Selamat

Kamis, 18 Agustus 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

11 Mei 2022

19:30 WIB

Mendambakan Pengakuan

Foto dan video yang diunggah seseorang ke media sosial bukan tanpa harapan. Terselip keinginan untuk dipuji oleh yang melihat unggahannya.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Mendambakan Pengakuan
Ilustrasi memamerkan kegiatan di media sosial (Shutterstock/dok).

“Kapan, ya, bisa begini?”

“Hidupnya sempurna banget, sih, Kak”

“Apalah aku cuma remah-remah kue”

Demikian cukilan beberapa kalimat bernuansa kekaguman warganet yang notabene masih remaja dari  kolom komentar foto seorang public figure yang sedang liburan mewah. Public figure tersebut masih berusia pertengahan 20'an dan terkesan sukses di mata masyarakat. Harta dan gaya hidup yang idipamerkan di media sosial pribadinya, setidaknya menunjukkan demikian. 

Dulu, bisa dibilang memamerkan kekayaan merupakan sesuatu yang kurang etis dan tidak dianjurkan. Dikhawatirkan menimbulkan konsekuensi yang buruk untuk diri sendiri dan orang lain. 

Namun, kini, seiring dengan perkembangan media sosial yang pesat, pamer kekayaan di media sosial seolah menjadi sesuatu yang lumrah dan cenderung diminati masyarakat. Kita bisa lihat sendiri, di Youtube dan Instagram, konten orang yang menunjukkan harta seringkali berhasil menggaet perhatian publik. Jumlah views, like, dan komentar yang diperoleh konten-konten tersebut mencapai angka sangat tinggi. 

Tak ayal, masyarakat yang tergiur melihat gaya hidup mewah di media sosial akhirnya melakukan berbagai cara agar bisa meraih itu semua dengan instan. Bahkan, di antara mereka, ada yang tidak segan berbuat kriminal demi memperoleh kehidupan mewah yang bisa dipamerkan. 

Butuh Pengakuan
Demi melangsungkan hidup, manusia mempunyai kebutuhan untuk dipenuhi. Ada kebutuhan yang dapat dipenuhi sendiri. Di sisi lain, ada pula kebutuhan-kebutuhan yang hanya bisa terpenuhi dengan dukungan pihak lain. Salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan. 

Kebutuhan semacam ini dicapai melalui interaksi sosial sehingga perlu bekerja sama dengan orang lain. Seiring waktu, interaksi sosial yang berproses dengan lancar akan melahirkan solidaritas.

Kini, era teknologi dan media sosial yang semakin berkembang memberikan tempat bagi orang untuk beraktualisasi. Berbagai pencapaian dan prestasi dapat dengan mudah diunggah ke media sosial dalam bentuk video atau foto. 

Media sosial kemudian dikaitkan dengan kebutuhan akan dihargai. Bahkan, dalam termin ekstrim, media sosial menjadi wadah pas buat mereka yang mengalami narsisme. Ini adalah kondisi ini adalah perasaan mereka yang percaya bahwa dirinya lebih hebat ketimbang orang lain.  

Hubungan sosial yang dibangun individu dengan tendensi ini, dimanfaatkan untuk menggapai ketenaran.  Foto dan video yang diunggah ke media sosial untuk bukan tanpa harapan. Terselip keinginan untuk dipuji oleh orang-orang yang melihat unggahannya. Apa penyebabnya?

Beberapa alasannya, di antaranya, adalah rapuhnya harga diri yang dimilikinya. Harga diri yang rendah membuatnya sensitif menghadapi kegagalan dan kritik yang menghampirinya. Interaksi sosial kerap memengaruhi penilaian negatif dan positif seseorang pada dirinya sendiri. 

Jika harga diri seseorang rapuh, maka dengan beragam cara ia akan berupaya untuk menambah tingkatan harga dirinya. Media sosial akhirnya menjadi ajang dalam menghadirkan sisi kehidupannya yang paling bagus. 

Selain harga diri rendah, ia juga cenderung kesepian. Di balik tingginya level pamer melalui media sosial, ada rasa kesepian yang besar,. Meskipun interaksi yang terjalin dengan orang-orang di sekelilingnya hanya terjadi secara daring, rasa kesepian itu tetap bisa terkikis.  

Terakhir, adanya kebahagiaan yang menciptakan perilaku adiktif pada individu ini. Jika ada orang lain yang menunjukkan kekaguman atas apa yang diunggah di media sosial, dianggapnya sebagai prestasi. Momen tersebut membuatnya ingin mengulang pengalaman ini berkali-kali.  

Dampak Pada Sekitar
Kepribadian yang selalu dahaga akan apresiasi dan pengakuan memiliki efek buruk bagi diri sendiri dan orang lain. Salah satunya, hubungan atau relasi yang tidak langgeng.

Selain itu, individu tersebut akan cenderung merespons kritik secara agresif. Ia tak segan menghina pendapat orang lain dan melakukan tindakan yang tidak terkendali. Misalnya, saat berkomunikasi dengan orang lain, ia lebih menggebu-gebu ketimbang lawan bicaranya saat merasakan adanya ancaman pada dirinya. 

Menunjukkan pencapaian tertentu di media sosial tentu tidak dilarang. Bisa jadi itulah cara kita mengapresiasi diri kita sendiri. Namun, ada perbedaan antara pribadi narsistik dengan mereka yang memang punya harga diri yang tinggi. 

Seseorang yang memiliki harga diri tinggi sanggup mengintrospeksi perbuatannya sendiri. Sedangkan, pribadi narsistme terbiasa membangga-banggakan diri. Aspek-aspek kehidupan seperti relasi sosial hingga prestasi kerja juga bisa menjadi tolak ukur dalam membedakan keduanya. 

Namun, tidak bisa pula semudah itu mengecap orang sebagai pribadi yang narcissistic . Beragam tes oleh ahli diperlukan untuk mendeteksi hal tersebut. Apalagi, kini, sejumlah figur yang mempertontonkan harta belum tentu karena mereka menginginkannya, melainkan karena itulah konten digital yang sedang digemari sekarang. Jadi, kita tidak bisa langsung menghakimi. 

Terpenting, jangan sampai menjadi seperti yang sedang tren saat ini. Sibuk ke sana ke mari menampilkan citra sukses dan penuh kemewahan, padahal nyatanya hasil penipuan.
 


Referensi:
Sakinah, Umul, M. Fahli Zatrahadi & Darmawati. (2019).  Fenomena Narsistik di Media Sosial Sebagai Bentuk Pengakuan DiriAl-Ittizaan: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol. 2 No.1, 2019, pp. 41-49

 

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER