Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

MEMBIDIK CUAN DARI TREN BERULANG
07 Januari 2020|18:53 WIB

Terjebak Di Ruang Nostalgia

Nostalgia adalah emosi yang muncul dari sadar diri (conscious), seringkali terasa pahit tetapi sebagian besar positif

Oleh: Dr. Nugroho Pratomo

ImageBeberapa koleksi Piringan hitam pedagang musik analog di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Validnews/dok

Oleh: Nugroho Pratomo

Dalam setiap hidupnya, manusia tentu akan memiliki kenangan. Terlebih ketika manusia tersebut sudah menjadi semakin dewasa dan tua, kenangan masa lalu khususnya masa kecil, tentu menjadi hal tak dapat dilupakan begitu saja. Memang tidak semua kenangan tersebut merupakan kenangan yang indah. Tidak sedikit manusia yang justru memiliki kenangan pahit pada masa kanak-kanaknya.

Namun pada saat yang bersamaan, kenangan manis pada masa kecil atau masa-masa sebelumnya juga banyak yang patut untuk diingat. Salah satu bentuk untuk mengingat masa-masa tersebut adalah dengan melihat atau bahkan memiliki berbagai jenis barang  yang mampu memunculkan kembali kenangan-kenangan tersebut.

Nostalgia
Nostalgia adalah emosi yang muncul dari sadar diri (conscious), seringkali terasa pahit tetapi sebagian besar positif dan merupakan emosi sosial yang mendasar bagi setiap manusia. Nostalgia muncul dari ingatan yang indah bercampur dengan kerinduan akan masa kecil seseorang, hubungan dekat, atau peristiwa-peristiwa positif yang seringkali tidak lazim (Sedikides, et al., 2015) sehingga hal tersebut mampu menembus batas-batas ruang dan waktu.

Nostalgia mempertahankan homeostasis (keadaan dalam tubuh suatu makhluk hidup yang mempertahankan konsentrasi zat dalam tubuh agar tetap dalam kondisi konstan), baik dari sisi  psikologis (berfokus pada keseimbangan emosional dan mental) dan fisiologis(kondisi homeostasis yang diatur oleh sistem endokrin dan sistem saraf otonom

Lebih lanjut menurut (Sedikides, et al., 2015), nostalgia ini dipicu oleh berbagai rangsangan eksternal atau keadaan internal, yang lazim dan secara universal dialami setiap manusia lintas usia. Nostalgia secara psikologis juga memiliki fungsi membangun orientasi diri manusia (dengan cara meningkatkan positivitas diri dan memfasilitasi persepsi masa depan yang positif), fungsi eksistensial (dengan meningkatkan persepsi kehidupan sebagai bermakna), dan fungsi sosialitas (dengan meningkatkan hubungan sosial, memperkuat kecenderungan tindakan yang berorientasi sosial, dan mempromosikan perilaku prososial).

Berangkat dari definisi nostalgia tersebut, maka tidak mengherankan apabila banyak orang di muka bumi ini yang kemudian berupaya untuk bernostalgia. Melalui berbagai barang dan/ atau situasi yang dihadapinya saat ini, manusia memunculkan kembali sifat emosional dalam dirinya. Lebih dari itu, sifat emosional ini juga dikelola sehingga menjadi salah satu bahan pelajaran bagi publik secara luas dalam proses pembangunan sosial di tengah masyarakat. 

Tren
Mencermati berbagai hal terkait nostalgia, berbagai produk atau benda dapat kembali menggiring ingatan manusia pada suatu masa yang indah. Seiring dengan perjalanan waktu, berbagai benda tersebut kemudian kembali diminati oleh sebagian orang, khususnya yang memiliki kenangan emosional atas benda tersebut. Jadi benda-beda tersebut kembali menjadi tren atau gaya hidup sekelompok orang di masa sekarang. Di antaranya adalah pemutar piringan hitam dan kaset.

Mendengarkan musik, adalah salah satu cara untuk dapat kembali menarik ingatan seseorang pada suatu masa. Jika di era digital saat ini, berbagai jenis gawai telah mampu memutar musik, namun kenangan atas penggunaan piringan hitam atau yang kini juga dikenal dengan sebutan vinyl dan kaset untuk mendengarkan musik dan lagu merupakan kegiatan yang menarik bagi sebagian orang. Karenanya, tidak sedikit orang yang kemudian menjadikan keduanya sebagai benda koleksi. 

Bagi sebagian orang, mendengarkan musik melalui piringan hitam atau kaset, memiliki kenikmatan tersendiri. Keterbatasan teknologi ketika masa piringan hitam dan pita kaset, seringkali “memaksa” para penyanyi untuk benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam bernyanyi. Hal inilah yang seringkali menjadi pertimbangan para penikmat musik melalui piringan hitam atau pita kaset.

Namun pada saat yang bersamaan, ada sebagian pula orang yang menikmati lagu dari piringan hitam sebagai kenangan masa lalu. Ketika para orang tua di Indonesia di era 1940an-1970an (khususnya dari keluarga yang berkecukupan) memutar piringan hitam, maka sang anak ketika itu juga turut mendengarkan. Kenikmatan inilah yang kemudian menjadikan kenangan indah bagi sebagian orang untuk kembali menikmati lagu melalui piringan hitam. 

Selain musik, tren lain yang kini muncul adalah pakaian. Pakaian sendiri pada dasarnya mengalami perubahan tren hampir tiap tahunnya. Namun, ada saatnya tren pakaian (fashion) tersebut kembali diminati oleh sebagian kalangan masyarakat. 

Sebagai bagian dari pengaruh globalisasi, keberadaan fashion dapat didefinisikan sebagai gaya yang diterima dan digunakan oleh mayoritas anggota suatu kelompok dalam satu waktu tertentu (Dimas & Raharja). Berangkat dari definisi tersebut, maka adalah sesuatu yang tidak mengherankan apabila tren fashion mengalami perulangan.

Tren pakaian tertentu tersebut harus diakui juga telah menjadi bagian dari gaya hidup, maka berpakaian tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan sandang sebagai kebutuhan dasar manusia. Karenanya, fashion juga seringkali terkait dengan eksistensi komunal. Bahkan menjadi sebuah identitas atau ciri khas kelompok tertentu. Lebih dari itu, berbagai variabel lain seperti seni dan selera, menjadi hal yang dipertimbangkan.

Hal lain yang juga menjadi tren adalah sektor properti. Dalam industri properti terkhusus terkait dengan arsitektur dan desain interior, aspek artistik dan estetika juga menjadi pertimbangan. Hal ini pula yang menjadikan sektor properti memiliki tren. Seperti juga pakaian, tren pengulangan dalam sektor properti, tentu juga memiliki penyesuaian-penyesuaian tertentu. Terutama jika terkait dengan penggunaan teknologi.

Jenis arsitektur pada akhirnya juga harus menyesuaikan. Meski dasar bentuknya sama. Arsitektur gaya art deco yang berkembang pada tahun-tahun 1940-an di beberapa kota di Indonesia, menjadi salah satu jenis yang menarik. Namun berbagai permasalahan seperti keterbatasan lahan dan material bahan bangunan yang semakin langka, memerlukan penyesuaian tersendiri. Melalui perkembangan teknologi di bidang material bangunan, hal tersebut tentunya bukan lagi menjadi persoalan.  

Selain bidang arsitektur bangunan, salah satu contoh yang kini kembali menjadi tren adalah desain interior yang menggunakan bentuk bohlam lampu seperti lampu pijar. Meski saat ini telah berkembang teknologi kelistrikan yang mengembangkan bohlam lampu dengan daya listrik rendah, namun dari sisi artistik, berbagai bentuk bohlam dan lampu tersebut menunjukkan bentuk-bentuk yang antik.

Begitu pula dengan berbagai benda lainnya yang memiliki bentuk klasik namun dengan teknologi saat ini (digital). Misalnya saja adalah kamera instax. Meski dari sisi tampilan tampak klasik, namun teknologi yang digunakan di dalamnya adalah teknologi digital. Dengan demikian, para penggunanya juga tetap dapat menikmati tampilan dan rasa klasik, namun tetap dapat berfungsi sebagaimana kamera digital lainnya.   

Pasar yang menjanjikan
Keberadaan berbagai hal yang disampaikan tersebut pada akhirnya menciptakan peluang pasar tersendiri. Karenanya pula, berbagai industri tumbuh dan berkembang untuk memenuhi permintaan tersebut. 

Industri semacam ini memang memiliki pasar yang cukup terbatas (niche market). Namun bukan berarti tidak memiliki tingkat komersial yang menjanjikan. Sebaliknya, dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut, seringkali tingkat harga menjadi tidak dapat dengan mudah terukur. Karena dengan sifat konsumennya yang lebih mengedepankan selera, kelangkaan dan hal-hal subjektif lainnya, harga seringkali dapat melambung.

Berbagai produk reproduksi dengan mencontoh produk-produk aslinya, bahkan seringkali juga menjadi peluang tersendiri bagi para produsen nakal. Mereka juga membuat berbagai produk yang serupa dan memasarkannya dengan mengaku sebagai produk langka. Hal ini juga semakin “dipermudah” dengan semakin berkembangnya perdagangan elektronik (e-commerce). Para pemalsu ini seringkali memanfaatkan mekanisme tersebut karena para penjual dan pembeli tidak berinteraksi langsung (tatap muka). Jadi para pembeli yang kurang teliti dapat dengan mudah membeli produk-produk palsu tersebut. 

Komunitas  
Keberadaan berbagai barang-barang atau produk yang langka dan antik tersebut pada akhirnya menciptakan komunitas-komunitas penggemarnya. Para anggota komunitas tersebut pada awalnya memang beranjak dari kesamaan ketertarikan pada barang-barang yang dinilai klasik. Melalui keberadaan berbagai komunitas inilah para anggotanya dapat bertukar pengalaman dan koleksi yang dimilikinya. 

Para komunitas ini juga sering melakukan pertemuan rutin atau yang seringkali disebut dengan swap meet. Dalam acara ini mereka juga dapat saling jual beli dengan sesama anggota lainnya. Melalui berbagai komunitas ini pula, para anggotanya dapat menghindari barang-barang palsu.  

Selain memiliki ketertarikan pada sesuatu jenis barang tertentu, ada pula komunitas yang muncul karena didasarkan pada masa-masa tertentu. Kenangan pada era-era 1980-an atau 1990-an misalnya, membuat sejumlah orang membangun komunitas tertentu. Meski komunitas tersebut juga seringkali bersifat virtual, namun pada intinya mereka memiliki emosional yang sama atas sebuah era.  

Peran pemerintah  
Meski telah muncul berbagai komunitas masyarakat penggemar atas barang atau produk tersebut, namun pada satu titik, peran serta pemerintah juga seringkali masih dibutuhkan. Hal ini terutama menyangkut berbagai barang yang tergolong merupakan barang cagar budaya dan memiliki nilai sejarah khusus. Termasuk yang kini berada di museum atau di berbagai situs lainnya. 

Keberadaan dan peran pemerintah pada dasarnya memang bukan sesuatu yang mutlak. Tidak semua hal terkait barang-barang langka atau kuno harus menjadi tanggung jawab pemerintah langsung. Telah banyak kini museum yang dikelola oleh pihak swasta atau bahkan individu.

Begitu pula dengan pemeliharaan sejumlah warisan budaya nasional lain. Misalnya keberadaan batik. Peran dan keterlibatan pemerintah untuk menetapkan batik sebagai warisan budaya nasional, pada akhirnya tidak hanya terhenti pada aspek tersebut. Dibutuhkan peran serta aktif dari masyarakat secara lebih luas hingga pada akhirnya batik menjadi semakin populer saat ini. 

Batas ruang dan waktu
Kembali pada pemahaman mengenai nostalgia sebelumnya, sebagai manusia yang memiliki emosional, kenangan adalah hal yang tak terelakkan. Melalui berbagai bentuk benda kenangannya, manusia mampu menembus batas ruang dan waktu. Melalui itu pula setiap manusia akan mampu mengelola kehidupan yang dilaluinya. Termasuk pula sebagai bahan pelajaran untuk menghadapi tantangan di masa depan. 

Berbagai barang loak memang seringkali dilihat sebagai benda rongsokan yang tak memiliki arti. Namun kemampuan manusia untuk memaknai kembali sesuatu benda atau masa akan mengembalikan akal sehat dan menjadikan manusia tersebut memiliki makna bagi kehidupan manusia lainnya.    

Referensi

Sedikides, C., Wildschut, T., Routledge, C., Arndt, J., Hepper, E. G., & Zhou, X. (2015). To Nostalgize: Mixing Memory with Affect and Desire. Advances in Experimental Social Psychology, 51.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA