Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

29 September 2022

14:45 WIB

Menikmati Cokelat Di Pasar Dunia

Nilai ekspor terbesar produk-produk kakao dan turunannya dari Indonesia ditujukan ke Amerika Serikat.

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Menikmati Cokelat Di Pasar Dunia
Ilustrasi Kakao, buah cokelat. Shutterstock/Nina Lishchuk

Hampir semua orang, terlebih anak-anak menyukai cokelat. Cokelat dalam berbagai bentuk produk makanannya, memang sudah lama menjadi salah satu rasa favorit. Es krim, permen cokelat, minuman es cokelat, dan lain sebagainya, adalah beberapa jenis makanan dan minuman yang sering kita jumpai di berbagai tempat. 

Kenikmatan dalam menikmati rasa cokelat tersebut akan semakin terasa nikmat lagi apabila ditambah atau dicampurkan dengan produk-produk susu dan gula. Hmm... penulis jadi terbayang rasa enak cokelat saat menuliskan analisa ini. 

Seiring dengan perjalanan waktu dan meningkatnya kepedulian pada aspek kesehatan, banyak produsen menghasilkan cokelat dalam bentuk batangan yang mengurangi tambahan lainnya, termasuk susu dan gula. Karenanya, kita kini mengenal berbagai produk cokelat yang diklaim tanpa gula. Bahkan pada beberapa merek, ada produk yang diklaim memiliki kandungan cokelat (cocoa) hingga mencapai 90%. Produk-produk seperti ini tentunya ditujukan khususnya bagi para konsumen yang ingin mengonsumsi cokelat namun tetap mengedepankan aspek kesehatan.

Serba-Serbi Cokelat 
Cokelat sendiri adalah salah satu produk pangan yang memiliki kandungan dari berbagai bahan lainnya. Kombinasi berbagai bahan tersebut antara lain adalah pasta coklat (chocolate liquor), lemak kakao dan sejumlah bahan lainnya. Termasuk salah satunya adalah gula. 

Secara umum terdapat beberapa jenis cokelat, yaitu cokelat pahit (bitter chocolate), cokelat susu (milk chocolate) dan cokelat putih (white chocolate). Cokelat pahit terbuat dari pasta kakao dengan penambahan gula sedikit. Cokelat susu dibuat dari campuran pasta kakao, lemak kakao, gula dan susu bubuk dalam jumlah yang substansial. Sementara cokelat putih terbuat dari pencampuran lemak kakao, gula dan susu bubuk (Sudibyo, 2012).

Dalam perkembangannya, ternyata juga banyak beredar yang disebut dengan cokelat imitasi. Celakanya hal ini banyak tidak disadari oleh masyarakat. Karena cokelat merupakan salah satu panganan yang dapat dikatakan cukup kompleks. Berdasarkan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Kategori Pangan, cokelat termasuk dalam kategori pangan 05.1.4 yaitu Produk Kakao dan Cokelat. Sedangkan cokelat imitasi termasuk dalam kategori pangan 05.1.5 yaitu Cokelat Imitasi, Produk Pengganti Cokelat (Direktorat Standardisasi Produk Pangan BPOM RI, 2017) .

Meski cokelat kerap dikaitkan dengan penyebab obesitas dan penyakit diabetes, sejatinya cokelat punya banyak manfaat.  Beberapa manfaat kesehatan yang dihasilkan dari cokelat adalah antioksidan dalam bentuk senyawa katekin, epikatekin, procianidin dan, polifenol. Hasil penelitian lain juga menunjukan bahwa konsumsi cokelat gelap (dark chocolate) dapat memperbaiki metabolisme glukosa dan menurunkan tekanan darah.

Selain itu, kandungan senyawa flavanol dan prosianidin dalam kakao menunjukkan mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan dan biosinthesis poliamin dari sel koloni kanker pada manusia. Ekstrak kakao yang diperkaya dengan senyawa prosianidin. Zat ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan sel kanker dengan cara memblokade aliran sel pada fase pertumbuhan kedua atau G2 hingga mencapai 70% (Sudibyo, 2012).

Kakao, Asal Muasal Cokelat
Cokelat sendiri berasal dari tanaman kakao. .Pada umumnya, biji kakao memiliki bentuk datar atau pipih. Panjangnya adalah 2-3 cm dan lebar 1,5 cm. Biji kakao juga memiliki kandungan yang terdiri dari 35-5% minyak lemak, 15% protein, 1-4% theobromin serta 0,07-0,36% kafein (Sudibyo, 2012).

Tanaman kakao ini pada umumnya mulai berproduksi dan mulai menghasikan biji kakao ketika berumur 18 bulan atau hampir mencapai 1,5 tahun. Biji kakao yang dihasilkan tersebut kemudian diproses sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan bubuk coklat (AB, Nasriati, & Yani, 2008). Cokelat bubuk inilah yang kemudian banyak diolah menjadi berbagai macam bahan makanan.

Sebagai salah satu tanaman perkebunan, kakao atau yang dalam bahasa latinnya disebut dengan nama Theobroma cacao, sudah dikenal di Indonesia semenjak tahun 1930 (Rubiyo & Siswanto, 2012). 

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, luas areal kakao di Indonesia diestimasikan mencapai 1,48 juta hektar di tahun 2022. Sedangkan estimasi jumlah produksi kakao tahun 2022 sebesar 732 ribu ton. Berdasarkan data yang sama menunjukkan bahwa produksi kakao terbesar yang pernah dicapai oleh Indonesia adalah di tahun 2010 yang mencapai 837,92 ribu ton. Sedangkan dari luasan areal pertanian, pernah mencapai terluas di tahun 2012, yaitu mencapai 1,774 juta hektar (Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, 2021).



Secara keseluruhan, selama periode tahun 2000-2022, areal lahan perkebunan kakao mengalami pertumbuhan 3,67% per tahun. Sedangkan produksi kakao mengami pertumbuhan sebesar 3,68% per tahun. Selama periode tersebut, pertumbuhan atau penambahan areal tertinggi terjadi pada tahun 2006 yang bertambah 13,18% dibandingkan tahun 2005. Sementara peningkatan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2001 yang naik sebesar 27,5% dibandingkan tahun 2000. 

Sebagai salah satu produk perkebunan, telah lama pula kakao dan berbagai produk turunan atau hasil olahannya juga menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia. Berdasarkan data UN Comtrade, selama periode tahun 2001-2021, nilai ekspor produk-produk kakao dan turunannya (HS 18), dari Indonesia ke dunia rata-rata tumbuh 8% per tahun.

Sayangnya, rata-rata nilai impor untuk komoditas yang sama, tumbuh lebih tinggi yaitu 24% per tahun. Kenaikan nilai ekspor komoditas kakao terbesar terjadi pada tahun 2002. Pada tahun tersebut ada kenaikan 79,3% dibandingkan tahun 2001. Sedangkan kenaikan nilai impor terbesar terjadi di tahun 2014, kala impor melonjak 129,7% dibandingkan tahun 2013.



Nilai ekspor terbesar produk-produk kakao dan turunannya tersebut, ditujukan ke Amerika Serikat. Tahun 2018 nilai ekspor kakao dan produk turunan dari Indonesia mencapai US$345,23 juta atau 28% dari total nilai ekspor produk-produk tersebut ke dunia. Nilai ekspor tersebut menurun di tahun 2019 menjadi US$285,7 juta atau 24% dari total nilai ekspor ke dunia.

Data UN Comtrade hingga pada tahun 2021 menunjukkan bahwa nilai ekspor produk-produk kakao dan turunannya dari Indonesia ke AS hanya sebesar US$216,4 juta. Atau, jumlahnya sebesar 18% dari keseluruhan nilai ekspor kakao ke seluruh dunia. Namun demikian, AS masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dari sisi nilai ekspornya.

Mencermati soal ekspor, hal yang penting untuk dilihat adalah soal kemampuan daya saing atas komoditas kakao dan produk turunannya tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melihat nilai RCA atas masing-masing produk tersebut. 

Perhitungan RCA mensyaratkan bahwa sebuah komoditas atau produk dianggap memiliki daya saing di pasar dunia apabila nilai yang dihasilkan bernilai 1,0 atau lebih dan sebaliknya tidak memiliki daya saing jika nilainya kurang dari 1,0. RCA dapat ialah dengan menghitung pangsa nilai ekspor suatu produk terhadap total ekspor suatu negara dibandingkan dengan pangsa nilai produk tersebut dalam perdagangan dunia.

Berdasarkan hasil perhitungan RCA yang dilakukan oleh Visi Teliti Saksama untuk komoditas kakao dan turunannya hingga 6 digit, menunjukkan bahwa, secara umum untuk produk kakao Indonesia masih memiliki daya saing yang cukup baik. Hal ini ditandai dari nilai RCA yang lebih dari 1 selama periode 2015-2021. 

Melihat lebih lanjut lagi pada masing-masing produknya, terdapat 6 produk atau komoditas kakao yang secara konsisten. Produk tersebut adalah dalah biji kakao (HS 180100), cangkang, sekam, kulit kakao (HS180200), pasta kakao (HS 180310 & 180320), lemak dan minyak kakao (HS 180400) serta bubuk kakao (180500). Sedangkan produk kakao yang sudah dalam bentuk cokelat dengan berbagai variannya (HS 1806), tidak satupun yang memiliki daya saing.



Berdasarkan hasil perhitungan ini, maka dapat dikatakan bahwa produk-produk kakao Indonesia sebenarnya masih memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan. 

Kakao sebagai salah satu komoditas, masih memiliki potensi pasar yang luas di pasar dunia. Banyaknya variasi produk terutama produk pangan yang dapat dihasilkan kakao, sesungguhnya menunjukkan besarnya potensi tersebut. Terlebih apabila berbagai manfaat kesehatan dari kakao tersebut semakin disebar luaskan. Dengan demikian produk-produk kakao dan turunannya diharapkan akan selalu menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia pada masa mendatang.

Referensi
AB, F., Nasriati, & Yani, A. (2008). Teknologi Budidaya Kakao. Bogor: Balai Besar dan Pengembangan Teknologi Pertanian Bapan Penelitian Pengembangan Pertanian.

Direktorat Standardisasi Produk Pangan BPOM RI. (2017). Pedoman Cokelat. Jakarta, DKI, Indonesia: Direktorat Standardisasi Produk Pangan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI. (2021). Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020-2022. Jakarta, DKI, Indonesia: Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian RI.

Rubiyo & Siswanto. (2012). Peningkatan Produksi dan Pengembangan Kakao (Theobroma cacao L.) Di Indonesia. Buletin Ristri, 3(1), 33-48.

Sudibyo, A. (2012). Peran Coklat Sebagai Produk Pangan Derivat Kakao Yang menyehatkan. Jurnal Riset Industri , VI(1), 23-40.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini