Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

08 Desember 2022

13:31 WIB

Survei Visi: Tragedi Mengubah Persepsi Publik Soal Keramaian

Minat masyarakat untuk datang ke acara dengan keramaian masih ada, tapi dengan sejumlah pertimbangan. Tragedi yang banyak terjadi di acara yang mengundang kerumunan pun mengubah persepsi publik.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Faisal Rachman

Survei Visi: Tragedi Mengubah Persepsi Publik Soal Keramaian
Kondisi tribun penonton Stadion Kanjuruhan usai kerusuhan terjadi di stadion itu, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Setelah dua tahun dilanda pandemi covid-19, sejumlah pertunjukan yang diadakan secara offline di Tanah Air perlahan-lahan bangkit. Sebut saja festival musik, konser musik, peragaan busana, hingga pertandingan olahraga, yang dapat didatangi langsung oleh penonton di tempat. 

Diadakannya kembali acara-acara offline mengundang antusiasme yang sangat tinggi pada masyarakat. Hal ini terlihat dari ramainya penonton yang datang menghadiri beragam acara offline

Sayangnya, tak semua acara offline berjalan mulus. Sejumlah musibah dan tragedi terjadi pada acara offline, baik karena kapasitas penonton yang berlebih, penonton tidak tertib, hingga kericuhan yang berujung penembakan gas air mata. Acara yang mengundang keramaian pun berubah menjadi momok menakutkan saat ini.

Karenanya, pada 15–27 November 2022, Lembaga Riset Visi Teliti Saksama mengadakan survei secara daring. Tujuan survei ini ingin mengetahui, seberapa besar minat masyarakat terhadap keramaian acara offline setelah dua tahun tertahan pandemi. Terutama, setelah deretan tragedi dan musibah terjadi di tempat-tempat keramaian.  

Responden yang berpartisipasi berjumlah 272 orang yang diperoleh secara acak. Mereka didominasi jenis kelamin laki-laki (66,5%), berdomisili di Jabodetabek (56,6%), dengan kelompok usia 26-30 tahun (26,5%) dan  kelompok usia 21-25 tahun (25%). 

Responden dominan berpendidikan terakhir tamat D3/S1 (47,4%), belum menikah (54,4%), bekerja sebagai karyawan swasta (37,1%) dan pelajar/mahasiswa (16,5%), serta berpengeluaran Rp1-5 juta per bulan (48,5%). 

Festival dan Konser Musik Jadi Favorit
Pertama, mereka ditanyakan soal pengetahuan. Lebih dari setengah responden mengetahui soal tragedi Stadion Kanjuruhan di Jawa Timur dan tragedi Halloween Itaewon di Korea Selatan yang memakan korban jiwa. 

Lebih dari setengah responden juga mengetahui adanya kekisruhan dalam festival musik Berdendang Bergoyang di Istora Senayan Jakarta dan juga pada konser NCT 127 di Indonesia Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD) yang menimbulkan korban pingsan. 

Seluruh peristiwa tersebut berlangsung sepanjang Oktober hingga November 2022.



Masuk ke segmen pengalaman, sebesar 56,6% responden mengaku gemar menghadiri acara/konser/festival yang mengundang kerumunan, sebelum pandemi menyerang Tanah Air. Namun setelah pandemi muncul, sebesar 55,5% responden memilih untuk tidak datang ke acara-acara yang berpotensi menciptakan kerumunan. 

Dari 121 responden yang pernah mendatangi acara dengan keramaian setelah adanya pandemi, sebanyak 60% di antaranya mengaku menghadiri festival dan konser musik. Disusul oleh acara pernikahan, festival kuliner, pertandingan olahraga, seminar, pengajian, pameran seni, dan bazar buku. 

Selain itu, menurut mayoritas mereka, kondisi keamanan dan kenyamanan pada acara-acara yang mereka kunjungi cenderung kondusif (tidak kisruh). Lebih dari 90% responden berpendapat demikian. 

Sementara itu, dari 151 responden yang belum pernah datang ke acara yang berkerumun setelah pandemi, sebesar 54,3% dari mereka beralasan memiliki prioritas lain yang lebih penting.

Alasan selanjutnya, responden mengaku bisa menonton rekaman acara di platform video (YouTube). Kemudian, belum menemukan acara yang disukai menjadi alasan terbanyak berikutnya. Baru setelahnya, alasan khawatir tertular virus dan khawatir musibah terjadi lagi, yang masing-masing tidak lebih dari 30%. 

Lokasi Acara Jadi Pertimbangan
Segmen terakhir untuk 272 responden ini adalah segmen sikap. Setelah deretan tragedi terjadi, apakah responden berminat untuk menghadiri acara-acara yang menciptakan kerumunan? Jawabannya nyaris seimbang, namun lebih banyak yang menjawab tidak berminat, yakni (51,8%).

Faktor lokasi menjadi faktor yang paling banyak dipertimbangkan responden dalam memutuskan datang atau tidak ke acara yang berkerumun (54%). Berikutnya, ada faktor waktu acara, faktor pihak penyelenggara acara, dan faktor pengisi acara. 

Bagi mayoritas responden (54%), hal yang perlu dipersiapkan jika akan datang ke acara yang berkerumun adalah menghindari kerumunan dengan mencari sudut yang lebih sepi. Jawaban terbanyak berikutnya adalah mempelajari cara-cara bertahan di tengah kerumunan. 

Terakhir, responden ditanyakan mengenai acara yang paling minat mereka datangi setelah pandemi, terlepas dari adanya beragam tragedi. Sebanyak 52,6% berminat mendatangi festival dan konser musik. Kemudian, mereka juga berminat ke pertandingan olahraga, festival kuliner, dan pernikahan. 

Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencari hiburan di tengah rutinitas yang padat. Ada yang merasa tidak perlu datang ke acara-acara yang berkerumun karena bukan prioritasnya. Ada pula yang selalu berusaha hadir ke acara yang berkerumun untuk memenuhi kebutuhan bersenang-senang. 

Terpenting, jika kita memutuskan hadir ke acara yang akan menimbulkan kepadatan orang, jadilah pengunjung yang tertib dan bertanggung jawab. Cepatlah waspada jika situasi dirasa sudah tidak kondusif. 

Menjaga acara tetap aman dan selamat hingga akhir adalah tugas bersama, mulai dari pengunjung, penyelenggara, hingga pengisi acara. Jadi, tak perlu lagi ada tambahan dalam daftar panjang tragedi akibat keramaian acara offline.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER