Selamat

Rabu, 22 September 2021

26 Juli 2021|17:39 WIB

Suplai Obat Covid-19 Membaik Mulai Agustus

Mulai terjadi kelangkaan sejak awal Juni

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi pengiriman obat dari aplikasi telemedis HALODOC. Validnews/Fin Harini

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin engatakan, kebutuhan obat-obatan terkait pasien covid-19 akan membaik mulai Agustus 2021. Saat ini kebutuhan obat-obatan itu melonjak 12 kali lipat, sehingga aksesnya cukup sulit.

"Mudah-mudahan di awal Agustus nanti beberapa obat-obatan yang sering dicari masyarakat, misalnya Azithromycin, Oseltamivir, maupun Favipiravir, itu sudah bisa masuk ke pasar secara lebih signifikan," ujar Budi dalam telekonferensi, Senin (26/7).

Dia menjelaskan lonjakan kebutuhan obat-obatan untuk pasien covid-19 mulai terjadi sejak 1 Juni 2021. Saat ini pemerintah tengah menyiapkan peningkatan kapasitas produksi obat-obatan yang bisa diproduksi perusahaan-perusahaan dalam negeri.

Namun, dibutuhkan waktu sekitar 4-6 pekan agar kapasitas produksi obat dalam negeri bisa memenuhi peningkatan kebutuhan 12 kali lipat ini. Obat-obat untuk pasien covid-19 yang bisa diproduksi dalam negeri yaitu Azithromycin, Favipiravir, dan Oseltamivir.

Budi mengungkapkan stok obat Azithromycin secara nasional saat ini 11,4 juta. Kapasitas produksi 20 perusahaan lokal dia sebut dapat memenuhi kebutuhan. Kemenkes pun terus berkonsultasi dengan Gabungan Pengusaha Farmasi agar distribusinya berjalan baik.

"Khusus untuk Favipiravir, kita punya stok sampai sekarang ada sekitar enam juta di seluruh Indonesia. Dan ada beberapa produsen dalam negeri yang akan segera meningkatkan stok obat ini, termasuk PT Kimia Farma (Persero) Tbk yang bisa dua juta per hari," ucap dia.

PT Dexa Medica, rencananya juga akan impor 15 juta Favipiravir pada Agustus mendatang. Kemudian pemerintah juga melakukan impor sebanyak 9,2 juta dari beberapa negara mulai bulan depan dan mengadakan pabrik baru yang bisa memproduksi satu juta per hari.

Berbeda dengan Azithromycin sebagai obat antibiotik, Favipiravir adalah obat antivirus. Budi menuturkan Favipiravir akan mengganti Oseltamivir sebagai obat antivirus, sebab telah direkomendasikan para ahli berdasarkan kajian terhadap dampak varian Delta.

"Diharapkan Agustus nanti kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri 2-4 juta tablet per hari yang bisa penuhi kebutuhan. Sedangkan Oseltamivir ada stok sekitar 12 juta sampai Agustus. Karena ini akan pelan-pelan secara bertahap diganti oleh Favipiravir, kita akan pertahankan stok ini," urai dia.

Budi mengatakan terdapat tiga obat lainnya yang sampai saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada impor yakni Remdesivir, Actemra, dan Gamaras. Suplai obat-obatan ini di seluruh dunia sedang sedikit karena menjadi incaran juga dari banyak negara.

Pemerintah sudah mengimpor 150 ribu buah Remdesivir yang rencananya akan datang pada bulan ini, lalu akan diimpor lagi 1,2 juta pada Agustus. Dikatakan bahwa pemerintah sedang dalam proses untuk bisa membuat Remdesivir dari perusahaan dalam negeri.

Kemudian untuk Actemra, pemerintah impor sebanyak seribu vial yang pada bulan ini, dan sebanyak 138 ribu pada Agustus. Kebutuhan yang melonjak membuat obat ini sulit diakses dan harganya meroket hingga ratusan juta dari harga normal di bawah Rp10 juta.

"Kami cari ke seluruh pelosok dunia mengenai Actemra ini. Untuk Gamaras, kita akan impor 26 ribu di bulan Juli ini dan akan impor lagi 27 ribu bulan Agustus," imbuhnya.

Skema Distribusi
 Budi mengatakan masalah obat-obatan untuk pasien covid-19 tak hanya soal suplai, tetapi juga masalah distribusi yang belum merata. Saat ini pemerintah telah bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Farmasi untuk mengatasi masalah tersebut.

"Mereka akan membantu distribusi ke sekitar 12 ribu apotek aktif di Indonesia. Diharapkan kita akan tingkatkan 9 ribu saja apotek yang bisa dikasih obat-obatan ini secara konsisten suplainya itu akan menstabilkan suplai obat di seluruh Indonesia," tegasnya.

Selain melalui apotek, obat-obatan ini juga didistribusi melalui jalur distribusi oleh TNI sebanyak 2 juta paket, terutama untuk warga di pelosok perdesaan. TNI akan mengirim paket obat langsung ke pasien covid-19 setelah mendapat laporan dari puskesmas.

Kemudian jalur distribusi yang ketiga adalah melalui telemedicine. Budi mengatakan sudah ada 11 perusahaan telemedicine yang bekerja sama dengan Kemenkes untuk bisa memberi jasa konsultasi dokter serta pengiriman obat gratis kepada pasien covid-19.

"Memang telemedicine ini baru kami luncurkan di seluruh ibu kota provinsi di Jawa-Bali. Rencananya nanti akan kami perluas ke seluruh Indonesia," kata dia.

Pemerintah meminta masyarakat tak membeli obat-obatan itu jika tidak membutuhkannya, apalagi diborong untuk disimpan. Semua obat itu harus dipakai sesuai resep dokter, bahkan untuk Gamaras, Actemra, dan Remdesivir hanya bisa disuntikkan di rumah sakit.

"Kasihan yang sakit kalau kita sebagai orang yang sehat ingin menyimpan obat. Bayangkan ada 20 juta keluarga menengah ingin beli Azithromycin, satu paket berisi 5 tablet, itu 100 juta obat akan tertarik dari apotek dan disimpan di rumah sebagai stok," ucapnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER