Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

OPINI

06 Desember 2022

16:15 WIB

Saat Kerumunan Membawa Kecemasan

Jika kita didorong oleh sekitar kita, mungkin itu adalah tanda bahwa acara sudah tidak kondusif lagi dan kita layak bersiap.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Saat Kerumunan Membawa Kecemasan
Suasana panggung Berdendang Stage di festival musik Berdendang Bergoyang di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (29/10/2022). ValidNewsID/Rizqi Adnan

Awal November 2022, sebuah kericuhan dalam keramaian acara luring (offline) terjadi. Peristiwa ini terjadi pada Konser NCT 127, grup musik asal Korea Selatan. Ujungnya, konser terpaksa dihentikan oleh kepolisian setelah berlangsung selama 2 jam 20 menit. 

Penghentian dilakukan Polisi sekitar pukul 21.20 WIB. Ini terjadi karena sejumlah penonton berupaya merapat ke panggung. Saling dorong yang menyebabkan pingsannya 30 orang penonton tak terelakkan. Konser yang diadakan di Indonesia Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD) itu diduga ricuh saat personel NCT 127 membagi-bagikan bola plastik ke penonton. 

Brisbania, seorang kerabat penulis, menjadi salah satu penonton di konser NCT 127 hari itu. Dia sudah mengira,  akan banyak yang pingsan di konser tersebut. Pasalnya, sebelum konser, dia menghabiskan waktu sampai tiga jam hanya untuk mengantre makanan. Ini disebabkan ramainya penonton. 

Dari pengamatannya, banyak orang memilih mengabaikan laparanya dan tidak makan, demi bisa antre gerbang masuk di barisan depan. Logisnya, pasti banyak penonton yang lemas karena tidak mengisi perut lebih dahulu, dan memaksakan diri antre lebih dahulu masuk arena pertunjukan.

Menurutnya, pelemparan bola itu hanyalah pemicu keributan susulan. Sebab, sedari awal, para penonton sudah terlihat heboh dan berkemauan besar untuk mendapatkan service sesuai perjuangan mereka. 

Hal yang menyedihkan, banyak penonton yang datang dari luar kota, justru mengalami nasib tak menguntungkan. Malam itu, Brisbania membantu menenangkan tangisan remaja-remaja yang datang dari Solo, Jogja, Semarang, bahkan Pontianak. Beberapa dari mereka rela membeli tiket di atas harga asli. Malah, ada yang harus menguras tabungan selama pandemi. Banyak pula yang menaiki bus carteran dari Jawa Tengah dan sudah ada di lokasi acara dari pukul 01.00 WIB, alias tidak menginap di hotel sekitar tempat konser. 

Mereka yang tertib menonton merasa dirugikan atas penghentian konser ini. Tetapi, mereka pun kebingungan harus ke mana menumpahkan amarah. Di sisi lain, menurut Brisbania, ada bagusnya juga konser ini dihentikan secara tegas. Hal-hal yang lebih tidak dinginkan lagi, bisa malah terjadi pada menit-menit berikutnya. 

Trauma dengan Kerumunan
Tentunya, penghentian acara membuat kita trauma. Kita masih dibayangi tragedi Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang memakan ratusan korban jiwa. Korea sendiri juga berduka dengan tragedi Itaewon pada 29 Oktober 2022 yang juga menelan korban hingga ratusan jiwa. 

Tak ketinggalan, kekisruhan festival musik Berdendang Bergoyang di Istora Senayan Jakarta pada akhir Oktober 2022, yang juga menyebabkan puluhan orang pingsan. Akhirnya, acara yang mengundang kerumunan menjadi salah satu kekhawatiran terbesar kita saat ini. 

Sejumlah tragedi di atas membuat kita diingatkan lagi pada apa yang dinamakan dengan crush injury, crush syndrome, hingga compression syndrome. 

Crush injury merupakan cedera yang disebabkan remuknya bagian tubuh, akibat memperoleh tekanan dan himpitan dari benda yang berat. Patah tulang, luka robek, memar, hingga amputasi traumatis adalah beberapa contoh cedera tersebut. Komplikasi hingga kematian adalah akibat yang bisa muncul jika kasus yang berat terlambat ditangani. 

Crush syndrome menjadi salah satu dari sejumlah komplikasi yang muncul akibat crush injury.  Ini merupakan kondisi klinis akibat otot yang rusak parah, sampai-sampai otot melepaskan mioglobin berjumlah besar ke dalam darah.  Hal ini dapat memunculkan efek seperti gagal ginjal dan syok.  

Ada pula yang dinamakan dengan compression syndrome, yakni cedera otot akibat kompresi sederhana dari sekelompok otot. Hal ini mengakibatkan kurangnya aliran darah ke organ tubuh, yang kemudian membuat zat penghancur masuk ke dalam darah. 

Bahkan, meskipun dari luar tampak seperti memar saja, ada banyak kasus di mana terjadi disfungsi dan pendarahan di bagian dalam. 

Jika tubuh berhimpit-himpitan seperti yang terjadi di Itaewon, kematian akibat compression syndrome ini paling sering terjadi. Sebagian besar penyebab kematian dalam tragedi Itaweon adalah tubuh yang sudah melemas karena tekanan dari berbagai sisi. Sejumlah ahli memperkirakan bahwa mungkin ada banyak kegagalan organ akibat compression syndrome ini. 

G Keith Still, profesor tamu ilmu kerumunan di University of Suffolk di Inggris, mengungkapkan bahwa manusia tidaklah akan mati karena panik. Kepanikan mereka terjadi karena mereka sekarat. Saat tubuh-tubuh berjatuhan dan orang-orang terjatuh di atas satu sama lain, orang-orang susah payah berjuang untuk kembali bangun, hingga berakhir dengan kaki dan tangan yang terpelintir bersamaan. 

Bertahan di Kerumunan
Kini, kita semakin memahami bahwa kerumunan betul-betul dapat membawa kematian. Jadi, siapapun yang menghadiri acara kumpul-kumpul besar, seyogyanya mengetahui cara-cara agar tetap bisa bersenang-senang dengan aman dan selamat. 

Sebelum datang ke acara, hendaknya kita lakukan riset kecil-kecilan mengenai acara yang akan kita datangi. Misalnya, acara tanpa nomor kursi yang sudah ditentukan sedari awal cenderung lebih berbahaya.  

Saat pertama kali kita melangkahkan kaki ke dalam acara, perhatikan bagaimana pengaturan acara tersebut. Jika proses pengecekan tiket saja sudah kacau, maka kemungkinan besar seluruh acara juga akan kacau dalam mengendalikan kerumunan. Lalu, hafalkan di mana pintu keluar acara, terutama yang paling dekat dari tempat kita duduk. 

Jika situasi mengarah pada bahaya, ada cara untuk bisa mengetahuinya. Waspadai jika kerumunan sudah sangat padat. Jika kita didorong oleh sekitar kita, mungkin itu adalah tanda bahwa acara sudah tidak kondusif lagi. Kita juga perlu meminta pihak keamanan untuk memantau situasi. Jika tidak ada yang bisa dimintakan bantuan, maka itu pertanda kondisi sudah tidak aman. 

Acara-acara luring yang selalu ramai memang menunjukkan bahwa kita senang merayakan kebebasan berkumpul lagi setelah pandemi. Namun, masing-masing dari kita juga harus punya kesadaran penuh untuk menjaga acara agar tetap berjalan aman dan tertib. Jangan sampai, niat hati ingin ke luar rumah karena kesepian, malah berakhir kesulitan keluar dari kerumunan.   


Referensi:
Antaranews. (2022). Konser NCT 127 dihentikan karena banyak penonton pingsan https://jogja.antaranews.com/berita/586049/konser-nct-127-dihentikan-karena-banyak-penonton-pingsan diakses 24 November 2022
Antaranews. (2022). Polisi: Puluhan penonton pingsan di acara berdendang bergoyang https://www.antaranews.com/berita/3215689/polisi-puluhan-penonton-pingsan-di-acara-berdendang-bergoyang diakses 24 November 2022
Korea Boo. (2022). Koreans Raise Awareness For “Crush Syndrome,” Urge Itaewon Incident Survivors To Seek Medical Help https://www.koreaboo.com/news/koreans-raise-awareness-crush-syndrome-urges-itaewon-incident-survivors-seek-medical-help/ diakses 24 November 2022
New York Times. (2022). What to Do if You Find Yourself in a Crowd Crush https://www.nytimes.com/article/crowd-crush-safety.html diakses 24 November 2022
Washington Post. (2022). Here’s what causes crowd crushes like the deadly one in Seoul https://www.washingtonpost.com/world/2022/10/29/seoul-halloween-crowd-crush-surge/ diakses 24 November 2022


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER