Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

03 November 2022

17:19 WIB

Menantang Industri Alas Kaki Lokal Kuasai Pasar Global

Keberadaan industri sepatu di Indonesia tumbuh berkembang dengan pesat, karena alas kaki semakin menjadi komoditas perdagangan yang sangat menjanjikan.

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Faisal Rachman

Menantang Industri Alas Kaki Lokal Kuasai Pasar Global
Sejumlah pekerja mendesain sepatu lokal sebelum produksi di Pabrik Sepatu Aerostreet, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (17/4/2021). Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho

Kebutuhan alas kaki bisa dibilang sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Alas kaki mulai dikenal dalam sejarah peradaban manusia sebagai sebuah alat untuk melindungi telapak kaki dari beragam kondisi cuaca. 

Karena alasan durabilitas, di awal penemuannya, alas kaki dibuat dengan menggunakan kulit hewan. Bahkan, sampai saat ini kulit hewan masih jadi pilihan. 

Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alas kaki kini muncul dengan beragam bentuk, warna, dan kegunaan. Sudah sekian lama pula, tak sekadar fungsi, alas kaki menjadi bagian dari fashion, gaya hidup, dan status sosial. 

Baca Juga: Sandal dan Simbol Status Sejak Dulu

Dalam perjalanannya memenuhi kebutuhan manusia, industri alas kaki pun berkembang, memunculkan sejumlah perusahaan alas kaki berskala global. Beragam inovasi akhirnya menyeruak seiring dengan makin ketatnya persaingan merebut pasar. Efek lanjutannya, persaingan yang mengemuka membuat persaingan memperebutkan bahan baku terbaik makin terasa ketat. 

Baca Juga: Kisah Panjang Sepatu  

Industri Alas Kaki
Sebagai salah satu cabang industri tertua, industri alas kaki memang acap kali menjadi industri yang mengawali industri secara keseluruhan, khususnya di sejumlah negara berkembang. Apalagi, selayaknya industri manufaktur lain, industri alas kaki memang relatif mampu menyerap tenaga kerja cukup besar. 

Klop, investasi masuk, pajak bertumbuh, devisa meningkat, dan rakyat sebagai komponen pasar yang berdaya beli pun mendapat pekerjaan. 

Namun, jika kita mencermati industri sepatu dan alas kaki di Indonesia, ternyata kondisinya saat ini tidaklah banyak berbeda dengan industri-industri padat karya lainnya seperti tekstil. Bersama industri tekstil, industri alas kaki Indonesia, sering kali juga harus masih menghadapi berbagai persoalan klasik. 

Persoalan ekonomi biaya tinggi, ketenagakerjaan, penyelundupan, serta tingkat produktivitas pekerja yang relatif rendah, merupakan sebagian dari masalah yang menghambat peningkatan daya saing produk-produk industri manufaktur dari Indonesia. 

Persoalan-persoalan inilah yang memicu sejumlah perusahaan sepatu dan alas kaki dunia, belakangan memilih untuk hengkang dari Tanah Air dan beralih ke negara lain untuk melanjutkan investasinya.  

Untungnya, perkembangan industri alas kaki saat ini memunculkan produk-produk lokal. Soal kualitas, rasanya sudah tak lagi jadi isu, mengingat banyak produsen lokal sudah bisa menghasilkan sepatu atau alas kaki dengan kualitas mumpuni, bahkan sekalipun hanya berskala UMKM. 

Mau bukti? Indonesia kini tercatat menduduki posisi ke 4 terbesar negara produsen alas kaki. Indonesia. Hanya kalah dari China, India, dan Vietnam (Kementerian Perindustrian RI, 2019)

Keberadaan industri alas kaki lokal tersebut sebenarnya merupakan potensi yang perlu dikembangkan agar bisa bersaing di pasar dunia. Keinginan kaum muda untuk terus dapat mengikuti perkembangan fesyen, termasuk alas kaki, adalah ceruk pasar yang potensial untuk mengembangkan dan memperkenalkan merek-merek alas kaki lokal. 

Uniknya lagi, belakangan banyak kaum muda Indonesia mulai berminat mengenakan alas kaki dengan merek lokal. Sayangnya, untuk memperkenalkan merek-merek alas kaki lokal sampai bisa bersaing dengan pemain global, tampaknya masih memerlukan usaha promosi yang lebih baik. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Magfiroh dan Iriani (2021) menunjukkan, konsumen sepatu, khususnya para kelompok usia muda, tidak hanya melihat sepatu berdasarkan merek semata. Aspek kualitas, fungsi, visual, serta desain sepatu atau alas kaki tersebut juga menjadi pertimbangan dalam membeli. 

Studi ini juga menyebutkan, meski konsumen muda telah mengenal merek-merek produk alas kaki Indonesia, namun perceived brand image yang dimiliki oleh merek lokal masih kurang untuk mampu meningkatkan minat untuk membeli produk alas kaki lokal. Sekadar informasi, perceived brand image adalah persepsi konsumen atas atribut merek tertentu. 

Lebih lanjut, menurut responden dalam penelitian ini juga menyebutkan, produk alas kaki lokal sering kali masih memiliki kesan "menjiplak" produk atau merek asing (Maghfiroh & Iriani, 2021). Dengan demikian, diperlukan inovasi yang lebih apabila hendak bersaing dengan merek-merek internasional.    

Perdagangan Alas Kaki Dunia
Dalam perdagangan alas kaki dunia, China memang menjadi negara eksportir terbesar. Berdasarkan data yang dipublikasikan Comtrade, pada tahun 2021 nilai ekspor sepatu dan alas kaki (HS 64) China ke seluruh dunia mencapai US$ 51,7 miliar. Sementara itu, nilai impornya hanya sebesar US$6,5 miliar. 

Selama periode 2002-2021, nilai ekspor alas kaki China ke dunia tumbuh 9,3% per tahun, sedangkan nilai impornya tumbuh 18,1% tiap tahunnya.   



Dominasi produk-produk sepatu dan alas kaki China, terjadi pada hampir semua jenis turunan produk sepatu dan alas kaki. 

Ekspor tertinggi produk-produk alas kaki terbesar China pada 2021 adalah alas kaki tahan air, menutupi pergelangan kaki (tetapi tidak sampai lutut), sol luar dan bagian atas dari karet atau plastik yang tidak dirakit dengan jahitan, paku keling, paku, sekrup, sumbat atau semacamnya (HS 640192). 

Lalu, alas kaki tahan air, dalam pos no.6401, sol luar dan bagian atas dari karet atau plastik yang tidak dirakit dengan jahitan, paku keling, paku, sekrup, sumbat atau semacamnya (HS 640199).

Ada juga alas kaki untuk olahraga, selain sepatu bot ski, sepatu bot selucur salju atau alas kaki lintas alam, dengan sol di luar dan bagian atas terbuat dari karet atau plastik (HS 640219). 



Khusus pada HS 640299 (alas kaki dengan sol luar dan bagian atasnya terbuat dari karet atau plastik, tidak menutupi pergelangan kaki; bukan sepatu olahraga), selama periode 2010-2021, ekspor China mendominasi hingga 70% dari nilai ekspor produk ini ke dunia. 

Sementara itu, untuk HS 640419 (alas kaki dengan sol luar dari bahan karet atau plastik dan bagian atasnya dari bahan tekstil; bukan alas kaki olahraga), China selama periode tersebut mendominasi hingga rata-rata lebih dari 55% ekspor ke seluruh dunia. 

Indonesia dalam perdagangan alas kaki di dunia, sejatinya masih memiliki peluang. Kembali merujuk pada data yang dikeluarkan oleh UN Comtrade, Indonesia merupakan eksportir terbesar untuk produk alas kaki HS 640411 (alas kaki olahraga: sepatu tenis, sepatu basket, sepatu olahraga, sepatu untuk latihan dan sejenisnya, dengan sol luar dari karet atau plastik dan bagian atasnya terbuat dari bahan tekstil) dan HS 640319, yaitu alas kaki olahraga dengan sol luar dari karet, plastik, kulit atau kulit komposisi, dan bagian atasnya terbuat dari kulit di tahun 2021.

Masih merujuk data UN Comtrade, nilai ekspor Indonesia ke dunia untuk kedua kelompok alas kaki olahraga tersebut pada 2021 masing-masing adalah US$2,1 miliar untuk HS640319 dan US$2,2 miliar pada pos HS640411. 

Volume ekspor untuk HS640319 mencapai 102,3 ribu ton atau setara dengan 32,62 juta pasang. Sementara itu, untuk alas kaki dengan pos HS640411 sebesar 109 ribu ton atau setara dengan 52,1 juta pasang. 

Negara tujuan ekspor terbesar untuk produk pos HS 640319 adalah AS dengan nilai mencapai 845 juta dan volume sebanyak 38 ribu ton atau setara dengan 13,2 juta pasang. 

Negara tujuan lainnya adalah China, dengan nilai ekspor mencapai US$336,9 juta. Volume ekspornya sebesar 15,5 ribu ton atau setara dengan 5,26 juta pasang. 

Negara tujuan ekspor terbesar ketiga adalah Belgia dengan nilai ekspor sebesar US$327 juta dan volumenya sebanyak 14,7 ribu ton atau setara dengan 5,1 juta pasang.

Untuk produk pos HS 640411, ekspor terbesar ditujukan ke AS sebanyak 31,4 ribu ton atau setara dengan 16,14 juta pasang, dengan nilai mencapai US$683,35 juta. Diikuti ekspor ke Jerman sebanyak 11,34 ribu ton atau setara dengan 4,6 juta pasang. 

Kemudian, negara tujuan ekspor terbesar ketiga adalah ke China dengan volume ekspor sebesar 11 ribu ton atau setara dengan 6 juta pasang. Nilai ekspornya mencapai US$253,6 juta.   

Satu hal yang menarik dari data perdagangan alas kaki pada 2021 tersebut, ternyata untuk produk alas kaki olahraga selain bot salju (HS 640219), China dan Indonesia, merupakan eksportir terbesar. 

Indonesia menjadi yang terbesar kedua setelah China. Nilai ekspor China mencapai US$566 juta atau 25% dari total ekspor produk ini ke dunia. 

Besaran volume ekspor China mencapai 26,6 ribu ton atau 12,4 juta pasang. Sedangkan nilai ekspor Indonesia sebesar US$317,1 juta atau 14% dari keseluruhan nilai ekspor alas kaki ini ke dunia. Besaran volumenya mencapai 15,4 ribu ton atau setara dengan 6,9 juta pasang. 



Merek dan Harga
Hal menarik lainnya jika mencermati persaingan dagang dalam produk alas kaki kelompok ini adalah, negara eksportir terbesar ketiga produk alas kaki ini adalah Italia. 

Nilai ekspor Italia tahun 2021 mencapai US$197 juta. Sementara itu, volume ekspor Italia mencapai 2,54 ribu ton atau setara dengan 3,2 juta pasang.  

Uniknya lagi, jika kita menarik harga rata-rata per pasang alas kaki dengan mengacu pada data nilai ekspor dan volume ekspor per pasang, maka harga per pasang sepatu produksi Italia, lebih tinggi dibandingkan produk China dan Indonesia. 

Harga alas kaki pada pos HS tersebut, untuk buatan China dan Indonesia, rata-rata dibanderol sebesar US$45,6 per pasang. Sedangkan itu, produk alas kaki buatan Italia dipatok hingga US$61,3 per pasang. 

Tingginya nilai jual produk-produk sejenis yang diproduksi oleh negara-negara maju atau Eropa, pada dasarnya merupakan hal yang menarik untuk dipahami lebih lanjut, terutama dalam kerangka persaingan produk alas kaki global. 

Seperti kita ketahui, negara seperti Italia memang telah lama dikenal sebagai salah satu negara produsen sepatu dengan merek-merek terkenal. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab produk-produk alas kaki mereka masih mampu bersaing di pasar internasional. 

Apabila merek-merek produk alas kaki lokal selama ini masih menghadapi persoalan, khususnya terkait dengan persepsi konsumen sebagaimana digambarkan hasil studi tersebut, maka masalah tersebut pada dasarnya harus diselesaikan secara serius.  

Sebab, bagiamanapun juga, merek pada dasarnya adalah representasi atas kualitas sebuah produk. Konsumen awam akan menyikapi kualitas sebuah produk alas kaki dengan membandingkannya, terutama dengan merek-merek produk yang sudah lebih dulu populer. 

Ada satu kredo yang sudah mengakar kuat di publik, jika suatu merek semakin dikenal secara positif, maka semahal apapun produknya, tentu akan dicari dan dibeli. Bahkan tak jarang ada yang bersedia untuk menjadi pembeli loyal atau menjadi kolektor. 

Nah, saat ini, ketika produk alas kaki buatan lokal sudah mulai dipercaya konsumen, pekerjaan rumah selanjutnya adalah membuat merek-merek tersebut makin prestise dan dikenal pasar global. 

Yakinlah, dulu Nike, Adidas, Vans, Converse, Puma, Reebok, Fila, dan merek global lainnya, juga mengalami serangkaian fase awal yang tak mudah untuk sampai menjadi pemain global. 

So, sekarang tantangannya adalah, siapa yang berani memulai untuk menjadi besar di kancah global?

Referensi:
Kementerian Perindustrian RI. (2019, Juli). Industri Alas Kaki: Ketika Prospeknya Semakin Cerah. Solusi.

Maghfiroh, L., & Iriani, S. S. (2021). Niat Beli Sepatu Merek Lokal oleh Generasi Muda: Pengaruh Consumer Ethnocentrism, Perceived Quality, Perceived Price, dan Perceived Brand Image. Jurnal Ilmu Manajemen, 9(2).

https://comtrade.un.org/data




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini