Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

FOKUS

23 April 2021|17:00 WIB

Karut Marut Cita Super League

Diidamkan klub besar, dikutuk klub kecil, liga yang masih dalam rencana harus tenggelam sebelum berlayar.
ImageWarga berdiri di depan spanduk anti Liga Super di luar Anfield saat klub sepak bola terkenal Eropa memisahkan diri dari Liga Super di Liverpool, Britain, Selasa (20/4/2021). ANTARAFOTO/REUTERS/Phil Noble

Oleh Novelia*

Hari itu, pagi tanggal 21 April 2021 di Indonesia. Selain memperingati Hari Kartini, ada berita besar lain pada skala internasional, terutama para penggemar sepak bola.

Pasalnya, Liga Super Eropa yang baru resmi diumumkan beberapa hari sebelumnya dan digadang akan menjadi pesaing Liga Champions, mengeluarkan pengumuman penangguhan kompetisi yang sudah direncanakan.

Sebenarnya, berita ini tak terlalu menghebohkan. Sejak diumumkan oleh situs resmi liga serta klub-klub yang jadi pendirinya, kompetisi yang masih dalam rencana ini sudah dipandang sinis oleh berbagai pihak. Gerakan protes mengecam si liga baru pun masif terjadi, baik di dunia maya maupun di jalanan.

Lho, bagaimana ceritanya sampai dikecam?

Wujud Kritik Bagi UCL
Kisah dimulai dengan sebuah laporan yang berkeliaran di dunia maya, mengatakan bahwa sebuah proyek liga sepak bola yang dipimpin Presiden Real Madrid Florentino Pérez tengah dipersiapkan. Dikatakan juga bahwa beberapa klub besar dari Inggris akan ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Rumor itu kemudian makin nyata kala beberapa klub besar Inggris mengumumkan di situs resminya bahwa mereka akan bergabung sebagai pendiri Europe Super League (ESL).

Akhirnya, dalam sebuah laman resmi bertajuk The Super League, terpampang rilis berikut format kompetisi terkait. Ada 12 klub besar Eropa sepakat untuk menjadi founding clubs liga ini (European Super League, 2021). Mereka adalah AC Milan, Arsenal, Atlético Madrid, Chelsea, Barcelona, Inter Milan, Juventus, Liverpool, Manchester City, Manchester United, Real Madrid, dan Tottenham Hotspur.

Selain 12 klub yang sudah berkomitmen, tiga klub lain juga diantisipasi untuk menjadi pendiri. Diuraikan, kompetisi akan dilangsungkan dengan 20 klub partisipan yang terdiri dari 15 founding clubs dan lima klub hasil kualifikasi, untuk meraih titel tim terbaik di Eropa. Lho, bukankah Eropa sudah punya UEFA Champions League alias UCL?

Kehadiran Super League memang tak dimungkiri bakal berseberangan dengan Champions League yang selama ini digawangi UEFA. Menurut rilis Super League, kompetisi sepak bola Eropa yang selama ini berlangsung, alias Champions League, tak memuaskan.

Segala tindakan dan solusi yang ditawarkan UCL tidak menyelesaikan permasalahan fundamental yang ada (European Super League, 2021). Isu-isu tersebut meliputi kebutuhan menyajikan pertandingan dengan kualitas tinggi, serta sokongan finansial bagi piramida sepak bola secara menyeluruh.

Keraguan pada UCL juga disebabkan sistem kompetisi yang mencurigakan. Presiden Super League, Florentino Pérez, yang juga merupakan Presiden Real Madrid, dalam sebuah wawancara dengan El Chiringuito TV mengatakan format Champions League untuk musim 2024 terbilang aneh (Hoskin, 2021). Florentino juga menyindir ketidaktransparanan UEFA mengelola keuangan Champions League.

"Why aren't UEFA and La Liga salaries public? Why haven't salaries been reduced like everyone else during the pandemic? We need more transparency. We know the salary of LeBron James but we don’t know the salary of the UEFA president."

Ketidakadilan pun jadi isu lain yang mengemuka. Pada musim 2018-2019, Liverpool menjadi juara kompetisi ini. Namun, uniknya hadiah yang didapat klub besar Inggris ini tetap dihitung berdasarkan koefisien klub. Akhirnya, pendapatan Barcelona yang hanya bergelar semifinalis malahan lebih besar dibandingkan sang juara (Delleres, 2020).

Dari isu ini, para pendiri menyusun Super League sebagai upaya keadilan yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi klub sepak bola Eropa dengan pembayaran yang lebih transparan dan menjanjikan. Salah satunya dengan pemberian bayaran solidaritas bagi para anggota liga, yang jumlahnya akan bertumbuh sejalan dengan provit dari liga sendiri.

Pembayaran solidaritas ini akan lebih tinggi dari yang diberikan UCL, bahkan nilainya bisa sampai melebihi €10 miliar selama periode komitmen awal para pendiri. Sebagai solusi transparansi, pembayarannya konon bakal mengikuti model baru dengan transparansi penuh dan pelaporan publik secara reguler.

ESL juga mengusung pembagian keuntungan komersial yang dinilai adil bagi para partisipannya. Dilansir dari Financial Times, sebesar 32,5% dari keuntungan bakal digelontorkan untuk founding clubs, dan 32,5% untuk 20 atau seluruh klub partisipan liga. Sisanya, bakal dibagikan sesuai performa selama liga berlangsung. Dalam hal ini, sebanyak 20% dibagikan sesuai performa permainan dan 15% sesuai banyak penonton pertandingan.

Demi menunjang janji-janji finansial tersebut, JP Morgan Chase sudah menyatakan bersedia melakukan pendanaan. Firma sekuritas, perbankan investasi, dan perbankan eceran global Amerika Serikat ini mengonfirmasi bahwa perusahaan bakal memberi “suntikan” sebesar £4,3 miliar untuk European Super League (Ng, 2021). Sebuah jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit, bukan?

Di samping itu, mimpi-mimpi keuntungan dari sistem kompetisi Super League tentu saja menggiurkan bagi sejumlah klub. Selama ini, kondisi finansial dari berbagai kompetisi lain yang diikuti selama ini kerap masih kurang untuk pembiayaan manajemen.

Belum lagi, pandemi covid-19 yang berkepanjangan memperparah kondisi keuangan ini. Para founding clubs ESL yang punya predikat sebagai klub bergengsi juga merasakan kondisi sama.

Tuduhan Serakah Berujung Protes
Sekalipun mengusung ide perbaikan dan keadilan, toh tak sedikit nada sumir, nyinyir, dan kecaman dialamatkan kepada ESL. Mengemuka juga prasangka bahwa manajemen klub besar yang ambil bagian dalam liga baru ini sebagai kelompok yang serakah dan mau untung sendiri.

Format kompetisi ESL dinilai terlalu banyak mengistimewakan para klub pendiri secara sepihak. Dalam rilis saja, misalnya, founding clubs dikatakan bakal menerima €3.5 miliar untuk mendukung investasi infrastruktur dan memperbaiki kondisi finansial buruk karena terdampak pandemi (European Super League, 2021).

Apalagi, jika ESL jadi berlayar, dampak tak langsung akan diterima klub-klub kecil yang tertinggal di UCL. Yap, tertinggal. Soalnya, jadwal ESL yang direncanakan berlangsung pada tengah pekan bakal bertabrakan dengan Champions League. Sejumlah klub besar yang menggawangi Super League pun akan mangkir dari UCL. Nah, terbayang tidak Champions League tanpa 12 klub tersebut?

Tanpa para founding clubs ESL, Liga Champions tentu bagai mi instan tanpa bumbu, hambar. Berapa penonton kira-kira yang masih mau duduk manis menonton pertandingan? Melalui sebuah laporan, Forbes saja sudah memprediksi penyusutan hak siar yang didapatkan UCL jika diselenggarakan tanpa klub-klub besar tersebut (Birnbaum, 2021).

Di sisi lain, UEFA merespons rencana digelarnya Super League dengan pernyataan rencana untuk mem-ban klub-klub yang ikut serta pada liga baru tersebut. Bahkan, setiap pemain dari klub-klub bersangkutan juga terancam dilarang tampil pada kompetisi internasional untuk membela tim negaranya (UEFA, 2021).

Masalahnya, jika kedua belas klub tersebut di-ban oleh UEFA, dampak buruk kian lekat pada pendapatan UEFA terkait hak siar.

Jika menilik kesepakatan hak siar UCL, dari hasil akumulasi pengikut klub-klub besar tersebut di media sosial, ESL bisa menghasilkan nyaris sekitar 300 juta penonton. Sementara itu, UCL bakal kalah pamor. Broadcaster pun pasti mempertimbangkan hal ini untuk menyeleksi program mana yang akan digarap.

Sekilas mungkin kemenangan mudah diraih ESL. Namun, kondisi ini malahan membuahkan kecaman dari klub-klub kecil. Mau bagaimana lagi? Jika mengacu pada format Super League, hanya ada 15 klub besar yang jadi anggota tetap di antara 20 partisipan.

Sementara itu, lima klub sisanya harus berjuang lewat kualifikasi. Jika tidak lolos, klub-klub kecil hanya akan bertahan di UCL dan menerima pendapatan dari UCL yang kadung kalah pamor dari ESL. Jelas kecemburuan bakal tercipta.

Akhirnya, klub-klub besar yang resmi berkomitmen dengan Super League pun dicap tamak. Banyak pula tudingan keras, menilai tindakan ESL sebagai perusakan pada esensi sepak bola.

Tak hanya pihak klub kecil yang akhirnya marah. Kelompok fans dari founding clubs pun bahkan ambil bagian dalam protes. Akhirnya, gelombang penolakan pecah.

Salah satu kejadian masif terjadi di Stamford Bridge pada 20 April 2021. Menjelang pertandingan dalam gelaran Premiere League melawan Brighton, fans Chelsea berkumpul dalam jumlah banyak dan menghalangi bus yang berisi para pemain The Blues.

Pertandingan pun terpaksa mengalami penundaan. Legenda Chelsea Peter Cech bahkan harus turun ke kerumunan untuk memersuasi para penggemar untuk mengizinkan bus masuk (Gonzalez, 2021).

Mantan pemain Chelsea Petr Cech terlihat berbicara dengan penggemar Chelsea saat mereka memprotes rencana Liga Super Eropa di luar stadion sebelum pertandingan - Stamford Bridge, London, Inggris, Selasa (20/4/2021). ANTARAFOTO/REUTERS/Matthew Childs

Berbagai kisruh pun terjadi di tempat-tempat lain, memaksakan pembatalan Super League.  Manchester City menjadi klub pertama yang secara resmi menyatakan mundur dari rencana ESL. Tindakan ini kemudian juga disusul oleh klub-klub pendiri ESL lainnya yang berasal dari Inggris.

Akhirnya, pihak European Super League mengeluarkan pengumuman penangguhan kompetisi. Berbagai penolakan disebut sebagai alasan melakukannya.

Namun, mereka masih punya harapan untuk melanjutkan rencana. Setidaknya, pernyataan bahwa mereka tengah mengambil waktu untuk melakukan penyesuaian terhadap proyek tersebut mengisyaratkannya.

Ironi Slogan “Football is for the fans
Sebelum akhirnya ditangguhkan, ESL tak hanya menerima protes dari para penggemar. Pemain-pemain klub di luar kedua belas founding clubs tak kalah keras menolak.

Salah satunya, yang dilakukan para pemain Leeds United kala melakukan pemanasan dalam permainan melawan Liverpool. Seragam berbeda dikenakan oleh mereka, yakni kaos berwarna dasar putih dengan tulisan “UEFA Champions League Earn It” pada bagian depan dan “Football is for the fans” pada bagian belakang.

Slogan tersebut memang akhirnya menjadi viral dan banyak digunakan dalam gelombang protes melawan Super League. Namun, di sisi lain menjadi ironi tersendiri bagi para pemain dan manajemen di klub-klub besar.

Jika memang sepak bola diperuntukkan bagi para penggemar semata, pengorbanan harus dilakukan klub dan para pemainnya.

Klub-klub besar yang menjadi founding clubs dalam rencana ESL mungkin dinilai egois dan terlalu berorientasi profit, bahkan oleh kelompok penggemarnya sendiri. Mereka dilihat sebagai kelompok berprivilese dan memanfaatkan kesempatan semaunya.  

Namun, ada hal yang luput dari logika ini, bahwa sama atau merata tak berarti adil. Hal yang mungkin dilupakan adalah kenyataan bahwa klub-klub besar memiliki kebutuhan untuk mempertahankan kualitasnya.

Tentu saja hal tersebut harus dipertahankan demi citra tim. Tanpa disadari, semua itu dilakukan juga demi para penggemar.

Memikul nama besar membuat mereka harus berhadapan dengan ekspektasi dunia. Para penggemar berekspektasi bahwa klub harus menampilkan performa terbaiknya. Desakan untuk melakukan transfer pemain berkualitas tentu banyak diterima. Untuk membiayai rekrutmen jenis ini, tentu saja uang yang digelontorkan tidak bisa sedikit. Tak heran jika harapan akan adanya pemasukan lebih jadi mimpi besar.

Kondisi tersebut belum mempertimbangkan keterpurukan klub sebagai dampak pandemi. Berdasarkan laporan dari Lembaga Riset Keuangan KPMG, setidaknya dampak buruk dirasakan oleh klub-klub yang ada di barisan enam teratas Eropa, yakni Real Madrid, Liverpool, Juventus, Paris Saint German, Bayern Munich, dan Porto. Jika digabungkan, keuntungan dari pertandingan, siaran, dan komersial terhitung berkurang sebanyak US$452 juta (Lane, 2021).

Kerugian ini disebabkan pertandingan yang terus diselenggaran tanpa penonton selama pandemi. Pemasukan dari sponsor dan tiket pun terkena imbasnya. Sementara itu, operasional mereka masih harus terus berjalan dan dibiayai.

Dalam sebuah artikel jurnal, Hammerschmidt, dkk (2021) juga menegaskan bahwa klub besar perlu mengevaluasi langkah-langkah jangka pendek dan panjang untuk menyelamatkan operasional klub dan investasi yang sudah mereka lakukan. Hal ini jadi pertimbangan melihat beberapa laporan tentang krisis keuangan yang terjadi.

Krisis memaksa beberapa klub besar melakukan penundaan gaji pemain dan staf, mencari dana talangan dari pinjaman bank, hingga menjual sebagian saham ke investor. Ini mau tak mau juga akan berdampak pada perubahan agenda operasional serta visi jangka panjang klub (Hammerschmidt, Durst, Kraus, & Puumalainen, 2021).

Salah satu klub besar yang bisa dijadikan contoh adalah Inter Milan. Klub yang sempat dibeli Menteri BUMN Erick Thohir ini mesti menunda gaji para pemainnya akibat pandemi. Pada saat yang bersamaan, Inter juga wajib patuh pada regulasi keuangan yang ditetapkan UEFA agar tidak kehilangan lisensi untuk berlaga dalam kompetisi sepak bola Eropa (Football Italia, 2021).

Pada akhirnya, pupusnya perjalanan European Super League yang terhitung singkat masih terus jadi cerita dengan banyak sudut pandang. Ada yang melihatnya sebagai keberhasilan menyelamatkan esensi sepak bola dari kotornya politik uang. Di sisi lain, ada juga yang menyiginya sebagai kegagalan pemberontakan terhadap sistem besar yang sudah lebih awal ternoda.

*) Peneliti Visi Teliti Saksama

 

Referensi

Birnbaum, J. (2021, April 19). European Super League Aims To Swipe Champions League’s $2.4 Billion In TV Money — And Bury UEFA. Retrieved from Forbes: https://www.forbes.com/sites/justinbirnbaum/2021/04/19/new-european-super-league-taking-a-swipe-at-champions-leagues-24-billion-annual-broadcast-revenues/?sh=288c0b9f1d05

Delleres, F. (2020, Oktober 20). Champions League 2020-21: How prize money is calculated and why the winners don't always get paid the most. Retrieved from City A.M.: https://www.cityam.com/champions-league-2020-21-how-prize-money-is-calculated-and-why-the-winners-dont-always-get-paid-the-most/

European Commission & UEFA. (n.d.). TV Rights Agreement.

European Super League. (2021, April 19). Leading European Football Clubs Announce New Super League Competition. Retrieved from The Super League: https://thesuperleague.com/press.html

Football Italia. (2021, Februari 24). UEFA's Salary Exemption Helps Inter. Retrieved from Football Italia: https://www.football-italia.net/166811/uefas-salary-exemption-helps-inter

Gonzalez, R. (2021, April 22). Super League timeline: The 48-hour rise and fall of the closed European league led by Real Madrid's Perez. Retrieved from CBS Sports: https://www.cbssports.com/soccer/news/super-league-timeline-the-48-hour-rise-and-fall-of-the-closed-european-league-led-by-real-madrids-perez/

Hammerschmidt, J., Durst, S., Kraus, S., & Puumalainen, K. (2021). Professional football clubs and empirical evidence from the COVID-19 crisis: Time for sport entrepreneurship? Technological Forecasting & Social Change.

Hoskin, R. (2021, April 20). European Super League: President Florentino Perez answers all the key questions in interview. Retrieved from Give Me Sport: https://www.givemesport.com/1678288-european-super-league-president-florentino-perez-answers-all-the-key-questions-in-interview

Lane, B. (2021, Januari 12). The COVID-19 pandemic will cost Europe's big soccer leagues over $7 billion in lost revenue, and has exposed deep 'flaws' in how the game is run. Retrieved from Insider: https://www.insider.com/covid-19-pandemic-cost-europes-top-leagues-7-billion-kpmg-2021-1

Ng, K. (2021, April 20). Football Club Shares Leap as JP Morgan to Inject £4.3bn into New European Super League. Retrieved from Independent: https://www.independent.co.uk/news/business/european-super-league-jp-morgan-b1833783.html

UEFA. (2021, April 18). Statement by UEFA, the English Football Association, the Premier League, the Royal Spanish Football Federation (RFEF), LaLiga, the Italian Football Federation (FIGC) and Lega Serie A. Retrieved from UEFA: https://www.uefa.com/insideuefa/mediaservices/mediareleases/news/0268-12121411400e-7897186e699a-1000--joint-statement-on-super-league/

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA