Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

FOKUS

18 Maret 2021|17:37 WIB

Tak Bisa Maju Dari Masa Lalu

Apabila terpaksa menghadapi perpisahan, apakah kita sudah mempersiapkan diri?
ImageIlustrasi depresi. Ist

Oleh Gisantia Bestari*

Nama Kaesang Pangarep, anak bungsu Presiden Joko Widodo, sontak menjadi sorotan perbincangan warganet pada awal Maret 2021. Bukan soal bisnisnya, bukan juga soal pendidikannya. Kisah percintaannya dengan Felicia Tissue menjadi buah bibir.

Setelah menjalin hubungan selama 5 tahun, asmara keduanya dikabarkan kandas. Adalah postingan Ibu Felicia yang mencuatkannya. Publik pun dibuat heboh lantaran Kaesang disebut meninggalkan Felicia tanpa kabar dan telah memiliki kekasih baru.

Dari pro-kontra yang terjadi, warganet terbagi ke dalam dua kubu, yakni kubu yang membela Kaesang dan kubu yang membela Felicia.

Banyak warganet beropini, wajar bila seseorang sulit bangkit dari keterpurukan akibat berakhirnya hubungan yang telah terjalin relatif lama. Wajar pula, jika kemudian orang tua menjadi pihak yang merasa perlu turun tangan dalam menangani hal ini.

Gagal pindah ke lain hati, atau yang akrab disebut “gagal move on” oleh anak zaman sekarang, merupakan keadaan yang membuat seseorang tak mampu berpaling dari hubungan percintaan yang sempat terjalin. Termasuk, tidak dapat melupakan pasangannya di masa lalu.

Lamanya durasi hubungan yang telah terjalin, banyaknya kenangan indah yang telah dibagi, masih adanya rasa cinta dan mimpi-mimpi ingin diraih, hingga hadirnya kembali sang mantan kekasih, menjadi beberapa sebab seseorang gagal berpindah ke lain hati.

Perspektif Negatif Melihat Masa Lalu
Kepada penulis, Putri (bukan nama sebenarnya) yang saat ini berusia 28 tahun, menceritakan tentang dua akun media sosial Instagram miliknya.

Akun pertama adalah akun asli tempat ia tampil menjadi dirinya sendiri. Sementara itu, akun kedua adalah akun palsu tanpa foto, yang ia jadikan alat “mata-mata” untuk menengok akun mantan kekasihnya.

Putri menjelaskan, sikapnya tersebut merupakan tahapan untuk perlahan-lahan “move on” dari sang mantan. Dengan memiliki akun palsu, Putri merasa lebih siap secara mental untuk menelusuri foto-foto mantan kekasihnya sebelum ia bisa berhenti total ke depannya.

Begitulah harapannya.

Baca Juga: Yang Harus Kamu Lakukan Kalau Jadi Korban Ghosting 

Sebelum membahas lebih jauh, perlu kita singgung mengenai perspektif waktu. Dalam hal ini, perspektif waktu meliputi lima dimensi, yakni masa lalu positif; masa lalu negatif; hedonistik masa kini; fatalistik masa kini; dan masa depan. Nah, ketidakmampuan seseorang untuk pindah ke lain hati dapat dikaitkan dengan orientasi perspektif waktu negatif (Wahyu Rahardjo, dkk, 2015).

Perspektif waktu masa lalu negatif diartikan sebagai cara pandang yang negatif serta tidak menyenangi masa lampau. Skor dimensi masa lalu negatif secara signifikan berkorelasi dengan rasa rendah diri, kecemasan, ketidakbahagiaan, dan depresi (Evanytha, 2012). Oleh sebab itu, perspektif waktu masa lalu negatif menjadi dimensi yang dinilai paling tepat dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk “move on”.

Ketika seseorang mengalami kegagalan dalam percintaan, ia cenderung mengenang kejadian buruk dan tidak menyenangkan pada hubungan di masa lalu. Tak terkecuali kenangan indah yang pada akhirnya menjelma menjadi kenangan menyakitkan.

Hal ini juga dijelaskan dalam penelitian Wahyu Raharjo, dkk (2015) yang menyatakan bahwa orientasi perspektif waktu masa lalu negatif berpengaruh terhadap kegagalan seseorang untuk pindah ke lain hati. Dua hal yang menjadi penyebab terbesar kegagalan tersebut adalah durasi hubungan dan kondisi individu yang belum bisa memaafkan orang yang pernah dicintai.

Saat hubungan terjalin, tentu akan ada peristiwa dan memori yang terbentuk dengan khas, entah indah atau tidak, yang kerap diingat oleh pelaku hubungan. Jika peristiwa yang terjadi buruk, memori tersebut cenderung lebih susah untuk dihapus dari ingatan.

Bahkan, sering kali ketika perpisahan tiba, memori buruk tak bisa hilang karena belum ada kesanggupan memaafkan mantan kekasih.

Ilustrasi putus cinta. Pixaby/dok

Bayangan akan Masa Depan
Cinta memunculkan harapan akan masa depan indah berdua dengan pasangan. Harapan tersebut disematkan pada masa sekarang, masa ketika sebuah hubungan tengah diupayakan untuk langgeng.

Bayangan tentang masa depan kemudian membuat banyak orang kerap memiliki cita-cita untuk hubungan percintaannya. Komitmen untuk setia dan mempertahankan hubungan bersama pun menjadi modal penguat cita-cita tersebut.

Akhirnya, kita pun memperoleh gambaran bahwa saat hubungan harus kandas, kandas pula cita-cita dan mimpi yang tengah dibangun bersama. Asa dan cita ini yang membuat seseorang tak bisa meninggalkan apa yang dulu ia usahakan (Forster dkk, 2010, dalam Wahyu Rahardjo, dkk, 2015).

Salah satu yang berperan dalam hubungan romantis adalah hasrat. Hasrat dimaknai sebagai kebututuhan yang dimimpikan mampu terpenuhi sehingga individu terpuaskan. Hasrat menciptakan pemahaman bahwa hubungan cinta adalah sesuatu yang romantis dan indah.

Hasrat memengaruhi dalamnya hubungan percintaan, sekaligus kondisi pasangan yang berpisah. Dalam hal ini, semakin besar hasrat yang dimiliki seseorang, semakin besar pula rasa cinta yang tertanam. Akibatnya, momen berakhirnya hubungan menjadi semakin menyakitkan untuk dikenang.

Pada dasarnya, memiliki keberanian untuk menjalin sebuah hubungan romantis sudah seharusnya diiringi pula dengan kesiapan menghadapi risiko apabila ternyata hubungan tidak berjalan sesuai harapan. Sebab, risiko perpisahan akan selalu ada dalam setiap hubungan, tanpa memandang siapa yang menjalin.

Jika hubungan romantis berjalan langgeng dan menyejukkan hati sampai selamanya, tentu setiap manusia akan siap menyambut dan menerimanya. Namun demikian, apabila terpaksa menghadapi perpisahan, apakah kita sudah mempersiapkan diri?

*) Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

Referensi:
Evanytha. 2012. PENGARUH PERSPEKTIF WAKTU (TIME PERSPECTIVE) TERHADAP KUALITAS RELASI SOSIAL 2012. Universitas Pancasila.

Maya Sari, E. Nadia & MF. Shellyana Junaedi. 2014. PERAN ANTICIPATED EMOTION, HASRAT, DAN NIAT BERKUNJUNG PADA FREKUENSI KUNJUNGAN PUSAT PERBELANJAAN. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Rahardjo, Wahyu, Desba Nurshafitri, Fani Atlanti, Indrajid Karim, Mita Afiatin, Nenda Desima. 2015. “TAK BISA PINDAH KE LAIN HATI:

PERAN ORIENTASI PERSPEKTIF WAKTU MASA LALU NEGATIF PADA INDIVIDU YANG PERNAH TERLIBAT HUBUNGAN ROMANTIS”. Prosiding PESAT Universitas Gunadarma 20-21 Oktober 2015.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER