Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|14:36 WIB

Orang Tua Diminta Dampingi Anak Berselancar Di Internet

Saat pandemi akses internet tinggi. Bahaya intip anak akses internet

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageOrang tua dampingi anaknya belajar daring. ANTARAFOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA – Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, meminta orang tua selalu mengawasi dan mendampingi anak saat berselancar di internet. Terutama masa pandemi saat ini, di mana intensitas penggunaan internet meningkat karena belajar dari rumah (BDR).

"Ketika aktivitas berinternet semakin banyak, semakin intensif dilakukan anak-anak sejak usia dini, tentu banyak pula risiko yang dihadapi anak-anak kita," ujar Jumeri dalam Webinar 'Keamanan Anak di Dunia Digital Selama Belajar dari Rumah', Kamis (22/7).

Menurut Jumeri, pesatnya perkembangan teknologi informasi bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan akses informasi yang dapat dengan mudah, murah, dan cepat didapat Di sisi lain, ada banyak dampak negatif yang mengiringinya.

Antara lain, maraknya informasi bohong atau hoaks, mudahnya mengakses pornografi, perundungan melalui media daring atau cyberbullying. Kemudian, konten-konten yang tidak sesuai dengan usia anak, dan kemudahan berinteraksi dengan orang asing.

"Melihat kondisi tersebut, sejatinya orang tua dan anak harus bekerja sama agar dapat bertanggung jawab memilah dan memilih informasi yang layak bagi anak," ujar Jumeri.

Dia menuturkan sebanyak 34% atau sekitar 80 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak. Mereka dianggap sebagai generasi digital native karena lahir ketika teknologi sangat berkembang untuk mempermudah kehidupan dalam aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, perlu dibangun kesadaran diri untuk memilih informasi yang boleh diakses dan diambil untuk menghindari kejahatan di dunia maya. Cyberbyllying, kata Jumeri, bisa terjadi pada siapa saja karena tidak mengenal waktu, profesi, atau usia.

"Penting peran orang tua dalam proses belajar anak-anak secara daring dari rumah. Anak kita harapkan menjadi lebih peka terhadap segala bentuk kejahatan di media sosial dan dapat terhindar dari risiko-risiko kejahatan di dunia maya," pungkas Jumeri.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani menuturkan, literasi digital menjadi kunci dan fondasi utama menghadapi perkembangan teknologi. Ini adalah aspek yang niscaya dibutuhkan untuk transformasi digital.

Sebagai tingkat paling dasar, literasi digital merupakan kemampuan paling krusial untuk tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga untuk cermat dalam menggunakannya. Sayangnya, literasi digital masyarakat Indonesia sampai saat ini belum baik.

Pada 2020, Kemenkominfo melakukan survei status literasi digital nasional mengacu pada kerangka literasi digital milik UNESCO. Survei tersebut menemukan bahwa indeks literasi digital masyarakat Indonesia berada pada angka 3,47 dari skala 1 sampai 4.

"Hal itu menunjukkan bahwa indeks literasi digital kita hanya ada pada sedikit di atas tingkat sedang, namun belum mencapai tingkat baik. Untuk mencapai tingkat literasi yang baik, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri," ungkap Semuel.

Inisiatif berbagai stakeholders diperlukan untuk meningkatkan indeks literasi digital masyarakat. Terlebih, menurut dia, dalam keadaan normal baru saat ini maupun pasca pandemi nanti proses digitalisasi di berbagai aspek kehidupan akan semakin cepat.

"Kita harus mempersiapkan SDM kita dengan keterampilan digital yang sesuai untuk menghadapi perubahan ini," urai dia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA