Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

18 November 2022

15:00 WIB

Jalan Panjang Swasembada Gula

Kebutuhan akan gula terus meningkat di kala lahan tebu kian berkurang. Impor menjadi keniscayaan saat ini. Lantas, bagaimana kondisi industri gula saat ini?

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Jalan Panjang Swasembada Gula
Ilustrasi gula pasir. Shutterstock/Pixel-Shot

Hampir semua manusia menyukai rasa manis. Rasa manis khususnya pada makanan atau minuman yang kita konsumsi memang memberikan sensasi tersendiri bagi tubuh dan jiwa. 

Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari. kita juga sering kali menyebutkan “...pahit manisnya kehidupan”. Hal ini menyiratkan bahwa “manis” adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang sering kali diinginkan manusia di muka bumi.

Nah, terkait dengan rasa manis dari makanan atau minuman yang sehari-hari manusia konsumsi, kebanyakan berasal dari gula. 

Gula yang selama ini kita kenal pada dasarnya dibedakan atas beberapa jenis. Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 57 Tahun 2004, menetapkan gula sebagai komoditas yang berada dalam pengawasan menegaskan jenis-jenisnya. 

 Dalam Keppres tersebut, terdapat tiga jenis gula yang diatur pemerintah (Visi Teliti Saksama, 2017), yaitu:

  1. Gula Kristal Mentah/Gula Kasar (raw sugar)
     Gula yang dipergunakan sebagai bahan baku proses produksi, termasuk dalam Pos Tarif/HS. 1701.11.00.00 dan 1701.12.00.00.
  2. Gula Kristal Rafinasi/GKR
    Dikenal juga sebagai refined sugar, merupakan gula yang dipergunakan sebagai bahan baku proses produksi. Gula ini masuk dalam Pos Tarif/HS. 1701.99.11.00 dan 1701.99.19.00.
  3. Gula Kristal Putih/GKP
    Dikenal juga sebagai plantation white sugar, merupakan gula yang dikonsumsi langsung tanpa proses lebih lanjut, termasuk dalam Pos Tarif/HS. 1701.91.00.00 dan 1701.99.90.00. 

Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan proses produksinya, gula, terutama yang berasal dari tebu, secara umum terbagi menjadi 2 kelompok, yakni gula yang terkristalisasi (crystalized sugars) dan gula yang tidak melewati proses sentrifugasi (non-crystalized sugars).  

Pembedaan jenis-jenis gula juga dapat didasarkan pada klasifikasi yang dikeluarkan oleh International Commision for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA), badan standarisasi gula internasional. Anggota ICUMSA mencakup 30 negara. 

ICUMSA juga memberikan pemeringkatan atau penilaian atas tingkat kemurnian gula, khususnya terkait warna gula. Salah satu bentuk penilaiannya adalah bahwa semakin rendah nilai ICUMSA, maka warna gula akan semakin putih. 

Beberapa contoh penilaian atau spesifikasi gula berdasarkan ICUMSA ialah ICUMSA 45, 150, dan ICUMSA 600-1500. 

Gula dengan spesifikasi ICUMSA 45 adalah gula putih yang telah melalui prose rafinasi; ICUMSA 100-150 adalah gula kristal; sedangkan gula dengan spesifikasi ICUMSA 600-1500 adalah gula yang tergolong gula mentah (raw sugar). 

Gula jenis inilah yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula rafinasi (Visi Teliti Saksama, 2017). 

Industri Gula Tebu
Mencermati keberadaan industri gula, maka aspek hulu adalah hal penting yang tidak dapat diabaikan. Aspek hulu ini tentunya adalah perkebunan tebu, yang menjamin ketersediaan pasokan bahan gula. 

Keberadaan perkebunan tebu dan pabrik gula memang telah lama dikenal di Indonesia. Tebu dan penggilingan tebu atau pabrik gula sederhana juga telah lama dikenal jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda menerapkan tanam paksa.  


Pekerja memanen tebu di desa Kerticala, Tukdana, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021).  ANTARAFOTO/Dedhez Anggara 

Sejarah pergulaan di tanah air juga tersimpul dari catatan I Tsing, seorang penjelajah dari Cina yang menuliskan bahwa di tahun 895 Masehi, gula yang berasal dari tebu, telah menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan di Nusantara. 

Gula tebu ini diperdagangkan bersamaan dengan nira kelapa. Ketika itu penggilingan tebu dilakukan dengan bantuan alat sederhana, yaitu berupa dua buah silinder yang terbuat dari kayu yang dipasang berimpitan. Silinder tersebut diputar dengan menggunakan bantuan tenaga kerbau atau terkadang oleh manusia untuk skala yang lebih kecil (Evizal, 2018).    

Ketika VOC memulai “industrialisasi” gula di pertengahan abad ke 17, sejumlah pabrik gula berhasil dibangun di beberapa daerah. Di awal beroperasinya pabrik-pabrik gula tersebut, sebenarnya mereka masih menggunakan alat penggiling dari batu atau kayu. 

Barulah pada awal abad ke 19, pabrik-pabrik gula di nusantara tersebut mulai memanfaatkan mesin uap yang dilengkapi boiler, clarifier, dan distiller

Hingga 1710, tercatat ada 130 pabrik gula di Pulau Jawa. Seiring dengan keruntuhan VOC dan digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda, jumlah pabrik gula yang beroperasi terus berkurang. Hingga tahun 1775, hanya terdapat 55 pabrik gula yang beroperasi di Jawa.

Dalam perkembangannya, pada awal abad ke-20, mulai digunakan kereta api (lori), unit penggiling (mill), tangki pengendap, juice heater, verdamper, pan pemasak vakum, dan kristalizer berkapasitas pabrik 100 TCD dan terus meningkat sampai 1000 TCD (Evizal, 2018). 

Kemudian, pasca kemerdekaan, terjadilah nasionalisasi pabrik-pabrik gula di sejumlah daerah, Upaya ini menyebabkan timbulnya beberapa persoalan dalam pengelolaan pabrik gula. Mulai dari masalah teknis akibat ditinggal pergi oleh para teknisi Belanda, kesulitan untuk mendapatkan onderdil mesin, hingga permasalahan hambatan regulasi yang ada. 


Petugas menggunakan alat berat untuk memindahkan gula pasir dalam karung untuk diimpor. Shutterstock /Mr. Kosal 

 Hambatan regulasi yang terjadi, antara lain soal sewa tanah, terutama yang terkait dengan UU Pokok Agraria tahun 1960. 

Celakanya, permasalahan-permasalahan tersebut masih berlanjut hingga masa-masa awal Orde Baru. Adanya Permendagri No 2/1973 tentang Penggunaan Tanah Rakyat untuk Perusahaan Gula dan Karung Goni, dan Permendagri No 5/1974 tentang Penyediaan Tanah untuk Keperluan Perusahaan, adalah contoh persoalan regulasi yang menghambat operasional dan perkembangan pabrik gula(Evizal, 2018).  

Sebagai pabrik gula warisan kolonial, keberadaan teknologi yang digunakan pabrik-pabrik gula tersebut juga memang banyak yang sudah terbilang kuno. 

Jenis gula kristal putih (GKP) yang juga merupakan produk warisan kolonial, masih banyak yang dihasilkan dengan cara sulfitasi. Meski demikian, ada juga beberapa pabrik gula yang telah memanfaatkan teknologi karbonatasi. 

Dengan pemrosesan karbonatasi yang dilakukan dua kali, dapat diperoleh kualitas GKP yang mirip dengan gula kristal rafinasi (GKR) dengan nilai ICUMSA mencapai 90-100 IU (Visi Teliti Saksama, 2017). 

Di sektor hulu, berdasarkan data Ditjen Pekebunan Kementerian Pertanian, luas perkebunan tebu tahun 2022 diestimasikan seluas 432,56 ribu hektar. Berdasar data tersebut, luasan areal tebu terluas merupakan perkebunan rakyat yaitu 236 ribu hektar atau 55% dari keseluruhan luasan areal pekebunan tebu. 

Sementara itu, estimasi produksi tebu tahun 2022 sebesar 2,35 juta ton. Produksi tebu ini terbesar juga berasal dari perkebunan rakyat yaitu sebesar 1,3 juta ton atau 54,2% dari keseluruhan produksi tebu (Direktorat Jendral Perkebunan, 2021).  

Jumlah luasan areal perkebunan tebu tersebut turun 3,2% dibandingkan tahun 2021. Secara keseluruhan, selama periode 2002-2022, luasan perkebunan tebu rata-rata tumbuh 1,14% per tahun. 

Kemudian, untuk produksi tebu, 2022 diperkirakan turun 3% dibandingkan tahun 2021. Meski demikian, selama periode 2002-2022, produksi tebu rata-rata masih tumbuh hampir 2% tiap tahunnya. 

Dengan keterbatasan areal lahan perkebunan dan produksi tebu tersebut, tentunya akan sangat berpengaruh pada tingkat produksi gula tebu Indonesia. 

Berdasarkan data laporan BPS, menyebutkan bahwa hingga 2020 terdapat 60 unit pabrik gula yang mengolah tebu menjadi GKP. Total kapasitas gilingnya hanya sebesar 334.980 ton per hari (TCD). 

Dari jumlah pabrik gula tersebut, 42 unit berstatus BUMN dan 18 unit lainnya adalah milik swasta. Dengan demikian, pada 2020, produksi gula nasional khususnya GKP hanya mencapai 2,13 juta ton. Jumlah produksi ini turun 4,52% dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 2,23 juta ton (BPS, 2021). 

Semakin terbatasnya areal perkebunan dan penurunan produksi tebu menjadi semakin penting bukan hanya sekedar sebagai bahan baku utama. Harus dipahami pula, bahwa keberadaan pabrik gula meski dengan kapasitas yang besar atau revitalisasi dengan penggunaan teknologi terbaru sekalipun, sebenarnya juga bukan jaminan bahwa Indonesia akan mencapai swasembada gula.  

Tanpa diikuti perluasan areal pekebunan dan peningkatan produksi tebu, yang terjadi hanya “rebutan” tebu antar pabrik gula. Akibatnya, hanya pabrik-pabrik gula besar yang mampu bertahan. 

Celakanya “rebutan” ini seperti “didukung” olah adanya sistem pembelian tebu (SPT). Sistem ini ternyata secara langsung atau tidak telah menyebabkan semakin berkembangnya pedagang sementara atau pengepul tebu, khususnya tebu rakyat. 

Keberadaan pengepul atau yang biasa disebut dengan nama “pok-pokan” inilah yang kemudian bertransaksi dengan para pabrik gula. Hal ini pula yang menyebabkan pabrik-pabrik gula tidak dapat lagi mengendalikan kualitas atas pasokan tebu yang masuk ke pabriknya. Termasuk di dalamnya adalah rendahnya rendemen (Asosiasi Gula Indonesia, 2020).  

Dalam perkembangannya, berdasarkan laporan USDA 2022 tercatat bahwa hingga tahun 2021 terdapat 18 perusahaan gula tebu dan 11 perusahaan yang mengolah gula mentah (raw sugar) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 62 unit pabrik yang mengolah gula tebu menjadi GKP dan 11 unit pabrik pengolahan gula mentah yang produknya antara lain adalah gula rafinasi. 

Kapasitas produksi untuk tiap pabrik gula tebu tersebut rata-rata adalah 5100 ton cane per day (TCD). Sedangkan kapasitas terpasang  untuk 11 pabrik pengolahan gula mentah tersebut mencapai 5 juta ton. Namun kapasitas terpakainya baru sebesar 4,23 juta ton (Meylinah, 2022).  

Sementara itu, di sisi konsumsi, data BPS (2021) mencatat bahwa, konsumsi gula nasional di tahun 2020 telah mencapai 2,66 juta ton. Tingkat konsumsi tersebut terdiri dari 1,36 juta ton untuk konsumsi rumah tangga, 1,25 juta ton untuk kebutuhan industri, dan 48,3 ribu ton untuk kelompok konsumen lainnya. 

Hal ini jelas menunjukkan bahwa Indonesia kekurangan pasokan dari dalam negeri. Ya, Indonesia masih harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan gula di dalam negeri. 

Dalam laporan USDA disebutkan bahwa tingkat konsumsi gula per kapita di tahun 2022 diperkirakan meningkat menjadi 28,1 kg. Tingkat konsumsi ini meningkat dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 27,54 kg per kapita (Meylinah, 2022).  

Perdagangan Gula
Jika sebuah negara seperti juga Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya, impor dari negara penghasil gula harus dilakukan. 

Berdasarkan data UN Comtrade, tahun 2021 Brazil adalah negara eksportir terbesar produk-produk gula dan turunannya (HS 17) ke dunia. Nilai ekspor Brazil mencapai US$9,4 miliar. 

Negara eksportir gula lainnya adalah India dengan nilai ekspor mencapai US$ 4,31 miliar dan Jerman yaitu sebesar US$3,32 miliar. 

Ekspor terbesar Brazil adalah ekspor gula mentah (HS 170111) yang nilainya mencapai US$8 miliar dan sukrosa murni (170199) yang nilai ekspornya sebesar US$1,23 miliar. 

Ekspor terbesar produk-produk gula Brazil ditujukan ke Cina. Total nilai ekspor gula Brazil ke Cina mencapai US$1,414 miliar. 

Nilai ekspor terbesar adalah ekspor gula mentah yang mencapai US$1,408 miliar atau 99,6% dari total nilai ekspor gula Brazil ke Cina. Secara keseluruhan, ekspor gula Brazil ke dunia terbesar memang merupakan gula mentah. Nilai ekspor gula mentah Brazil tahun 2021 mencapai US$8 miliar atau 85% dari keseluruhan ekspor produk-produk gula Brazil ke seluruh dunia.  

Masih berdasarkan data UN Comtrade, untuk produk-produk gula dan turunannya, Amerika Serikat tercatat sebagai negara importir terbesar. Nilai impor Amerika Serikat pada 2021 mencapai US$5,23 miliar. Diikuti oleh Cina sebesar US$3,15 miliar dan Indonesia, yaitu sebesar US$2,75 miliar. 

Dari besaran nilai impor gula Indonesia, yang terbesar adalah impor gula mentah yang mencapai US$2,23 miliar atau 81% total nilai impor gula. Nilai impor gula mentah terbesar Indonesia berasal dari India yaitu mencapai US$750,25 juta atau 27,3% dari total nilai impor gula Indonesia dari dunia. Impor gula mentah terbesar kedua Indonesia berasal dari Australia yaitu sebesar 582,8 juta atau 21,2% dari total impor gula Indonesia. 

Meski Brazil adalah eksportir terbesar gula mentah di dunia, namun impor gula mentah Indonesia dari Brazil hanya sebesar US$455,1  juta atau 16,5% dari total nilai impor gula Indonesia. 

Nilai impor ini tidak jauh berbeda dengan besaran impor gula mentah dari Thailand yang mencapai US$441,8 juta atau 16,1%. Jika dilihat besaran volumenya, impor gula mentah dari Brazil mencapai 1,14 juta ton, dan dari Thailand sebesar 960 ribu ton. Total volume impor gula mentah Indonesia tahun 2021 dari seluruh dunia sebesar 5,2 juta ton.

Masih besarnya ketergantungan impor gula mentah dalam industri gula rafinasi inilah yang menyebabkan pemenuhan kebutuhan gula rafinasi menjadi perlu untuk melakukan impor.

Baca: Mendag Lepas Ekspor 744 Ribu Etanol Garapan Petani-Swasta

Berdasarkan data laporan Indonesia sugar annual yang dikeluarkan USDA, volume impor gula rafinasi selama periode Mei 2020-April 2021 sebesar 420 ribu ton. Sementara itu, untuk periode Mei 2021-Februari 2022 sebesar 153 ribu ton. 

Laporan ini juga menyebutkan bahwa untuk volume impor gula mentah selama periode Mei 2021-Februari 2022 mencapai hampir 4 juta ton (Meylinah, 2022).  

Fokus Hilirisasi
Berangkat dari berbagai kondisi tersebut, tampaknya Indonesia masih jauh untuk mencapai swasembada gula. Permasalahan mulai dari tingkat hulu hingga pada akhirnya harus berujung pada impor gula rafinasi dengan berbagai persoalan di dalamnya, adalah tantangan utama  yang harus diselesaikan. 

Meski sejumlah PTPN di Jawa juga akan melakukan kebijakan konversi kebun karet menjadi perkebunan tebu untuk mendukung program swasembada gula, hal tersebut barulah langkah awal yang memerlukan dukungan kebijakan lainnya, khususnya dalam program hilirisasi. 

Program hilirisasi industri gula pada dasarnya harus memerlukan penentuan fokus tujuan. Sebab, rencana perluasan perkebunan tebu dan harapan peningkatan produksi tebu sebaiknya harus sepenuhnya fokus pada pemenuhan pasukan untuk pabrik gula. 

Hal ini menjadi penting, sebab kini dalam perkembangannya, salah satu komoditas yang juga menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu produk turunan dari tetes tebu atau molase adalah bioethanol.

Meski pada dasarnya kedua produk tersebut dapat diproduksi bersamaan dan dapat saling menambah pendapatan perusahaan, fokus untuk pencapaian swasembada gula harus menjadi prioritas utama. Terlebih, karena Indonesia hingga saat ini masih kekurangan gula mentah sebagai bahan untuk membuat gula rafinasi.

Referensi

Asosiasi Gula Indonesia. (2020, Desember). Buletin Agi IKAGI(5).
BPS. (2021). Distribusi Perdagangan Komoditas Gula Pasir Indonesia 2021. Jakarta, DKI, Indonesia: Badan Pusat Statistik RI.
Direktorat Jendral Perkebunan. (2021). Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020-2022. Jakarta: Kementerian Pertanian RI.
Evizal, R. (2018). Pengelolaan Perkebunan Tebu. Yogyakarta, Indonesia: Graha Ilmu.
Meylinah, S. (2022). Indonesia Sugar Annual . Jakarta: USDA GAIN.
Visi Teliti Saksama. (2017). Studi Awal Peta Jalan tata Niaga Gula di Indonesia. Jakarta: Visi Teliti Saksama.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini