Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

20 September 2021|21:00 WIB

Narasi Getir Penjaga Seni

Ekonomi jadi penghambat. Idealisme terkendala perubahan zaman

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageSeni wayang orang Bharata Purwa. Sumber foto: Dok.Pribadi

JAKARTA – Setelah belasan tahun pentas di Gedung Wayang Orang Bharata, aktivitas rutin Kartika Fitri Amprianti (23) mesti berhenti. Kegiatan seni pertunjukan yang dia lakoni bersama teman-teman di tempat itu dilarang untuk dilakukan. Bila bandel, virus SARS-CoV-2 atau covid-19 bisa merasuki badan. Tentu ini bahaya, buat dirinya dan orang lain.

“Semua pentas di panggung ditunda sampai tahun depan,” urai perempuan yang biasa disapa Fitri menjawab pertanyaan Validnews, Minggu (19/9).

Fitri rindu untuk kembali datang dan menari di gedung yang tak sampai ratusan langkah jauhnya dari Terminal Senen, Jakarta Pusat itu. Meliukkan badan sesuai alunan gamelan Jawa menjadi kebiasaan yang dirindukan. Larut menjadi tokoh perempuan ayu di kisah Ramayana maupun Mahabarata adalah lakon yang biasa dijalaninya. 

Dia menuturkan, pentas wayang orang kelompok Bharata Purwa di gedung itu digelar tiap pukul 20.00 WIB di Sabtu malam. Tersedia 280 kursi penonton di dalam ruang dengan pendingin udara. Adapula running text buat penonton yang tak memahami Bahasa Jawa. Pentas di gedung itu memang menggunakan Bahasa Jawa. 

Sementara hari-hari lain, anggota kelompok wayang orang, datang ke gedung itu untuk berlatih.

Dia dan anggota kelompok wayang orang ini, tak jerih pentas. Meski terkikis oleh zaman. Kini, makin berat saat pandemi datang.

Fitri berharap pentas bisa dipercepat waktunya. Agar kesenian yang dilupakan orang, tak lagi punya tempat.

“Tanpa pentas, latihan pun tidak ada,” sambung dia.

Pernah, saat awal pandemi, dengan bantuan perusahaan pelat merah dan salah satu kanal televisi dunia, pentas itu dibuat secara streaming. 

Persiapan untuk pentas melalui aplikasi Zoom ini digarap sebulan. Tepat, 27 Juni 2020, mereka menyelenggarakan pertunjukan virtual dengan lakon, Sirnaning Pageblug, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Hilangnya Bencana’.

Lakon ini dimainkan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan pada masa pandemi. Para aktor yang terlibat memainkan perannya dari rumah masing-masing dengan dibantu oleh dua sampai tiga teknisi yang mengerjakan proses digitalnya. 

Meski sempat mengalami kendala teknis dalam siaran langsung, pertunjukan ini digelar dari awal sampai akhir dan disaksikan oleh lebih dari 1.000 penonton. Lumayan, kan

Kemudian, kelompok ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pertunjukan wayang orang daring pertama di Indonesia yang ditayangkan secara langsung melalui Zoom.

Penerus Langkah
Kepedulian Fitri dan teman-teman di kelompok ini masih menyala. Slogan ‘Langgengmu adalah harapanku. Lestarimu adalah tanggung jawabku’, diusung kelompok ini. Meski tantangan tak ringan untuk dihadapi.

Fitri tak pernah membayangkan, tantangan yang dihadapi pelaku seni tradisional begitu hebat. Apalagi di kota besar seperti Jakarta. Saat dia memilih menjadi penari, dia hanya punya modal suka dan orang tua. Ayah Fitri, Teguh ‘Kenthus’ Ampiranto kini Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata Purwa.

Selagi muda, dia dan istrinya adalah penari di gedung pentas itu. Ketika Fitri lahir dan besar, kerap mereka bawa anaknya itu latihan di gedung dari rumah mereka di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Tak hanya saat latihan Fitri melihat orang tuanya dan anggota kelompok seni ini berlatih. Saat pentas pun dia kerap hadir. 

Lama-kelamaan, Fitri pun tertarik untuk menari dan memerankan tokoh di pementasan wayang orang. Saat sekolah dasar, Fitri mulai mengikuti latihan menari wayang orang. Pentas kali pertama baginya adalah memerankan tokoh perempuan.

Sejak itu, Fitri menampik gengsi untuk tampil di panggung itu. Begitu juga dengan teman-teman sebaya di lingkungan perumahan yang sama. Sesama anak-anak penari maupun anak dari wiyaga.

Fitri dan teman-teman ingin terus menjadikan seni wayang orang seperti nila dalam belanga seni moderen seperti saat ini dan nanti. Meski, harus menjadi pelaku seni wayang orang, diakui Fitri, bukanlah hal yang mudah. Tantangan paling berat para pemeran wayang orang adalah kondisi perekonomian yang minim.

Dia mengakui, melakoni profesi seniman wayang orang tak dapat menopang perekonomian keluarga para pemain. Kendati, tiap kali pentas, para pemain mendapatkan sejumlah uang. Namun, lebih kecil pasak ketimbang tiang. Karena itu, keluarga pemain mencoba menutupi kekurangan dengan ragam pekerjaan maupun usaha. Seperti berdagang, ataupun menjadi ojek online atau menjadi juru parkir. 

Sikap gigih Fitri, ditunjukkan pula oleh mereka yang lebih senior dari dirinya. Seperti Undung Wiyono (58) yang telah pentas di tempat itu sejak 1984. 

Pendapatan kecil tetap dia terima. Dia berkeras, tak surut langkah untuk berhenti pentas dan memilih pekerjaan lain. “Saya beruntung, diangkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud), meski harus menunggu lama,” terang dia pada Validnews, Minggu (19/9).

Undung pun salut dengan keteguhan hati pelaku seni wayang orang di kelompok itu. “Ini hanya sebagai kewajiban dedikasi, sebuah kemewahan yang tak dapat diukur,” kata Undung.

Masalah himpitan ekonomi pun diakui oleh ayah Fitri. Pria paruh baya yang akrab disapa Kenthus ini mengaku, hampir setiap hari, keluhan masalah keuangan terus terdengar.

Dia bersama rekan-rekan pengurus putar otak menyiasati masalah itu. Dia mengungkapkan, Paguyuban Bharata Purwa mendapat anggaran dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Akan teapi, anggaran itu terlalu mepet. Justru mereka mencari anggaran sendiri yang lebih besar dari anggaran pemerintah.

Bila ada permintaan untuk melakukan pentas di tempat lain, Teguh melakukan tawar menawar harga. Hasil pentas itulah sebagian dibagikan kepada para pemain. Sisanya, disimpan sebagai kas paguyuban.

Kelak, uang kas itu akan digunakan untuk membantu para anggota kesulitan. Contohnya, bila ada yang anggota sakit dan tak mampu membayar perawatan medis, uang tersebut akan diberikan sebagai bantuan. Begitu juga, bila anggota kesulitan untuk membayar uang sekolah anaknya.

Menurut Kenthus, wayang orang bisa saja mendatangkan profit yang besar. Asal, pertunjukan itu disajikan mengikuti tren saat ini. Misalnya, menggabungkan pakaian wayang orang dengan gaya zaman sekarang agar terlihat unik. Ditambah lagi, menyisipkan sejumlah adegan humor di dalamnya.

Seni wayang orang Bharata Purwa. Sumber foto: Dok.Pribadi 

 


Bahkan, konsep itu pun pernah ditawarkan oleh salah satu program acara di stasiun tv swasta. Tapi itu tak menjadi pilihan.  

“Kami tidak berani asal-asalan karena sudah mendarah daging. Takutnya, janji kita mengabdi luhungkan pagelaran itu menjadi hilang. Harus kami jaga baik warisan budaya ini,” kata Kenthus.

Sikap Kenthus didukung Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi. ”Mengembangkan seni tradisi ini, sangat bergantung dengan campur tangan pemerintah,” kata Bambang pada Validnews, Senin (20/9).

Kata Bambang, sebagai aset warisan kebudayaan Indonesia, seluruh seni harus mendapatkan perhatian khusus agar tetap terjaga kelestariannya. Setidaknya, pemerintah bisa memberikan bantuan dalam bentuk anggaran.

Lalu, mempromosikan kesenian tradisi ini ke negara-negara tetangga, adalah hal yang  semestinya dilakukan. Setidaknya, para wisatawan luar negeri yang berkunjung ke DKI Jakarta, bisa mengetahui soal seni warisan budaya Indonesia, termasuk seni wayang orang Bharata Purwa. Tujuannya, agar seni tradisi ini terlestarikan dengan baik.  

Dia mengakui seluruh pelaku seni tradisi ini hanya mengandalkan dari pendapatan dari komunitas tertentu. Artinya, tidak banyak pendapatan yang bisa diperoleh para seniman untuk mencukupi biaya hidup.  

“Apalagi ini seni tradisi ini merupakan aset masa lalu dan harus tetap terjaga,” kata Bambang.

Menurut Bambang, DKJ berupaya untuk menjaga seluruh seni tradisi tetap eksis. Meski, DKJ lebih mengurusi soal perkembangan kesenian kontemporer. Namun, kedua kesenian itu saling terikat. Apalagi, seni tradisi merupakan referensi perkembangan kesenian lainnya.

Sikap optimistis DKJ tak selaras dengan fakta sulitnya regenerasi. Banyak faktor jadi sebab menurut Undung, seperti kendala bahasa, menarik minat, dan dukungan dari orang tua.

Menurut dia, banyak orang tua saat ini, tak lagi membiasakan anak-anak untuk menggunakan bahasa daerah. Orang tua kebanyakan hanya memperkenalkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. 

Sulit juga buat generasi saat ini untuk memahami betul budaya dalam negeri. Akibat, lanjut Undung, jika semua masalah tak diatasi, seni wayang orang akan hilang.

Makanya, Undung dan rekan-rekannya tetap berusaha. Setidaknya, untuk menarik minat generasi muda berkecimpung ke dunia seni wayang orang, mereka mengemas pertunjukan seni ini menjadi lebih praktis. Salah satunya, memangkas durasi pertunjukan. 

Dulu, waktu pertunjukan bisa bertahan hingga lima hingga enam jam. Namun, sekarang mereka membuat waktu pertunjukan hanya selama satu setengah jam. Ini salah satu cara agar generasi muda mau tertarik dan bertahan untuk menonton ketika pertunjukan dimulai.

“Kami harus bisa menjembatani seni ini agar dilirik generasi muda. Bagaimana menggunakan membuat sederhana tanpa mengurangi estetiknya,” tambah Undung. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER