Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

11 November 2022

15:30 WIB

Perpustakaan Kekinian Dan Minat Baca

Ketenangan psikologis pengunjung yang terjaga berkat kenyamanan di perpustakaan, diyakini mampu membantu pengunjung memperoleh inspirasi dalam berkarya.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Perpustakaan Kekinian Dan Minat Baca
Perpustakaan Jakarta yang berlokasi di Cikini, Jakarta Pusat, merupakan bagian dari revitalisasi Taman Ismail Marzuki. ValidNewsID/Gisantia Bestari

Bulan Juli 2022 lalu, Perpustakaan Jakarta yang merupakan bagian dari revitalisasi Taman Ismail Marzuki diresmikan dan dibuka untuk umum. Berlokasi di Cikini, Jakarta Pusat, Perpustakaan Jakarta didesain oleh Andra Matin, arsitek senior Indonesia dengan segudang prestasi nasional dan internasional.  

Beberapa minggu lalu, penulis berkesempatan mengunjunginya. Perpustakaan ini bisa diakses melalui lift menuju lantai 4 Gedung Panjang Taman Ismail Marzuki. Saat keluar lift, kita akan disambut dengan lorong panjang bergaya industrial. 

Tata letaknya menarik. Sebelum memasuki area utama perpustakaan ini, kita akan terlebih dulu  menemui ruangan khusus anak. Ruangan luas ini ditata rapih dan nyediakan banyak sekali mainan. Ruangan khusus anak ini bersebelahan dengan area rak buku-buku anak yang disusun berdasarkan kategori usia anak. 

Memiliki tiga lantai dengan sekitar 100.000 koleksi buku, area utama Perpustakaan Jakarta berkonsep simpel, lapang, modern, dengan banyak jendela. Warna coklat kayu dan abu-abu mendominasi desain perpustakaan yang kekinian ini. Ada meja panjang yang menghadap ke jendela besar, sehingga pengunjung dapat beraktivitas di depan laptop sambil memandang ke luar jendela. 

Bisa dibilang, desain Perpustakaan Jakarta di Cikini ini dapat dengan mudah digemari para milenial.

Hubungan Desain Dan Membaca
Perpustakaan Jakarta sepertinya sengaja dibuat untuk mendobrak stereotipe fasilitas sama. Biasanya, banyak warga mempersepsikan perpustakaan sebagai tempat yang tidak asyik, kuno, dan membosankan. Ternyata, dengan desain yang memanjakan mata, perpustaan bisa menjadi sebuah tempat indah,  bisa membikin betah. 

Menurut perusahaan FaulknerBrowns Architects asal Inggris, ada sejumlah aspek dasar yang penting diperhatikan saat berencana membangun sebuah perpustakaan. 

Di antaranya adalah aspek kekompakan bentuk. Aspek ini meliputi komposisi warna dan bentuk furnitur perpustakaan yang selaras satu sama lain.  Dalam menentukan warna, perlu mempertimbangkan keartistikan ruangan. Sensasi artistik ini seyogyanya bisa dirasakan oleh pengunjung maupun pustakawan yang bekerja. 

Ada juga aspek extendible (mudah dikembangkan). Pada aspek ini, perancangan perpustakaan sebaiknya bisa menyesuaikan perubahan dan perkembangan zaman. Lebih dari itu, pembangunan perpustakaan juga harus dapat memudahkan proses revitalisasi.  

Aspek selanjutnya adalah aspek kenyamanan. Ketenangan psikologis pengunjung yang terjaga berkat kenyamanan di perpustakaan, diyakini mampu membantu pengunjung memperoleh inspirasi dalam berkarya.  

Aspek-aspek lainnya yang perlu dipertimbangkan juga adalah aspek keberagaman (banyak ruangan beraneka fungsi sesuai kebutuhan), aspek accessible (lokasi yang gampang diakses), dan aspek fleksibel (tata letak mudah diubah-ubah untuk pergantian suasana). 

Sejumlah penelitian akademik pun mengungkapkan bahwa desain perpustakaan berpengaruh terhadap kenyamanan membaca pengunjung. Kenyamanan adalah suatu kondisi yang bisa dicapai melalui penglihatan oleh mata, penciuman oleh hidung, perabaan oleh kulit, dan pendengaran oleh telinga. 

Penelitian oleh (Dilla, dkk) pada 2020, misalnya, menunjukkan bahwa desain perpustakaan yang menarik mampu menjadi tempat penyegaran pikiran bagi pemustaka. Pemustaka pun betah berlama-lama di dalam perpustakaan. 

Membaca Vs Berfoto
Apa efek yang terjadi jika desain sebuah tempat direvitalisasi menjadi lebih modern dan artistik seperti Perpustakaan Jakarta di Cikini? Betul, orang-orang akan ramai berkunjung untuk tujuan berfoto-foto. 

Pada 2018, salah satu strategi Kementerian Pariwisata RI agar objek wisata ramai dikunjungi wisatawan adalah strategi Destinasi Digital. Singkatnya, Destinasi Digital adalah mengondisikan tempat wisata sedemikian rupa agar membuat masyarakat ingin berkunjung, berfoto, dan memamerkannya di media sosial mereka. 

Wisatawan milenial dinilai sebagai pasar yang penting, karena mereka punya kekuatan memengaruhi yang luar biasa besar. Setidaknya ada empat kelompok milenial, yakni pintar berteknologi informasi, mampu menjadi advokator, berfokus pada pengalaman, serta pemburu petualangan. 

Jika milenial menjadi promotor objek wisata Indonesia melalui foto yang mereka unggah di media sosial, foto dapat dengan mudah dilihat oleh orang-orang mancanegara.   

Begitu juga yang terjadi pada Perpustakaan Jakarta, yang telah diremajakan ini. Suasana perpustakaan amat mendukung para anak muda untuk bergaya dan mengambil foto di sana. Jika kita menelusuri tagar #perpusjkt, #perpusjakarta, atau #perpustakaanjakarta di Instagram, kita sudah bisa menemukan ratusan konten foto dan video mengenai perpustakaan ini. 

Memang, jika sekilas melihat fenomena ini, tampaknya ada sekelompok orang yang ke sana hanya dengan tujuan berfoto-foto. Alih-alih benar-benar mencari buku, membaca buku, atau beraktivitas lainnya, mereka sibuk mencari spot untuk menciptakan konten yang estetik. 

Tapi, di sisi lain, biarlah desain perpustakaan yang kekinian menjadi gerbang awal penarik hati para pengunjung. Utamanya pengunjung milenial, yang notabene sudah lebih dekat dengan canggihnya digitalisasi dibandingkan buku fisik. Masyarakat mau melangkahkan kaki ke perpustakaan, meski bukan dalam rangka mencari bacaan, sudah menjadi permulaan yang baik. 

Jika buku belum dapat menjadi penarik perhatian utama, setidaknya desain estetik bisa menjadi pintu masuk yang mengambil alih. Tentu tetap dengan harapan, minat membaca akan tumbuh setelahnya. 

Referensi:
Agustiani, Dilla Hardina, dkk. (2020). Pengaruh Desain Interior Terhadap Kenyamanan Membaca Pemustaka di Perpustakaan IAIN Tulungagung. Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 4 Nomor 2, Oktober 2020.
Antara. (2018). Destinasi digital yang diburu para milenial https://www.antaranews.com/berita/765545/destinasi-digital-yang-diburu-para-milenial diakses 1 November 2022
Jakarta Tourism. (2022). The New Face of Perpustakaan Jakarta Cikini https://jakarta-tourism.picsidev.com/news/2022/08/the-new-face-of-perpustakaan-jakarta-cikini diakses 1 November 2022
Purnomo, Aji Susanto Anom & Monica Revias Purwa Kusuma. (2019). Pengungkapan Estetika Fotografi “Instagramable” Di Era Pariwisata Destinasi Digital. MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 34, Nomor 3, September 2019 p 319-324




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini