Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

16 Juli 2021|20:04 WIB

Upaya Kolektif Menyiasati Krisis Oksigen

Jumlah kebutuhan oksigen medis mencapai 2.000 ton per hari. Biasanya, hanya 400 ton saja

Penulis: James Fernando,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageGerakan Solidarutas Sejuta Tes menyiapkan tabung oksigen gratis. Sumber foto: James Manullang/Validnews

JAKARTA – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Barangkali peribahasa ini tepat untuk melukiskan situasi sulit Coky (38), salah satu warga Bekasi Barat, Jawa Barat, saat mendapati covid-19 menyerang keluarganya pada awal Juli 2021.

Ibu, kakak dan kedua keponakannya yang masih kecil memang masih bisa menjalani isolasi mandiri. Namun tidak untuk sang ayah. Kesehatannya terus menurun. 

Hal ini diketahui Coky usai menempelkan alat pengukur saturasi ke jari ayahnya. Kadar oksigen ayahnya hanya 64%.

Coky yang panik segera menelepon rumah sakit sekitaran Bekasi. Semuanya penuh. Lelaki ini kemudian nekat menyewa ambulans tanpa tahu harus membawa ayahnya ke mana. Satu per satu rumah sakit coba disambanginya langsung. Hasilnya tetap nihil.

Coky yang mengendarai motor terpaksa mengarahkan ambulans itu ke Jakarta. Di sini situasinya tak lebih baik. Beberapa rumah sakit yang didatanginya lagi-lagi penuh pasien.

Beruntung muncul satu informasi melegakan dari temannya. Coky diberitahu ada ruang Unit Gawat Darurat (UGD) di RSUD Ciracas yang kosong.  

Baru saja satu masalah selesai, masalah lain datang. Rumah sakit itu ternyata kehabisan tabung oksigen. Coky pun bergegas ke tempat penjualan dan pengisian oksigen di sejumlah tempat. Namun, semua yang disambangi tak punya stok oksigen lagi. Padahal, saat itu masih siang hari.

Coky tak kehabisan akal. Dia segera mengorek-orek informasi mengenai peminjaman tabung oksigen via media sosial. 

Saat langit mulai gelap kabar baik itu datang. Seseorang memberitahukan Coky tentang tempat peminjaman tabung oksigen di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Setibanya di sana, tabung oksigen memang masih tersedia. Namun, keadaannya tak lagi lengkap tanpa regulator oksigen.

Beruntung, pertolongan sekali lagi datang saat ia kebingungan. Seorang teman menginformasikan sebuah klinik yang mau meminjamkan regulator oksigen. Klinik itu berada di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Meski sadar jaraknya jauh, dia tetap ke sana.

“Satu hari penuh saya mencari oksigen. Baru dapat lengkap pukul 23.30. Itu saya cari dari siang. Kondisi ayah saya sampai hari ini sudah kian membaik,” kata Coky, saat berbincang dengan Validnews, Kamis (15/7).

Coky berkata, akses kesehatan yang tersedia untuk penderita covid-19 tak seindah yang dikatakan oleh pemerintah. Pasien covid-19 bukan hanya kesulitan mendapatkan bantuan kesehatan dari tenaga medis. Lebih dari itu, alat kesehatan seperti oksigen pun sulit didapat di lapangan.

Febryan (28), warga Jati Padang, Jakarta Selatan, juga mengalaminya saat adik laki-lakinya terpapar covid-19. Nyaris satu hari dibutuhkan Febryan untuk mendapatkan tabung oksigen. Dia memperolehnya dari temannya yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Belum lagi urusan isi. Sejumlah stasiun pengisian oksigen yang didatanginya kehabisan stok. Febryan masih beruntung ada temannya yang menginformasikan soal tempat pengisian oksigen di wilayah Tebet, Jakarta Selatan. Di sana oksigen masih tersedia. Tapi Febryan harus rela mengantre hingga malam hari agar tabungnya terisi penuh oksigen.

“Setelah dapat dari Bekasi, dapat lagi kiriman dari kantor adik saya dua tabung. Tapi karena keadaannya terus memburuk, sekarang adik saya sudah mendapatkan pertolongan dari rumah sakit,” kata Febryan, kepada Validnews, Kamis (15/7).  

Petugas mengisi ulang tabung oksigen medis yang dibagikan gratis di Jalan Minangkabau Timur, Jakarta , Kamis (15/7/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/

Masyarakat Bergerak
Kebutuhan oksigen di gelombang kedua pandemi covid-19 di Tanah Air memang melonjak drastis belakangan ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Jumat (16/7) menyebutkan, jumlah kebutuhan oksigen medis mencapai 2.000 ton per hari. Biasanya, hanya 400 ton saja.  

Sejumlah opsi pun muncul untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya, melakukan impor oksigen likuid. 

Di sisi lain, semangat tolong-menolong di tengah masyarakat juga menguat. Mulai dari sekadar aktif menginformasikan ketersediaan oksigen hingga meminjamkan tabung oksigen. 

Masyarakat mulai tergerak membantu secara individu maupun berkelompok.   

Gerakan Solidaritas Sejuta Tes salah satunya. Komunitas ini belakangan memutuskan membuka peminjaman tabung oksigen bagi warga yang membutuhkan.  

Mereka mulanya fokus membantu melakukan tracing atau penelusuran orang terpapar covid-19 melalui tes cepat antigen. Namun, saat oksigen mulai langka para inisiator Gerakan Solidaritas Sejuta Tes terpikirkan untuk berbuat sesuatu.

Anggota komite di Gerakan Solidaritas Sejuta Tes, Arief Bobhil mengatakan, gerakan ini dibentuk pada Oktober 2020. Mereka bergerak mengandalkan donasi yang dikumpulkan secara daring di situs tertentu. Salah satunya Kitabisa.com.

Dia bercerita, uang donasi itu awalnya digunakan untuk membeli alat rapid test antigen dan operasional para relawan. Namun, belakangan ini, dana itu digunakan untuk membeli tabung oksigen, agar bisa meminjamkannya kepada para pasien covid-19.

Target mereka adalah warga yang menjalani isolasi mandiri covid-19. Mereka yakin warga yang menjalani perawatan medis di rumah sakit pasti mendapatkan pertolongan oksigen sekalipun susah.

Arief dan rekannya mulanya hanya membeli 40 tabung oksigen ukuran 1 kubik. Namun, karena donasi terus mengucur, jumlahnya tambah banyak. Mereka kini memiliki 275 tabung yang siap dipinjamkan. Sudah lebih dari 430 orang yang sudah memanfaatkan tabung oksigen pinjaman ini.

Untuk peminjaman, Gerakan Solidaritas Sejuta Tes membuat sejumlah aturan. Mereka yang hendak meminjam harus mengisi formulir pendaftaran terlebih dahulu. Formulir itu tertera di akun media sosial Instagram dengan nama Solidaritas Tes Antigen.

Setelah data itu diisi maka akan dicek oleh tim verifikasi. Salah satu yang menjadi pertimbangan yakni tingkat saturasi oksigen pasien yang dicantumkan dari si pendaftar.

Antar Tabung
Kalau pengajuan diterima, si pendaftar akan mendapatkan pemberitahuan.  Pendaftar kemudian dapat langsung mengambil tabung di sekretariat gerakan di daerah Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur.

Keluarga pasien juga dapat meminta tolong agar pihak Gerakan Solidaritas Sejuta Tes untuk mengantarkan tabung oksigen ke rumah lokasi isoman. Semua tergantung opsi yang dipilih si pendaftar saat mengisi formulir peminjaman.

Arief memastikan, tak ada biaya pengantaran sama sekali. Meski wilayah kerja mereka hanya seputar Jabodetabok, tim Sejuta Tes pernah mengantar tabung hingga daerah Karawang, Jawa Barat.

“Tim respons yang akan menanyakan langsung bagaimana kondisi pasien. Apakah benar-benar perlu oksigen atau tidak. Kalau memang perlu, kami akan minta segera diambil atau diantar oleh tim pengantar kami,” kata Arief, saat berbincang dengan Validnews, Kamis (15/7).  

Lama pemakaian tabung oksigen sendiri hanya tujuh hari. Namun, keluarga pasien masih bisa mengisi formulir perpanjangan peminjaman jika masih membutuhkan. Sebaliknya, pasien yang sudah membaik, pihak keluarga harus mengembalikannya.

Untuk memaksimalkan pelayanan ini, Gerakan Solidaritas Sejuta Tes juga berupaya untuk menambah lokasi pengambilan tabung oksigen. Salah satunya di Depok, Jawa Barat.

“Tapi ketersediaannya tabungnya juga bergantung dari yang ada di Utan Kayu. Kami antar di Kota Depok ketika itu sekitar 10 tabung,” tambah Arief.

Arief mengaku, gerakan ini terbuka untuk seluruh bantuan dari masyarakat. Selain berdonasi, masyarakat bisa memberikan bantuan berupa tenaga. Misalnya, membantu pendistribusian tabung atau menyediakan hub peminjaman tabung.

“Sampai kapan gerakan ini berjalan, kami belum tahu. Selama masyarakat kesulitan karena covid-19 kami akan terus berusaha untuk membantu,” ucap Arief.

Selain berkelompok, ada pula warga yang secara individu membantu kelangkaan oksigen ini, seperti halnya yang dilakukan oleh Nugroho Pratomo.

Nugroho belakangan ini aktif meminjamkan dua tabung oksigen miliknya kepada orang-orang sekitarnya yang terpapar covid-19. Hal ini dimulai saat temannya bertanya kepadanya tempat peminjaman tabung oksigen, beberapa waktu lalu.

Temannya mengaku kesulitan mendapatkan tabung oksigen untuk orang tua. Nugroho terenyuh. Dia langsung menawarkan tabung oksigen berukuran 1 kubik miliknya yang masih penuh dengan oksigen.

Dia sebenarnya memiliki empat tabung. Namun, hanya dua tabung yang bisa dipinjamkan untuk masyarakat. Dua tabung lainnya sudah bocor.

“Jadi saya kirim pakai ojek online. Dipinjam selama beberapa hari. Setelah orang tuanya kembali pulih, tabung itu dikembalikan kepada saya,” ucapnya.

Selang beberapa hari kemudian, temannya yang berbeda menghubunginya untuk meminjam tabung oksigen. Nugroho kembali meminjamkannya. Dia senang bisa meringankan beban para pasien covid-19.

Dia mengaku tidak akan membatasi waktu peminjamannya. Dirinya hanya berharap tabung segera dikembalikan saat pasien pulih. Jadi, tabung itu dapat digunakan orang lain. “Kalau ada warga lain yang mau pakai silakan saja,” sebut Nugroho, kepada Validnews, Kamis (15/7).

Apa yang dilakukan warga membantu warga lainnya, tidak sebatas oksigen. Belakangan upaya ini banyak kini bermunculan di banyak wilayah. Kerelaan mereka untuk berbagi menjadi aksi nyata di kala institusi formal pun terkendala bergerak.

Seperti kata ilmuwan tersohor Albert Einstein, kita pantang putus asa terhadap kemanusiaan, karena sejatinya kita juga manusia, yang diberi akal budi untuk membantu sesama, dalam kadar yang berbeda-beda.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA