Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

FOKUS

21 April 2021|18:05 WIB

Jabat Tangan Dan Esensi Ramadan

Kepatuhan pada protokol kesehatan dalam beribadah, penting diterapkan. Prinsip menghindari mudarat, tentu bisa lebih dikedepankan ketimbang berharap manfaat

Oleh: Dr. Nugroho Pratomo

ImageSeorang guru mengajarkan kepada siswa cara bersalaman kepada guru di era normal baru saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 (MTsN) Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (16/7/2020). Pihak sekolah tetap melaksanakan kegiatan MPLS secara tatap muka di tengah pandemi COVID-19 dengan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat karena daerah itu masih di zona merah. ANTARAFOTO/Makna Zaezar

Oleh Mohammad Widyar Rahman*

Puncak turnamen sepak bola Piala Menpora 2021 akhirnya mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta. Laga ini cukup spesial karena sarat gengsi dari kedua musuh bebuyutan di pentas sepak bola nasional tersebut.

Meski kerap dianggap “turnamen pemanasan” menyambut kompetisi Liga 1 2021, partai "El Clasico" antara Persib Bandung dan Persija selalu menarik atensi pecinta sepak bola. Maklum, sejak era perserikatan, aroma rivalitas dan adu gengsi selalu mencuat dari pertemuan kedua klub.

Puasanya pertandingan sepak bola karena pandemi setahun belakangan, memang membuat para penikmat sepak bola haus akan aksi olah bola pemain lokal. Tak heran, kehadiran turnamen ini seolah jadi pelepas dahaga.

Para pemain dan pelatih pun menjalaninya dengan serius. Tak heran, tensi permainan pun kerap terlihat tinggi dalam beberapa pertandingan.

Pada babak perempat final antara Bali United melawan PSS Sleman, misalnya, berjalan dengan ketat dan harus diakhiri dengan drama adu penalti dan berkesudahan 4-2 bagi PSS Sleman. 

Pertandingan tersebut terbilang sangat keras. Tercatat, wasit telah mengeluarkan 1 kartu merah untuk pemain Bali United dan beberapa kartu kuning untuk kedua tim. Bahkan, kerasnya pertandingan membuat pemain yang dilanggar lawannya enggan untuk menjabat tangan sang lawan.

Di panggung sepak bola dunia sekelas Liga Champions Eropa sekalipun, tensi tinggi dan gesekan antar pemain tak jarang terjadi.

Seperti pada pertandingan leg kedua babak perempat final antara Chelsea melawan Porto, terjadi insiden perkelahian antara Antonio Rudiger dan Pepe setelah peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

Kemudian, pada pertandingan leg kedua perempat final lainnya, antara Liverpool melawan Real Madrid. Seorang pemain Real Madrid, Casemiro, menjegal keras pemain Liverpool James Milner hingga membuatnya terjatuh ke luar garis lapangan.

Kejadian tersebut sempat memancing kemarahan para pemain Liverpool lainnya. Bahkan, Sang Pelatih Liverpool menyindir Casemiro dengan mengacungkan jempolnya.

Kerasnya pelanggaran yang memancing emosi, acap kali memang menimbulkan kericuhan. Pemain yang merasa dirugikan kerap melayangkan protes, berusaha membalas atau paling tidak menepis uluran tangan lawan yang melakukan pelanggaran.

Menurut FIFA, jabat tangan mendorong para pemain dan ofisial klub sepak bola untuk memperlakukan satu sama lain dengan respect dan fairness, sesuai dengan tradisi sepak bola. Pada gilirannya, bagian dari kampanye Fair Play ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi publik luas untuk mempromosikan perdamaian dan solidaritas di seluruh dunia.

Budaya jabat tangan memang telah ada sejak zaman dahulu. Tercatat, budaya ini pertama kali muncul pada abad ke 5 SM. Bukti relief Yunani kuno menunjukkan gambar orang berjabat tangan yang memiliki makna dan simbolisme tertentu.

Seringnya, jabat tangan dimaknai sebagai isyarat yang mengungkapkan salam, atau ikatan dan hubungan dekat, kombinasi dari semua ini diterima secara umum (Novakova & Pagacova, 2016).

Hingga saat ini, jabat tangan juga tidak melulu dan hanya identik dengan sikap religius tertentu. Jabat tangan bahkan sudah menjadi sebuah tradisi universal hampir di seluruh penjuru dunia, bukan lagi menjadi milik satu negara atau adat istiadat daerah tertentu. 

Akan tetapi, pada masa pandemi berkepanjangan seperti saat ini, jabat tangan yang menjadi simbol persaudaraan, persahabatan, dan penghormatan, tetiba menjadi sumber masalah. Penyebaran virus lewat kontak fisik, membuat banyak orang kini enggan untuk berjabat tangan.

Terlalu berdekatan saja berpotensi tertular, apalagi dengan skin to skin contact seperti berjabat tangan?

Belajar dari Kulon Progo
Munculnya klaster dari pengajian yang rutin dilaksanakan setiap pekan di Kulon Progo, bisa jadi contoh. Dari 58 orang yang mengikutinya, sebanyak 57 orang terpapar covid-19. Bahkan, ada yang meninggal dunia.

Hasil penelusuran Satgas Covid-19 Kabupaten Kulon Progo, ternyata penyebarannya tak hanya sebatas ke sesama jamaah saja, tetapi sudah mencapai tingkat keluarga.

Hal itu karena anggota jamaah yang terkonfirmasi telah menulari anggota keluarganya. Jika dihitung dengan sebaran di tingkat keluarga, jumlah positif terpapar mencapai 69 orang, lebih banyak dari jumlah peserta pengajian.

Menurut Satgas Covid-19, imam masjid yang baru pulang berkunjung dari Purworejo yang merupakan salah satu wilayah dengan kasus positif terkonfirmasi covid-19, jadi salah satu dugaan penyebabnya. Kemudian, budaya jabat tangan disinyalir menjadi pemicu utama yang membuat penyebaran covid-19 sangat cepat.

Asal tahu saja, berjabat tangan memang sudah menjadi tradisi turun temurun di tengah masyarakat, apalagi di tengah lingkungan pesantren atau pengajian. Tak hanya jabat tangan, cium tangan kepada guru atau orang tua sebagai salam takzim pun sudah jadi tradisi yang mengakar.

Untuk membatasi atau melarang sementara tradisi jabat tangan atau cium tangan, tentu bukan hal yang mudah. Kebiasaan tahunan tersebut, tak bisa begitu saja dihilangkan.

Lupa, bisa jadi alasan paling banyak ketika alpa dalam menerapkan kebiasaan baru. Alasan lainnya, mungkin saja terkait dengan sikap keimanan tertentu, yang lebih yakin dengan tradisi jabat tangan dan cium tangan justru bisa menimbulkan suatu keberkahan.

Menghadapi Ramadan dan Idulfitri tahun ini, pemerintah sendiri sejatinya telah mengeluarkan aturan yang berbeda dibandingkan tahun lalu.

Jika tahun lalu ibadah berjamaah di masjid dilarang, kini pemerintah memberikan kelonggaran sebanyak 50% dari kapasitas untuk dapat digunakan dalam menjalankan ibadah Ramadan. Tentunya dengan tambahan syarat menerapkan protokol kesehatan.

Jika pun ada pelarangan kegiatan ibadah di zona merah (risiko tinggi) dan orange (risiko sedang), pemerintah setempat akan menerapkan aturan dengan mempertimbangkan kondisi yang ada. Sejumlah pedoman pun dikeluarkan sebagai upaya untuk mencegah munculnya klaster baru di bulan Ramadan.  

Pada masa ini, kepatuhan penerapan protokol kesehatan dalam menjalankan ibadah, boleh jadi lebih penting dibandingkan memaksakan sebuah tradisi dan mengharapkan suatu keberkahan. Prinsip menghindari mudarat, tentu bisa lebih dikedepankan ketimbang mengharap manfaat.

Intinya, esensi dasar menjalankan ibadah, tentu tak akan begitu saja pudar hanya karena kita untuk sementara menghindari tradisi berjabat tangan. Bukankah masih banyak cara lain sebagai pengganti jabat tangan untuk menunjukkan kesopanan, kepercayaan, rasa hormat, rasa maaf, ataupun untuk menunjukkan keterhubungan antar manusia?  

Konsistensi Disiplin Kolektif
Patut diingat, bulan Ramadan ini nantinya akan diakhiri dengan datangnya Idulfitri. Nah, sesuai tradisi, selain berkumpul bersama keluarga, cium tangan dan sungkem buat kebanyakan keluarga sudah jadi tradisi turun temurun.

WHO mengingatkan, seberapa nyaman dan aman pun, tidak ada zero-risk ketika kita dalam kondisi berkumpul, meskipun dengan keluarga. Oleh sebab itu, setiap individu harus menjadi seorang manajer risiko bagi dirinya sendiri agar dapat melindungi diri sendiri dan orang lain.

Apa yang terjadi di Kalimantan Selatan, dapat menjadi contoh memudarnya ketaatan terhadap protokol kesehatan yang memicu ledakan jumlah kasus positif covid-19 per harinya. Dugaan Satgas Covid-19, sebaran bersumber dari kalangan ibu-ibu rumah tangga yang memunculkan klaster keluarga.

Ketika pemerintah telah menetapkan aturannya, sesuai dengan esensinya, Ramadan seharusnya bisa jadi momentum untuk membangun konsistensi dalam menjalankan disiplin kolektif agar terhindar dari ledakan kasus positif covid-19. Bukankah Ramadan jaga mengajarkan kita kesabaran dalam menjalani tantangan?

Layaknya permainan sepak bola, kondisi pandemi ini membutuhkan disiplin kolektif seluruh tim di setiap lini. Di level turnamen apapun, bagaimanapun strategi bermainnya, yang jelas setiap lini harus memiliki visi yang sama, memenangkan sebuah pertandingan.

Pandemi ini ibarat sebuah kompetisi yang panjang dan melelahkan. Seiring berjalannya waktu, tantangannya semakin banyak dan menuntut konsistensi untuk disiplin terhadap aturan yang ada.

Dengan demikian, kita bisa keluar sebagai pemenang di akhir kompetisi. Bukan malah sebaliknya, jatuh pada menit-menit akhir ketika peluit dibunyikan, tanda berakhirnya permainan.

*) Peneliti Visi Teliti Saksama

Referensi:
https://www.antaranews.com/berita/2083146/ketaatan-prokes-turun-picu-ledakan-covid-19-di-kalsel [diakses pada tanggal 14 April 2021]

https://www.antaranews.com/berita/2007093/tambah-12-klaster-pengajian-jangkaran-kulon-progo-diy-jadi-69-orang [diakses pada tanggal 14 April 2021]

Novakova L dan M Pagakova. 2016. Dexiosis: A Meaningful Gesture of The Classical Antiquity. ILIRIA International Review, 6 (1). 207-222.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER