Selamat

Jumat, 7 Oktober 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

09 September 2022

18:30 WIB

Tembakau: Produk Lama Yang Masih Esensial

Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara potensial untuk budidaya daun tembakau berkualitas dan penanamannya sudah mulai dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1700'an.

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Tembakau: Produk Lama Yang Masih Esensial
Pekerja memilah tembakau kering untuk ekspor di Karangpakel, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (17/1 1/2021). ANTARAFOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Sebagai salah satu produk hasil perkebunan, tembakau dan beberapa produk turunannya, ternyata mesih menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Meski kampanye anti rokok semakin meluas di seluruh dunia, produk-produk tembakau ternyata tetap dinikmati oleh banyak masyarakat dunia. Dinamika ekspor produk-produk tembakau Indonesia yang masih memiliki daya saing di pasar dunia menunjukkannya. 

Produksi Tembakau  di Indonesia
Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara potensial untuk budidaya daun tembakau berkualitas dan penanamannya sudah mulai dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1700'an. Tetapi baru di tahun 1990'an Indonesia dapat masuk dalam 10 besar produsen rokok global. 

Menempati peringkat kedelapan, produksi daun tembakau tanah air di periode tersebut mengambil peran 2,22% dari total produksi dunia. Hingga tahun 2000-an, posisi Indonesia kembali naik ke peringkat keenam dunia dengan peran 2,67% dari total produksi tembakau dunia (Visi Teliti Saksama, 2018). 

Total produksi tembakau setiap tahunnya tercatat berasal dari tiga sumber, yaitu perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar swasta (PBS), dan  perkebunan besar negara (PBN). Setiap tahunnya, penyumbang terbesar produksi ini adalah perkebunan rakyat, disusul posisi kedua penyumbang perkebunan besar negara. Sedangkan perkebunan besar swasta menjadi penyumbang terkecil, dan bahkan absen dalam beberapa tahun.

Dari data statistik Direktorat Jenderal Perkebunan, terangkum perkembangan luas areal lahan tanam tembakau di Indonesia dan jumlah produksinya terhitung sejak tahun 1975. Pada tahun 1975 areal penanaman tembakau di Indonesia tercatat seluas 198.657 hektare. Dengan lahan seluas ini, sebanyak 95.665 ton tembakau dapat diproduksi pada tahun tersebut. 

Setelah mengalami naik-turun di beberapa tahun, jumlah produksi terbilang meningkat cukup pesat menjadi sebesar193.790 ton di tahun 2015. Produksi itu dihasilkan dari keseluruhan areal tanam sebesar 209.095 hektare. Pada tahun 2017 angka sementara menunjukkan produksi tembakau mencapai 198.296 ton dari areal tanam seluas 206.514 hektare.

Berdasarkan data Statistik Perkebunan Ditjen Pekebunan Kementerian Pertanian, menyebutkan bahwa estimasi total luas perkebunan tembakau di Indonesia tahun 2021 mencapai 236687 hektar. Sedangkan produksi tembakau diperkirakan mencapai 261.011 ton. Luasan perkebunan tersebut diperkirakan meningkat dibanding tahun 2020, yaitu seluas 236.013. Sedangkan dari sisi produksi, jumlahnya turun dibandingkan tahun 2020 yang diperkirakan mencapai 261.439 ton (Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Peratnian RI, 2020). 



Bedasarkan produksinya, tampak bahwa semenjak 2019, produksi tembakau Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Setelah semenjak tahun 2013 mengalami penurunan jumlah produksi, seiring dengan bertambahnya luas pekebunan tembakau, produksi tembakau kembali naik. Penurunan tersebut pada dasarnya juga tidak terlepas dari adanya kebijakan di beberapa negara yang menetapkan kebijakan untuk membatasi tembakau.  Sebagai akibatnya, terjadi penurunan permintaan atas tembakau di dunia. 

Hal ini ternyata direspon oleh sejumlah perusahaan rokok multnasional.  Mereka kemudian mulai mengalihkan orientasi pasar serta memindahkan basis produksinya dari negara maju ke negara  berkembang yang dinilai potensial. Salah  satu negara yang dianggap potensial dalam pengembangan industri rokok juga adalah Indonesia. Beberapa perusahaan  rokok multinasional  kemudian membeli sejumlah perusahaan rokok nasional (Rachmat & Aldillah, 2010).

Ekspor-Impor Tembakau 
Dari sisi lain, jika dilihat sebagai salah satu komoditas ekspor, produk-produk tembakau beserta produk turunannya (HS 24) dari Indonesia sebenarnya dapat dikatakan sebagai komoditas yang unggul. Data yang dipublikasikan oleh UN Comtrade menunjukkan, ekpor produk tembakau Indonesia ke dunia selama periode 2010-2021 terus meningkat.

Ekspor produk tembakau ke dunia selama periode tersebut rata-rata tumbuh sebesar 5,2% tiap tahunnya. Kenaikan ekspor produk tembakau terbesar terjadi pada tahun 2013, dimana pada tahun tersebut ekspor produk tembakau naik sebesar 17,3% dibandingkan tahun 2012.

Meski demikian, jika ditelisik lebih lanjut kinerja ekspor produk-produk tembakau Indonesia sebenarnya juga mengalami fluktuasi. Selama periode tersebut tecatat bahwa pada tahun 2020, ekspor produk tembakau Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,7% dibandingkan tahun 2019. Begitu pula di tahun 2021 yang turun sebesar 0,3% dibandingkan tahun 2020. Sebelumnya, di tahun 2015 ekspor produk-produk tembakau Indonesia juga turun sebesar 4,2% dibandingkan tahun 2014. Namun pada tahun-tahun selanjutnya kembali meningkat tiap tahunnya hingga tahun 2020.

Berdasarkan negara-negara tujuan ekspornya, ekspor produk tembakau terbesar di tahun 2021 ditujukan ke Kamboja. Nilai ekspor tersebut mencapai USD197,2 juta. Nilai ekspor yang ditorehkan, mencapai 17% dari total nilai ekspor produk tembakau Indonesia ke seluruh negara tujuan. Negara tujuan utama ekspor produk tembakau Indonesia tahun 2021 lainnya adalah Filipina, yaitu sebesar 14%, Vietnam (10,5%), Singapura (9,9%), Malaysia (6,2%) dan Jepang sebesar 4,6%.   



Sementara dari sisi impor, data menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 5,9% selama tahun 2010-2021. Pertumbuhan impor ini jelas lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Jika dilihat tiap tahunnya, kenaikan impor terbesar terjadi di tahun 2017 yang naik sebesar 30,8% dibandingkan tahun 2016. Meski demikian, impor produk-produk tembakau Indonesia juga sempat turun secara signifikan di tahun 2015 dibandingkan tahun 2014, yaitu sebesar 32,4%. 

Daya Saing Tembakau Indonesia
Mencermati ekspor produk-produk tembakau dan turunannya dari Indonesia di pasar internasional, maka dapat melihatnya dengan menggunakan metode RCA. Penilaian RCA mensyaratkan bahwa sebuah komoditas atau produk dianggap memiliki daya saing di pasar dunia apabila nilai yang dihasilkan bernilai 1,0 atau lebih . Dan, sebaliknya tidak memiliki daya saing jika nilainya kurang dari 1,0. Nilai RCA dapat diperoleh ialah dengan cara menghitung pangsa nilai ekspor suatu produk terhadap total ekspor suatu negara dibandingkan dengan pangsa nilai produk tersebut dalam perdagangan dunia.

Berdasarkan hasil kalkulasi yang dilakukan oleh Visi Teliti Saksama, menunjukkan bahwa semenjak tahun 2010, produk-produk tembakau Indonesia memiliki tingkat daya saing yang cukup baik di pasar internasional. Namun jika dilihat lebih lanjut hingga kode HS 6 digit, beberapa produk yang konsisten memiliki daya saing selama periode tahun 2010-2021 ialah tembakau tidak bertangkai/dikupas (HS 240110),  Cerutu (cheroots dan cigarillos) yang mengandung tembakau (HS240210), rokok yang mengandung tembakau (HS 240220). Sementara beberapa produk lainnya, berfluktuasi tingkat daya saing tiap tahunnya.



Berdasar hasil perhitungan nilai RCA produk-produk tembakau ini pula dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, produk-produk tembakau dan turunan dari Indonesia, masih sangat menjanjikan. Produk-produk turunan tembakau mungkin bagi sebagian kalangan dipandang sebagai komoditas “peninggalan” masa kolonial. Terlebih jika dikaitkan dengan kampanye anti tembakau oleh kalangan kesehatan. Produk tembakau seakan menjadi produk “haram” buat sebagian orang. 

Gaya Hidup
Namun, faktanya pemanfaatan tembakau saat ini memang lebih banyak terkait dengan kebiasaan dan gaya hidup. Kebiasaan orang untuk menghisap rokok, cerutu atau sejenisnya, memang telah menjadi kebiasaaan yang tidak mudah untuk dihilangkan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kebiasaan untuk menghisap cerutu menjadi salah satu cara atau momen dalam melakukan lobi bisnis dan menunjukkan gaya hidup sukses. 

Berangkat dari karakter konsumsi tembakau inilah, maka pada dasarnya adalah hal yang tidak mungkin menghapuskan kebiasaan tersebut. Mengkonsumsi rokok, cerutu atau sejenisnya tersebut harus diakui bukan sekedar pemuas kebiasaan belaka. Tetapi lebih dari itu, hal ini telah berkembnag selama ratusan tahun sebagai sebuah mekanisme manusia untuk bersosialisasi. Meski mendapat banyak tentangan terkait kampanye anti tembakau, rasanya sulit untuk meniadakan sama sekali konsumsi tembakau. 

Dari beragam data di atas, dapat dikatakan bahwa peluang untuk mengembangkan industri tembakau masih akan tetap terbuka. Dengan semakin meluasnya konsumsi rokok elektronik di berbagai kalangan masyarakat, kebutuhan akan produk tembakau justru tetap ada dan meningkat. Diakui atau tidak hal seperti ini pulalah yang menjadi dasar bagi para perusahaan rokok multinasional tersebut masih berani berinvestasi di Indonesia.  

Referensi:
Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Peratnian RI. (2020). Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2019-2021. Jakarta, DKI: Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Peratnian RI.

Rachmat, M., & Aldillah, R. (2010, Juli). Agribisnis Tembakau di Indonesia : Kontroversi dan Prospek. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 28(1), 69-80.

Visi Teliti Saksama. (2018). Industri Rokok; Dicaci Tapi Dicari. Jakarta, DKI, Indonesia: Visi Teliti Saksama.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Pluang Hadir Dengan Tampilan Baru

Pluang Hadir Dengan Tampilan Baru

Ini 5 Kunci Diet Menurut Ahli Gizi

Puluhan WNI Masih Ada Di Ukraina

PTPN X Giling 4 Juta Ton Tebu Di Sembilan Pabrik Gula

Konser Justin Bieber Di Jakarta Resmi Ditunda

Polri Ingatkan Penipuan Pesan E-tilang Via WhatsApp

PUPR: Infrastruktur Hijau Sektor SDA Kurangi Emisi Karbon