Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

03 Januari 2023

15:00 WIB

Sharenting Dan Prinsip Aman Buat Anak

Sebelum mengunggah foto-foto momen penting anak, para orang tua diharapkan sudah membekali diri dengan pengetahuan bahwa selalu ada risiko dan bahaya yang mengintai.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

<i>Sharenting</i> Dan Prinsip Aman Buat Anak
Ilustrasi anak mendapatkan perundungan online. Shutterstock/Dok

Bagi para orang tua, setiap fase baru dalam hidup anak menjadi momen penting untuk diabadikan. Salah satu fase yang membahagiakan tersebut adalah hari pertama anak menjadi murid Sekolah Dasar.

Melihat anak sudah semakin besar dan mengenakan seragam sekolah untuk pertama kalinya, membuat orang tua ingin berbagi momen tersebut dengan orang-orang dekat. Biasanya, memotret sang anak dan menyimpan fotonya di galeri ponsel tidaklah cukup. Foto anak berseragam sekolah pun kemudian dibagikan melalui media sosial sang orang tua, tepat setelah anak dipotret alias real time.

Jika kita membuka media sosial, melihat foto anak-anak yang diunggah oleh orang tua mereka mungkin bukan hal yang baru. Setiap harinya, kita sudah terbiasa melihat perkembangan para buah hati dari orang-orang terdekat kita. Malah, mungkin, kita juga bagian dari orang tua yang bersemangat membagi momen-momen bersejarah dalam hidup anak-anak kita ke media sosial. 

Fenomena  ini kerap disebut dengan share-parenting  atau biasa disebut sebagai sharenting. Dan, fenomena ini menjadi sesuatu yang wajar.

Akan tetapi, sebelum mengunggah foto-foto tersebut, para orang tua semestinya sudah membekali diri dengan pengetahuan. Harus diingat, selalu ada risiko dan bahaya yang mengintai. 

Keberadaan Anak Tersebar
Kisah yang terjadi pda 2020 lalu dari  seorang pria asal Malaysia bernama Ihsan Zainal, bisa menjadi pelajaran. Dia  membagikan cerita melalui akun Facebook-nya mengenai anaknya yang hampir diculik. Kala itu, Ihsan dan istri akan menjemput anak perempuannya di sekolah. Tiba-tiba, ada pria asing yang menghampiri putrinya. Pria itu berpakaian rapi dan mencoba memanggil nama anak Ihsan. 

Untungnya, nasib baik masih berpihak pada Ihsan dan Istri. Sang guru yang melihat kejadian tersebut langsung menghalau pria tersebut. Sang guru ternyata mengenali wajah Ihsan dan istrinya. Si pria asing langsung beralasan bahwa ia salah tempat. Sekolah itu bukanlah sekolah yang ingin ia datangi. Pria itu pun bergegas pergi. Peristiwa ini menjadi perhatian besar pihak sekolah. Bisa dimengerti, jika banyak pihak mengartikan hal ini sebagai percobaan penculikan. 

Diyakini Ihsan, penyebab kejadian itu adalah unggahannya di media sosial bersama anaknya. Karenanya, ia mengingatkan para orang tua untuk lebih waspada saat ingin berbagi foto anak di media sosial. Jangan sampai, konten mengandung data-data penting anak seperti nama sekolahnya. 

Beberapa tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI mengimbau melalui akun media sosial resminya agar para orang tua berhati-hati dalam berbagi foto anak ke media sosial di hari pertama bersekolah. Sebab, beragam risiko bisa mengintai, mulai dari predator anak, perundungan, perampokan, penculikan, hingga pencurian identitas.

Kemdikbud menyarankan agar orang tua memperhatikan tujuh hal sebelum memutuskan mengunggah foto anak ke media sosial di hari pertama bersekolah.



Pertama, hindari memasang identitas lengkap anak seperti nama lengkapnya, tanggal lahirnya, nama sekolahnya, hingga alamat sekolahnya. Kedua, pastikan unggahan foto anak tidak disertai dengan penanda lokasi (geo tagging). Ketiga, atur privasi foto agar kita dapat membatasi peredaran foto. Misalnya, hanya keluarga dan kerabat terdekat yang dapat mengakses foto anak kita di media sosial.

Selanjutnya, hindari memasang foto anak yang berpotensi memancing orang lain untuk melecehkan dan menghina sang anak. Hal kelima, posisikan diri sebagai anak yang bisa merasakan senang, malu, atau sedih, saat fotonya dipamerkan. 

Keenam, biasakan meminta izin pada orang tua lain apabila ingin mengunggah foto anak mereka. Terakhir, ajak kerabat dan keluarga untuk turut waspada ketika mengunggah foto anak.

Kemudian, Kemdikbud juga berpesan bahwa ada banyak cara untuk berbagi euforia hari pertama anak sekolah tanpa harus membahayakan sang anak. 

Tentunya, hal-hal di atas bisa kita terapkan pada situasi dan kondisi lain bersama anak, tidak hanya pada hari pertama anak bersekolah. Misalnya, pada hari-hari sekolah berikutnya, pada saat anak sedang menghadiri acara ulang tahun, atau saat ia bermain di tempat lainnya. 

Beralih ke Cara Lain
Sebenarnya, ada banyak cara lain yang lebih aman dalam merayakan momen penting anak di media sosial tanpa harus mengorbankan keselamatan anak. Jadi, apa yang bisa para orang tua unggah?

Kita bisa beralih ke prinsip less is better. Semakin sedikit informasi yang kita bagikan di media sosial, maka semakin baik. 

Misalnya, kita hanya mengunggah hasil karya anak di hari pertamanya bersekolah, seperti hasil menggambarnya. Kita juga bisa memotret kaki anak yang bersepatu atau cukup peralatan tulisnya untuk menandakan bahwa ia siap menyambut hari pertamanya bersekolah. Foto-foto seperti itu sebaiknya juga ditunjang dengan narasi (caption) yang sederhana dan sewajarnya. 

Jadi, cukup keluarga dan teman-teman kita yang mengetahui detail penting tentang anak kita seperti usia, lokasi rumah, lokasi sekolah, logo sekolah, hingga nama guru anak. Orang-orang asing di luar sana tidak perlu mengetahui info-info seperti itu secara gratis dari kita. 

Sharenting adalah fenomena yang muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi masa kini. Sadar ataupun tidak, teknologi yang canggih mampu mendorong para orang tua untuk terus-menerus membagikan foto anak dan kehidupan keluarga mereka ke media sosial. 

Sejatinya, alih-alih dikendalikan oleh teknologi, para orang tua seharusnya menjadi pihak yang mampu mengendalikan teknologi. Teknologi dengan segala kepintarannya memang membuat hal-hal yang dulu terasa sulit dilakukan kini menjadi mudah, namun kita harus jauh lebih pintar daripada teknologi itu sendiri. 


Referensi:
Kemdikbud RI. (2018). Yang Perlu Kita Perhatikan Sebelum Memutuskan untuk Memasang Foto Anak https://www.instagram.com/p/BlPlwrDnTcq/?utm_source=ig_embed&ig_rid=9f9d64b0-519f-42dc-abba-496a07dbfb9e diakses 29 Desember 2022
New York Post. (2022). ‘School photo’ social media trend could leave kids vulnerable to predators: Police https://nypost.com/2022/09/22/school-photo-social-media-trend-of-could-leave-kids-vulnerable-to-predators-police/ diakses 29 Desember 2022
Viral Media Malaya. (2020). Dipetik dari fb : Ihsan Zainal https://www.facebook.com/ViralMediaMalaya/photos/a.718775714997545/1387460201462423/?type=3 diakses 29 Desember 2022


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER