Selamat

Kamis, 20 Januari 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

26 November 2021

21:00 WIB

Penyemai Asa Anak Tunagrahita

Bagi siswa tunagrahita, guru adalah orang terdekat. Stigma menjadi tembok pemisah mereka dengan warga lainnya

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

Penyemai Asa Anak Tunagrahita
Seoarang guru melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas siswa tunagrahita di SLB B dan C Flora Indonesia. Validnews/Wandha Nur Hidayat

JAKARTA – Hari itu menjelang pukul tujuh pagi pada Rabu (24/11). Petugas kebersihan terlihat siap mengayun sapuan terakhirnya. Lanskap halaman sekolah sudah tampak apik dan bersih seakan menegaskan siap menyambut siswa yang akan belajar.

Tak berapa lama, satu persatu siswa datang. Anak-anak itu berseragam putih merah diantar para orang tua.

Sebelum diizinkan masuk ke kelas, mereka wajib mencuci tangan dan diperiksa suhu tubuhnya. Tak ada yang beda di sekolah itu kala menerapkan prosedur wajib untuk pembelajaran tatap muka terbatas selama masa pandemi covid-19. Namun, rinciannya panduan dari guru, menunjukkan siswa-siswa ini merupakan anak-anak berkebutuhan khusus.  

Tak banyak siswa yang datang hari itu untuk belajar. Jumlahnya bisa dihitung jari.

Memang, siswa di SLB B dan C Flora Indonesia di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tidak banyak. Mereka yang hadir hari itu merupakan siswa SLB kategori C, atau yang berkriteria dengan intelegensi di bawah rata-rata. Biasa disebut juga tunagrahita. Tiga orang anak di antaranya adalah tingkat sekolah dasar.

Berdasarkan jadwal, delapan siswa seharusnya datang ikut pembelajaran tatap muka terbatas. Jumlah yang terdata berkurang karena dua siswa tengah sakit. Sisanya, orang tua mengabarkan anaknya ngambek, enggan berangkat ke sekolah.

Akan tetapi, hari tetap harus dilalui. Lima siswa tak menyurutkan guru untuk memberi pelajaran pada mereka.

Pembelajaran dimulai pukul setengah delapan. Ruang kelas berukuran sekitar lima meter persegi hanya boleh diisi empat siswa. Dua anak di tembok sisi kiri dekat pintu, dua yang lain di seberangnya. Sebuah meja di tengah kelas memisahkan kedua sisi tersebut.

Meja itu digunakan ibu guru untuk mengoperasikan laptop. Selain untuk menampilkan bahan ajar di kelas, perangkat ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran jarak jauh bagi seorang siswa yang mengikuti pembelajaran secara daring dari rumahnya, di Pemalang, Jawa Tengah.

Orang tua siswa itu diberhentikan dari pekerjaannya saat pagebluk mengganas. Tak sanggup membayar sewa kontrakan di ibu kota, mau tak mau, mereka terpaksa pulang kampung. Si anak beruntung tetap bisa bersekolah karena penerima Program Indonesia Pintar.

Sebelum memulai pembelajaran, suara guru menyapa setiap siswa. Dia mengajak siswa menceritakan hal yang mereka tengah sukai. 

Pendekatan personal dibutuhkan untuk menyiapkan anak berkebutuhan khusus untuk menyukai belajar. Proses ini harus berlangsung menyenangkan.

Pagi itu, kelas dibuka dengan mempelajari lawan kata. Setiap siswa diberi dua kalimat dengan struktur sederhana terdiri dari 3–4 kata. 

Predikat di kalimat pertama dan kedua adalah dua lawan kata. Namun, kata predikat di kalimat kedua dikosongkan sebagai soal yang harus siswa jawab.

“Adik rajin belajar. Kakak … belajar,” tulis sang guru menggunakan spidol di papan tulis.

Guru akan memberi petunjuk tentang lawan kata yang ditanyakan sampai siswa memberi jawaban dengan benar. Mereka rata-rata baru berhasil menjawab setelah empat hingga lima kali percobaan. Terkadang, siswa yang salah menjawab ditertawai oleh teman-temannya. 

“Kalau orang banyak duitnya, rumahnya besar, berarti dia orang kaya. Kalau orang yang rumahnya kecil, duitnya sedikit, itu namanya apa,” tanya sang guru kepada seorang siswanya.

Sebelum sampai pada lawan kata yang harus dijawab, siswa harus lebih dulu mampu mengeja dan membaca tiap kata di kedua kalimat tersebut. Proses ini juga butuh berkali-kali percobaan dan petunjuk dari guru hingga mereka akhirnya berhasil.

Dalam proses mengajar ini, guru harus punya kesabaran ganda. Selalu ada hal di luar materi pelajaran yang datang dari siswa. 

Misalnya, di tengah pelajaran berlangsung, seorang siswa acapkali menyanyikan lagu pop Korea. Kemudian, yang lain kerap mengungkapkan sesuatu yang terdengar seperti gumaman. Namun, ada juga siswa yang lebih banyak berdiam diri dan kurang tanggap.

Di kelas SLB kategori C, hal ini adalah lumrah.

Kalimat berintensi melarang tak boleh meluncur dari guru. Apalagi, kalimat dengan intonasi keras untuk merespons hal di luar materi pembelajaran. 

Guru harus menanggapi kejadian unik itu yang berulang tersebut dengan santai. Sedikit berkelakar, lalu mempersuasi siswa-siswanya untuk kembali berkonsentrasi.

Pengertian Lebih
Poniyem (52), guru di SLB itu bercerita hal-hal wajar di kelas siswa tunagrahita. Terkadang, tingkah anak-anak ini bukan tanpa maksud. Boleh jadi, dalam beberapa kondisi, itu adalah penanda bahwa mereka mulai merasa bosan. 

Saat persuasi secara lisan tak cukup mengembalikan perhatian mereka, mungkin si siswa memang perlu jeda sejenak dari pelajaran. Sebagai anak dengan kebutuhan khusus, mereka memang selayaknya perlu mendapat pengertian yang lebih besar.

“Anaknya bosan, bernyanyi dulu. Nanti start lagi. Kalau guru SLB itu harus happy. Memang SLB, kan, seperti itu. Mau dipaksa, ‘Ayo ini harus ditulis’, enggak bisa. Harus dikasih pengertian terus,” ujar Poniyem kepada Validnews, Rabu (24/11).

Cara tiap siswa tunagrahita mengatasi kebosanan berbeda-beda. Ada anak-anak yang izin ke toilet. Padahal, sebenarnya mereka ingin melihat temannya di kelas lain dari koridor sekolah. Suatu kali pernah cara "izin ke toilet" ini dilakukan bergantian dalam satu waktu oleh beberapa anak.

Ada juga anak yang ingin keluar kelas dan berdiri di tepi halaman sekolah sekadar untuk mengamati suasana. Meskipun beberapa anak tersebut butuh dituntun gurunya saat berjalan.


Suasana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas siswa tunagrahita di SLB B dan C Flora Indonesia. Validnews/Wandha Nur Hidayat 

Poniyem menjelaskan, kesabaran saja tidak cukup. Guru bagi siswa tunagrahita juga perlu aktif dan kreatif melakukan pendekatan yang berbeda pada tiap anak. Termasuk dalam proses pembelajaran maupun pembimbingan keseharian di sekolah.

Buatnya, penyampaian materi ajar selalu dilakukan tidak langsung ke intinya. Melainkan melalui nyanyian dan berkisah. 

Materi mengenal angka dan berhitung, misalnya, dimulai dengan mengajak para siswa bernyanyi "Sayang Semuanya" sambil menggunakan jari-jemarinya.

“Jadi anak-anak sebelum ke inti pembelajarannya sudah terbayang, ‘Oh tadi bu guru berhitung ya. Berarti bu guru sudah bilang pelajaran matematika tentang hitung-hitungan’,” cerita perempuan yang sudah menjadi guru SLB selama tiga puluh tahun itu.

Berhitung juga bisa diajarkan dengan berkisah melalui gambar bagi siswa yang senang menggambar. Contoh, angka tiga diperkenalkan melalui gambar seekor burung yang sedang terbang. Dari bentuk gambar itulah si anak akan mengasosiasikan burung dengan angka tiga. 

“Sebelum kita memberi pelajaran inti, kita sudah bercerita ngalor ngidul. Dalam hal, misalnya, tentang hewan pun dihitung berapa kakinya? Itu sudah ada pelajaran matematikanya. Siapa yang memelihara hewan untuk diberi kasih sayang dan makan? Itu sudah IPS,” kata Poniyem.

Demikian juga untuk mengenal huruf diajarkan melalui berkisah. Tiap bentuk huruf dicari asosiasinya pada hal-hal yang biasa siswa lihat di lingkungan sekitarnya.

Adalah wajar jika satu materi ajar seringkali tak cukup dalam satu kali pertemuan. Terlebih, kemampuan menyerap pemahaman antara satu siswa dan yang lain juga berbeda-beda. 

Mungkin saja, pertemuan selanjutnya mengulang materi yang sama hingga semua siswa paling tidak bisa mengingatnya.

Berhasil Mandiri
Menurut Poniyem, capaian pembelajaran formal sebenarnya bukan target utama dari pendidikan bagi anak-anak tunagrahita. Sebab, bagaimanapun, keterbatasan inteligensi mereka sulit untuk dapat menyamai, atau bahkan mendekati, kemampuan anak pada umumnya.

Adapun yang menjadi target keberhasilannya adalah membuat mereka bisa mandiri. Pengertian mandiri di sini juga sederhana. Contohnya, memakai pakaian sendiri, mengambil makan sendiri, buang air tanpa bantuan orang lain, dan mencuci piring bekas makannya. 

“Ruang lingkup mandiri itu kan banyak. Termasuk sudah tahu bahaya, bisa diminta tolong ambilkan sapu, piring makannya dibawa ke belakang. Tadinya ibunya yang melakukan, sekarang sudah bisa (sendiri). Hal sepele begitu, tetapi orang tua senang, bangga,” tegas dia.

Kemandirian tersebut diharapkan minimal tercapai setelah mereka lulus jenjang SMP. Mampu membaca, menulis, dan berhitung dianggap sebagai nilai tambah saja. Kecuali bagi anak tunagrahita dengan tingkat inteligensi yang mungkin lebih tinggi.

Guru lulusan IKIP itu mengungkapkan masih sangat jarang anak-anak tunagrahita yang bisa bekerja secara formal setelah lulus sekolah. Berbeda dengan anak disabilitas kategori lain yang umumnya lebih dapat mengerjakan berbagai hal, sehingga lebih diterima di dunia kerja.

Kepala SLB B dan C Flora Indonesia, Sutapa, mengamini perkataan Poniyem. Akan tetapi, ditegaskan, bukan berarti tugas membimbing anak tunagrahita untuk menjadi mandiri tidak lebih sulit dibanding mengajarinya membaca ataupun berhitung.

Bimbingan harus dilakukan secara berkesinambungan agar anak lambat laun terbiasa. Inilah alasan kedekatan guru dengan masing-masing siswa mutlak perlu dibangun. Bahkan, untuk beberapa anak boleh jadi merasa lebih dekat dengan gurunya dibanding orang tuanya. 

Bagi beberapa siswa, lanjut Sutapa, guru juga dianggap sebagai orang dekat yang lebih mudah menangkap keinginan mereka. Acapkali siswa merajuk ketika naik kelas karena guru yang mengajarnya berbeda. 

 “Kalau bel masuk kelas biasanya menyapa anak itu, ‘Dadah, selamat belajar’. Jadi dia senang ke guru yang baru. Suasana hati itu kan tidak bisa dibohongi. Kalau hati senang, belajar pun tentu senang,” imbuh Sutapa, dalam perbincangan dengan Validnews, Rabu (24/11).

Penerimaan
Ketua Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI) DKI Jakarta, Rani Azis mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi guru-guru anak tunagrahita adalah penerimaan dari orang tua maupun masyarakat terhadap keberadaan anak tersebut.

Masih banyak orang tua yang menaruh ekspektasi terlalu tinggi tanpa memahami kondisi anaknya. Mereka berharap si buah hati dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak kebanyakan, sehingga bisa menjalani keseharian secara ‘normal’ berdasarkan ukuran masyarakat.

“Padahal kemampuannya dilihat dari inteligensi otomatis kecerdasannya akan berbeda dengan anak normal. Biasanya dari guru-guru SLB akan memberi penjelasan kepada orang tua bahwa kita fokusnya pada pengembangan kemandirian. Minimal anak bisa hidup mandiri. Itu target dari guru-guru yang menangani tunagrahita,” jelas Azis kepada Validnews, Kamis (25/11).

Demikian juga situasi di masyarakat. Anak-anak tunagrahita umumnya dicap dengan sebutan yang kurang elok, seperti bodoh, bahkan idiot. Sebutan ini sekaligus menggambarkan cara pandang masyarakat yang masih penuh stigma terhadap anak tunagrahita.

Stigma turut membuat orang tua merasa malu. Akibatnya, anak itu kerap tidak boleh keluar rumah untuk bersosialisasi.  Lebih parah lagi, ada juga yang enggan menyekolahkan anaknya di SLB karena merasa malu.

Tidak heran, masih sangat sedikit atau hampir tidak ada orang maupun perusahaan yang ingin mempekerjakan tunagrahita. Padahal, banyak mereka yang berhasil lulus jenjang sekolah menengah atas (SMA).

“Yang SMA karena tunagrahita ini kita latih keterampilan dan vokasi. Tetapi ketika magang banyak perusahaan yang menolak. Sementara dari Kurikulum 2011 itu mereka harus magang,” ucap Azis bernada masygul.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER