Selamat

Kamis, 18 Agustus 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

31 Mei 2022

18:43 WIB

Multiverse: Mengubah Solusi Jadi Masterpiece ala Marvel

Jual beli hak kekayaan intelektual adalah salah satu penyakit bisnis Marvel. Konsep Multiverse jadi obatnya.

Penulis: Novelia,

Editor: Rikando Somba

Multiverse: Mengubah Solusi Jadi <i>Masterpiece</i> ala Marvel
Salah satu adegan dalam film "Doctor Strange in the Multiverse of Madness". Marvel Studios/Dok

"BUMM!!!"

Sebuah dentuman keras terdengar ketika Stephen Strange tengah menghadiri pesta perayaan pernikahan dari mantan kekasihnya, Christine Palmer. Di luar, seekor gurita raksasa bermata satu tampak tengah mengejar seorang gadis secara membabi buta yang bersembunyi di dalam bus. Naluri sebagai salah satu anggota Avengers, membuat Doctor Strange–nama panggung pria ini di kalangan pahlawan super–segera beranjak dari pesta demi mengamankan situasi kota. 

Tak butuh waktu lama bagi jagoan yang punya keahlian mengendalikan portal semesta atau universe untuk melumpuhkan sang monster. Hal menarik justru terkuak ketika Doctor Strange mulai mengenal America Chavez, gadis incaran si gurita yang mengaku berasal dari universe lain dan berteman dengan Doctor Strange yang ada di semesta asalnya (Earth-616).

Begitulah awal dari kisah Doctor Strange di film keduanya yang berjudul “Doctor Strange in The Multiverse of Madness”. Yap, konsep multiverse alias multi-semesta sebenarnya bukan barang baru di Marvel Cinematic Universe (MCU). Konsep ini diperkenalkan pada film pertama Doctor Strange ketika sosok Ancient One menjelaskan kepada Stephen Strange tentang bagaimana semesta bekerja pada hari pertamanya saat mengunjungi Kamar Taj. 

Kemudian konsep Multiverse dipopulerkan melalui “Spiderman No Way Home” yang belum lama ini merajai layar lebar.

Lewat film itu, konsep dunia paralel disosialisasikan kepada penggemar Marvel.  Konsep multiverse dinilai sebagai sebuah ide cemerlang yang out of the box.

Namun, di balik kreativitas yang unik itu, tahukah kamu bahwa konsep ini adalah salah satu langkah jitu Marvel untuk mengoptimalisasi semesta filmnya di tengah kesulitan yang dihadapi. Seperti apa sih ceritanya?

Memanjat Jurang Kebangkrutan
Popularitas Marvel bermula dari sebuah perusahaan komik yang meraih kejayaannya pada tahun 1960-an hingga awal 1990-an. Sayangnya, kebangkrutan membayangi kala nilai saham perusahaan ini mulai anjlok. Para punggawa Marvel mesti merelakan saham senilai US$35.75 pada tahun 1993 terjun bebas ke angka US$2.375 tiga tahun setelahnya (Lambie, 2018). 

Penurunan drastis nilai saham membuat Marvel dibalut kebingungan akan masa depan perusahaan. Berbagai upaya coba dilakukan. Memanfaatkan pembelian 46% saham ToyBiz yang dilakukan di bawah gagasan Ronald Perelman, perusahaan ini mencoba menggarap bisnis action figure dari karakter-karakter komik mereka. Awalnya upaya ini memberikan harapan baru bagi Marvel. Namun tak lama, penurunan tren kembali harus dialami.


Anggota Illuminati dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Marvel Studios/dok 

Di tengah rasa frustrasi akan bisnisnya yang kian merunduk, Marvel memutuskan untuk menjual lisensi film dari karakter-karakter yang dimiliki kepada beberapa rumah produksi. Sebut saja Hulk dan Iron Man yang dibeli Universal Pictures, serta X-Men – termasuk Deadpool – dan Fantastic Four yang dibeli pada 20th Century Fox. 

Pada tahun 1998, Marvel sebenarnya bahkan telah menawarkan seluruh karakternya pada Sony Pictures hanya dengan harga US$25 miliar. Namun, rumah produksi ini hanya berniat memboyong Spiderman (Pearson, 2021).

Di bawah naungan rumah produksi yang membeli lisensi sejumlah karakternya, nama Marvel mulai dikenal lagi. Dan yang terpenting, mereka bisa lolos dari kehancuran finansial. Karakter-karakter terkait pun mulai berkembang dalam penokohan layar lebar. Di antaranya adalah film-film X-Men dan Spiderman yang jadi hits di berbagai belahan dunia.

Walau begitu, kesepakatan pembelian lisensi membuat Marvel tidak bisa memompa penghasilan perusahaan secara signifikan dari produksi film karakter-karakter tersebut. Share yang diperoleh dari kesuksesan film-film tersebut terbilang sangat kecil. Padahal Marvel sendiri ikut andil bersama rumah produksi dalam penggarapannya. 

Menggarap Film di “Rumah” Sendiri
Setelah beberapa lama harus bergantung pada sejumlah rumah produksi, titik terang mulai terlihat pada 2003. Seorang agen talent (aktor/aktris) bernama David Maisel mendatangi Marvel dan menyodorkan sebuah proposal.

Dia menyarankan Marvel agar menggarap sendiri filmnya, tanpa bantuan rumah produksi lain. Toh, mereka masih punya banyak karakter komik yang sangat layak dikenal publik dan belum dibeli siapapun. Terutama para jagoan yang tergabung dalam Avengers.

Maisel juga memberi ide agar setiap karakter yang dimiliki Marvel memiliki jalan cerita yang saling terhubung, seperti yang sebenarnya memang dilakukan dalam komik-komik mereka. Interkoneksi dalam semesta ini dinilai bakal membuat para penonton lebih tertarik mengikuti kisah para karakter Marvel secara menyeluruh.

Proposal itu menarik perhatian Marvel.  Jelas, ada potensi besar jika karakter-karakter lainnya juga difilmkan. Seperti doa yang terjawab, Marvel kemudian peroleh kredit lunak dari Merill Lynch, Bank of America, sejumlah US$525 juta selama tujuh tahun. Modal tersebut setidaknya bisa digunakan memproduksi 10 film dengan kisaran modal US$45 juta hingga US$180 juta (Lambie, 2018).

Dengan modal tersebut juga lah mereka berhasil merebut kembali beberapa karakter yang sebelumnya dijual pada rumah produksi. Pada momen ini, Marvel kembali memiliki hak atas Iron Man setelah membelinya dari New Line Cinema, yang sebelumnya juga telah dioper dari Universal ke Fox. Dengan lantang, akhirnya Marvel mengumumkan bahwa manusia baja tersebut bakal jadi proyek sinema perdana.

Seperti perkiraan, film pertama Iron Man yang rilis pada 2008 menuai kesuksesan. Peraihan ini jadi modal besar bagi Marvel untuk menggarap serius MCU, mereka akhirnya mewujudkan ide interkoneksi antarjagoan yang dibahas sebelumnya. Gagasan MCU akhirnya mulai terwujud ketika Disney resmi mengakuisisi Marvel dengan nilai US$4 miliar pada 2009.

Akuisisi Disney sebagai induk perusahaan membuat MCU makin leluasa mendistribusikan karya dan mengembangkan narasi antarsemesta serta antarkarakter yang mereka miliki.

Dengan memanfaatkan sumber daya distribusi yang dimiliki oleh Disney, seperti layanan Disney+, MCU bereksperimen dengan memproduksi beberapa serial yang berfungsi sebagai mesin eksplorasi karakter yang baru, maupun yang sudah eksis. Serial itu juga berfungsi sebagai penghubung narasi untuk memuluskan konsep berkelanjutan MCU bagi film-film layar lebar yang akan rilis. 

Sebagai contoh, serial “The Falcon and The Winter Soldier” dan “Hawkeye” diproduksi untuk mengeksplor karakter lama serta memperkenalkan karakter baru untuk proyek MCU selanjutnya. Di sisi lain, “What-If”, “WandaVision”, dan “Loki” jadi sejumlah serial yang punya ‘tugas’ menghubungkan narasi Multiverse yang sedang digadang-gadang oleh MCU sebagai formula ampuh bagi kesuksesan waralaba di masa depan. 

Multiverse: Penjahit Kekacauan Narasi Marvel
Bermodalkan akuisisi Disney adalah suatu berkah bagi kelanjutan Marvel. Namun, untuk dapat memproduksi film berkelanjutan, mereka perlu sangat intens mengeksplorasi sumber daya kreatif yang dimiliki. Beruntung, kedua entitas ini memiliki SDM berkualias untuk menjawab tantangan tersebut.

Meski hanya didukung dengan keterbatasan kontrak serta lisensi film para karakter besar, seperti Hulk dan Spiderman, MCU menyadari bahwa perusahaan memiliki keleluasaan yang besar terhadap lumbung kekayaan intelektual mereka. 

Menurut CEO Disney Bob Iger, perusahaan memiliki hak kekayaan intelektual terhadap sekitar 7.000 karakter komik yang bisa digarap oleh studio. MCU yang dipimpin oleh Kevin Feige menganggap narasi Multiverse sebagai salah satu formula kreatif untuk mengintegrasikan banyak karakter ke dalam kesatuan unit semesta film Marvel.

Tidak heran jika kita bisa melihat beberapa karakter komik Marvel yang tidak pernah difilmkan, ujug-ujug muncul sebagai karakter sinema dengan peran yang juga terbilang signifikan bagi keberlanjutan narasi.

Salah satunya adalah karakter Kang The Conquorer dalam serial “Loki” yang digambarkan sebagai He Who Remains di semesta TVA (Time Variance Authority). Pada serial Loki, Kang merupakan pendiri TVA, sebuah otoritas yang bertujuan untuk mengatur linimasa.

Dalam episode terakhir serial, Kang menjelaskan bahwa kematian dirinya hanya akan menimbulkan kekacauan multiverse yang mungkin dilakukan oleh dirinya di semesta lain. Dengan mengacu pada narasi tersebut, MCU mencoba menggoda audiens dengan melempar kemungkinan munculnya film crossover besar lain setelah Avengers dengan menggunakan Multiverse.

Narasi Multiverse semakin diperkuat dengan hadirnya America Chavez, perempuan muda berbakat yang mampu membuka portal Multiverse, di film Doctor Strange: Multiverse of Madness. 

Keahlian super America Chavez membuat audiens dapat menyaksikan kemunculan beberapa karakter besar lainnya seperti, Mr. Fantastic (Fantastic Four), Professor X (X-Men), Captain Carter, serta Black Bolt (Inhumans). Dengan kreasi tersebut, MCU memiliki kesempatan besar untuk membangun semesta film yang berkesinambungan dengan mengangkat banyak karakter signifikan ke sinema untuk menjaga keberlanjutan narasi tanpa perlu lagi mengkhawatirkan banyak keterbatasan kreasi karena hal-hal yang bersifat legal. 

Membuka Peluang Narasi Apapun
Penjualan hak lisensi film beberapa karakter ke studio produksi yang dilakukan di waktu silam memang membuat Marvel tidak dapat merasakan keuntungan ekonomi yang signifikan. Meski demikian, Marvel mengalami keterbatasan untuk menggarap narasi besar dari karakter-karakter tersebut. Untuk mengatasinya, Marvel akhirnya memilih untuk memanfaatkan Hulk dan Spiderman sebagai karakter pendukung serta jembatan narasi di beberapa semesta film Marvel. 

Meskipun tidak diperbolehkan menggarap film standalone atas karakter Hulk, Marvel justru memanfaatkan karakter tersebut sebagai karakter pendukung dengan peran yang sangat signifikan di beberapa film MCU.

Sementara untuk kasus Spiderman, Marvel memanfaatkan karakter manusia laba-laba itu menjadi jembatan narasi yang sedang dibangun oleh MCU melalui tiga film Spiderman yang diperankan oleh Tom Holland.

Kepiawaian MCU meramu kelimpahan serta keterbatasan hak kekayaan intelektual karakter-karakter waralaba dalam satu kesatuan narasi memberikan MCU posisi tawar yang tinggi di industri perfilman. Beberapa film berhasil menduduki peringkat sepuluh teratas box-office secara global dalam periode waktu yang lama.  

Konsep multiverse menjadi salah satu formula yang dapat membuka dimensi ruang-waktu yang menguntungkan di industri perfilman. MCU dapat menghadirkan karakter-karakter baru tanpa harus mengganggu keberlangsungan dan keberlanjutan narasi di semesta filmnya. 

Strategi Marvel ini barangkali bisa menyadarkan kita bahwa ide yang muncul pada saat terdesak selalu potensial menjadi hal yang cemerlang. Jatuh bangun adalah hal biasa yang kerap mendatangkan kesempatan baru.

Seperti halnya bagaimana gagasan memanfaatkan kemampuan Doctor Strange untuk mengawali konsep multiverse justru muncul ketika perusahaan ini tengah kepepet mencari solusi untuk memperbaiki plot-hole Spiderman. 

Marvel membuktikan bahwa yang mereka lakukan dengan konsep multiverse bukan hanya membuat sebuah masterpiece. Lebih jauh, mereka bisa mengatasi masalah dan melakukan optimalisasi aset. Ibarat peribahasa, sekali mendayung, dua tiga semesta terlampaui. 

Referensi

Lambie, R. (2018, April 17). How Marvel Went From Bankruptcy to Billions. Retrieved from Den of Geek: https://www.denofgeek.com/movies/how-marvel-went-from-bankruptcy-to-billions/

Pearson, B. (2021, Oktober 21). Who Owns The Movie Rights To Marvel Characters: A Comprehensive Guide. Retrieved from Slash Film: https://www.slashfilm.com/637636/who-owns-the-movie-rights-to-marvel-characters-a-comprehensive-guide/

 

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Smart Supply-Demand Kuatkan Pertumbuhan Industri Logam

Marvel Rilis Serial "She-Hulk: Attorney at Law" Hari Ini

Gerindra: Pidato Ketua MPR Soal PPHN Sesuai Rapat Gabungan

Program Makmur Tingkatkan Produktivitas Tebu Petani

iPhone 14 Akan Dikenalkan Bulan September

BMKG Ingatkan Gelombang Sangat Tinggi Selatan Jawa

IHSG Kamis Berpotensi Melemah

Baru Bebas, KPK Tangkap Eks Wali Kota Cimahi