Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

20 Januari 2023

18:30 WIB

Delusi Kejayaan Kopi Nusantara

Data ekspor hingga tahun 2021 menyebutkan, hanya kopi didekafeinisasi (HS 090111) yang konsisten punya daya saing. Produk lainnya ternyata belum bisa menyebutkan jayanya kopi Indonesia.

Penulis: Nugroho Pratomo, Novelia,

Editor: Rikando Somba

Delusi Kejayaan Kopi Nusantara
Ilustrasi petani menunjukkan biji kopi saat dipanen di sebuah sentra perkebunan kopi di tanah air. ANTARAFOTO/Rahmad

Minum kopi tengah menjadi tren di berbagai kalangan. Hampir semua orang dari beragam lapisan kelas dan usia menikmati kopi dengan segala macam bentuk penyajiannya. 

Tren ini diibarengi dengan makin menjamurnya berbagai kedai atau yang kini dikenal dengan kafe. Bentuknya pun beragam. Mulai dari yang kelas internasional seperti Starbucks, hingga yang bentuknya sangat sederhana. 

Ada pula yang kelas “pinggir jalan” yang berkeliling menggunakan sepeda atau yang lebih beken disebut "starling" alias "Starbucks keliling" . Tentunya, yang dijual pun berbeda dengan jenis yang dijual di kafe-kafe tersebut. 

Pokoknya, menikmati kopi telah menjadi gaya hidup tersendiri dari berbagai segmen ekonomi

Cerita Kedatangan Kopi
Keberadaan kopi dalam kehidupan manusia sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Tepatnya di Etiopia antara tahun 575—850 M oleh suku Galla (Kementerian Pertanian, 2016). Mereka memanfaatkan kopi sebagai sejenis makanan penambah energi—menyebutnya “energy bar”.

Tradisi berlanjut dengan penyebaran kopi sebagai minuman yang berkhasiat bagi kesehatan dan penahan kantuk. Penyebaran ini dilakukan oleh para pedagang Islam kepada negara-negara di bawah Kekaisaran Ottoman. 

Saat itu, kopi merupakan minuman bagi para imam dan kelompok Sufi di masjid-masjid. Kandungan kafein yang berkhasiat mencegah rasa kantuk membantu mereka terjaga saat melakukan tafsir ayat-ayat Al-Quran (Indarto, 2013). 

Pada abad ke-15, popularitas minuman kopi mulai menyebar ke Eropa. Masyarakat Eropa membelinya dari pedagang Arab. Akhirnya, pada 1650 dibukalah kedai kopi pertama di London.

Dilihat dari taksonomi, tanaman kopi masuk ke dalam genus Coffea yang kini telah berjumlah lebih dari 120 spesies. Meski begitu, hanya ada setidaknya empat jenis kopi yang dikenal masyarakat dunia, yakni kopi Arabika (Coffea arabica), kopi Robusta (Coffea canephora), kopi Liberika (Coffea liberica var. Liberica), dan kopi Excelsa (Coffea liberica var. Dewevrei). 

Begitu pula di Indonesia, hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika yang sudah tak asing. Arabika jadi jenis kopi pertama yang hadir di Indonesia. Adalah kolonial Belanda yang membawanya ke tanah air. 

Kala itu sekitar 1646, seorang pria berkebangsaan Belanda membawa biji kopi arabika mocca dari Arab ke Indonesia (Prastowo, et al., 2010). Kedatangan komoditas ini seperti gerbang sebuah tren. 

Ilustrasi pekerja menyangrai biji kopi Arabika Gayo di Aceh Tengah, Selasa (14/9/2021). ANTARA FOTO / Irwansyah Putra 

Pada akhir abad ke-17 bangsa Eropa mulai memroduksi kopi di daerah jajahannya, berkembang di Asia dan Amerika. Menilik kualitas kopi Jawa yang ternyata juga sangat baik, penanaman besar-besaran pun direncanakan oleh pemerintah Kolonial Belanda pada 1707. 

Terlebih lagi, setelah komoditas ini mendapat citra sangat baik dan berhasil dijual dengan harga tinggi setelah dibawa VOC dari Cianjur, Jawa Barat ke Amsterdam pada 1711. 

Bersama Bupati Priangan, Pemerintah Kolonial mulai melakukan sistem penanaman secara masif. Sistem inilah yang kemudian dikenal dengan sistem tanam paksa alias Cultur Stelsel. Karena mayoritas tanaman yang ditanam adalah kopi, sistem ini juga disebut dengan Koffie Stelsel.

Baca juga: Tanam Paksa dan Kopi Jawa 

Namun, kepopuleran kopi dalam menyokong kejayaan sistem tanam paksa harus mulai memudar pada 1878. Wabah penyakit karat daun menyerang dan membunuh nyaris semua tanaman kopi Arabika yang dibudidayakan di dataran rendah. Jawa Barat jadi daerah terparah yang terdampak serangan hama penyakit tanaman tersebut.

Dalam upaya mengatasi wabah ini, pada 1878, Pemerintah Kolonial mendatangkan kopi Liberika sebagai pengganti Arabika yang bertumbangan. Sayang, pada 1890 kopi jenis ini juga terserang penyakit yang sama. Robusta pun akhirnya menjadi solusi dan dibawa ke tanah air pada 1900 karena keunggulannya yang lebih tahan penyakit.

Tak hanya tahan penyakit, setelah diteliti, kopi Robusta ternyata juga punya persyaratan penanaman dan budidaya yang lebih mudah. Belum lagi, produk yang dihasilkan kopi jenis ini jauh lebih banyak dibandingkan Arabika. 

Maka dari itu, pada awal abad ke-20, Pemerintah Kolonial memutuskan mengembangkan varietas ini secara besar-besaran di Indonesia.

Antara Arabika, Robusta, dan Liberika
Serangan penyakit karat daun yang mewabah pada tanaman kopi di era tanaman paksa kemudian menjadi pemicu dilakukan berbagai  penelitian. Dari studi-studi yang digelar, akhirnya mulai terlihat sejumlah karakteristik yang membedakan varietas kopi Arabika, Robusta, dan Liberika.

Arabika merupakan jenis kopi dengan cita rasa tinggi dengan aroma menggoda. Kadar kafein Arabika pun terhitung rendah. Rasa yang dihasilkan yang tak terlalu pahit jika dibandingkan dengan Robusta. Tak heran, jenis kopi ini jadi pilihan untuk dinikmati banyak orang.

Meski begitu, kopi ini cenderung rentan terhadap serangan penyakit karat daun di area dengan ketinggian rendah. Penanaman Arabika umumnya hanya terbatas pada dataran tinggi yang lebih 1.000 m di atas permukaan laut (mdpl). 

Inilah mengapa saat wabah karat daun menyerang pada era tanam paksa, kopi Arabika yang masih mampu bertahan adalah yang berada di perkebunan Malabar-Pengalengan, Kabupaten Bandung. Sebab, daerah ini memiliki ketinggian 1.400-1.800 mdpl, suhu 15-21oC, serta curah hujan 2.000 mm/tahun yang sangat cocok dengan produktivitas Arabika. 

Rasa tak terlalu pahit yang bisa dinikmati banyak orang, cita rasa aroma yang baik, serta upaya lebih yang harus dikeluarkan para petani kopi Arabika karena sifatnya yang terbatas, membuat harga kopi ini jauh lebih mahal dibandingkan Robusta. 

Salah satu contohnya, di Sumatra Utara, harga komoditas kopi Arabika di tingkat petani per 20 Januari 2023 yang dilaporkan Badan Pengurus Daerah Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (BPD AEKI) mencapai Rp95.000 per kilogram. Pada waktu dan sumber yang sama, harga kopi Robusta hanya ada di kisaran Rp35.000 per kilogram (Bappebti, 2023).

Sementara itu, seperti namanya yang diambil dari kata robust yang berarti kuat dalam bahasa Inggris, varietas Robusta terbukti lebih mampu bertahan dari penyakit dan dapat ditanam di area dengan ketinggian lebih rendah dibandingkan Arabika. Kopi ini bahkan dapat ditumbuhkan pada daerah dengan ketinggian hanya 800 mdpl.

Kemampuannya hidup di area yang tidak bisa ditanami sembarang varietas membuat Robusta lebih cepat berkembang dalam hal produksi. Tak tanggung-tanggung, luas area tanamnya mencapai lebih dari 80% dari seluruh area tanam kopi di Indonesia.

Bukan hanya memayungi sifat tahan penyakitnya, kata robust pada Robusta juga mengindikasikan cita rasa yang kuat dan lebih pahit pada kopi ini dibandingkan Arabika. Karena sifat ini pula, Robusta jadi pilihan sebagai bahan mentah kopi instan ataupun pencampur kopi racikan untuk menambah cita rasa. 

Biji kopi Robusta pun bisa diolah sebagai bahan baku pembuatan minuman kopi berbasis susu, misalnya cappucino, café latte, hingga macchiato.

Berbeda lagi dengan Liberika. Kopi yang awalnya digolongkan ke spesies yang sama Robusta ini akhirnya dipisahkan menjadi spesies baru karena memiliki banyak perbedaan dalam hal morfologi maupun sifat. Salah satunya, di antara jenis-jenis kopi budi daya lainnya, kopi yang bisa dijumpai di Jambi dan Bengkulu ini punya ukuran buah yang paling besar.

Namun, dari ukuran buah yang besar tersebut, bobot buah kering dari Liberika umumnya hanya berkisar 10% dari bobot basahnya. Penyusutan bobot terhitung terjadi cukup tinggi saat panen hingga buah siap olah. Akhirnya, ongkos panen menjadi lebih mahal pada kopi jenis ini.

 

Ilustrasi kopi Robusta tengah dipanen di perladangan Desa Mentisari, Candiroto, Temanggung, Jateng, Senin (9/8 /2021).  ANTARAFOTO/Anis Efizudin 

 

Sifat yang bikin kantong kering ini membuat Liberika tak jadi favorit para petani. Efek dominonya, penanaman kopi jenis ini di Indonesia pun jadi tak sebanyak Arabika dan Robusta. 

Meski begitu, Liberika tetap punya keistimewaan di tanah air. Sebagaimana telah ada setidaknya dua kopi jenis ini yang mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG), yakni Kopi Liberika Tungkal Jambi dan Kopi Liberika Rangsang Meranti. Di sisi penjualan, pecinta Liberika menempatkan diri sebagai kelas tersendiri pecinta kopi.

Indikasi geografis sendiri merupakan sebuah sertifikasi yang dilindungi oleh undang-undang dan digunakan pada produk pertanian sesuai lokasi geografis atau asal daerah. Dengan pendaftaran sertifikasi, produk komoditas tersebut akan memiliki nilai tambah dan daya saing, serta keuntungan-keuntungan tertentu.

Dengan kekayaan alam yang melimpah, setidaknya hingga 2020 telah ada sebanyak 67 produk pertanian dari 28 provinsi yang mendapat sertifikat IG dari Kementerian Hukum dan HAM. Di samping itu, sebagai negara tropis, Indonesia berpotensi mengembangkan tanaman kopi dengan berbagai cita rasa dan aroma sesuai daerahnya. 

Di Indonesia ada banyak daerah pusat produksi kopi yang terkenal hingga mancanegara. Bahkan dari seluruh pulau di Indonesia, diketahui hanya Kalimantan saja yang belum memroduksi kopi untuk Nusantara. 

Tak mengherankan, tanaman ini menjadi primadona dengan total 31 dari 67 sertifikat Indikasi Geografis, dari Arabika, Robusta, hingga Liberika.  

Perdagangan Kopi Dunia
Dari beragam kopi yang dihasilkan dan perolehan sertifikasi indikasi geografisnya, Indonesia selayaknya bisa jadi punya tempat tersendiri dalam perdagangan kopi internasional. Namun, hal tersebut tidak serta merta menjamin performa produk andalan ini dalam lingkup perdagangan internasional. Negara kita bukan satu-satunya produsen besar komoditas tersebut.

Berdasarkan data UN Comtrade, tahun 2021 Brazil merupakan negara eksportir terbesar komoditas kopi dan variannya (HS 0901) di dunia. Nilai ekspor Brazil ke seluruh dunia mencapai lebih dari US$ 5,8 miliar.

Sementara itu, Amerika Serikat merupakan negara importir terbesar kopi. Nilai impor kopi  negara ini mencapai hampir US$7 miliar. Volume impornya mencapai hampir 1,6 juta ton.  

Masih berdasarkan data UN Comtrade, dalam perkembangannnya selama Januari-Oktober 2022, ekspor komoditas kopi dan variannya dari Brazil ke seluruh dunia mencapai 1,4 juta ton. Nilai ekspornya sendiri mencapai US$5,5 miliar. Di sisi lain, Amerika Serikat untuk periode yang sama, nilai impor untuk kelompok komoditas kopinya mencapai US$7,5 miliar.

Lantas bagaimana dengan kopi Indonesia? 

Masih mengacu pada data UN Comtrade, nilai ekspor kopi Indonesia selama periode 2017-2021, sebenarnya mengalami tren penurunan, yang terlihat dari garis putus-putus di grafik. 

Nilai ekspor tahun 2017 sempat mencapai US$1,2 miliar. Namu, pada 2018 menjadi hanya sebesar US$817 juta. Sementara itu, untuk periode Januari-Maret 2022, total nilai ekspor kopi Indonesia ke dunia mencapai US$263,7 juta.  



Dilihat dari sisi nilai impornya, Indonesia relatif kecil. Selama periode 2017-2021, impor terbesar tercatat di tahun 2018 yang mencapai 155,8 juta, sedangkan nilai impor kopi untuk Januari-Maret 2022 tercatat sebesar US$ 15,5 juta. 

Pada 2021, impor terbesar Indonesia berasal dari Vietnam. Nilai impor kopi dari Vietnam mencapai US$ 11,88 juta dengan volume sebesar 7.450 ton. 

Terkait persaingan perdagangan kopi dunia, hasil perhitungan Visi Teliti Saksama terbaru menunjukkan bahwa hingga tahun 2021, hanya komoditas kopi belum dipanggang atau didekafeinisasi (HS 090111) yang konsisten memiliki daya saing. Tingkat daya saing ini dibuktikan dengan nilai RCA yang konsisten lebih besar dari 1. 

 

Di sisi lain, untuk produk-produk kopi lainnya dari Indonesia tidak ada yang memiliki daya saing. Hasil ini tentunya sangat jauh dari harapan untuk menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. 

UN Comtrade juga mencatat bahwa ekspor terbesar untuk komoditas kopi belum dipanggang atau didekafeinisasi (HS 090111) tersebut ditujukan ke Amerika Serikat. Nilai ekspor produk ini mencapai US$194,8 juta atau 23% dari keseluruhan nilai ekspor Indonesia ke dunia pada tahun 2021. Negara tujuan terbesar berikutnya adalah Mesir dan Jepang dengan nilai ekspor masing-masing sebesar US$89 juta dan US$62 juta.

Meski daya saingnya tak terlalu tinggi di pasar internasional, kehadiran kopi di pasar lokal tetap bisa diperhitungkan. Bahkan, beberapa pelaku industri kopi mengakui bahwa lebih memilih untuk mengalokasikan hasil produksinya untuk diputar di dalam negeri dibandingkan di luar negeri. 

Tren gaya hidup untuk menikmati kopi untuk menikmati aktivitas lain yang masih terus berjalan, menjadi salah satu alasan untuk tetap optimistis.

Industri kopi, terutama dengan berbagai hilirisasi lini bisnis, seperti punya masa depan cerah di negeri sendiri. Walau sempat meredup karena tersenggol kondisi pandemi, keberadaan kedai-kedai kopi masih jadi lokasi pilihan masyarakat untuk singgah. 

Seiring dengan beralihnya kita ke era endemi dengan keadaan yang lebih baik, selayaknya ini menjadi angin segar buat industri ini. 

Referensi

(n.d.). Retrieved from UN Comtrade Database: https://comtradeplus.un.org/

Kementerian Perindustrian. (2017). Peluang Usaha IKM Kopi. Jakarta: Kementerian Perindustrian.

Kementerian Pertanian. (2020). Profil Indikasi Geografis (IG) Produk Pertanian. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Visi Teliti Saksama. (2019). Kajian Kopi. Jakarta: Visi Teliti Saksama.

 


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER