Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

FOKUS

04 Maret 2021|09:00 WIB

Pinjol: Ironi Literasi Dan Relasi

Kerja otak yang kompleks menjadi celah masuknya informasi yang bisa disalahartikan.
ImageIlustrasi utang. Shutterstock/dok

Oleh Novelia*

“Belom kapok juga lo?” tanya seorang pelayan suatu restoran pada rekan sesama pekerjanya.

“Iya, ini kapok, makanya mau minjem sama lo dulu, Mas. Dari pada gue gali lobang tutup lobang lagi. Bulan depan gue bayar pasti. Please! jawab yang ditanya seraya memohon.

Wahid (21), si pemohon utang, belakangan terjerat beberapa platform pinjaman online atau yang biasa disingkat pinjol. Awalnya, ia mengaku coba-coba karena terdesak kebutuhan. Apalagi, prosesnya sangat praktis.

Cukup mengunduh aplikasinya, memasukkan data diri yang dibutuhkan, lalu mengunggah beberapa file pendukung, seperti foto kartu identitas dan foto diri. Voila! Tak sampai beberapa jam, rekening sudah terisi dengan sejumlah uang yang ingin dipinjam.

Tanpa terasa, hari terus berganti dan bunga pinjaman terus bertambah. Wahid berpacu dengan waktu. Uang yang dikumpulkan bahkan belum mencapai jumlah pinjaman awal yang harus dibayar. Bunga, di saat bersamaan, bertambah tiap harinya.

Mimpi buruk jadi nyata, sudah jatuh tertimpa tangga. Jeratan utang tak jadi pelajaran, Wahid yang bingung malah mencari platform pinjol lainnya buat melunasi utang di pinjol sebelumnya.

Terjerat Zona Nyaman Tanpa Pertanyaan
Sudah pasti Wahid bukan satu-satunya yang punya pengalaman buruk memakai pinjol. Banyak individu berprofil sama tersandung permasalahan serupa. Mereka biasanya adalah kalangan muda, memiliki banyak kebutuhan dadakan, serta berpenghasilan belum tetap.

Mungkin, beberapa dari kita akan bertanya-tanya, “Memangnya tidak dipikirkan dulu risikonya sebelum meminjam? Apa tak tahu kalau bunganya dihitung per hari? Mengapa begitu ceroboh padahal sudah tahu penghasilannya belum memadai?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terasa sulit dijawab. Soal risiko, pasti mereka tahu. Namun, sampai sejauh mana risiko itu berpengaruh terhadap orang terdekat dan keluarga mereka, biasanya tak diperhitungkan.

Syarat dan ketentuan sudah pasti tertera pada saat mereka akan melakukan pendaftaran aplikasi. Sederet poin terpampang, biasanya diakhiri dengan tuntutan untuk mencentang atau mengklik pilihan setuju pada berbagai persyaratan.

Namun demikian, berapa banyak sih pengguna yang akan membaca lengkap aturan tersebut sebelum mengiyakan? Seberapa besar generasi kekinian yang mawas diri dengan segala literasi?

Kebiasaan acuh tak acuh pada peraturan, serta langsung memilih untuk menyetujui, banyak membawa petaka bagi pengguna aplikasi mobile. Ironinya, tabiat ignorant terhadap literasi ini memang didukung oleh konstruksi sosial yang tak sengaja tersuguh oleh institusi dalam masyarakat kita.

Setidaknya, ini yang disampaikan oleh Inaya Rakhmani, yang saat itu menjabat Ketua Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia, dalam “Seminar Media Sosial: Ketika Algoritma dan Manusia Mencari Kebenaran” pada 14 Januari 2017 silam di Auditorium Institute Francais di Indonesie (IFI).

Inaya merangkum bagaimana dunia sudah banyak mengalami perkembangan. Salah satunya terlihat dari model tayangan televisi yang memiliki perbedaan antarzaman. Anak-anak yang tumbuh pada era 90-an akan terbiasa dengan tayangan hiburan, seperti cartoon network. Mereka yang tumbuh sekitar tahun 1985 memiliki pengalaman menonton RCTI swasta, sedangkan mereka yang tumbuh di tahun 1980 sempat melihat tayangan TVRI.

Sementara itu, pada periode agak jauh ke belakang, mereka yang tumbuh pada tahun 1975 tidak akan asing dengan program Manasuka Siaran Niaga. Kala itu, TVRI merasa bahwa dunia semakin terglobalisasi dan banyak barang impor yang mulai masuk ke Indonesia. Akhirnya, diputuskan iklan barang-barang impor tersebut diisolasi dan hanya bisa tayang pada jam 8 malam.

Kala itu, sebelum menonton iklan, para penonton akan diberikan imbauan untuk bersikap teliti sebelum membeli. Mereka diedukasi untuk terbiasa dengan literasi, mempelajari terlebih dahulu suatu produk. Bahkan, mereka disuguhi paparan risiko penggunaannya sebelum dikonsumsi. Penonton diajari untuk tidak menjadi kelas menengah “ngehek” yang selalu konsumtif dan mengonsumsi apapun yang mampu mereka beli.

Sayangnya, edukasi ini tidak berlanjut di era-era selanjutnya. Di lain sisi, tak ada satu pun institusi yang secara khusus mendidik kita untuk meneliti atau memverifikasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi, membeli, atau mempercayai sesuatu.

Semua dibuka bebas untuk kepentingan pasar. Masyarakat dilepas untuk menentukan sendiri pilihannya. Bagai pergi berobat, namun tidak ada dokter maupun apoteker yang memberikan informasi mengenai resep obat yang harus ditebus. Mungkin informasi mengenai waktu konsumsi tertera pada obat, tetapi tak ada sosok yang mengingatkan kita kapan penggunaan obat harus dihentikan jika tidak ingin berujung overdosis.

Jika dikaitkan dengan banyaknya muda-mudi yang terjerat pinjol tanpa tahu betul risikonya, tentu jadi tidak mengherankan. Apalagi, untuk generasi muda yang tumbuh di era digital dan terbiasa dengan segala kepraktisan yang ditawarkan gawai di tangan mereka.

Syarat dan ketentuan yang selalu tertera setiap akan mengunduh sesuatu, termasuk aplikasi pinjol, seakan hanya prosedur formalitas belaka. Bahkan, dianggap sepele oleh kebanyakan calon pengguna.

Risiko masalah? Ah, itu mah urusan belakangan!

Ilustrasi literasi. (Pixabay) (Antaranews)

Spontanitas Kerja Otak
Jangan buru-buru menyalahkan tidak adanya institusi yang membiasakan kita untuk akrab dengan literasi setelah membaca penjelasan sebelumnya. Karena nyatanya, bukan cuma faktor eksternal seperti itu yang membuat kita tak terlalu fasih dalam bersikap kritis, namun juga faktor internal dan biologis dalam diri kita.

Roby Muhamad, anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia yang menjadi pembicara dalam seminar yang sama (2017), menerangkan tentang keunikan kinerja otak. Dijelaskannya, secara sederhana otak terdiri dari tiga bagian.

Bagian paling belakang yang paling bersifat primitif, berfungsi mengatur detak jantung dan pernapasan serta emosi dasar. Bagian tengah mengatur emosi rasa suka atau tidak suka. Terakhir, bagian depan adalah yang paling rasional mengatur rencana tindakan.

Hal yang membuat menarik adalah bagaimana bagian belakang otak bersifat tidak sadar dan menjadi pintu masuk informasi. Roby menyebutkan sebuah eksperimen yang memperlihatkan alur informasi ketika masuk ke otak hingga seseorang dapat berpikir secara rasional.

Proses awal, informasi yang bersifat virtual maupun cerita, pertama kali masuk lewat bagian belakang sebagai hal yang tak disadari. Ketika masuk ke dalam otak, informasi ini mendesak untuk segera dimengerti.

Akhirnya, otak serta-merta membuat cerita yang memungkinkan berdasarkan pengalaman terdahulu. Narasi pun terbentuk meski belum tentu sesuai dengan informasi yang sebenarnya dimaksud.

Di bagian belakang otak ini, informasi akan dipilah. Informasi yang dinilai berhubungan dengan pengalaman sebelumnya dan masuk akal, boleh menuju gerbang selanjutnya ke bagian tengah otak. Jika tidak, informasi akan langsung dilupakan.

Selanjutnya, informasi-informasi terpilih yang beresonansi dengan pikiran dan pengalaman akan lanjut disalurkan ke bagian tengah otak. Di sini ia akan dipisahkan menjadi informasi yang disukai (like) dan tidak (dislike). Setelah like-dislike, barulah ia melanjutkan perjalanan ke bagian depan otak yang lebih rasional dan diolah menjadi tindakan tertentu.

Lalu, apa hubungannya dengan minimnya budaya literasi kita?

Alur masuk informasi tersebut memperlihatkan pada kita betapa tidak adanya bagian otak yang didedikasikan untuk menganalisis dan bertindak kritis. Rasionalitas tidak menjadi alat pencari kebenaran, namun justru sebatas hasil perjalanan informasi yang telah dibentuk untuk membenarkan value masing-masing individu.

Tugas utama otak adalah melindungi dirinya sendiri. Terlepas dari baik dan buruknya, hanya hal yang tidak mengancam identitas dan kepercayaan yang disepakati pikiran kita. Maka, tak heran jika terjadi banyak kesalahpahaman informasi, bahkan pada individu yang dinilai memiliki nalar yang baik dengan berbagai gelar akademis.

Kemampuan baca tulis, baru secara masif menyentuh manusia selama sekitar 200-300 tahun. Jauh masih muda dibandingkan usia keberadaan manusia yang sudah lebih dari 50.000 tahun (Muhamad, 2017). Sebelum itu, umat manusia terbiasa dengan kemampuan visual. Inilah mengapa hingga kini masih banyak individu yang menilai visual sebagai elemen yang jauh lebih menarik dibanding literasi.

Sembunyi di Balik Gengsi
Membiasakan diri untuk menjadikan informasi sebagai pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Meski menjadi hal yang sulit tergapai, bukan berarti budaya literasi tak perlu diusahakan. Ia tetap penting untuk diperbaiki. Hanya saja, butuh waktu lama untuk merekonstruksi menjadi lebih baik.

Sementara itu, harus ada alur “mitigasi” lebih cepat pada kasus-kasus tertentu. Misalnya, untuk mencegah dan menanggulangi kasus pinjol yang banyak menjerat anak muda.

Seperti dibahas sebelumnya, otak kita terbiasa menuntun kita pada aksi yang tidak merugikan. Dalam kondisi normal saja rasionalitas hanya digunakan untuk memvalidasi nilai diri sendiri. Apalagi, jika situasi mengharuskan si individu untuk secepatnya mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan. Logika tentu akan dilewati begitu saja.

Kalau sudah begitu, kualitas literasi tak bisa jadi satu-satunya tameng. Ia harus diiringi aksi lain yang berperan sebagai pertolongan pertama, yakni pendekatan emosional.

Pendekatan emosional dengan orang terdekat akan menjadi salah satu pilihan. Misalnya, dengan mendorong keintiman antaranggota keluarga dengan harapan tidak ada kesungkanan untuk saling menolong dan meminta pertolongan jika memang membutuhkan.

Ilustrasi keluarga. Shutterstock/dok

Penulis buku Mayday! Asking for Help in Times of Need, M. Nora Bouchard, menjelaskan bahwa manusia cenderung bersikeras melakukan segala hal secara mandiri. Meminta pertolongan terasa tidak nyaman karena membuat mereka merasa menyerahkan kontrol diri pada orang lain. Dengan kata lain, seseorang cenderung menghindari rasa malu karena enggan dinilai tidak kompeten mengurus diri sendiri.

Perasaan alamiah ini juga ditambahkan beban hegemoni yang ada dalam masyarakat. Ketika mencapai usia tertentu, ada pandangan tahapan pencapaian individu. Misalnya, menikah, punya penghasilan sendiri, atau memiliki anak. Nah, beberapa individu yang terjerat utang pinjol memang berada pada usia yang dinilai sudah harus memiliki penghasilan dan mampu mengurus dirinya sendiri.

Akibatnya, alih-alih meminta pertolongan pada keluarga atau orang terdekat, mereka beralih ke aplikasi-aplikasi yang mengklaim jaminan kerahasiaan. Dengan begitu, mereka merasa aman. Tidak ada yang akan membicarakan mereka dengan tendensi negatif.

Fenomena yang banyak dialami muda-mudi ini sebenarnya sangat disayangkan. Meski pandangan masyarakat tentang sesuatu tampak begitu ideal, tentunya ada berbagai situasi yang bisa menjadi pengecualian. Begitu juga ketika seseorang yang seharusnya sudah berpenghasilan ternyata masih membutuhkan bantuan finansial, adalah wajar. Apa salahnya meminta pertolongan pada orang yang tepat?

Menerima pertolongan sejatinya dapat membantu kita melatih toleransi terhadap diri sendiri, bahwa sebagai makhluk sosial kita juga membutuhkan orang lain. Tolong-menolong menjadi suatu kesatuan antara meminta dan menerima karena keduanya sama-sama penting.

Itulah mengapa psikolog Carl Pickhardt (dalam Sihombing dkk, 2019) menyarankan untuk mengedukasi anak mengenai hal tersebut, terutama pada masa remaja. Hal itu karena ketika itulah egoisme anak memuncak. Untuk itu, dibutuhkan sikap peduli terhadap orang lain untuk mengimbanginya.

Pada akhirnya, kasus-kasus jeratan utang pinjol tak lagi sekadar perbuatan sembrono yang tak melibatkan pertimbangan logika yang matang. Akan tetapi, juga memperlihatkan minimnya ikatan antarindividu, terutama dalam keluarga.

Berbagai hal perlu direkonstruksi, dari budaya literasi, hubungan emosional, hingga edukasi tentang tolong-menolong. Setiap bagian masyarakat perlu ambil peran. Pertanyaannya, maukah kita berpartisipasi?

*) Peneliti Visi Teliti Saksama

 

Referensi:

Akademi Berbagi. (2017, Januari 14). Seminar Media Sosial: Ketika Algoritma dan Manusia Mencari Kebenaran. Auditorium Institute Francais di Indonesie.

Klaver, M. N. (2007). Mayday! Asking for Help in Times of Need. USA: Berrett-Koehler.

Sihombing, N. M., Suryanto, N. E., Mahameru, M., Setiawan, M. R., & Marsella, E. (2019). Dampak Penggunaan Pinjaman Online Terhadap Gaya Hidup Konsumtif Mahasiswa Yogyakarta. SINTAK (pp. 500-507). Yogyakarta: UNISBANK.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER