Selamat

Kamis, 18 Agustus 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

09 Juli 2022

15:21 WIB

Sudahkah Industri Film Kembali Bangkit?

Tahun ini kita disuguhkan film-film box office yang di antaranya meraup pendapatan hingga US$1 miliar. Apakah industri film benar-benar sudah bangkit?

Penulis: Kevin Sihotang,

Editor: Faisal Rachman

Sudahkah Industri Film Kembali Bangkit?
Ilustrasi film box office. dok.Envato

Tahun ini, kita kembali dimanjakan dengan film-film box office di bioskop. Setelah sempat menderita karena pandemi covid-19, industri film seolah “balas dendam” dan ingin meraup cuan kembali. Namun, apakah nilai pendapatan mereka sudah kembali normal dan menyentuh nilai seperti sebelum pandemi?

Hingga Juli tahun ini, kita sudah disuguhkan film-film besar seperti “Top Gun: Maverick” yang berhasil meraup pendapatan hingga US$1,1 miliar. Kemudian, ada “Doctor Strange in the Multiverse of Madness” dengan pendapatan hingga US$953 juta, disusul “Jurassic World Dominion” dan “The Batman” dengan jumlah pendapatan masing-masing sebesar US$836 juta dan US$770 juta, seperti dikutip dari Box Office Mojo

Bangkitnya Streaming Service
Bila dibandingkan dengan tahun 2020-2021, tentu tahun ini lebih menguntungkan buat industri film pasca pelonggaran pembatasan sosial di berbagai negara. Namun, para analis film di Amerika Serikat, sebagaimana dilansir Variety memprediksi, pendapatan industri film tahun ini masih 20% di bawah pendapatan industri film pada periode 2017-2019 atau masa pra pandemi.

Hal tersebut tak terlepas dari masih enggannya sebagian orang untuk kembali ke bioskop, karena masih tersisa rasa takut akan virus corona. Terlebih, sekarang kita disuguhkan dengan layanan streaming film dan serial dari berbagai macam platform. 

PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu jaringan perusahaan akuntansi terbesar di dunia memproyeksikan, pendapatan industri film tidak akan kembali normal sebelum tahun 2024. 

PwC menyebut, pendapatan industri film akan perlahan bangkit per tahunnya, yakni 6,5% pada tahun 2021, dan 6,7% pada tahun 2022. Sebaliknya, PwC mengatakan, industri streaming global akan meningkat pesat hingga 60% pada 2025 mendatang dengan pendapatan mencapai US$94 miliar. Pendapatan tersebut diperkirakan berasal dari lebih dari US$81 miliar langganan (subscription), serta nilai transaksi untuk video on demand yang mencapai US$13 miliar secara global.

Faktor Inflasi
Pandemi sendiri, sempat membuat layar lebar kalah populer dibanding layanan streaming. Tapi, di amsa ini, meski angka pendapatan film-film box office terlihat fantastis, namun nilai aktualnya sebenarnya tak lebih tinggi dibandingkan pendapatan di era pra pandemi. 

Faktor inflasi adalah penyebabnya. Melansir Screen Rant, bila kita menperhitungkan tingkat inflasi yang disesuaikan, pendapatan film senilai US$1 miliar di tahun 2022 itu setara dengan pendapatan film sebesar US$875 juta di tahun 2019. 

Meski demikian, tentu diperlukan pertimbangan atas berbagai faktor lain, seperti penurunan harga tiket, pembatasan pembukaan bioskop, hingga fakta yang menyebutkan kebanyakan pendapatan film juga berasal dari mata uang lain selain Dollar. Ini menujukkan kenyataan ada perbedaan sangat signifikan antara masa pandemi dan masa pra pandemi bagi industri film. 

Persaingan Meningkat
Tapi, di balik menurunnya pendapatan box office, ada hal positif yang terjadi di industri film pada tahun ini, yakni semakin meningkatnya persaingan antar studio produser film. Sebelum pandemi, biasanya daftar 10 film terlaris dunia didominasi oleh dua studio, yakni Disney dan Warner Bros. Terlebih setelah Disney mengakuisisi 20th Century Fox. 

Pada tahun 2019, hanya 3 studio yang mewakili daftar film paling laris. Delapan film adalah milik Disney, dua film milik Sony, dan satu film milik Warner Bros. Di antaranya adalah “Avengers: Endgame”, “Aladdin”, dan “Toy Story 4” milik Disney. Kemudian “Spider-Man: Far From Home” dan “Jumanji: The Next Level” milik Sony (meski Spider-Man: Far From Home juga merupakan kerja sama Sony dan Disney), serta  “Joker” milik Warner Bros. 

Namun di tahun ini, daftar nama studio yang menguasai 10 besar film box office semakin bervariasi. Ada lima studio yang tampil menonjol, yakni Paramount dengan tiga film, lalu Sony dengan dua film, Universal dengan dua film, Disney dengan dua film, serta Warner Bros. dengan satu film. 

Film-film itu di antaranya adalah “Top Gun: Maverick”, “Sonic the Hedgehog 2”, dan “The Lost City” milik Paramount. Kemudian “Spider-Man: No Way Home” milik Sony (bersama Disney), “Doctor Strange in the Multiverse of Madness” milik Disney, “Morbius” milik Sony, “Jurassic World Dominion” dan “Minions: The Rise of Gru” milik Universal, serta “The Batman” dan “Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore” milik Warner Bros.

Variasi Penonton
Tak hanya variasi studio yang mendominasi box office, jenis penonton film untuk tahun ini juga bervariasi dibandingkan 5 tahun di masa pra pandemi. 

Dari tahun 2015-2019, “template” genre-genre film yang ditampilkan di bioskop biasanya sama. 50 besar film yang diambil dari 10 film di masing-masing tahunnya mencakup 27 film sekuel waralaba, reboot, atau remake. Kemudian 18 film superhero, 3 film animasi, 1 drama non-waralaba, dan 1 film sci-fi non waralaba. Kebanyakan film-film ini menargetkan audiens pria berusia 18-24 tahun.

Sementara itu, di tahun 2022 yang masih setengah jalan ini, terdapat beberapa film besar yang terdiri dari 5 film sekuel waralaba, reboot, atau remake, kemudian 3 film superhero, 1 film adaptasi video game non-sekuel, 1 film komedi berlabel PG-13, dan 1 film animasi. 

Belum lagi ada film-film seperti “The Bad Guys”, “Lightyear”, dan “Sonic the Hedgehog 2” ditujukan untuk penonton anak-anak dan keluarga. Sementara itu film-film superhero masih menargetkan audiens berusia 18-24 tahun. 

Ada lagi film “Top Gun: Maverick” yang akan membawa penonton berusia 35 tahun ke atas untuk bernostalgia ke bioskop. Film “The Lost City” juga kemungkinan besar akan ditonton oleh banyak wanita berusia 35 tahun ke atas. Variasi kategori penonton ini tentu karena berbagai faktor seperti penundaan penyangan beberapa film waralaba dan superhero karena pandemi, serta masih akan banyak film lagi yang akan tayang di semester 2-2022 nanti. 

Namun, apapun itu, tren variasi studio film yang mendominasi box office serta tren variasi jenis audiens yang pergi ke bioskop, tentu menjadi modal bagus bagi industri film ke depan. 


Referensi:

Screen Rant. (2022). Everything about 2022’s box office is awesome except the revenue. Diakses dari: https://screenrant.com/2022-box-office-recovery-audience-studio-variety-revenue/ 

The Hollywood Reporter. (2021). Global streaming video revenue to hit US$94B in 2025, PwC forecasts. Diakses dari: https://www.hollywoodreporter.com/business/business-news/global-entertainment-industry-recovery-cinema-pricewaterhousecoopers-1234978499/ 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER