Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

12 Oktober 2022

15:00 WIB

Microfactory Dan Geliat Aliansi Demi Elektrifikasi

Hilirisasi dijajaki pemerintah guna memaksimalisasi potensi nikel Indonesia. Mulai dari ekspor produk turunan, hingga aliansi perencanaan pabrik EV battery.

Penulis: Novelia,

Editor: Rikando Somba

<i>Microfactory</i> Dan Geliat Aliansi Demi Elektrifikasi
Dirut MIND ID Hendi Santoso, Wamen BUMN Pahala Mansury, Dubes RI untuk Inggris HE Desra Percaya, bersama CEO ARRIVAL Denis Sverdlov. Sumber: mind.id

“Gembar-gembor kendaraan listrik, memang infrastruktur dan perlengkapannya sudah beres?”

Pertanyaan semacam ini mungkin tak satu dua kali kita dengar dari orang-orang di sekitar. Keraguan pada pemerataan elektrifikasi dan sarana pendukungnya memang bukan hal baru di Indonesia. 

Pasalnya, setelah berpuluh tahun lamanya kita terbiasa menggunakan fasilitas dengan energi berbasis fosil (gas alam, minyak, dan batu bara), sebagian masyarakat masih tak yakin bahwa kita sudah siap melakukan transisi menuju energi terbarukan, seperti angin, matahari, dan baterai lithium-ion.

Padahal, meski kerap diragukan oleh warganya sendiri, negara kita merupakan salah satu yang punya potensi besar meraup untung dari pergerakan dunia ke arah elektrifikasi, loh. Kenapa begitu? Karena dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia, Indonesia hingga kini terus mendominasi produksi nikel, yang merupakan bahan baku utama pembuatan electronic vehicle (EV) battery alias baterai yang dipakai untuk kendaraan listrik.

Berdasarkan Mineral Commodity Summaries 2022 yang dipublikasikan oleh USGS, setidaknya pada 2020 saja, tingkat produksi nikel di Indonesia mencapai 771.000 metric ton. Jumlah ini setara dengan 30,7% produksi nikel dari seluruh dunia yang totalnya mencapai 2.510.800 metric ton.


Potensi besar akan nikel inilah yang memicu tumbuhnya kesadaran akan perlunya hilirisasi. Makanya, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019, pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel, terhitung 1 Januari 2020. 

Tujuannya jelas, untuk meningkatkan daya saing nikel sebagai komoditas andalan, yakni dengan “memaksa” produk turunannya untuk lebih aktif di pasar internasional.

Baca Juga: Tak Lagi Sekadar Menjual Bongkahan

Dampak dari kebijakan ini cukup signifikan.Terhitung sejak pelarangan ekspor bijih nikel diberlakukan, ekspor dari produk-produk turunannya terpantau menunjukkan tren naik. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada periode Januari-Agustus, ekspor feronikel mencapai senilai US$8.762,8 juta, melonjak jauh dari capaian pada tahun 2019 yang hanya mencapai US$2.595,6 juta.


Mengenal Konsep Microfactory 
 Dengan kenaikan produk-produk turunan nikel yang terhitung cukup baik, pemerintah agaknya enggan melewatkan kesempatan untuk memaksimalkan potensi hasil tambang yang satu ini. Tak tanggung-tanggung, pemerintah secara matang memikirkan penggarapan produksi baterai EV secara besar-besaran dengan sejumlah langkah aliansi, baik di dalam maupun luar negeri.

Teranyar, Juni 2022, BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, atau Mining Industry Indonesia bertamu ke pabrik milik ARRIVAL Ltd, sebuah produsen perusahaan kendaraan listrik di Inggris. 

Pada kunjungan tersebut, kedua pihak resmi bekerja sama untuk mematangkan persiapan Indonesia dalam rencana produksi besar-besaran baterai EV. Dari ARRIVAL yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya dan punya konsep microfactory, negara kita konon bakal mengeksplorasi solusi pasokan potensial, termasuk Baterai & Aluminium dan juga membahas desain dan pengembangan kendaraan listrik.

Memang apa sih microfactory itu?

Pendekatan microfactory dalam strategi pemasaran sebenarnya bukan barang baru. Pertama kali diusulkan oleh Mechanichal Engineer Laboratory (MEL) dari Jepang pada 1990, prinsip microfactory awalnya dilakukan untuk melakukan penghematan, mulai dari sisi finansial, waktu, maupun energi. MEL sendiri melakukan produksi dengan metode ini untuk mengembangkan prototipe dari produk yang akan dipasarkan.

Secara sederhana microfactory bisa diartikan sebagai sebuah pendekatan pemasaran melalui beberapa pabrikan berskala kecil namun berlokasi dekat dengan pengguna akhir alias end user

Pada konsep pabrikan tradisional, sistem distribusi masih harus melewati pergudangan (storage), distributor, hingga para retailer, sebelum produk sampai ke end user. Namun, melalui pendekatan microfactory, produk bisa langsung sampai ke pengguna, atau – meski terhitung jarang – cukup melalui retailer.

Pada awal-awal kehadirannya, konsep ini dipraktikkan untuk mendukung penyederhanaan produksi dari barang-barang yang baru pertama kali dipasarkan. Dalam kondisi tersebut, umumnya sejumlah ada cost yang mesti ditanggung dalam rangka produksi perdana. 

Alih-alih melakukan produksi massal dan langsung menyampaikannya ke sejumlah besar distributor maupun end user – tanpa tahu apakah produk akan laku di pasaran atau tidak – konsep microfactory justru memberikan kesempatan produksi berskala kecil dilakukan untuk kepentingan komersialisasi mula.

Gara-gara tipe bisnis yang disederhanakan dan tidak perlu melewati beberapa elemen yang jadi barang wajib dalam pabrikan tradisional, dengan konsep microfactory perusahaan bisa memangkas banyak cost yang sebelumnya membebani. Tidak ada lagi biaya distribusi yang membengkak karena produk harus disebarkan pada end user tanpa peduli jauh dekatnya.

Dengan lebih ringkasnya jalur distribusi, tentu saja tenaga kerja yang diperlukan akan lebih sedikit. Begitu pula dengan anggaran pusat yang dibutuhkan untuk melakukan set-up, tidak akan sebesar pada model pabrikan yang memroduksi barangnya secara sangat massal. Walhasil, dengan menekan berbagai biaya, bisa dipastikan keuntungan yang diraih akan lebih besar.

Di sisi lain, produksi yang dilakukan dalam jumlah tak terlalu besar bakal menguntungkan dalam hal inovasi produk. Tim dapat lebih leluasa ketika ingin mengubah arah produksi apabila ide-ide baru bermunculan, sehingga proses akan berlangsung lebih luwes. 

Hal itu tidak bisa dilakukan dalam konsep pabrikan tradisional. Di konsep tradisional, ide berinovasi yang datang di tengah proses produksi tak bisa diterapkan segera. 

Ide harus terlebih dahulu dipendam karena ketakutan merusak skema produksi massal. Ide baru bisa dipraktikkan ketika rancangan akan produk selanjutnya diusulkan.

Solusi Industri Masa Depan
Tak sekadar menguntungkan, sistem ini juga diyakini punya berbagai benefits yang cocok dengan beragam pasar. Dan kalau bicara soal itu, microfactory bisa dibilang cukup ideal. 

Dari berbagai kelebihan yang dimiliki sistem microfactory, setidaknya ada dua motif yang membuatnya cocok untuk menyambut masa depan industri, bahkan tak hanya di bidang yang mendukung elektrifikasi.

Motif pertama yakni terkait segi konsumsi. Modernisasi membuat kian banyak pelanggan menginginkan produk yang dapat dikostumisasi sehingga terasa lebih personal. 

Keadaan ini terbukti dari sebuah survei (Future Bridge, 2020) yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% konsumen di negara-negara berkembang memilih produk personalisasi, serta siap membayar harga yang lebih tinggi untuk itu.

Pergeseran dinamika preferensi konsumsi ini tentu saja mendukung perkembangan inovasi dan kustomisasi pada setiap industri di masa depan. Di lain sisi, seperti dibahas sebelumnya, inovasi akan sangat ideal dilakukan dengan metode microfactory di mana tim pabrik akan lebih leluasa “membongkar-pasang produk untuk mencapai desain yang diinginkan, serta mengimplementasikan beragam kreativitasnya ke dalam model-model produk yang variatif.

Teknik ini kebetulan dilakukan oleh sebuah perusahaan yang juga bergerak di bidang otomotif, yakni Local Motors. Perusahaan ini membangun microfactory pertamanya di Phoenix, Arizona, pada 2010. Belakangan, ia juga memiliki empat microfactory yang masing-masing fokus memproduksi beberapa tipe kendaraan. 

Local Motors merupakan perusahaan manufaktur mobil 3D-printed pertama di dunia, dan konsep microfactory yang diterapkannya membuat perusahaan ini mampu memroduksi bervariasi model kendaraan – misalnya Rally Fighter, Verrado, dan Olli – di sejumlah microfactory-nya.

 

Tampilan bus tanpa sopir Olli produkan Local Motors yang menggunakan teknik 3-D printing dan mengizinkan desain kustomisasi dalam pembuatannya. Shutterstock/MikeDotta 


Inovasi memang perlu terus dilakukan pasar karena bergesernya preferensi konsumen kepada produk yang lebih personal. Namun, selain itu ada juga motif lain yang membuat konsep microfactory layak dilakukan menjelang pengembangan industri di masa depan. Motif tersebut terkait segi produksi dan distribusi barang.

Lagi-lagi karena perkembangan zaman, akses bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan akan semakin mudah, sehingga tak heran kalau anak muda di era ini dinilai lebih pintar dan siap terjun ke dunia profesional. 

Dengan banyaknya individu dengan kemampuan yang mumpuni, tentu saja jumlah individu yang bersedia bekerja dalam ranah low-skill secara repetitif akan semakin minim. Padahal, tipe pekerja seperti inilah yang dibutuhkan model pabrikan tradisional.

Di sisi lain, dengan perkembangan industri yang semakin melebar, tak dimungkiri permintaan pasar akan semakin besar. Tak hanya secara nasional ataupun regional, demand akan terbuka lebar dari seluruh dunia. 

Dengan kata lain, produk yang dihasilkan pabrik pun mesti banyak. Lalu, jika di masa depan tak banyak yang mau menjadi sumber daya manusia (SDM) dalam hal produksi, bagaimana mengatasinya?

Inilah yang membuat microfactory kembali penting untuk diterapkan. Dengan model penghematan yang diembannya, metode ini bisa memangkas sejumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses produksi. 

Limitasi untuk mendapatkan SDM nantinya pun akan bisa diatasi. Tapi jangan lupa, perusahaan juga harus tetap berinvestasi dalam hal teknologi yang dapat memfasilitasi model penyederhanaan industri ini.

BUMN dan Konsorsium Pabrik Baterai
Panjang lebar membahas metode pabrik untuk dipraktikkan di masa depan, Sobat Valid mungkin bertanya-tanya, memangnya sudah ada pabrik untuk mengimplementasikannya?

Jawabannya, masih dalam masa pembangunan. Untuk diketahui, saat ini sebuah pabrik baterai EV tengah dibangun oleh pemerintah, dalam hal ini Indonesian Battery Corporation (IBC), setelah berhasil menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Konsorsium Hyundai pada Juli 2022 lalu.

IBC sendiri merupakan konsorsium yang terdiri dari empat BUMN Indonesia. Dua anggota MIND ID, grup BUMN yang bergerak di industri pertambangan, yakni Inalum dan anak perusahaannya, Aneka Tambang (ANTAM) turut serta dalam membentuk perusahaan holding ini. 

Sementara itu, anggota konsorsium lainnya adalah duo pemain besar Pertamina dan PLN. Keempat BUMN tersebut membagi rata kepemilikan atas perusahaan menjadi masing-masing sebesar 25% saham.

Keputusan untuk membentuk IBC disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada Maret 2021. Mengutip Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, dalam konsorsiom ini akan dilakukan pembagian tugas. Inalum akan fokus di sektor hulu sebagai pemasok bahan baku, PLN akan bertanggung jawab di hilir sebagai distributor, sementara Pertamina akan menjadi pemain tengah yang mempersiapkan proses.

Demi melancarkan cita-cita elektrifikasi, pada Juli 2022, IBC pun melakukan joint venture dengan Konsorsium Hyundai yang terdiri dari Hyundai Motor, Hyundai Mobis, LG Electronic Solution, dan Kia. Melalui kerja sama tersebut, Hyundai berinvestasi senilai US$1,1 miliar, atau setara dengan Rp15,9 triliun (Hyundai, 2021).

Terkait progres, pembangunan SMELTER untuk pemrosesan bahan baku sudah mulai dilakukan pada 2022 ini dan ditargetkan bakal selesai pada 2024 mendatang. Sementara itu, pabrik baterai sendiri juga sudah memasuki tahap konstruksi dan diperkirakan bakal bisa dipakai beroperasi pada 2025. Pabrik tersebut digadang-gadang bakal mampu memproduksi 10 gigawatt hour (GWh) sel baterai lithium-ion NCMA setiap tahunnya.

Selain untuk kepentingan transportasi, nantinya baterai lithium ion yang diproduksi perusahaan konsorsium tersebut diproyeksikan untuk juga dapat dipakai di remote area untuk perumahan atau pada wilayah yang tidak membutuhkan storage besar. Misalnya semacam back-up power sistem yang bersifat modular.

Bagaimanapun, seluruh pembangunan menuju era elektrifikasi ini masih dalam proses. Masih sangat mungkin hadir berbagai tantangan yang menghambat pelaksanaannya dan mesti dihadapi pemerintah. Begitu juga dengan masyarakat. 

Sebagai calon konsumen di masa depan, mau tak mau kita juga perlu menyiapkan diri, Sobat Valid. Kalau kamu sendiri, apa yang sudah kamu lakukan untuk menyambut perubahan besar ini? 

Referensi
Future Bridge. (2020, Oktober 24). Microfactories – The Next Big Thing in Manufacturing. Retrieved from Future Bridge: https://www.futurebridge.com/blog/microfactories-the-next-big-thing-in-manufacturing/

Garside, M. (2022, Maret 8). Major countries in worldwide nickel mine production in 2021. Retrieved from Statista: https://www.statista.com/statistics/264642/nickel-mine-production-by-country/

Hyundai. (2021, Juli 29). Hyundai Motor Group and LG Energy Solution Sign MoU with Indonesian Government to Establish EV Battery Cell Plant. Retrieved from Hyundai: https://www.hyundai.com/worldwide/en/company/newsroom/hyundai-motor-group-and-lg-energy-solution-sign-mou-with-indonesian-government-to-establish-ev-battery-cell-plant-0000016697

MIND ID. (2022, Juni 30). MIND ID Berkomitmen Jajaki Aliansi Baru untuk Pengembangan Bisnis Kendaraan Listrik. Retrieved from MIND ID: - https://mind.id/news/mind-id-berkomitmen-jajaki-aliansi-baru-untuk-pengembangan-bisnis-kendaraan-listrik

USGS. (2022). Mineral Commodity Summaries 2022 - Nickel. Washington: USGS.

 





KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini