Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

10 Januari 2023

15:00 WIB

Survei Visi: Diyakini Jadi Solusi, Bank Sampah Minim Nasabah

Responden setuju Bank Sampah dapat memecahkan persoalan penanganan sampah, meski keikutsertaan mereka menjadi nasabah masih minim.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Survei Visi: Diyakini Jadi Solusi, Bank Sampah Minim Nasabah
Direktur Utama Bank Sampah Budi Luhur (BSBL) Umi Tutik Asmawi sedang menimbang sampah di Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. ValidNewsID/Aldiansyah Nurrahman

Agar permasalahan pengelolaan sampah dapat terpecahkan, salah satu solusinya adalah hadirnya Bank Sampah. Bank ini dalam praktiknya mempunyai manajemen seperti perbankan pada umumnya. Namun yang ditabung adalah sampah, bukan uang. 

Warga yang menjadi nasabah akan memiliki buku tabungan dan bisa memperoleh uang senilai sampah yang diserahkan. Sampah yang terkumpul akan didaur ulang. Atau, bisa disetorkan ke tempat pengepul sampah. Nasabah pun bisa meminjam uang untuk kemudian membayarnya dengan sampah.

Kehadiran Bank Sampah pada lebih dari sedekade lalu, diharapkan memotivasi dan meningkatkan partisipasi warga dalam memilah sampah sehingga lingkungannya bersih. 

Menilik peran ini, lembaga riset Visi Teliti Saksama melakukan survei untuk mengetahui efektivitas bank sampah bagi masyarakat. 

Survei digelar secara daring pada periode 22-29 Desember 2022. Responden yang terlibat berjumlah 100 orang. Mereka didominasi jenis kelamin perempuan (70%), kelompok usia 31-35 tahun (43%), berdomisili di Jabodetabek (71%), berpendidikan tamat D3/S1 (77%), berstatus menikah dan memiliki anak (65%), bekerja sebagai karyawan swasta (39%) diikuti ibu rumah tangga (32%), serta berpengeluaran 1-5 juta rupiah per bulan (52%).  

Dari survei, terlihat bahwa komplek perumahan adalah lingkungan tempat tinggal mayoritas responden (46%) diikuti oleh wilayah perkampungan (42%). Sedang dari salah satu pertanyaan pokok soal pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka, dominan responden menyatakan sampah biasa diangkut oleh petugas sampah yang di depan rumah mereka. 

Hanya 37% responden mengaku ada permasalahan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Permasalahan terbanyak adalah sampah yang tidak dipilah. Menyusul berikutnya, jadwal pengangkutan sampah tidak teratur, banyak yang buang sampah sembarangan, dan sampah tidak diangkut. 

Belum Jadi Nasabah
Pengetahuan 100 responden ini terkait Bank Sampah dapat dibilang baik. Sebanyak 75% memahami bahwa Bank Sampah adalah konsep pengumpulan sampah kering rumah tangga yang menerapkan sistem konversi dari sampah menjadi uang. Ada 77% pula dari mereka yang mengetahui Bank Sampah membawa manfaat kesehatan lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat.

Kemudian, hampir 100% responden mengetahui Bank Sampah bertujuan memecahkan permasalahan sampah dan memotivasi warga memilah sampah.

Mayoritas mereka mengetahui Bank Sampah bekerja dengan cara nasabah menyetorkan sampah yang akan ditimbang dan hasilnya dicatat di buku tabungan. Juga, mengetahui cara meminjam uang di Bank Sampah di mana nasabah dapat membayarnya dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Kedua variabel tersebut masing-masing mencapai 90% responden yang menjawab benar. 

Yang juga mengemuka adalah lebih dari setengah responden tidak tahu di mana keberadaan Bank Sampah di dekat tempat tinggal mereka. Tak hanya itu, sebesar 88% responden mengaku bukan merupakan nasabah Bank Sampah.

Mengapa mereka belum menjadi nasabah Bank Sampah? Alasan terbanyaknya adalah belum mengetahui lokasi Bank Sampah di wilayahnya (68,2%). Menyusul setelahnya, responden tidak punya waktu mengurus sampah. Ada pula responden yang mengaku kesulitan mengumpulkan dan memilah sampah. Mereka pun menyatakan tidak ada anggota keluarga ataupun kerabat mereka yang pernah menggunakan layanan Bank Sampah (68,2%). 

Sedangkan, menurut 12% responden yang menjadi nasabah Bank Sampah, mereka beralasan peduli dengan lingkungan (75%). Selain itu, mereka ingin memperoleh keuntungan ekonomi. 

Lebih dari setengah responden ini pernah menyetorkan sampah dan menerima uang dari Bank Sampah. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang pernah meminjam uang di Bank Sampah. Mayoritas mereka mengatakan bahwa tetangga mereka pun pernah menggunakan layanan Bank Sampah. 



Harus Terus Beroperasi
Pada segmen terakhir, responden ditanyakan tentang sikap mereka. Hampir seluruh responden setuju Bank Sampah dapat memecahkan persoalan penanganan sampah. Bank ini juga dapat membiasakan warga membuang sampah pada tempatnya, sekaligus memotivasi warga memilah sampah rumah tangga, hingga dapat memberikan manfaat sosial ekonomi pada masyarakat. Masing-masing variabel tersebut mencapai lebih dari 90% responden yang setuju.

Yang juga bisa disimpulkan, bahwa seluruh responden (100%) menyatakan setuju Bank Sampah harus terus beroperasi ke depannya.

Namun, kebanyakan mereka juga mengamini, kendala Bank Sampah adalah rendahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat (82%). Selanjutnya, keterbatasan sarana dan prasarana operasional, dukungan yang kurang memadai dari pemerintah pusat dan daerah, serta kekurangan tenaga profesional, juga menjadi masalah yang harus diatasi.

Kesimpulannya, meski Bank Sampah dianggap dapat membawa beragam manfaat dan harus terus dilestarikan keberadaannya, partisipasi masyarakat untuk turut menyetorkan sampahnya masih lah rendah. Hal ini juga tergambar dari mayoritas responden yang belum mendaftarkan diri sebagai nasabah Bank Sampah. 

Jika berbicara nilai ekonomis, memang akan sulit membangkitkan kesadaran masyarakat. Sebab, nilai sampah memang tidak tinggi jika diuangkan. 

Jadi, alih-alih melihat dari nilai ekonomis, sebaiknya masyarakat melihat dari sisi manfaatnya terhadap kelestarian lingkungan hidup. Apalagi, kondisi lingkungan hari ini akan berdampak kepada hidup anak dan cucu kita di masa depan. Menjaga lingkungan bukan hanya memberikan kesehatan pada diri kita, tapi juga kepada generasi mendatang yang mewarisinya. 


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER