Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

23 Desember 2022

12:30 WIB

Secercah Harapan Menghadapi Ancaman Resesi

Mencermati ancaman resesi yang dikabarkan akan menghampiri, seperti apa kondisi ekonomi Indonesia?

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Secercah Harapan Menghadapi Ancaman Resesi
Ilustrasi karyawan berjalan usai bekerja di pusat bisnis di Jakarta, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Dunia dihadapkan pada ancaman resesi! Demikianlah yang kini banyak didengungkan oleh sejumlah ekonom dan kepala negara menjelang akhir tahun 2022. 

Tak terkecuali hal ini juga disampaikan oleh Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bukan sekali keduanya mengucapkan ini. Benarkah demikian?  

Pertumbuhan Ekonomi 
Mencermati ancaman resesi tersebut, hampir setiap ekonom akan kembali mengacu pada berbagai data pertumbuhan ekonomi. Selama ini pertumbuhan ekonomi dilihat sebagai indikator awal dalam melihat perekonomian sebuah negara. 

Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi terlebih terjadi pada negara-negara yang berkembang, hal tersebut seringkali dinilai sebagai pertanda yang baik.   

Nah jika menilik kembali data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dicatatkan oleh BPS menunjukkan bahwa selama periode 1986-1996, rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi (yoy) mencapai 6,8%. Bahkan secara khusus sebelum krisis pada 1996, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 7,8%. 

Hingga akhirnya ketika terjadi krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia 1998 mencapai minus 13,13%. Anjlok! 

Sebagai bagian dari upaya pemulihan, meski terus mengalami berbagai gejolak politik, pemerintahan pasca-Orde Baru, juga terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.  

Dalam perjalanannya, selama periode 2000-2021, perekonomian Indonesia rata-rata tumbuh 4,8% per tahun. Namun apabila melihat tren yang terjadi selama periode 1966-2021, tingkat laju pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren penurunan.   

Mencermati lebih lanjut mengenai pertumbuhan ekonomi ini, yang harus ditelaah lagi adalah komponen pertumbuhan ekonomi tersebut. 

Berdasarkan data BPS, pada triwulan III 2022, komponen konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur PDB Indonesia, yaitu 50,3% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 28,6%. 

Dilihat laju pertumbuhannya, data BPS menyebutkan bahwa pada triwulan III 2022, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,4% (yoy). Masih besarnya peranan konsumsi rumah tangga ini sebenarnya merupakan modal yang cukup baik dalam perekonomian Indonesia. 

Berdasarkan data BPS yang sama, disebutkan bahwa jumlah penduduk 2022 mencapai 275,8 juta. Jumlah ini merupakan potensi sumber pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. 

Karena memang, secara teoritis sektor konsumsi adalah komponen penting untuk menggerakkan kembali perekonomian di samping peran pemerintah. 

Apabila mengacu ada data BPS Maret 2022, berdasarkan data konsumsi per kapita per bulan, proporsi konsumsi  antara kelompok makanan dan non-makanan relatif cukup seimbang. Apabila dilihat berdasarkan nilai rupiahnya, untuk kelompok makanan sebesar Rp1.327.782 (BPS, 2022). Naik 5% dibandingkan Maret 2021. 

Secara keseluruhan selama periode 2011-2022, konsumsi per kapita per bulan rata-rata tumbuh per tahun (CAGR) sebesar 6,94%. 

Khusus pengeluaran kelompok makanan tumbuh sebesar 7,1%. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi untuk non-makanan sebesar 6.8%. 

Proporsi yang seimbang antara konsumsi makanan dan non-makanan ini pada dasarnya merupakan modal ekonomi yang mampu mendekatkan pada titik keseimbangan dalam melihat pola konsumsi masyarakat. Terlebih dalam situasi sebuah negara yang menghadapi ancaman krisis, atau tengah mengalami masa pemulihan pasca sebuah krisis ekonomi. 

Sekedar sebagai pembanding, pada Maret tahun 2018 persentase untuk kelompok makanan masih sebesar 49,51% dan kelompok non-makanan proporsinya sebesar 50,49% (BPS, 2020).  

Terkait PMTB,  laporan BPS menyebutkan bahwa pertumbuhan PMTB triwulan III 2022 (yoy) hampir mencapai 5%. Laju pertumbuhan ini sama dengan rata-rata pertumbuhan PMTB selama periode 2010-2021.  

Pertumbuhan PMTB atau yang umum dikenal dengan investasi ini memang sempat mengalami minus 5% pada 2020. Pertumbuhan minus ini jelas tidak terlepas dari kondisi pandemi. Namun pada 2021, pertumbuhannya sudah kembali mencapai hampir 4% (BPS, 2022). 


Lazimnya, PMTB atau investasi ini seringkali dinilai merupakan komponen atau variabel yang paling penting dalam mencermati perekonomian sebuah negara. 

Pemerintah di berbagai negara termasuk Indonesia, tentunya akan selalu berupaya menarik sebanyak mungkin investasi untuk masuk ke negaranya. 

Baik itu asing maupun domestik, baik langsung ataupun tidak langsung. Melalui masuknya investasilah selalu diharapkan terjadinya multiplier effect yang positif terhadap perekonomian sebuah negara. Begitu pula sebaliknya.  

Namun perubahan paradigma pembangunan dunia, memang telah memaknai pembangunan lebih dari sekedar tingkat pertumbuhan ekonomi. Sebab pada kenyataannya jika pembangunan dihitung dengan hanya berdasarkan pada indikator ekonomi, lebih sering menimbulkan banyak distorsi.  

Begitu pula dengan perhitungan laju pertumbuhan ekonomi. Pada kenyataannya hal tersebut ternyata tidak cukup mampu menunjukkan pembangunan kondisi sosial ekonomi secara lebih utuh. 

Akibatnya, di tengah tingginya pertumbuhan ekonomi, persoalan kemiskinan lebih sering menjadi persoalan yang bersifat laten.

Padahal dalam pandangan kekinian, kemiskinan tidak bisa lagi dilihat dari kemiskinan material semata. Kegagalan atau yang oleh Amartya Sen (1999) disebut dengan ketidakbebasan untuk mendapatkan berbagai hak dasar, adalah bukti dari kegagalan sebuah pembangunan ekonomi. 

Sebab pembangunan yang sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan sebuah mekanisme yang ada akhirnya mampu menjamin setiap individu untuk memiliki akses terhadap berbagai aspek. Khususnya kebutuhan dasar.

Peluang Ekspor
Dalam tata perekonomian dunia yang semakin terbuka, tidak dapat dimungkiri bahwa ketergantungan perekonomian sebuah negara terhadap negara lain juga cukup tinggi. 

Ketika beberapa negara atau bahkan kawasan mengalami sebuah krisis ekonomi, bukan tidak mungkin Indonesia juga akan terkena dampaknya. 

Terlebih pada sektor-sektor yang terkait dengan ekspor-impor. Karena banyak produk dan jasa yang dihasilkan atau yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia dijual atau bahkan didatangkan dari negara lain.

Terkait hubungan ekonomi dengan negara lain, berdasarkan data UN Comtrade, semenjak tahun 2010-2021 ekspor Indonesia ke dunia tumbuh (CAGR) sebesar 3,25%. 

Sementara itu, impor tumbuh (CAGR) sebesar 3,13%. Ekspor terbesar ditujukan ke China yang mencapai $53,8 miliar atau 23% dari nilai ekspor Indonesia ke dunia. Begitu pula dengan impor, dimana yang terbesar mencapai $56,23 miliar atau 29% dari total nilai impor Indonesia dari dunia.   


Pada tahun ini, berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia sepanjang periode Januari–Oktober 2022 mencapai US$244,14 miliar atau naik 31 % dibanding periode yang sama tahun 2021. 

Sementara itu, nilai impor sepanjang Januari-Oktober 2022 diperkirakan akan mencapai US$198,6 miliar. 

Nilai tersebut naik 17,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 (BPS, 2022). Dimana baik ekspor maupun impor terbesarnya juga ke dan dari China. 

Laporan IMF bulan Oktober 2022 memperkirakan bahwa ekonomi China di tahun 2022 tumbuh sebesar 3,2%. Selanjutnya pada 2023, proyeksi pertumbuhan China akan mencapai 4,4%. Bahkan pada 2027 masih akan mencapai 4,6% (IMF, 2022).

Berdasarkan data-data tersebut, China sebagai pasar terbesar produk-produk asal Indonesia masih akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang. 

Meski cenderung mengalami perlambatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, hal ini sekaligus pula merupakan gambaran bahwa masih ada harapan untuk dapat terus melakukan ekspor.

Ancaman Resesi
Kembali kepada pertanyaan awal mengenai ancaman resesi dunia, pascapandemi tata ekonomi dunia memang sedang kembali berubah. Terlebih dengan terjadinya perang Rusia dan Ukraina. 

Terhambatnya pasokan kebutuhan pangan dan energi khususnya ke Eropa, telah menyebabkan ekonomi dunia harus kembali bergerak mencari titik kesimbangan baru. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya Indonesia bersiaga untuk menempatkan posisinya dalam tata ekonomi dunia yang baru tersebut.

Satu hal yang dapat dilihat kembali dari ancaman resesi global ini adalah kemampuan sebuah negara dalam menghadapi krisis ekonomi. 

Meski harus tetap diwaspdai, peluang untuk meminimalisasi dampak resesi terhadap Indonesia masih sangat terbuka. Masih besarnya peran konsumsi rumah tangga, pertumbuhan investasi serta pasar produk ekspor yang akan terus tumbuh pada beberapa tahun ke depan, harus dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. 

Jadi perekonomian Indonesia akan relatif terselamatkan dari ancaman resesi ekonomi global yang kian berdengung dan membuat bingung, bahkan takut. 

 

Referensi

BPS. (2020). Statistik Indonesia 2019. Jakarta, DKI: Bada Pusat Statistik Indonesia.

BPS. (2022, November 7). Berita Resmi Statistik. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III-2022, XXV(81).

BPS. (2022, November). Berita Resmi Statistik Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Oktober 2022. XXV(83).

BPS. (2022). Pengeluaran Untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Per Provinsi Berdasarkan Hasil Susenas Maret 2022. Jakarta, DKI: Badan Pusat Statistik Indonesia.

IMF. (2022, October). World Economic Outlook .

 



KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER