anak
Apa yang melatarbelakangi keputusan Nadira dan Rafie dengan pasangannya masing-masing, bisa dikatakan merupakan hal yang sangat krusial dalam hubungan berumah tangga.

Psikolog Anak dan Keluarga, Mira Amir, menyatakan bahwa di luar konteks childfree sekalipun. Kesiapan sebuah pasangan sebelum memutuskan untuk memiliki anak menjadi hal yang sangat wajib untuk diperhatikan.

Jangan sampai keputusan untuk memiliki anak diambil pasangan suami-istri secara emosional. Akibat adanya desakan dari keluarga ataupun mengikuti apa yang menjadi omongan orang di masyarakat.

Jika itu dilakukan, bukan tak mungkin ketika memiliki anak nantinya, pasangan suami-istri akan jadi kewalahan. Banyak melakukan kesalahan dalam pengasuhan. Bahkan mungkin menghadirkan rasa penyesalan.

“Jadi childfree atau enggak, dibutuhkan orang tua yang siap dan matang untuk miliki anak. Bukan (memiliki anak) karena faktor emosional atau ada desakan secara norma dan sosial,” tegas Mira.

Mira juga menilai childfree bisa menjadi pilihan yang tepat. Terutama buat pasangan muda yang baru menikah. Untuk saling mengenal lebih jauh, tanpa kehadiran anak. Sebab kondisi hubungan saat sudah menikah, umumnya akan jauh berbeda saat ketika mereka masih pacaran. 

Dari situ, mereka bisa mendekatkan diri sebagai suami istri. Sambil perlahan menyesuaikan, menyiapkan diri, atau mungkin memantapkan keputusan untuk childfree selama-lamanya.

Perihal kesiapan pasang suami-istri sebelum akhirnya memiliki anak. Selama ini juga menjadi fokus utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) lewat program Keluarga Berencana (KB).

Banyak yang salah kaprah bahwa Program KB hanya sebatas pada membatasi jumlah kelahiran atau jumlah anak. Padahal lebih dari itu, Program KB juga menyangkut upaya sebuah pasangan dalam membentuk sebuah keluarga yang terencana. Jadi anak yang dilahirkan berkualitas, dan orang tua pun siap memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka. 

Menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, kesiapan untuk memiliki anak masih menjadi masalah besar di Indonesia. Salah satunya berkaitan juga dengan masih tingginya angka pernikahan di usia dini, khususnya di kalangan anak perempuan.

Sekitar 3,22% perempuan, sudah menikah sebelum usia 15 tahun. Bahkan angkanya meningkat signifikan, dalam persentase 27%, anak perempuan yang sudah menikah sebelum usia 18 tahun. 

“Karena semua (pernikahan usia dini) akan menghasilkan masalah berikutnya. (Seperti) membuat putus sekolah, akan membuat stunting, akan membuat pertumbuhan perempuan yang kawin menjadi masalah,” jelas Hasto, kepada Validnews (9/9).

Bukan Solusi
Dalam beberapa hal, childfree terlihat sejalan dengan program yang dilakukan BKKBN. Seperti mencegah kehamilan anak di usia dini, hingga mengurangi populasi dan angka statistik fertility rate (rata-rata angka melahirkan seorang wanita seumur hidupnya).

Akan tetapi, Hasto hingga kini enggan untuk menganggap childfree sebagai salah satu solusi untuk mengurangi masalah sosial anak yang masih cukup besar di Indonesia dan menyandingkannya dengan program-program pertumbuhan penduduk yang seimbang di BKKBN.

Di luar faktor budaya dan agama, salah satu faktornya adalah karena childfree berpotensi meningkatkan risiko penyakit bagi perempuan. Seperti risiko munculnya tumor pada rahim (miom), dan juga tumor payudara akibat tidak mengalami proses menyusui pasca melahirkan.

“Tumor pada rahim meningkat risikonya pada orang (perempuan) yang tidak punya anak atau anaknya hanya satu. Kemudian orang yang tidak pernah menyusui juga relatif punya resiko lebih besar terkena tumor payudara. Jadi hamil dan menyusui itu bagian dari siklus hidup yang baik, yang menyehatkan tubuh,” terang Hasto.

Meski demikian, Hasto juga tak menganggap childfree sebagai sebuah ancaman. Sebab sejauh ini, fenomena childfree sama sekali belum memengaruhi angka fertility rate yang masih dalam rata-rata 2,45. Atau artinya rata-rata perempuan di Indonesia itu melahirkan 2,45 kali seumur hidupnya.

Ia pun sepenuhnya membebaskan jika suami istri telah memilih childfree sebagai jalan hidup keluarga mereka, seraya menghormati hak-hak reproduksi yang dimiliki oleh setiap pasangan ketika menikah.

Bahkan Hasto mendukung penuh jika memang childfree harus dilakukan karena alasan biologis. Seperti sakit jantung, diabetes, atau hipertiroid, yang akan bahaya jika sang istri menjalani proses kehamilan. Dalam kondisi tersebut menjadi sebuah sikap yang mulia, menurut Hasto, jika sang suami mau dengan ikhlas untuk menjalankan childfree.


Dalam sudut pandang yang lain, Sosiolog Unpad Yusar Muljadji juga menilai childfree belum bisa menjadi solusi berbagai masalah sosial anak yang ada di Indonesia. Sebab menurutnya tak akan mudah untuk mengubah paradigma masyarakat. Yang sudah sangat mengakar berkait dengan tradisi dan dogma, bahwa salah satu tujuan pernikahan itu adalah untuk memiliki anak atau keturunan.

“Namun, sebagai alternatif pemikiran fenomena ini bisa mengarahkan pada hal yang lebih penting, yakni pembukaan pemahaman mengenai perencanaan keluarga,” kata Yusar. 

Sebagai pasangan yang sudah menjalaninya sekitar 10 tahun, Rafie juga tak mau menyebut bahwa childfree bisa dianggap sebagai penyeimbang berbagai masalah sosial anak yang ada di Indonesia. Baginya childfree hanyalah sebuah pilihan pribadi masing-masing orang. Ada atau tidak ada childfree, alam akan menemukan caranya sendiri untuk menyeimbangkan itu.

“Itu hanya pilihan, kita memilih di jalur childfree dengan segala konsekuensinya, ya sudah. Hormati juga mereka yang memutuskan untuk punya anak,” tegasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA