Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

MENYESAP BAHAGIA DENGAN BERDERMA
03 Februari 2020|18:19 WIB

Tren Filantropi dan Potensi Kebaikan Hati

Tren Filantropi dan Potensi Kebaikan Hati

Oleh: Dr. Nugroho Pratomo

ImageSejumlah pantia pelaksanaan shalat Ied mengangkut tumpukan kotak amal usai pelaksanaan shalat Ied di Lapangan Watulemo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (27/11). FOTOANTARA/Muhamad Nasrun

Oleh Novelia, M.Si*

Manusia pada hakikatnya hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka tak mengherankan, jika secara alamiah akan selalu ada dorongan untuk saling membantu apabila salah satu terkena musibah. Berbagai tindakan filantropi menjadi sarana pelampiasan hasrat untuk berbagi kasih tersebut. Kata filantropi sendiri merupakan gabungan serapan dua kata yang berasal dari Yunani, yakni phillen dan anthropos (Abidin, 2016). Phillen berarti mencintai, dan anthropos berarti manusia sehingga filantropi sendiri kerap dimaknai sebagai ungkapan cinta kasih antarmanusia.

Bagaimanapun, kini filantropi tampaknya tak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia saja. Berbagai isu berbagi kasih yang berkenaan dengan ajakan untuk lebih menyayangi hewan dan tumbuhan membuat skala filantropi berkembang lebih luas. Bentuk kegiatan pun berbagai macam, dari mulai donasi finansial, barang, pikiran, hingga tenaga. Yang terpenting semuanya merupakan upaya untuk meningkatkan cinta terhadap sesama manusia dan makhluk hidup.

Kegiatan filantropi mungkin secara sempit dapat dimaknakan sekadar pemenuhan hasrat untuk berbuat baik terhadap sesama. Namun apabila ditilik lebih mendalam, aktivitas-aktivitas tersebut dapat dikaitkan dengan pembangunan masyarakat berbasis kekuatan potensi lokal. Dengan berbagai kegiatan swadaya masyarakat, seperti partisipasi pembangunan infrastruktur dan fasilitas, pelaksanaan berbagai UKM, hingga sekadar kepedulian sosial terhadap sesama masyarakat kini patut diperhitungkan sebagai elemen pembangunan masyarakat karena potensinya yang baik. Khusus bagi kegiatan filantropi, di Indonesia sendiri, potensi-potensi yang ada dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni kelompok kegiatan filantropi berbasis agama, berbasis perusahaan, dan berbasis sipil.

Agama dan Kebajikan
Di ranah agama, kegiatan filantropi sudah pasti menjadi rutinitas karena jadi salah satu anjuran agama. Berbuat baik menjadi sebuah metode disiplin ataupun sistem panoptisme tersendiri bagi para penganut agama. Keyakinan bahwa pelaksanaannya akan membuahkan pahala yang jika dikumpulkan akan menambah modal menuju surga, sudah jelas jadi motivasi tersendiri.

Dalam artikel jurnalnya yang berjudul “Filantropi dan Pembangunan” (2016) Imron Hadi Tamim menjelaskan bahwa meskipun berbeda-beda nama, beberapa ajaran agama sama-sama mengajarkan umatnya untuk saling melakukan kebajikan. Dalam agama Islam, misalnya, kegiatan filantropi terwujud dalam beberapa ajaran, di antaranya zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Terkait zakat, bagi para penganut Hindu, terdapat ajaran yang serupa dan dikenal dengan datria datrium dan danapatra (kurang lebih serupa dengan konsep zakat dan penerima). Sementara itu, terdapat ajaran tithe (sepersepuluh) dalam ajaran Kristen. Konsep ini menerangkan tentang bagian dari pendapatan seorang umat yang ditentukan oleh hukum untuk dibayarkan kepada gereja dengan tujuan pemeliharaan kelembagaan, dukungan kepada pendeta, promosi kegiatannya, serta membantu orang-orang miskin.

Dilanjutkan oleh Tamim, konsep kemanusiaan ‘konfusius’ dan cinta partikular ‘mencius’ dalam kepercayaan Konghucu mengandung sifat keadilan, dermawan, ikhlas, kesungguhan, dan kebaikan yang terkait erat dengan kegiatan filantropi. Dan bagi kaum Buddha, terdapat ajaran sutta nipata yang berdasarkan lima prinsip dasar: 1) memberi dalam iman, 2) memberi dengan saksama, 3) memberi dengan segera, 4) memberi dengan sepenuh hati, dan 5) memberi untuk tidak mencelakakan diri sendiri dengan orang lain (Tamim, 2016).

Bervariasinya ajaran agama tentang kebajikan membuat tak lagi mengherankan apabila potensi filantropi berbasis religi di negara kita jadi hal yang sangat patut dipertimbangkan. Apalagi kalau melihat beragamnya jenis agama maupun kepercayaan di Indonesia, dan banyaknya pula rumah ibadat yang dibangun. Ya, rumah ibadat yang tak hanya sekadar jadi tempat berdoa, tapi juga sebuah wadah penghubung dan berbagi antarumat – sebuah sarana menabung perbuatan baik.

Berdasarkan data pada publikasi Kementerian Agama RI Dalam Angka terakhir, yakni tahun 2016, jumlah rumah ibadah di Indonesia mencapai 397.191 bangunan. Total rumah ibadah ini mencakup 296.797 bangunan masjid, 57.166 bangunan gereja kristen, 13.228 gereja katolik, 25.421 bangunan pura, 4.076 bangunan wihara, dan 503 bangunan kelenteng (Kementerian Agama, 2016). Jumlah di tahun tersebut juga telah banyak berubah dari beberapa tahun, setidaknya lima tahun terakhir – periode 2012 hingga 2016 – dan cenderung meningkat.

Kebaikan Komunal dalam Kelembagaan
Selain di ranah agama, filantropi juga memiliki potensi dari berbagai aktivitas perusahaan. Hal ini sedikit banyak disebabkan juga oleh sebuah ketentuan yang mengaturnya, yakni Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Isi dari beleid ini di antaranya mengatur bagaimana perusahaan memiliki kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui kontribusi terhadap pembangunan sosial.

 Jumlah kontribusi yang perlu dikeluarkan pun disebutkan – minimal 2,5% dari profit perusahaan. Keharusan ini membawa pengaruh bagi pelaksanaan filantropi. Pada tahun 2013 setidaknya Dompet Dhuafa mencatat bahwa jumlah sumbangan yang disalurkan oleh perusahaan mencapai Rp 8,6 triliun, atau sekitar Rp 718 miliar per bulannya (PIRAC dalam Abidin, 2016).

Alasan melakukan kegiatan filantropi juga kerap berasal dari diri sendiri dan terjadi secara komunal. Hal inilah yang kemudian melahirkan banyaknya lembaga-lembaga nirlaba di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Organisasi nirlaba (nonprofit organization) sendiri dapat didefinisikan sebagai organisasi yang memiliki tujuan utama untuk mendukung suatu isu ataupun persoalan di masyarakat tanpa melakukan komersialisasi atau mencari keuntungan moneter (Handoyo, 2016). Organisasi nirlaba sendiri ada macam-macam bentuknya. Di Indonesia, ada tiga jenis, yani berupa yayasan, perkumpulan, dan organisasi kemasyarakatan.

Tidak lagi asing di telinga muda-mudi, Indorelawan menjadi satu yayasan yang jadi wadah berbasis registrasi daring bagi berbagai aktivitas filantropi dan kerelawanan. Dengan slogan “Ubah niat baik jadi aksi baik hari ini”, yayasan ini menampung ribuan relawan dan organisasi/komunitas sosial dan mempertemukannya dalam sejumlah kegiatan filantropis. Sejak didirikan tahun 2014, hingga tanggal 3 Februari 2020, Indorelawan mencatat telah ada 2.377 organisasi dan 134.968 orang relawan yang dipertemukan lewat 5.046 aktivitas kebaikan.

Selain Indorelawan ada juga situs Kitabisa yang menjadi wadah daring penggalangan dana (fundraising) bagi berbagai kepentingan yang membutuhkan bantuan. Melalui situs ini, masyarakat yang sedang memperjuangkan sesuatu dapat mendaftarkan dan mengumumkan perjuangannya, dan masyarakat lainnya dapat memberikan donasi finansial terhadap perjuangan tersebut. Misalnya saja ketika seseorang memiliki keterbatasan biaya dalam membayar penanganan medis yang tidak mendesak dan tidak mampu ia penuhi sendiri. Tidak hanya orang yang membutuhkan bantuan yang dapat mengajukan permintaan bantuan. Ketika pihak lain melihat ketidakmampuan seseorang yang membutuhkan tersebut, ia sendiri juga dapat menginisiasi pengumpulan dana untuk selanjutnya diserahkan pada yang bersangkutan.

Kehadiran jejaring semacam Indorelawan maupun Kitabisa telah memperlihatkan bagaimana teknologi juga semakin mendukung ranah filantropi. Tolong menolong dan donasi yang dahulu cuma bisa dilaksanakan seraya turun ke jalan, kini beberapa di antaranya dapat dilakukan hanya dengan memainkan jemari di layar ponsel pintar. Kegiatan baik yang awalnya hanya terpacu untuk dilakukan jika ada kesempatan kini justru malah jadi buruan di waktu senggang. Bagi beberapa individu, menjadi relawan kini sudah jadi kebiasaan bercandu. Berbuat baik melahirkan rasa nagih, filantropi kini jadi konsumsi.

Biar Ikhlas Asal Jelas
Menengok pada akhir tahun 2018 yang lalu, masyarakat disuguhi berita negatif soal Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pria tersebut sepakat untuk menutup yayasan amalnya, Trump Foundation setelah menerima tuduhan penyalahgunaan dana yang dilakukan dirinya dan keluarga. Trump dan ketiga anak tertuanya dikenai tuduhan telah menggunakan dana yayasan untuk keuntungan pribadi dan politik.

Tak hanya yayasan amal mandiri atau keluarga, lembaga filantropi berbasis agama pun masih kerap tersandung. Negara kita pernah tersandung dengan polemik dugaan korupsi dana haji hingga penipuan tur umrah. Tidak cuma muslim, masalah di balik kegiatan filantropi juga dialami oleh umat kristiani. Pada tahun 2016, publik sempat geger setelah terbongkarnya kasus penggelapan dana jemaat GKI Serpong oleh mantan Bendahara Umum Majelis Jemaat dan mantan pendeta tersebut. Tak tanggung, jumlahnya mencapai sekitar Rp 2,3 miliar.

Kerap terjadinya penyelewengan pada dana atau hasil kegiatan filantropi ini menunjukkan bahwa lahir dan berkembangnya berbagai medium berbuat baik, selain berpotensi jadi penggaet empati masyarakat, di sisi lain juga jadi celah bagi banyak jenis penyalahgunaan. Apalagi ketika lembaga pengelolanya berbasis keagamaan. Umat cenderung terlalu ikhlas dan percaya secara penuh kepada para pengurus rumah ibadah di mana mereka beramal, tanpa merasakan urgensi untuk mempertanyakan kejelasan pengelolaan pemberian tersebut. Sebagian besar penganut agama masih meyakini bahwa rumah ibadah atau lembaga keagamaan merupakan wadah yang suci dan sakral, sehingga pengelolaannya pasti dilakukan secara bersih.

Padahal sikap kritis semestinya terus dipupuk tanpa pandang sisi. Dijelaskan oleh Mardiasmo (Mardiasmo, 2009), akuntabilitas dan transparansi merupakan kewajiban serta tanggung jawab para pemegang amanah untuk mengelola, melaporkan, menyajikan, serta melakukan penyampaian informasi terkait segala kegiatan yang dilaksanakan kepada pemberi amanah – dalam kasus ini pihak yang memberikan sedekah/donasi. Hal ini patut dilakukan karena memang pihak pemberi amanah memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.

Bagaimanapun, di balik kerisauan yang menghantui berbagai kegiatan filantropi, masih tetap ada berbagai dampak baik yang dihasilkan. Berkembangnya berbagai kegiatan kebaikan di berbagai platform oleh pelbagai lembaga membuat masyarakat terpacu untuk selalu berempati dan berbagi secara nyata. Kemudahan semakin ditawarkan teknologi untuk berbuat baik, masyarakat pun merasa sayang jika kepraktisan tersebut sia-sia. Berderma kemudian jadi kebiasaan, yang apabila tidak dilakukan akan mengubah aktivitas menjadi canggung. Karakter positif mulai terbangun pada setiap individu, barangkali jadi bagian dari revolusi mental.

*) Peneliti Visi Teliti Saksama

 

Referensi:

Abidin, Z. (2016). Paradoks dan Sinjutas (Sinergi, Keberlanjutan, Ketuntasan) Gerakan Filantropi di Indonesia. Social Work Journal, 183-196.

Handoyo, P. (2016, Desember 5). Organisasi Nirlaba di Indonesia. Retrieved from Rumah Cemara: https://rumahcemara.or.id/organisasi-nirlaba-di-indonesia/

Kementerian Agama. (2016). Kementerian Agama Dalam Angka 2016. Jakarta: Kementerian Agama.

Mardiasmo. (2009). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Tamim, I. H. (2016). Filantropi dan Pembangunan. Community Development Volume1, Nomor 1, 121-136.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER