Selamat

Senin, 28 November 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

24 September 2022

17:45 WIB

Bonus Demografi Dan Produktivitas Tenaga Kerja

Pendidikan yang layak menjadi prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Tenaga kerja yang produktif pun jadi keniscayaan.

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Nugroho Pratomo

Bonus Demografi Dan Produktivitas Tenaga Kerja
Sejumlah pencari kerja mengunjungi pameran bursa kerja Jakarta Job Fair di Pusat Grosir Cililitan (P GC), Jakarta, Rabu (8/12/2021). ANTARAFOTO/Hafidz Mubarak A

Telah lama disadari banyak kalangan, pengendalian terhadap jumlah penduduk menjadi hal yang sangat penting dalam perekonomi sebuah negara. Dari sisi ekonomi, jumlah penduduk tentu akan mempengaruhi pasar tenaga kerja. 

Hanya saja, keterbatasan akses terhadap pekerjaan oleh setiap individu, bagaimanpun juga akan memiliki konsekuensi terhadap kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pada akhirnya, kondisi ini akan mempengaruhi tingkat pengangguran yang berujung pada ancaman kemiskinan.

Terkait persoalan pengangguran, ketidakmampuan untuk memperoleh pekerjaan seringkali dinilai sebagai “pintu masuk” menuju kemiskinan. Ketidakmampuan seseorang atau bahkan masyarakat untuk memperoleh pendapatan atau pekerjaan inilah, yang jadi penyebab seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. 

Mencermati definisi kemiskinan, maka ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar ini, biasa disebut dengan kemiskinan absolut. Jeffry D. Sach dalam bukunya The End of Poverty mengistilahkan bentuk kemiskinan ini sebagai the extreme poverty (Sach, 2005).

Kebutuhan dasar yang dimaksud, terkait dengan kebutuhan pangan dan nonpangan. Dalam soal nonpangan ini, di antaranya adalah pendidikan dasar, kesehatan, perumahan, hingga kebutuhan transportasi. 

Kembali kepada soal pengangguran, selama ini, penyelesaian masalah pengangguran khususnya di Indonesia dilakukan dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Tak heran, jika selama ini pemerintah selalu berupaya untuk menarik sebanyak-banyaknya investasi, baik itu domestik (PMDN) maupun dari luar (PMA). Meningkatnya investasi, baik langsung maupun tak langsung, diharapkan bisa menambah lapangan pekerjaan.   

Nah, selama ini, pertumbuhan ekonomilah menjadi salah satu indikator kemampuan pembukaan lapangan kerja baru. Selama periode 1986-1996, rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 6,8%. Sementara itu, rata-rata tingkat pengguran terbuka sebesar 3,06%. 

Data BPS juga mencatat, pada 1996, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8%, jumlah angkatan kerja mencapai 88,2 juta dengan 2,28 juta lapangan kerja baru. Tingkat pengguran terbuka kala itu, mencapai 4,9%. 

Ketika terjadi krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia kala itu mencapai minus 13,13%, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,46%. Pasca krisis, sejak tahun 1999 jumlah tambahan lapangan pekerjaan hanya mencapai 1 juta atau bahkan kurang. Bahkan, pada 2003 sempat terjadi minus 0,86 juta untuk penambahan lapangan kerja baru. 

Sebagai perbandingan, berdasarkan data BPS, tahun 1996 saat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7,8%, terjadi penambahan lapangan kerja baru mencapai 2,28 juta. Singkatnya, dalam setiap 1% pertumbuhan ekonomi, maka akan tercipta lapangan kerja baru sebanyak 292 ribu. 

Namun, apabila melihat tren yang terjadi selama periode 1986-2021, terlihat tren tingkat persentase pengangguran terbuka menunjukkan tren peningkatan. Selaras, tingkat pertumbuhan ekonomi juga menunjukan tren penurunan.  

Berdasarkan data ini, memang dapat kita lihat, tingginya pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh besarnya investasi, pada satu sisi memang mampu membuka lapangan pekerjaan baru dan mengurangi pengangguran terbuka. 

Namun, jika diselisik lebih jauh, dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi nyatanya bukanlah jaminan, serta merta bisa mengurangi tingkat pengangguran.    

Produktivitas
Bisa dibilang, mencermati lebih lanjut penyelesaian persoalan ketenagakerjaan atau bahkan pengangguran, tidak melulu bicara soal penyerapan tenaga kerja. Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah soal produktivitas. Termasuk, masalah kualitas tenaga kerja itu sendiri. 

Jumlah tenaga kerja yang tersedia, pada dasarnya laksana pisau bermata dua. Pada satu sisi, jumlah tenaga kerja yang banyak, merupakan modal bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. 

Namun pada saat yang bersamaan, hal tersebut juga dapat berubah menjadi beban sosial ekonomi yang menyulitkan perekonomian negara. Telebih, apabila kapasitas atau keahlian yang dimiliki oleh tenaga kerja yang tersedia, tidak sesuai dengan permintaan kebutuhan lapangan kerja yang ada. 

Mencermati soal produktivitas tersebut, kita bisa berangkat dari argumentasi Michael E Porter yang menyebutkan, produktivitas adalah kunci utama untuk meningkatkan kemakmuran. 

Kemakmuran yang dimaksud oleh Porter adalah kondisi yang diperoleh dari rangkaian aktivitas ekonomi yang mampu menghasilkan barang dan/atau jasa yang di atas biaya produksi. Jadi, bagi Porter, kemakmuran yang sesungguhnya adalah bukan sesuatu yang dihasilkan dari warisan (Ketels, 2006).

Dengan demikian, diharapkan produk-produk yang dihasilkannya mampu berkompetisi di pasar global. Dalam konteks inilah pengembangan berbagai jenis teknologi modern menjadi sangat diperlukan. 

Teknologi untuk menggenjot produktivitas, sejatinya pun tak hanya terjadi pada sektor industri. Lebih dari itu, berbagai sektor lain termasuk pertanian yang banyak mengandalkan tenaga kerja, juga menuntut hal serupa.

Keunggulan Kompetitif
Karena alasan-alasan itulah, saat ini keunggulan kompetitif menjadi hal yang sangat penting diraih, ketimbang keunggulan komparatif. Jika hal ini diterapkan pada industri, masalahnya terletak pada bagaimana perusahaan-perusahan tersebut dapat bekerja secara lebih produktif serta efisien. 

Tuntutan akan efisiensi inilah yang kemudian membawa tuntutan atas kemampuan khusus atau spesialisasi tenaga kerja.

Masalahnya, tuntutan akan spesialisasi seperti ini, tidak bisa dipenuhi semua orang. Jadi, satu-satunya cara untuk bisa memperluas akses tersebut adalah dengan meningkatkan kemampuan atas setiap individu atau bahkan sebuah negara.

Jika ditarik lebih ke hulu, pendidikan dipandang sebagai salah satu solusi atas permasalahan tersebut. Melalui pendidikan atau pelatihan, diharapkan lahir manusia-manusia, dengan keahlian-keahlian yang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang tersedia. 

Keahlian yang dimaksud di sini, juga tak sebatas untuk memenuhi kebutuhan industri. Labih dari itu, seiring dengan perkembangan teknologi digital saat ini, keahlian dan kreativitas juga dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu yang bisa dijual dan menjadi sumber pendapatan. Hal ini, sekarang acap kali disebut dengan ekonomi kreatif.     

Sampai sini, tentu dapat dipahami, tingginya kebutuhan akan pendidikan dan pelatihan yang layak, menjadi prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Jadi, membenahi pendidikan juga merupakan sebuah investasi yang harus digarap serius. 

Jika tidak, jangan harap tercipta kemakmuran yang seluas-luasnya. Justru, bukan tidak mungkin besarnya jumlah penduduk hanya akan menimbulkan ledakan jumlah pengangguran ketimbang menjadi sumber daya positif. 

Lebih parahnya lagi, dengan produktivitas tenaga kerja yang rendah, potensi terjadinya krisis ekonomi yang lebih besar, bukan lagi sekadar ancaman. 

Jadi, jangan senang dulu dengan istilah bonus demografi yang meninabobokan. Apa yang dianggap sebagai bonus demografi harus dipahami dulu secara mendalam. Singkatnya, ngukur dirilah. 

Kita harus cermat berhitung, seberapa tinggi tingkat produktivitas yang dapat dihasilkan dari jumlah penduduk angkatan kerja yang tersedia. Jika terbukti belum bisa tinggi, kita harus mawas diri. 

Tak ada salahnya menyiapkan sekoci. Siapa tahu, mimpi mencapai kemakmuran sejati tak bisa terealisasi. 

Referensi:

Ketels, Christian. (2006). Michael Porter’s Competitiveness Framework—Recent Learnings and New Research Priorities. Journal of Industry, Competition and Trade. 6. 115-136.

Sach, J. D. (2005). The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time. New York: Penguin Books.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

PLN Perkirakan Serap 57% PMN Hingga Akhir 2022

Panglima TNI Baru Harus Fokus Kuatkan Kogabwilhan

Panduan Menjadi Wisatawan Ramah Lingkungan

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Hakim Agung Gazalba Saleh Jadi Tersangka

Brigadir J Dan Bharada E Pegang Senjata Tanpa Tes Psikologi

ArtScience Museum Suguhkan Tiga Instalasi Interaktif

59 Pasien Covid-19 Meninggal Hari Ini