Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

KESRA

09 Juni 2021|20:41 WIB

Syarat Usia Berlaku Bila Siswa Berebut Bangku Terakhir

Seleksi usia dalam PPDB tidak menjadi syarat utama

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageSiswa dibantu gurunya mengikuti PPDB secara online di SMPN 2 Ciamis, Jawa Barat, Rabu (9/6/2021). ANTARAFOTO/Adeng Bustomi

JAKARTA – Irjen Kemendikbudristek, Chatarina Muliana Girsang mengungkapkan, seleksi usia dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online tidak menjadi syarat pertama. Tetapi sebagai syarat terakhir dalam jalur zonasi apabila satu kursi terakhir menjadi rebutan banyak siswa.
 
"Jadi tahun lalu itu kan sempat ramai ya karena memang ternyata usia dicantumkan nomor satu. Sementara, maksud Permendikbud untuk kuota terakhir baru diseleksi dengan usia," ungkap Chatarina dalam dialog daring tentang PPDB Online 2021, Rabu (9/6).
 
Dia menjelaskan pertimbangan usia menjadi syarat untuk mendapat kursi terakhir karena akta kelahiran sudah digunakan untuk jenjang pendidikan sebelumnya. Lalu akta kelahiran juga merupakan salah satu dokumen yang dianggap sulit untuk dipalsukan.
 
"Anak yang masuk SD itu lima tahun lalu akta kelahirannya dibuat dengan Kartu Keluarga (KK). KK itu bisa dibuat setiap tahun berubah, tetapi kalau akta kelahiran akan sulit karena mungkin saja dia lahirnya tidak di Bekasi tetapi di Jakarta," jelas Chatarina.
 
Di suatu sekolah, dia mencontohkan, hanya memiliki daya tampung siswa baru sebanyak 110 orang. Tetapi ternyata ada 115 anak yang mendaftar, sehingga kursi terakhir harus diperebutkan enam orang anak. Hanya enam anak inilah yang diseleksi berdasarkan usia.
 
Jadi seleksi usia tidak berlaku bagi 109 anak yang sudah mendaftar lebih dulu di sekolah tersebut. Chatarina menyebut hal ini yang disalahpahami pada PPDB tahun lalu di DKI Jakarta, hingga sempat menyebabkan kericuhan antara pihak sekolah dan orang tua.
 
"Jadi bukan dari 110 anak yang diseleksi umur. Ini yang kemarin akhirnya menfasirkan berbeda-beda. Tahun ini Insyaallah tidak (terulang lagi) karena sudah dimulai dan kelihatannya tenang di Jakarta," ucapnya.
 
Ditegaskan bahwa Kemendikbudristek hanya menerbitkan norma, standar, prosedur, dan kriteria PPDB untuk pemerintah daerah (pemda). Ada empat jalur PPDB, yakni zonasi, afirmasi, perpindahan orang tua, dan prestasi. Tetapi jalur prestasi tidak ada untuk SD.
 
Untuk jenjang SD, kuota zonasi minimal 70%, lalu afirmasi minimal 5%, dan perpindahan orang tua sisa dari dua kuota tersebut. Lalu untuk SMP dan SMA, kuota zonasi minimal 50%, afirmasi minimal 15%, perpindahan orang tua maksimal 5%, dan sisanya untuk prestasi.
 
Menurut Chatarina, pengutamaan kuota zonasi tidak mengecilkan peluang dari anak-anak berprestasi. Justru memperluasnya karena prestasi yang dimaksud dalam sistem ini tak dilihat dari nilai ujian atau rapor, melainkan lebih luas berupa prestasi berbagai bidang.
 
"Bahkan, dengan jalur prestasi ini anak-anak bisa memilih semua sekolah di luar zonasi rumahnya yang dianggap terbaik. Jadi tidak hanya satu. Jadi walaupun jalur prestasi persentasenya kecil, tetapi kesempatan memilih sekolahnya lebih besar," urainya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER