Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

04 Oktober 2022

15:15 WIB

Insiden Kanjuruhan; Tragedi Dan Empati

Meski menyisakan duka, insiden Kanjuruhan merupakan tragedi sepak bola di Malang memunculkan rasa empati dan persaudaraan sesama pendukung fanatik klub sepak bola.

Penulis: Novelia,

Editor: Faisal Rachman

Insiden Kanjuruhan; Tragedi Dan Empati
Suporter Persebaya berdoa bersama untuk korban tragedi Kanjuruhan, di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/10/2022). Antara/Didik Suhartono

Sabtu, 1 Oktober 2022, mungkin jadi salah satu hari terkelam buat persepakbolaan nasional. Hari ketika 125 orang tewas dan ratusan lainnya terluka, selepas pertandingan sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur itu, akan terus dikenang oleh insan sepak bola Indonesia dan dunia. 

Pada momentum yang seharusnya kita peringati sebagai Hari Peringatan Kesaktian Pancasila tersebut, tragedi yang tak pernah diprediksi justru terjadi. Sedih, duka, marah campur aduk dalam benak banyak orang. 

Lalu, siapa yang harus dipersalahkan? Siapa yang bersedia bertanggung jawab atas peristiwa ini? 

Terlepas dari pertikaian dan perdebatan yang terjadi, terselip sebuah adegan santun yang bisa jadi sinyal baik bagi perdamaian penggemar sepak bola Indonesia.

Bonek dan Aksinya
Kala itu, laga berakhir atas kemenangan Persebaya atas Arema FC dengan skor akhir 2-3. Begitu mendengar berita kemenangan timnya, kelompok penggemar fanatik Persebaya, atau kerap dipanggil Bonek (Bondho Nekat), merasa perlu merayakan, sekalipun tidak hadir di stadion untuk menyaksikan langsung. 

Apalagi, ini kemenangan pertama sejak sekian lama tim kesayangan mereka tak mampu menekuk mundur Arema di kandangnya sendiri.

Bonek pun berkumpul membentuk barisan sepeda motor di ruas Jl. A. Yani, Surabaya. Sebagai ganti ketidakhadiran di stadion, mereka berniat memberikan apresiasi pada para pemain Persebaya dengan cara lain, yakni dengan mengadakan konvoi, menyambut dan mengarak para "pahlawan" yang pulang ke kotanya.

Namun, nuansa suka cita mendadak berubah ketika berita tragedi di Malang sampai ke telinga mereka. Entah atas instruksi siapa, satu per satu Bonek membubarkan diri, bepergian dari barisan konvoi. Selebrasi kemenangan mereka batalkan demi menghormati duka dari lawan tanding yang diterpa musibah.

Tindakan bertendensi positif yang ditunjukkan Bonek menjadi menarik, mengingat mereka dikenal sebagai salah satu kelompok penggemar berbasis lokal di Indonesia yang lekat dengan citra "rusuh". Ketidakhadiran mereka di lokasi pertandingan sebelum Tragedi Kanjuruhan terjadi, bahkan merupakan buntut citra buruk mereka.

Baca juga: Ini Daftar Nama Anggota TGIPF Yang Usut Tragedi Kanjuruhan

Sehari sebelum Tragedi Kanjuruhan, diketahui Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, telah berpesan kepada Bonek, untuk mendukung timnya dari Surabaya saja. Imbauan tersebut tak terlepas dari posisi Persebaya yang tengah menjalani hukuman dari Komisi Disiplin PSSI, akibat terlibat dalam kerusuhan pada 15 September 2022 lalu di Stadion Gelora Delta Sidoarjo.

Pesan Eri juga sejalan dengan kebijakan Panitia Pelaksana Arema FC yang meniadakan kuota penonton untuk Bonek. Keputusan ini juga berdasar pada perjanjian di Polda Jatim pada 2006 lalu, yang menyepakati kedua pendukung tidak saling mengunjungi, demi menghindari pertikaian antar-basis penggemar di lokasi. 

Siapapun tahu, Bonek dan Aremania adalah dua musuh bebuyutan, baik di dalam maupun luar lapangan. Permusuhan keduanya abadi, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Buat Aremania, klub kesayangannya, Arema, boleh saja kalah dengan klub lainnya, tapi "haram" hukumnya sampai kalah dari Persebaya. Apalagi di kandang sendiri. 

Tak heran, kemenangan dengan skor 3-2 yang diraih Persebaya Surabaya atas Arema FC di Stadion Kanjuruhan ini, menciptakan sejarah tersendiri bagi skuad Bajul Ijo. Sebab, sejak pertama kali bertemu di Liga Indonesia 1994/1995, Persebaya Surabaya belum pernah mengalahkan Arema FC di kandangnya. Kondisi inilah yang tak bisa diterima sejumlah fans fanatik Arema pada 1 Oktober kemarin dan memicu kerusuhan. 

Kelompok suporter pendukung tim Persis Solo menyalakan lilin saat melakukan aksi Solidaritas Untuk Suporter Arema di Manahan, Solo, Jawa Tengah, Minggu (2/10/2022). Aksi tersebut sebagai aksi solidaritas antar-suporter dan bentuk keprihatinan atas tragedi kerusuhan suporter sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang. Antara Foto/Mohammad Ayudha 


Tepis Ego Kelompok
Akan tetapi, seakan ingin menghapus rekam jejak buruknya, kali ini Bonek menampilkan gerak-gerik yang patut diacungi jempol. Alih-alih membuat aksi brutal dan vandal, mereka justru menunjukkan penghormatan dan rasa empati pada lawan. Sebuah tragedi, menjadi pelecut kepedulian dan ikatan sebagai sesama pecinta sepak bola tanah air.

Secuil aksi toleran dari Bonek terhadap Aremania, barang kali mengingatkan kita pada rangkaian hadiah manis Real Madrid kepada Manchester United pasca Tragedi Munich 1958. Lekat dalam ingatan sebagian besar pecinta sepak bola internasional, beberapa dekade lalu sebuah kecelakaan pesawat mengakibatkan klub Inggris yang dijuluki Red Devils tersebut kehilangan 8 pemain mudanya.

Daftar nama korban yang juga atlet sepak bola dari tim Manchester United. Sumber: manutd.com 

Tragedi yang terjadi di tengah perhelatan Liga Eropa, atau yang kini lebih dikenal sebagai Champions League ini, membuat Manchester United nyaris runtuh. Kehilangan separuh timnya membuat klub yang kala itu diasuh Matt Busby terguncang, baik secara finansial maupun mental. Dampak langsungnya adalah kekalahan telak 4-0 dari AC Milan pada leg kedua semifinal Liga Eropa.

Nuansa berkabung pascatragedi nyatanya tak hanya dirasakan Manchester United, namun juga sejumlah klub lain yang tak lain merupakan rivalnya di dunia sepak bola. Liverpool dan Nottingham Forest misalnya, jadi dua tim pertama yang menghubungi MU dan mempertanyakan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu.

Sebagai tim yang punya hubungan manajemen istimewa karena persahabatan antara Santiago Bernabeu dengan Bubsy, Real Madrid menunjukkan empati lebih. Kemenangan atas AC Milan di final Liga Eropa dipersembahkan tim ini untuk MU. Madrid bahkan sempat ingin memberikan piala juara liga tersebut untuk MU, namun ditolak secara halus oleh Busby Babes.

Baca juga: Pemerintah Bentuk Tim Gabungan Usut Tragedi Kanjuruhan

Tak hanya titel, aksi lebih nyata dilakukan Madrid demi menarik kembali Manchester United keluar dari jurang kehancuran. Kala itu, Madrid memproduksi bendera bertuliskan nama-nama korban meninggal dalam Tragedi Munich dan memberikan judul Champions of Honour. Bendera tersebut dijual di Spanyol, dan dana yang berhasil dikumpulkan diberikan kepada manajemen MU untuk mendongkrak finansialnya yang tengah terpuruk.

Demi memompa kembali mental bermain di lapangan, Madrid bahkan menggelar sejumlah pertandingan persahabatan dengan tim Inggris tersebut. Dari laga-laga awal yang dihiasi kekalahan telak, United perlahan menemukan ritme bermain dan mampu mengalahkan Madrid pada pertandingan-pertandingan terakhir.

Dengan uluran tangan dari Madrid dan sejumlah klub lain yang turut berempati atas kejadian di Munich, harapan Manchester United untuk menjadi juara Eropa kembali mencuat. Selangkah demi selangkah ditapaki tim ini hingga sejumlah trofi berhasil direbut oleh si setan merah. Tak hanya di negerinya sendiri, namun juga di tanah Eropa.

Empati Bagi Yang Terluka
Batalnya konvoi selebrasi Bonek demi menghormati Aremania pasca-Tragedi Kanjuruhan, serta bantuan yang ditunjukkan Madrid dan klub-klub lain pada Manchester United pasca-Tragedi Munich,  menunjukkan bagaimana sebuah kejadian duka mampu melahirkan kepedulian. Bahkan, bisa mengesampingkan konflik yang ada. Fenomena ini mengindikasikan kuatnya pengaruh kekurangberuntungan seseorang ataupun suatu kelompok terhadap empati orang atau kelompok yang menyaksikannya.

Diartikan sebagai kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, Nancy Eisenberg (2000) menilai bahwa empati dapat diwujudkan salah satunya melalui simpati. Simpati sendiri disebutkan Eisenberg sebagai respons afektif yang meliputi perasaan menderita atau perhatian terhadap orang atau kelompok yang menderita dan membutuhkan bantuan.

Petugas medis memindahkan jenazah korban kerusuhan Stadion Kanjuruhan di RSUD Saiful Anwar, Kota Mal ang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menyebutkan tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang mengakibatkan sebanyak 131 orang meninggal dunia. Antara Foto/R D Putra 

Timbul pertanyaan, mengapa perhatian tersebut hanya terfokus kepada yang menderita?

Pada dasarnya, manusia diyakini memiliki kemampuan untuk memperhatikan orang lain. Kapabilitas tersebut secara alami lebih dirasakan, ketika pihak yang diperhatikan mengalami keadaan yang kurang menguntungkan, karena lebih menyentuh perasaan. 

Hal ini lah yang terlihat pada momen-momen tertentu ketika tragedi terjadi. Bukanlah hal yag mustahil, sebuah kelompok fanatik maupun klub sepak bola berempati terhadap pihak di luar kelompoknya, yang bisa jadi merupakan rivalnya sendiri.

Terkait dengan hal tersebut, Snyder dan Lopez (2007) menjelaskan, manusia terbiasa memperhatikan hal-hal negatif dalam psikologi, untuk kemudian bergerak ke arah psikologi positif. Sebagai bagian dari rasa empati, simpati diyakini oleh mereka melibatkan orientasi orang atau kelompok lain, serta motivasi altruistik, atau keinginan berbuat baik.

Tak hanya dapat dijelaskan secara psikologis, timbulnya kepedulian akibat melihat kesengsaraan orang atau kelompok lain juga dijelaskan oleh temuan bersifat biologis. Sebuah studi pemindaian otak yang dilakukan oleh seorang ahli saraf Tania Singer membuktikan hal tersebut.

Baca juga: Pemerintah Diminta Pastikan Korban Tragedi Kanjuruhan Dirawat Maksimal

Begitu juga dengan  Akademisi dari Max Planck Society di Jerman yang membuktikan dalam penelitiannya, ketika seseorang menyaksikan orang lain kesakitan, maka akan terjadi aktivitas otak yang terkait rasa sakit. Ia seolah merasakan rasa sakit tersebut.

Lebih jauh, empati mengalir lebih kepada isu yang memiliki identificable victim, dibandingkan yang tidak sama sekali. Tak heran, duka akibat Tragedi Kanjuruhan dan Tragedi Munich yang mengakibatkan sejumlah korban tewas, tentu akan lebih mudah untuk turut dirasakan dibandingkan ancaman perubahan iklim terhadap generasi masa depan, yang pada masa sekarang belum terlihat nyata.

Sebagai arena yang penuh kompetisi, sepak bola sebagai salah satu olahraga populer memang punya potensi perselisihan di antara berbagai tim yang ada. Apalagi, kebanggaan akan kelompok dan daerah asal yang turun temurun diwariskan dari generasi ke genarasi, kerap mempertebal dinding rivalitas yang membatasi hubungan tim yang satu dan lainnya.

Namun, tragedi atau duka mendalam yang dialami salah satu tim, terbukti bisa mengikis atau bahkan meniadakan dinding tebal nan tinggi tersebut. Rivalitas, setidaknya akan terhapus selama beberapa saat demi merasakan kesedihan yang sama. 

Nuansa damai tersebut memang menghadirkan lega. Namun, muncul juga pertanyaan miris. 

Apakah harus selalu ada tragedi untuk meredam konflik?

Referensi
Adwitiya, A. (2022, Oktober 3). Imbas Tragedi Stadion Kanjuruhan, Ribuan Bonek Batal Konvoi Motor Untuk Menghormati Aremania. Retrieved from MotorPlus: https://www.motorplus-online.com/read/253506890/imbas-tragedi-stadion-kanjuruhan-ribuan-bonek-batal-konvoi-motor-untuk-menghormati-aremania
Eisenberg, N. (2000). Emotion, Regulation, and Moral Development. Annual Review of Psychology Volume 51, 665-697.
Ludden, J. (2011). A Tale of Two Cities: Manchester United and Real Madrid 1957-1968. Manchester: Empire Publications.
Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (2007). Positive Psycyhology in Scientic and Practical. Exploration of Human Strength. London: Sage Publication.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini