Selamat

Kamis, 18 Agustus 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

01 Juli 2022

18:30 WIB

Melepas Rindu Dengan Musik Dari Panggung Langsung

Kembalinya pertunjukan musik langsung setelah vakum akibat pandemi, seolah menjadi ajang melepas kangen antara pelaku dan penikmat musik

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Faisal Rachman

Melepas Rindu Dengan Musik Dari Panggung Langsung
Penyanyi Ziva Magnolya dan musisi Yamaha Music Project di acara Java Jazz Festival 2022, Jakarta, Sabtu (28/5/2022) malam. Antara Foto /Andika Wahyu

Setelah dua tahun jatuh bangun melawan pandemi covid-19, pertunjukan musik langsung bisa kembali berjaya lagi. Dimulai dengan konser penyanyi Raisa bertajuk “It’s Personal Showcase” yang digelar pada 15 Mei 2022 di Stadion Tenis Indoor Senayan. 

Kemudian, ada gelaran Allo Bank Festival yang diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut yakni 20-22 Mei 2022 di Istora Senayan, yang bukan hanya menghadirkan penyanyi-penyanyi Tanah Air, tapi juga grup musik asal Korea yaitu NCT Dream dan Red Velvet.

Berlanjut lagi dengan konser penyanyi Rossa berjudul “Rossa 25 Shining Years Concert” berlangsung di Istora Senayan pada 27 Mei 2022 lalu. Tak ketinggalan juga, di JIExpo Kemayoran, Jakarta International Java Jazz Festival diselenggarakan pada 27-29 Mei 2022 setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi.

Seluruh pertunjukan musik di atas sukses dipadati oleh para pengunjung yang membayar rasa rindu mereka untuk bisa kembali menyaksikan pagelaran musik secara luring. Mereka tidak lagi hanya menatap konser musik daring di layar telepon genggam. 

Kemeriahan pertunjukan musik tersebut bukan hanya merayakan rasa kangen para penggemar festival musik. Tapi juga, merayakan kebahagiaan para musisi yang bisa berjumpa langsung dengan para pendengarnya.

Bertahan Dengan Online
 Pandemi covid-19 yang pertama kali datang ke Tanah Air pada awal 2020, memang menjadi cobaan berat bagi para musisi dan para pekerja di belakangnya. Kebijakan dari pemerintah agar menghindari keramaian dan beraktivitas di rumah saja, membuat sejumlah acara musik luring terpaksa ditunda bahkan dibatalkan. 

Agar mampu bertahan, para insan musik mengadakan konser tanpa penonton alias disaksikan secara virtual. Konser hanya bisa ditonton oleh mereka yang membeli tiket. 

Beberapa konser musik virtual pun melakukan inovasi, misalnya penonton bisa membeli tiket sambil berdonasi. Harga tiket yang dijual berbeda-beda tergantung dari seberapa besar uang yang ingin didonasikan.  

Begitu juga dengan acara musik yang digelar di stasiun televisi. Ajang pencarian bakat bernyanyi digelar tanpa penonton. Di dalam studio, hanya ada para kontestan, juri, dan kru yang bertugas. 

Kelemahannya, acara menjadi sepi. Tidak ada suara teriakan atau paduan suara penonton yang mengiringi sang musisi bernyanyi. Namun, tentu itu lebih baik ketimbang para pelaku musik kehilangan penghasilan untuk menghidupi mereka. 

Sebab, industri musik tidak cuma berbicara tentang satu penyanyi atau sebuah grup musik saja. Bersama dengan mereka, ada tim logistik, pembawa kabel, pengatur visual, penata baju, penata rias, penata rambut, penata suara, penata lampu, kameramen, hingga keamanan yang juga menggantungkan nasib pada industri ini. 

Chicha, 31 tahun, menceritakan pengalamannya sebagai pemain biola profesional. Ia mengaku, pekerjaannya sangat terdampak oleh pandemi akibat berkurang drastisnya frekuensi acara-acara musik di stasiun televisi. Penghasilannya pun berkurang,

Alhasil, ia berusaha mengambil seluruh pekerjaan bermain biola yang datang kepadanya. Salah satu kesempatan yang ia ambil adalah konser orkestra virtual di rumah masing-masing, bersama puluhan pemain musik lainnya, di bawah kepemimpinan salah satu konduktor yang populer di Indonesia. 

Persiapan yang harus dilakukan oleh penyelenggara acara saat itu di antaranya adalah memastikan kelancaran internet di rumah setiap pemain musik.  

Pekerjaan lainnya yang ia ambil adalah terlibat dalam proyek video klip seorang penyanyi. Kebetulan, video klip tersebut mengusung konsep bernyanyi sambil diiringi orkestra. 

Perkembangan Budaya
 Adanya perubahan budaya dalam industri musik, sebenarnya sesuai dengan teori evolusi unilinear. Teori ini beropini manusia dan masyarakat, tak terkecuali kebudayaannya, memiliki tahap-tahap tertentu saat berkembang. 

Tahapan berawal dari bentuk yang simpel, dilanjutkan dengan yang lebih rumit, hingga mencapai tahap sempurna. Suatu sistem kebenaran menjadi dasar dari tahap-tahap perkembangan tersebut. 

Pada tahap pertama, kepercayaan menjadi dasar. Tahap kedua, indra manusia yang menjadi dasarnya. Kemudian, tahap terakhir didasarkan pada kebenaran.

Saat pandemi covid-19 menyerang, perkembangan budaya di dalam musik mesti dihadapi oleh para pelaku dan penikmat musik. Para penikmat musik pada masa sebelum pandemi dapat menonton pentas musik secara langsung di tempat. 

Namun, akibat pandemi, adaptasi pun mau tak mau harus tercipta. Hadirlah cara baru dalam menikmati pentas musik, menonton musik virtual.

Tentunya, pengalaman yang diperoleh sama sekali tidak bisa sama. Cara yang berbeda dalam menerima suara musik, membuat level kepuasan yang diperoleh juga berbeda. 

Bisa mendengarkan suara musik yang dimainkan langsung di depan kita, tentu menjadi kelebihan menonton pentas musik secara langsung. Akan tetapi, kelemahannya, kita mungkin kesulitan menikmati visualnya dengan bebas karena ramainya penonton. 

Sementara, menonton pentas musik virtual bisa memanjakan mata kita karena seluruh visual terlihat. Namun, kelemahannya, kualitas suara bisa saja mengalami gangguan karena perangkat yang bermasalah. Selain itu juga, kita tidak bisa mendapatkan euforia seperti kalau kita menonton langsung. 

Tapi, sekalipun terdapat perbedaan dalam menerima bunyi, dua kebudayaan ini sama-sama berbicara tentang mendengarkan musik secara aktif.

Bagi para musisi, pandemi tak menghentikan langkah mereka untuk berkarya. Efek positifnya, pengerjaan lagu-lagu baru bisa berpindah jadi di rumah saja, dengan biaya produksi yang bisa dipangkas. 

Namun, efek negatifnya pun tidak dapat terhindarkan. Musisi kehilangan interaksi langsung dengan penggemar karya-karya mereka. 

Dari sisi penikmat musik, waktu yang dihabiskan untuk menonton musik secara virtual dapat membuat mereka kehilangan hubungan langsung antara manusia. Menonton musik virtual telah menjadi kegiatan yang seakan-akan sama memuaskannya dengan menonton musik secara langsung. Akhirnya, timbul kecemasan, aspek sentuhan manusia lama-lama memudar. 

Kini, festival musik sudah diperbolehkan untuk diadakan. Keramaian kembali boleh terlihat, dan peraturan mulai dilonggarkan. 

Para pelaku industrinya pelan-pelan meraih kembali kehidupannya seperti sebelum pandemi. Kebangkitan pertunjukan musik langsung ini membawa harapan, interaksi antara manusia dapat membaik dan berjalan sebagaimana mestinya.

Hanya saja, dengan kondisi yang mulai pulih seperti ini, seyogyanya kita bisa terus waspada dalam menjaga kesehatan kita baik fisik maupun mental. Jangan sampai, kita memandang remeh dan menggampangkan keadaan yang sudah membaik ini.  

Bisa dibilang, menyaksikan pertunjukan musik secara langsung adalah hak setiap manusia. Namun menjaga situasi tetap kondusif juga adalah tanggung jawab kita bersama.

 

Referensi:

Dwi Septiyan, Dadang. (2020). PERUBAHAN BUDAYA MUSIK DI TENGAH PANDEMI COVID-19. Musikolastika Vol. 2 Nomor 1 Th. 2020.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER