Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|16:12 WIB

Pengambil Paksa Jenazah Terpapar Covid Akan Ditangkap

Kapolda NTT ingatkan, pelaku akan dijerat dengan pasal 212 sampai 218 KUHP serta pasal 93 UU 16 Tahun 2018 tentang karantina kesehatan.

Oleh: Rikando Somba

ImageIlustrasi sejumlah petugas dengan alat pelindung diri lengkap mengusung jenazah yang akan dimakamkan dengan protokol covid-19 di lokasi pemakaman khusus .ANTARAFOTO/Harmo

KUPANG – Siapapun yang berani mengambil paksa jenazah pasien covid-19 dari berbagai rumah sakit di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus ditangkap. Ini merupakan perintah Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur Irjen Pol Lotharia Latif kepada sejumlah kapolres di provinsi ini. Dia menekankan, tak ada toleransi terhadap tindakan pengambilan paksa itu.

"Kita tidak tolerir lagi dengan alasan apapun, kalau masih terjadi saya harus perintahkan Kapolres jajaran Polda untuk tangkap siapa saja yang berani ambil secara paksa jenazah pasien covid-10. Kita akan berikan hukuman sesuai hukum yang berlaku," katanya di Kupang, Kamis (22/7).

Kapolda Lotharia menekankan, pelaku pengambil jenazah pasien itu jika melakukan lagi maka sudah pasti akan dihukum dan dijerat pasal 212 sampai 218 KUHP serta pasal 93 UU 16 Tahun 2018 tentang karantina kesehatan. 

Dia menambahkan, saat ini keselamatan semua orang khususnya masyarakat NTT adalah segalanya, oleh karena itu jangan sampai emosional yang tinggi akhir mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Terhadap pengambilan jenazah yang sudah terjadi, polisi sedang melakukan pendalaman atas kasus-kasus itu. 

Ia menyesalkan, maraknya kasus pengambilan paksa jenazah pasien yang sudah terkonfirmasi positif covid wilayah ini, termasuk di RS Siloam di Kupang, beberapa hari terakhir. Bahkan, ada video pengambilan paksa jenazah pasien itu dilakukan oleh keluarga korban itu beredar luas di sejumlah media sosial, dan tersebar tidak hanya di NTT.

"Menurut saya, keselamatan rakyat adalah segalanya, jangan karena emosional melakukan pengambilan paksa," tegas komandan berbintang dua itu.

Pada saat sama, kepolisian juga memperketat penjagaan rumah sakit (RS) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk mencegah pengambilan paksa jenazah pasien terjadi lagi. 

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur Komisaris Besar Polisi Rishian Krisna, di Kupang, dikutip dari Antara, mengatakan  polisi akan menjaga ketat setiap RS rujukan penanganan covid-19 di Kota Kupang. Penjagaan ini, kata dia, untuk memberikan rasa aman masyarakat dan memediasi apabila terjadi persoalan dalam penanganan pasien covid-19.

 

Resah
Di Jakarta, Achmad Mustofa, salah satu tenaga pemakaman, mengaku keresahan saat berhadapan dengan masyarakat. Kerap, dia dipaksa pernah disuruh bertanggung jawab dunia-akhirat oleh keluarga jenazah pengidap covid-19 yang akan melakukan pemulasaraan.

Mustofa mengatakan, keluarga jenazah seperti tidak mau tahu dengan prosedur penanganan jenazah, ketika anggota keluarganya meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri.

"Kemarin di RW 05 ya, kami disuruh tanggung-jawab dunia akhirat," kata Mustofa saat ditemui wartawan di Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu.

Dia juga bercerita, keluarga jenazah ada yang  ingin petugas melakukan proses pemandian jenazah. Padahal standar prosedur operasional penanganan jenazah yang diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia itu cukup melakukan tayamum saja. 

Namun, menurut keluarganya, jenazah saat itu sedang masa nifas karena pernah keguguran. Jadi perlu melakukan mandi jenazah seperti halnya diatur dalam syariat Islam.

"Yang kami bisa (bantu) adalah tayamum. Sebelumnya kami sudah mempersilakan kepada pihak keluarga apabila memang mau memandikan jenazah, akan kami pakaikan alat pelindung diri (APD) tapi mereka tidak mau," tuturnya.

Untungnya, saat itu muncul seorang ustadz di Dewan Masjid Indonesia yang bisa mencerahkan dan menenangkan pihak keluarga sehingga keluarga bisa menerima jenazah hanya dilakukan tayamum saja.

Sementara, Lurah Sunter Agung Danang Wijanarka mengatakan, petugas pemulasaraan jenazah covid-19 sudah menerima pelatihan sebanyak dua kali dari Kepala Satuan Pelaksana Suku Dinas Kesehatan Tanjung Priok dan dari Puskesmas Tanjung Priok.

"Pelatihan pertama diadakan pada 29 Juni, sedangkan pelatihan kedua pada 5 Juli," ujar Danang.

Dia merincikan, jumlah petugas pemulasaraan jenazah terinfeksi corona di Kelurahan Sunter Agung saat ini terdiri dari 39 orang. 

Mereka adalah 10 petugas PPSU dan 10 lainnya adalah warga yang berasal dari Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Karang Taruna, dan Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kelurahan Tanjung Priok.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER