Selamat

Kamis, 18 Agustus 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

18 April 2022

13:45 WIB

Drama Korea: Fiksi Yang Terasa Nyata

Drama Korea sering kali mengangkat cerita yang dekat dengan lingkungan sekitar kita. "Menu ketimuran" yang konservatif, bersama dengan harga yang murah, menjadi resep spesial yang membuat laku.

Penulis: Gisantia Bestari,

Editor: Rikando Somba

Drama Korea: Fiksi Yang Terasa Nyata
Drama Korea “Twenty Five Twenty One” menjadi salah satu tayangan terpopuler di Netflix Indonesia bulan April 2022 ini (Instagram @tvn_drama).

Drama Korea bertajuk “Twenty Five Twenty One” menjadi perbincangan hangat para warganet di media sosial Twitter awal April 2022 lalu. Drama cinta antara seorang atlet anggar dan reporter ini telah mencapai episode terakhirnya pada Minggu, 3 April 2022 di Netflix. 

Akhir kisah drama ini pun menuai beragam reaksi di kalangan penggemarnya. Ada yang puas dengan akhir ceritanya, ada juga yang tidak. 

“Twenty Five Twenty One” adalah salah satu tontonan paling digemari penonton Netflix di Tanah Air. Pada periode 4 – 10 April 2022, “Twenty Five Twenty One: Season 1” menempati posisi kedua sebagai tayangan terpopuler di Indonesia dalam kategori serial TV. 

Posisi pertama ditempati oleh “Business Proposal: Season 1”, dan posisi ketiga ditempati oleh “Forecasting Love and Weather: Season 1”. Ketiganya berasal dari negara yang sama, Korea. 

Bukan hal yang baru, drama Korea merajai peringkat tontonan favorit di platform itu, baik di Indonesia atau bahkan global. Drama Korea seakan punya magnet tersendiri yang terus menarik para penonton untuk setia menyaksikan karya-karya mereka. 

Sebut saja drama-drama pendahulu seperti “Crash Landing On You”, “Squid Game”, “Hometown Cha-Cha-Cha”, “Nevertheless”, “Move to Heaven”, hingga “Our Beloved Summer”, yang sempat juga menjadi deretan drama populer di Netflix. 

Lalu, apa yang membuat drama Korea bisa begitu menghipnotis para pemirsa Indonesia dan dunia?

Memanusiakan Tokoh Fiksi
Demam drama Korea sejatinya sudah berlangsung selama bertahun-tahun di Asia. Drama Korea adalah salah satu pemicu utama istilah Korean Wave atau “Hallyu”, bersama dengan K-Pop dan ekspor budaya Korea lainnya. Konon, istilah ini digagas oleh jurnalis Beijing pada 1990-an. 

Pada masa itu, liberalisasi media melanda Asia. Meski kurang diketahui persis kapan drama asal negeri ginseng ini mulai terkenal di luar Korea Selatan, diyakini “Jealousy” yang disiarkan China pada 1993 membuat drama Korea menjadi populer.  

Tahun 1997, drama Korea bertajuk “What is Love All About?” ditayangkan oleh China Central Television Station dan menjadi hit. Kemudian, tahun 1999, drama Korea “Stars in My Heart” juga menjadi hit di China serta di Taiwan. 

Sejak itu, dalam waktu singkat, drama ini mengambil waktu tayang saluran televisi negara-negara di Asia, seperti Singapura, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, dan Indonesia. 

Ada juga dampak krisis ekonomi di Asia pada 1997 terhadap perkembangannya. Krisis membuat pembeli Asia lebih memilih program drama Korea yang harganya seperempat dari harga drama Jepang, dan sepersepuluh dari harga drama Hong Kong pada 2000. Ekspor program televisi Korea meningkat drastis dari $12,7 juta pada 1999 menjadi $37,5 juta pada 2003. 

Jika disodorkan pertanyaan, “Mengapa drama Korea begitu laris?”, mungkin mulanya dengan mudah kita menjawab fesyen mereka yang keren, atau karena wajah aktor dan aktrisnya yang sangat menawan. Akan tetapi, faktor kesuksesan drama Korea tentu lebih dari itu semua. 

Melissa De Witte dari Stanford News Service, dalam artikelnya pada November 2021, menyebutkan drama Korea punya keseimbangan antara orisinalitas dan prediktabilitas. Kisah yang ditawarkan tidak aneh-aneh, bahkan cenderung bisa ditebak, seperti orang kaya jatuh cinta pada orang miskin. 

Memang, di dalam ceritanya, ada kejutan yang terjadi. Namun, kisahnya bergulir dengan kerap memanusiakan para karakternya. Hal ini membuat penonton punya rasa simpati dan peduli yang tinggi pada tokoh-tokoh fiksi tersebut. 

Mengutip dari artikel Elle Singapura tahun 2021, selain alur cerita yang begitu intens, kualitas akting pemain mampu membangun relasi emosional antara dirinya dan pemirsa. Drama Korea menyentuh beragam pengalaman dan emosi manusia, sehingga membuat kita tidak merasa sendirian menghadapi apa yang kita hadapi saat ini. 

Tema yang diangkat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti keluarga, persahabatan, dan cita-cita pribadi. Berbeda dengan serial Barat yang lebih sering menampilkan adegan berani dan vulgar, drama Korea secara sosial lebih konservatif.  

Dengan "menu ketimuran", film produksi Korea ini malah mampu menjangkau negara dan penonton yang lebih luas. Ini menjadikannya lebih ramah bagi anak-anak yang masih butuh pengawasan orang tua. 

Menurut salah satu ahli budaya pop Korea yang terkemuka, Dr. Dal-Yong Jin, drama Korea juga cenderung interaktif. Apabila suatu drama memiliki peringkat rendah, para kreator akan introspeksi dengan mengubah plot. 

Sebaliknya, kalau peringkatnya tinggi, jumlah episode bisa saja diperpanjang dari 16 menjadi 24 episode demi memastikan penonton menerima drama ini dengan baik. Namun, itu juga berarti pengambilan gambar dan penyuntingan dilakukan dalam minggu yang sama dengan jadwal penayangan. 

Menjadi Inspirasi
Penulis sendiri, sebagai penikmat banyak judul drama Korea, mengamini apa yang diungkapkan oleh para ahli. Drama Korea sering kali mengangkat cerita yang dekat dengan lingkungan sekitar kita, dibumbui konflik yang tidak berlebihan. 

Setiap karakter ditampilkan secara wajar. Adalah sangat mungkin kita pernah temukan karakter seperti di film-film drama itu ini di kehidupan kita. 

Keputusan-keputusan yang diambil oleh para tokohnya terasa rasional dan masuk akal. Paparan aksi dan keputusan, bisa jadi terbayang di benak kita. Penonton merasa mungkin akan mengambil langkah yang sama apabila ada di posisi mereka. 

Berbicara tentang jumlah episode, drama Korea juga biasanya hanya memiliki 16-24 episode dalam satu musim. Dengan jumlah episode yang tidak terlalu banyak itu, alur cerita menjadi fokus dan tidak bertele-tele. Hal ini yang bisa dibilang belum dapat dipenuhi oleh sinetron Indonesia. 

Jika rating bagus, sinetron Indonesia akan menambah jumlah episode menjadi seolah tiada akhir. Sayangnya, kebanyakan cenderung abai terhadap plot cerita yang ke mana-mana. Akhirnya timbul kesan, yang penting untung, kualitas belakangan. 

Sedikitnya sejak 10 tahun lalu, sejumlah sinetron Indonesia pernah menuai kritik karena dituding melakukan plagiat terhadap drama Korea. Dapat kita temukan di berbagai artikel, pembahasan tentang sinetron Indonesia yang meniru drama Korea baik dalam judul, alur cerita, dan para karakternya. 

Fenomena itu menunjukkan bahwa drama Korea telah menjadi kiblat dan standar akan sebuah drama yang mampu menggaet banyak penonton, sehingga cenderung ditiru. Pastinya, plagiat bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Namun, terkadang kita kebingungan sampai sejauh mana batas suatu karya disebut plagiat atau hanya terinspirasi.  

Sederhananya, inspirasi adalah kekuatan yang memicu individu untuk menciptakan karya yang unik dan khas. Sedangkan, plagiat adalah menyalin karya orang lain dan mengklaim sebagai karya milik sendiri. 

Negara kita tentunya boleh membuat karya yang terinspirasi, bukan menjiplak dari karya negara lain. Akan tetapi, karya hasil inspirasi sejatinya menggabungkan gagasan yang sudah ada dengan gagasan yang orisinal sehingga kita dapat menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda dari karya pendahulu yang menjadi inspirasi tersebut. Dengan begitu, karya kita tetap otentik dan dihargai masyarakat. 

Kini, pertanyaannya, apakah sinetron-sinetron besutan sineas di Tanah Air  bisa membentuk konsumerisme produk Indonesia di negara-negara lain, selayaknya drama Korea?

Referensi:
Elle. (2021). HOW K-DRAMAS BECAME SO POPULAR AND WHY THE WORLD CAN’T GET ENOUGH https://elle.com.sg/2021/08/18/how-k-dramas-became-so-popular-and-why-the-world-cant-get-enough/ diakses 7 April 2022.
Netiflix. (2022). Top 10 By Country https://top10.netflix.com/indonesia/tv diakses 14 April 2022.
Reel Rundown. (2022). Why Korean Dramas Are Popular https://reelrundown.com/movies/Korean-Wave-Why-Are-Korean-Dramas-Popular diakses 7 April 2022.
Stanford News. (2021). The secret to K-pop, K-drama success is its relatable appeal, says Stanford scholar https://news.stanford.edu/2021/11/09/secret-k-pop-k-drama-success/ diakses 7 April 2022.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Wawalkot Surabaya Minta Penegakan Hukum Buang Sampah

Smart Supply-Demand Kuatkan Pertumbuhan Industri Logam

Marvel Rilis Serial "She-Hulk: Attorney at Law" Hari Ini

Gerindra: Pidato Ketua MPR Soal PPHN Sesuai Rapat Gabungan

Program Makmur Tingkatkan Produktivitas Tebu Petani

iPhone 14 Akan Dikenalkan Bulan September

BMKG Ingatkan Gelombang Sangat Tinggi Selatan Jawa

IHSG Kamis Berpotensi Melemah