Selamat

Jumat, 7 Oktober 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

16 September 2022

16:30 WIB

Jabatan itu Bernama Bapak Rumah Tangga

Jika profesi bapak rumah tangga dilakukan karena keterpaksaan, maka potensi untuk pecahnya biduk pernikahan menjadi kian besar.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Jabatan itu Bernama Bapak Rumah Tangga
Ilustrasi kehidupan sebuah keluarga dengan pembagian tugas masing-masing. Shutterstock/Dok

Kok, malah istrinya yang kerja? Masa suaminya? cuma di rumah jagain anak? Apa tidak terbalik?”

Nina, seorang ibu beranak tiga, sudah kebal mendengar komentar-komentar demikian dari lingkungan sekitarnya. Ia adalah seorang perempuan pekerja. Sebaliknya, sang suami merupakan bapak rumah tangga atau dalam istilah internasional dikenal sebagai 'Stay at Home Dad' yang mengurus ketiga buah hati mereka. 

Di masa-masa awal, Nina merasa terganggu dengan anggapan-anggapan miring orang-orang terhadap konsep yang berjalan dalam keluarganya. Tetapi, semakin ke sini, Nina semakin tidak memusingkannya.

Bagi Nina adalah suatu hal merepotkan jika harus  memberi tahu pada orang-orang di luar sana, bahwa inilah kesepakatan yang terjadi antar dirinya dengan suami. Pertimbangannya, karier Nina dinilai lebih layak dipertahankan dan diteruskan untuk keberlangsungan hidup keluargan. 

Di usianya yang menginjak 42 tahun, Nina menjabat sebagai kepala sebuah sekolah Islam di Jakarta. Dari diskusi keduanya, suami memilih melepas pekerjaannya dan fokus mengurus rumah serta anak-anak. Begitulah cerita Nina, yang merupakan kerabat dari penulis. 

Baca juga: Alasan Ibu Rumah Tangga Tetap Butuh Olahraga

Ya, keberadaan bapak rumah tangga kerap menimbulkan perdebatan. Laki-laki sebagai pemimpin dan kepala keluarga yang mencari nafkah seolah menjadi konsep yang tidak bisa diganggu gugat. Jika ada yang tak menerapkannya, akan dipandang asing dan berbeda.  

Menentukan Kepala Keluarga

Secara garis besar, kepala keluarga merujuk pada seseorang yang dinilai mampu menjadi nakhoda keluarganya. Ia adalah pemimpin yang menuntun ke mana kapal akan berlayar saat keluarga tersebut dihadapkan pada rintangan-rintangan. 

Pemahaman yang umum dianut masyarakat adalah laki-laki  sepatutnya menjadi pihak yang mengemban tugas tersebut. Ajaran agama pun menjadi salah satu faktor yang berperan dalam konsep laki-laki sebagai kepala keluarga. Akhirnya, muncul harapan sekaligus persepsi umum bahwa laki-laki harus lebih sukses secara finansial dibandingkan istrinya. 

Sejumlah budaya di Indonesia juga menjadi acuan akan teori kepala keluarga. Budaya patrilineal, misalnya, mengatur bahwa garis keturunan ditarik dari pihak laki-laki. Akan tetapi, ada pula budaya matrilineal yang mengatur sebaliknya, yakni alur keturunan mengikuti pihak perempuan. 

Baca juga: Kisah Inspiratif Ibu Rumah Tangga Masa Kini

Meskipun Undang-Undang Perkawinan menuliskan laki-laki merupakan kepala keluarga, ada banyak sekali kondisi di lapangan yang membuatnya tidak bisa demikian. Misalnya, suami sakit atau bahkan kabur dari tanggung jawabnya. Termasuk juga, jika istri memiliki potensi dan kesempatan pekerjaan yang lebih mumpuni. 

Kenyataannya, dari tahun 2015 hingga 2017, persentase perempuan yang menjadi kepala keluarga di Indonesia terus naik. Pada 2015 sebesar 14,63%, dan pada 2017 sebesar 15,17% (Badan Pusat Statistik).

Di negara-negara Asia lainnya, misalnya Hong Kong, jumlah bapak rumah tangga bertambah dari tahun ke tahun. Pada 1996 ada sekitar 6.300 bapak rumah tangga, kemudian meningkat menjadi 9.200 pada tahun 2001. Lalu pada 2013, jumlahnya bertambah lagi menjadi 14.300 bapak rumah tangga. 

Sementara di Filipina ada kaitan pendidikan dan kecenderungan laki-laki menjadi bapak rumah tangga. Penelitian yang dilakukan pada 2002 mengungkapkan pertukaran peran gender terjadi akibat tingkat pendidikan laki-laki cenderung lebih rendah ketimbang tingkat pendidikan perempuan. Saat perekonomian Filipina mengalami krisis, banyak perusahaan memecat karyawan laki-laki. Mereka kemudian beralih profesi menjadi pedagang sembari mengurus rumah tangga. Sedangkan, para perempuan pergi bekerja karena bisa memperoleh penghasilan yang lebih tinggi.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga, Bahan Bakar Perekonomian

Fokus Pada Kesepakatan

Buat pasangan yang sama-sama bekerja dan punya support system yang baik untuk menjaga anak mereka, semisal orang tua, mertua, saudara, atau pengasuh lainnya, hal ini tentu tak masalah.  Namun, tidak semua keluarga bisa memiliki ekosistem yang demikian. Acapkali, suami istri terbentur masalah ketiadaan sistem pendukung tersebut. Akhirnya, pasangan perlu berdiskusi mengenai pembagian tugas. Pengorbanan pun harus terjadi. 

Jika karier suami lebih punya peluang untuk terus berkembang, maka istri bisa memutuskan untuk fokus mengurus anak dan keperluan domestik tanpa perlu pergi bekerja. Fenomena ini dipandang sebagai suatu kewajaran dalam masyarakat. Tapi, jika yang terjadi malah sebaliknya, komentar-komentar negatif pun muncul. Bukan hanya dari lingkungan sekitar, tapi juga dari keluarga besar. 

Pada akhirnya, yang utama menentukan adalah kesepakatan antara suami dan istri. Dan, yang tak kalah penting adalah konsistensi  menjalankan kesepakatan tersebut. Ditambah lagi, jika sebuah keluarga malah terjatuh akibat mengikuti kemauan orang lain, tidak ada juga yang bisa diandalkan untuk menolong, selain anggota-anggota keluarga itu sendiri. 

Terpenting, ada keikhlasan dan kerelaan yang tulus dari dalam hati pada setiap ibu yang bekerja, dan juga pada setiap bapak rumah tangga. Karena, jika profesi bapak rumah tangga dilakukan karena keterpaksaan, potensi untuk pecahnya biduk pernikahan menjadi kian besar.


Referensi:
Suharmanto, Toto, Muhaimin & Ignatius  Hari Santoso. (2020). BAPAK RUMAH TANGGA: SEBUAH ALTERNATIF PROFESI?. Jurnal Bisnis STRATEGI Vol.29 No. 1 Juli 2020, halaman 37–44. 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER