Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

25 November 2022

16:00 WIB

Jalan Panjang Industri Farmasi Indonesia

Gara-gara pandemi, industri farmasi dunia malah melonjak alih-alih lunglai. Bagaimana kondisinya di Indonesia?

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Jalan Panjang Industri Farmasi Indonesia
Seseorang hendak meminum obat. Shutterstock/Ffotosudamerica

Semenjak terjadinya pandemi, banyak kalangan kian memperhatikan industri kesehatan. Meski menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia, sektor kesehatan seringkali terabaikan. 

Kita, manusia, juga kerap mengabaikan segala aturan dalam menjaga kesehatan. Hingga pada akhirnya, kita merasakan sakit. 

Jika sudah merasakan sakit, penggunaan berbagai obat menjadi harapan agar dapat kembali sehat. Produk-produk industri farmasi kemudian menjadi solusi cepat atas beragam masalah kesehatan. 

Industri Farmasi
Mencermati perkembangan industri farmasi global, harus dipahami terlebih dahulu bahwa industri ini tergolong sebagai industri yang padat pengetahuan atau knowledge-based industry (Sampurno, 2007). Dengan tipikal tersebut, aspek penelitan dan pengembangan (research & development) menjadi hal yang penting dalam pengembangan industri farmasi di dunia, termasuk di Indonesia.

Keberadaan industri farmasi di Indonesia sebenarnya telah lama ada. Dalam sejarahnya, pabrik farmasi atau yang biasa disebut dengan pabrik obat, telah ada semenjak tahun 1817. 

Ketika itu, berdiri NV. Pharmaceutische & Co. Selanjutnya, pada 1865 berdiri NV. Pharmaceutische Handel Vereneging J. Van Gorkom & Co, hingga pendirian pabrik kina di Bandung pada 1896 (Kementerian Perindustrian, 2021).

Seiring dengan mulai tumbuhnya pabrik obat di Hindia Belanda, keberadaan apotek sebagai sarana penjualan obat juga mulai berkembang meski dalam jumlah terbatas. Pada 1937, tercatat ada 76 apotek yang tersebar di Pulau Jawa dan sebagian kecil di kota-kota besar di Sumatra. Apotek ketika itu juga berfungsi untuk memproduksi obat secara terbatas. 

Pasca kemerdekaan, tepatnya pada 1955 terdapat tujuh unit pabrik obat dan 131 apotek di Indonesia. Jumlah tersebut bertambah pada 1958, dengan adanya18 unit pabrik farmasi dan 146 apotek (Sampurno, 2007).   

Seiring berjalannya waktu, keberadaan industri farmasi di Indonesia terus berkembang. Dikeluarkannya UU tentang penanaman modal asing pada 1967 dan PMDN pada 1968, juga turut mendorong tumbuhnya industri farmasi di Indonesia. 

Namun demikian, meski dikalim sebagai salah satu sektor industri yang mengalami perkembangan cukup pesat, sejatinya industri farmasi di Indonesia masih harus menghadapi besarnya impor bahan baku. 

Baca: Mencari Resep Jitu Bikin Industri Farmasi Maju 

Adanya sistem penjatahan dalam impor bahan baku obat, menjadi “penyaring” dalam persaingan industri farmasi di Indonesia. Akibatnya, hanya perusahaan yang memiliki hubungan dengan pihak luar saja yang dapat bertahan.

Tahun 1969, terdapat 149 pabrik farmasi yang 142 di antaranya merupakan perusahaan swasta nasional. Jumlah ini terus bertambah hingga 1983, yakni mencapai 286 pabrik farmasi. 

Dengan jumlah tersebut, hampir 90% kebutuhan obat domestik ketika itu sudah dapat dipenuhi oleh industri farmasi di dalam negeri. Walau dengan catatan, bahan bakunya masih banyak yang harus diimpor (Sampurno, 2007).   

Salah satu hal yang mungkin tidak banyak diketahui adalah dampak atas penerapan kebijakan mengenai jaminan kesehatan nasional atau BPJS Kesehatan. Penerapan asuransi kesehatan bagi setiap warga negara Indonesia, memang memberikan harapan yang sangat besar bagi semua kalangan untuk memperoleh akses layanan kesehatan. Terlebih, bagi kalangan masyarakat yang tergolong miskin.

Seiring dengan penerapan tersebut, pada sisi lain pemerintah juga menerapkan pengawasan yang ketat terhadap harga obat yang beredar di masyarakat. Hal ini ternyata seringkali dianggap menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan industri farmasi. Khususnya, jika dilihat dari sisi bisnis. 

Ini disebabkan semakin meluasnya penggunaan obat-obatan yang termasuk ke dalam jaminan kesehatan. Akibatnya, orang-orang yang membeli obat menjadii cenderung stagnan (Kementerian Perindustrian, 2021).

Adanya “pertentangan” kepentingan ini pada dasarnya merupakan tantangan industri yang terkait dengan kebutuhan dasar. Seperti sektor pangan atau perumahan yang juga merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, keberadaan dan pengembangan industri farmasi khususnya di  Indonesia memang pada akhirnya memerlukan mendapat perhatian dan pengawasan khusus. Mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Dengan demikian, kedua kepentingan tersebut dapat berjalan secara seimbang.

Berdasarkan data BPOM, setidaknya hingga 2022, terdapat 378 perusahaan farmasi yang memiliki sertifikat cara pembuatan obat yang baik (CPOB).  Sertifikasi ini diperlukan sebagai bentuk pengawasan dari pemerintah atas produk-produk farmasi yang dihasilkan dan diedarkan di Indonesia. 

BPOM dalam pelaksanaan inspeksi atau pengawasan, melakukannya secara berkala. Tahun 2021 terdapat 129 perusahaan yang telah diinspeksi. Selain itu, antara tahun 2013-2017 hasil pengawasan yang dilakukan oleh BPOM tersebut juga telah mencabut 11 izin produsen farmasi.

Persoalan pencabutan izin ini belakangan kian mengemuka lantaran adanya pabrik obat yang ditengarai berlaku curang, memproduksi obat batuk dengan unsur yang membuat anak yang meminumnya mengalami gangguan ginjal.

Pertumbuhan sektor industri farmasi sendiri, dalam beberapa tahun memang cukup fluktuatif. Sebelum diumumkannya pandemi pada 2019, laju pertumbuhan industri farmasi menunjukkan tren penurunan. Hingga akhirnya, pada 2018 pertumbuhannya mengalami minus. 

Namun, semenjak 2019, industri ini tumbuh melonjak lebih dari satu setengah kali laju pertumbuhan Indonesia. Bahkan, ketika pertumbuhan ekonomi mengalami minus 2% pada 2020, laju pertumbuhan sektor ini mencapai 9,4%.

 


Namun dalam perkembangannnya data ini secara umum menunjukkan bahwa sektor ini memang sempat mengalami “euforia” ketika terjadi pandemi. Seiring dengan melandainya kasus covid, pertumbuhannya kian menurun. Hingga pada triwulan III 2022 pertumbuhan industri farmasi justru mengalami minus. Dimana hal ini justru bertolak belakang dengan pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan arah perbaikan. 

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa harapan untuk menghasilkan produk-produk farmasi Indonesia yang mampu bersaing di pasar global jelas masih sangat jauh. 

Perdagangan Farmasi Global
Mencermati produk-produk farmasi (HS 30) dalam perdagangan global,  berdasarkan data UN Comtrade, Amerika Serikat tercatat sebagai negara importir terbesar di tahun 2021. Nilai impor AS mencapai US$149,5 miliar. Sedangkan Jerman merupakan negara dengan nilai ekspor terbesar produk-produk tersebut ke dunia. Nilai eskpornya mencapai US$119,24 miliar. 

Sementara Indonesia dalam neraca perdagangan produk-produk farmasi mesih mengalami defisit. Nilai  impor Indonesia di tahun 2021 mencapai US$ 4,36 miliar, Sedangkan ekspornya hanya sebesar US$US$556,2 juta. Bila dilihat perkembangan kinerja ekspornya, maka dalam beberapa tahun terakhir produk-produk  untuk hormonal alamiah yang bukan tergolong antibiotik (HS 300339) dan obat-obatan yang mengandung penisilin, streptomisin serta turunannya (HS 300410), adalah unggulan ekspor farmasi dari Indonesia.

 


Keunggulan ekspor produk-produk tersebut juga dapat dilihat dari hasil perhitungan nilai RCA (revealed comparative advantage). Perhitungan RCA mensyaratkan bahwa sebuah komoditas atau produk dianggap memiliki daya saing di pasar dunia apabila nilai yang dihasilkan bernilai 1,0 atau lebih dan sebaliknya tidak memiliki daya saing jika nilainya kurang dari 1,0. 

RCA dapat ialah dengan menghitung pangsa nilai ekspor suatu produk terhadap total ekspor suatu negara dibandingkan dengan pangsa nilai produk tersebut dalam perdagangan dunia.

Berdasarkan hasil nilai perhitungan RCA yang dilakukan oleh Visi Teliti Saksama, nilai RCA atas produk-produk tersebut sepanjang tahun 2017-2021 masih lebih besar dari 1. Bahkan, untuk produk penisilin, nilai RCA secara konsisten lebih besar dari 1 semenjak 2010. 

Dari hasil perhitungan RCA ini pula didapatkan bahwa produk kelompok farmasi lain dari Indonesia yang memiliki daya saing di pasar dunia adalah obat-obatan yang mengandung vitamin (HS 300450). Produk ini terhitung memiliki nilai RCA yang besar semenjak tahun 2017-2020. 

Namun, sayangnya pada 2021, tidak lagi terhitung memiliki daya saing yang baik di pasar dunia. Selain ketiga produk tersebut, tidak ada lagi produk-produk farmasi Indonesia yang memiliki daya saing di pasar global.


 

Sementara itu, dari sisi impor, data UN Comrade mencatat bahwa nilai impor terbesar untuk produk-produk farmasi Indonesia selama 2010-2020 adalah pada kelompok obat-obatan produk campuran atau non campuran yang digunakan terapi pencegahan yang untuk penjualan secara retail (HS 300490). Selama periode 2010-2021, nilai impor produk ini rata-rata tumbuh hampir 10% per tahun.

Namun, pada 2021, sering dengan melonjaknya kebutuhan akan vaksin anti covid, maka impor terbesar di tahun 2021 adalah pada kelompok vaksin untuk kesehatan/ pengobatan manusia (HS 300220). Nilai impor produk ini di tahun 2021 hingga mencapai US$3,18 miliar. Melonjak 2272% dari tahun 2020 yang hanya sebesar US$134 juta. 

Nilai impor Indonesia atas produk vaksin ini terbesar adalah dari China. Nilai impor dari China mencapai lebih dari US$2 miliar atau 63% dari total impor vaksin Indonesia. Volume impor vaksin dari China tercatat mencapai 355,8 ton dari keseluruhan volume impor vaksin yaitu sebesar 921 ton. Negara asal impor vaksin lainnya adalah dari Amerika Serikat  dengan nilai impor mencapai US$368,3 juta, dengan volume sebesar 191 ton.     

Terkait pandemi covid yang melanda dunia semenjak tahun 2019-2021, maka salah satu produk yang penting dilihat adalah perdagangan vaksin untuk pengobatan manusia (HS 300220). Memang semenjak ditemukan dan diedarkannya vaksin untuk menghadapi pandemi, produk ini menjadi barang yang paling dicari oleh seluruh negara di dunia.

Berdasarkan data UN Comtrade nilai ekspor produk ini ke dunia pada tahun 2021 mencapai US$ 105,3 miliar dan nilai impornya sebesar US$113 miliar. Nilai ekspor ini melonjak 240% dibandingkan tahun 2020. Sementara lonjakan nilai impornya mencapai 230% dibandinkan setahun sebelumnya.

Lebih lanjut, data UN Comtrade juga menyebutkan bahwa negara-negara eksportir produk vaksin ini di tahun 2021 adalah Belgia, China, AS dan Jerman. Nilai ekspor Belgia mencapai US$31,6 miliar atau 30% dari keseluruhan nilai ekspor produk ini ke dunia. 

Negara eksportir terbesar kedua adalah China yang nilai ekspor sebesar US$15,7 miliar atau 15% dari nilai ekspor vaksin dunia. Peringkat eksportir ini kemudian diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$14,35 miliar dan Jerman sebesar US$11,7 miliar.

Menilik China sebagai peringkat kedua top eksportir produk vaksin, hampir tidak daoat dipungkiri bahwa hal ini tidak terlepas dari keberadaan vaksin-vaksin anti covid yang diproduksi oleh negara ini. 

Apabila dibandingkan dengan tahun 2020, China hanya menempati peringkat 14 eksportir produk vaksin. Nilai ekspor China hanya sebesar US$281,2 juta. Artinya, terjadi lonjakan yang sangat tinggi hingga 5468%. Fantastis!

Lonjakan nilai ekspor yang fantastis ini sebenarnya tidak hanya dinikmati oleh China. Sejumlah negara produsen farmasi seperti Amerika Serikat, Jerman, serta sejumlah negara Uni Eropa lainnya juga turut menikmatinya. Meski besaran kenaikannya tidak sebesar China. 

Sebagai contoh, Belgia yang tercatat nilai ekspornya tertinggi di tahun 2021, kenaikan nilai ekspor vaksinnya dibandingkan tahun 2020 hanya sebesar 173%, Nilai ekspor vaksin Belgia tercatat mencapai US$31,6 miliar. 

Negara lain yang juga mengalami lonjakan tinggi dalam ekspor produk vaksin ini ada Swiss. Lonjakan nilai ekspornya mencapai 6257% dibandingkan tahun 2020. Namun demikian, besaran nilai ekspornya di tahun 2021 hanya sebesar US$6,4 miliar.



Berangkat dari berbagai gambaran tersebut, maka sulit untuk mengharapkan bahwa Indonesia akan mampu mandiri dalam soal farmasi. Terlebih dalam kelompok obat-obatan kimia. 

Masih terbatasnya industri kimia dasar yang mampu menghasilkan bahan baku sehingga berdampak masih besarnya ketergantungan terhadap impor,  terbatasnya pembiayaan untuk penelitian dan pengembangan (R&D) bidang farmasi, adalah sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Jika ini tak kunjung tertangani, maka akan sulit untuk mengharapkan industri farmasi dalam negeri akan mampu memenuhi kebutuhan warga di Indonesia tanpa harus mengimpor.  

Referensi

Kementerian Perindustrian. (2021). Membangun Kemandirian Industri Farmasi Nasional (Vol. II). Jakarta, DKI, Indonesia: Kementerian Perindustrian RI.

Sampurno. (2007). Kapabilitas Teknologi dan Penguatan R&D: Tantangan Industri Farmasi Indonesia. Majalah Farmasi Indonesia, 18(4).

https://e-sertifikasi.pom.go.id/dataSertifikat

https://www.pom.go.id/new/admin/dat/20220325/Data_Izin_Industri_Farmasi_yang_dicabut_rev1_(1).pdf

 https://comtradeplus.un.org/

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini