Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

20 Oktober 2022

21:00 WIB

Survei Visi: Menikah Masih Jadi Pilihan, Meski Perlu Direncanakan

Ingin segera menyempurnakan ibadah jadi alasan terbanyak responden yang mendamba untuk menikah.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Faisal Rachman

Survei Visi: Menikah Masih Jadi Pilihan, Meski Perlu Direncanakan
Ilustrasi kehidupan berumah tangga dengan keturunan. dok.Shutterstock

Menikah dan membangun keluarga adalah keputusan personal setiap manusia. Memilih menikah atau tidak, tak selayaknya dipaksakan. 

Ya, walaupun menikah sudah menjadi suatu norma sosial, tidak semua orang ingin menikah. Lalu, sekalipun ia ingin menikah, belum tentu pula menginginkan kehadiran seorang anak. Betul, ini adalag preferensi personal yang tak bisa diganggu gugat. 

Kini, di era digital, ketika teknologi dan informasi datang begitu deras, anak muda pun kian memiliki wawasan dan pandangan yang lebih luas. Melakoni pekerjaan pun kini tak seperti dulu. Banyak ragam pekerjaan yang bisa dieksplorasi sesuai dengan passion. Sejumlah pekerjaan, bahkan profesi, kini bisa dijalankan berbarengan. 

Nah, kesempatan yang lebih besar untuk mengeksplor diri di masa sekarang ini, nyatanya cukup berimbas terhadap preferensi seseorang untuk menikah. Banyak anak muda yang memilih untuk memuaskan diri dalam menjalani karir dan kesempatan, ketimbang buru-buru menikah dan membangun keluarga. 

Pada 22 September – 7 Oktober 2022, Lembaga Riset Visi Teliti Saksama pun mengadakan survei daring untuk mengetahui minat dan pandangan masyarakat berusia minimal 17 tahun, terhadap konsep berumah tangga. Survei diikuti oleh 300 responden yang diperoleh secara acak. 

Lebih dari 50% responden survei ini adalah laki-laki, berdomisili di Jabodetabek, dan berpengeluaran Rp1-5 juta per bulan. Kelompok usia yang dominan adalah 26-30 tahun (27,3%) dan 21-25 tahun (24,7%). Pendidikan terakhir didominasi oleh tamat D3/S1 (49,7%) dan tamat SMA/Sederajat (40,7%). Karyawan swasta adalah pekerjaan terbanyak responden (42%), diikuti oleh pelajar/mahasiswa (13%). 

Menikah Tanpa Anak
Dari 300 responden survei, ada 49,7% yang belum/tidak menikah, diikuti oleh 46,3% yang sudah menikah. Sisanya sudah menikah atau pernah menikah. 

Bagi yang sudah menikah, kebanyakan beralasan menikah karena keinginan pribadi. Alasan ini mengalahkan alasan tuntutan keluarga/lingkungan, ingin memenuhi standar sosial, ataupun ingin mencegah penyakit. Di antara yang sudah menikah tersebut, mayoritas sudah memiliki anak. Persentasenya 80,6% dari 139 orang yang sudah menikah. 

Alasan terbesar memiliki anak adalah karena memang keinginan pribadi bersama pasangan. Bahkan, hanya 3,6% dari 112 orang yang menikah dan memiliki anak karena kehamilan di luar rencana. Namun, dengan mayoritas telah memiliki dua anak, lebih dari 50% para rsponden, menyatakan tidak berencana menambah anak lagi. Tapi, hampir 100% dari mereka menikmati peran sebagai orang tua. 

Sedangkan, bagi 27 orang yang berstatus menikah tanpa anak, lebih dari 80% sejatinya mendambakan kehadiran anak. Bagaimana dengan sisanya? Mereka tidak menginginkan anak, lebih karena alasan finansial, misalnya biaya sekolah anak yang terbilang mahal. 

Bagi 149 orang yang belum menikah, lebih dari 90% mengaku ingin menikah suatu hari nanti, yakni 136 responden. Kebanyakan, alasannya karena ingin segera menyempurnakan ibadah. Usia 26-28 tahun adalah rentang usia yang paling banyak menjadi target mendapatkan pendamping hidup. Rentang usia favorit selanjutnya adalah 29-31 tahun. 

Urusan finansial, memang menjadi faktor yang paling banyak dipertimbangkan mereka sebelum menikah, disusul kesiapan mental. Tak hanya ingin menikah, lebih dari 90% responden ini juga mendamba memiliki keturunan. Sisanya, tidak tertarik memiliki anak meski memilih ingin menikah, di mana faktor finansial menjadi alasan terbanyak keputusan ini.



Dalam survei ini, memang hanya 13 responden yang mengaku tidak ingin menikah. Tapi, menarik untuk mengetahui alasan mereka. Ternyata, faktor kesiapan mental berumah tangga menjadi alasan mayoritas mereka memilih tak menikah. Disusul dengan faktor keluarga (misalnya masih mengurus orang tua) dan faktor karier (misalnya beranggapan pekerjaan akan lebih mudah dilakukan jika tidak menikah). 

Dari kelompok yang tidak mau menikah ini, ada 30,8% alias 4 orang yang mengaku saat ini memiliki pacar. Tapi, baru 2 orang di antara mereka yang sudah sepakat dengan pacarnya untuk tidak menikah. Mengapa? Bebas/tidak terikat sekaligus takut dengan perubahan, menjadi alasan mereka. 

Kelompok terakhir adalah mereka yang pernah menikah, denga 12 responden. Dengan mayoritas telah memiliki anak, lebih dari 50% masih punya keinginan untuk menikah kembali. Selain karena kemauan pribadi tanpa paksaan, ingin segera menyempurnakan ibadah, turut jadi alasan terbanyak. 

Kemudian, ada 2 orang yang memutuskan untuk tidak menikah lagi. Keduanya memilih faktor kesiapan mental (Misalnya tidak siap menghadapi persoalan rumah tangga), sebagai alasan keputusan tersebut. Sementara, terdapat 3 orang yang masih belum tahu, akan menikah lagi atau tidak. 

Membatasi Jumlah Anak 
Pada segmen terakhir, seluruh 300 responden ditanyakan mengenai sikap mereka terhadap sejumlah pernyataan. Mereka dapat menjawab “Sangat Tidak Setuju”, “Tidak Setuju”, “Setuju”, hingga “Sangat Setuju”. 

Hasilnya, mayoritas responden Sangat Setuju, jika setiap orang sebaiknya memiliki pasangan, entah sudah menikah maupun akan menikah. Mayoritas juga sepakat, setiap orang sebaiknya tidak menunda untuk menikah, dan setiap orang sebaiknya memasang target usia menikah. Meski demikian, persentase sikap Sangat Setuju pada masing-masing pernyataan tersebut, hanya berkisar di 30%-an saja. 

Sedangkan, hampir 60% bersikap Sangat Setuju dengan pendapat, pernikahan tidak menghambat pengembangan diri dalam karier dan keahlian lainnya. 

Meski dominan responden Sangat Setuju bahwa pasangan suami istri sebaiknya memiliki anak (40%) dan tidak menunda kehadiran anak (42,3%), mayoritas mereka Sangat Tidak Setuju, jika suami istri tidak membatasi jumlah anak (34%). Dengan kata lain, tidak menunda kehadiran anak, bukan berarti tidak memiliki perencanaan mengenai jumlah anak. 

Terakhir, lebih dari 50% Sangat Setuju dengan pendapat, lebih baik menikah daripada menerapkan konsep co-living, yakni tinggal di sebuah hunian bersama orang-orang lainnya sebagai satu komunitas. 

Apapun itu, menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak punya anak, tentu bukan hal yang perlu dicari-cari salah dan benarnya. Setiap orang punya beragam cara untuk menjalani hidupnya dan mencari kebahagian di dalamnya.

Terpenting, keputusan apapun yang dipilih, seyogyanya dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pun, ketika pilihan hidup orang lain berbeda dengan pilihan hidup kita, tidak perlu saling usik. Ya, tak usah berisik, cukup kita hormati dan hargai saja. Toh, perbedaan inilah yang justru bikin hidup lebih menarik. 

 

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini