Merawat Pohon, Mengelakkan Petaka | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

19 November 2021|21:00 WIB

Merawat Pohon, Mengelakkan Petaka

Pohon di perkotaan tak lagi merepresentasikan estetika. Selain membersihkan udara, keberadaannya memengaruhi tingkat kebahagiaan warga

Penulis: Seruni Rara Jingga,

Editor: Leo Wisnu Susapto

Merawat Pohon, Mengelakkan PetakaPetugas Distamhut DKI Jakarta melakukan pemangkasan dahan pohon yang menjorok ke badan jalan. Validnews/Seruni Rara Jingga

JAKARTA – Waktu menunjukkan pukul 9.30 pagi itu. Pelbagai jalan di Jakarta sudah dipadati kendaraan berlalu-lalang. Salah satunya, adalah kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Hari itu, Kamis (18/11) kemacetan di kawasan itu bertambah. Ada penyempitan pada salah satu ruas jalan.

Bising suara klakson kendaraan seolah mewakili kekesalan para pengemudi yang protes karena jalan macet.  Adapun penyebab kemacetan adalah ditutupnya jalur lambat karena petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta tengah melakukan kegiatan yang sejatinya juga penting. 

Penutupan jalur lambat dilakukan karena petugas tengah memangkas bagian pohon-pohon yang menggantung ke arah jalan.  Jika jalur tak ditutup, bisa jadi pemotongan justru terganggu. Sebaliknya jika jalan dibuka, bisa jadi ranting dan dahan pohon malah jatuh menimpa pengendara atau kendaraannya. 

Agenda itu tidak tiba-tiba dilakukan. Belum lama berselang, tak jauh dari tempat itu, dua pohon beringin tua setinggi 10 meter tumbang karena angin kencang pada Selasa (11/11) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Peristiwa tersebut menyebabkan 17 sepeda motor dan dua mobil rusak tertimpa batang pohon. Dua orang mengalami luka dan sebuah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) juga rusak berat.

Musim Hujan
Mendengar bisingnya klakson dan teriakan para pemakai jalan, para petugas yang dipimpin Jumadi, tak terpengaruh. Bertujuh mereka tetap fokus memangkas pepohonan berjenis Trembesi atau yang nama latinnya adalah Samanea Saman. Sesekali, salah satu dari petugas ini mengarahkan pengendara, agar tak memaksakan diri melintas di jalur yang ditutup.

Pagi itu, ada empat pohon trembesi akan dipangkas dahan-dahannya. Mobil skywalker pun merapat di salah satu pohon untuk mempermudah proses pemangkasan. Seorang petugas di atas skywalker dengan cekatan memangkas ranting-ranting pohon yang lebat menggunakan gergaji mesin. Yang jadi sasaran utama adalah ranting-ranting pohon yang menjorok ke badan jalan agar tak membahayakan keselamatan pengguna jalan. 

Tidak hanya itu, cabang yang sudah tua, kering dan ranting yang saling tumpang tindih juga dipangkas Jumadi dan teman-teman. Pada saat sama, dua orang petugas mencacah ranting dan dahan. Daun-daun juga dipisahkan, agar semuanya bisa muat ke dalam truk.

Butuh waktu sekitar tiga hingga empat jam untuk melakukan kegiatan pemangkasan, mengingat pohon-pohon yang ada begitu lebat.

Jumadi menguraikan, frekuensi pemangkasan dilakukan lebih banyak di musim penghujan. Dalam sehari, rata-rata timnya bisa memangkas pohon hingga tiga titik lokasi, dari yang sebelumnya hanya sekitar satu titik lokasi saja.  Tak hanya pemangkasan, mereka juga menangani pohon yang tumbang. 

Jika ranting dan dahan dari pemangkasan tak dimanfaatkan, sebaliknya dari evakuasi batang pohon yang tumbang biasanya masih bisa digunakan. Kayu-kayu itu akan dibawa ke gudang penyimpanan kayu yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kepala Bidang Jalur Hijau Distamhut DKI Jakarta, Firdaus Rasyid menguraikan, batang-batang pohon sisa penebangan biasanya dimanfaatkan kembali oleh Distamhut DKI Jakarta untuk keperluan fasilitas di taman.   Misalnya, membuat meja dan kursi seperti di Taman Tomang.

"Selain itu, dimanfaatkan juga untuk membuat permainan anak seperti congklak, catur, dan sebagainya," kata Firdaus kepada Validnews, Selasa (16/11).

Selain Jumadi dan timnya, total personil yang bertugas melakukan pemangkasan pohon di Distamhut Jakarta ada 51 orang. Jumlah ini belum termasuk tim di masing-masing suku dinas dan tiap kecamatan.

Saban harinya, tim ini juga berkeliling melakukan pemantauan dan melaporkan pohon-pohon mana saja yang perlu dipangkas karena sudah terlalu tinggi atau lebat. Pemangkasan juga dilakukan berdasar aduan masyarakat.

USG Pohon
Selain memangkas, dan membentuk pohon,  tindakan lain untuk mencegah pohon tumbang adalah dengan menggunakan alat USG tanaman. Ini dilakukan sama halnya dengan alat USG untuk melihat bayi dalam perut ibu hamil, USG tanaman dapat mengetahui kondisi struktur batang pohon yang mulai rapuh. 

Apabila ditemukan kondisi batang pohon yang rusak, misalnya terdapat keropos atau batang berongga lebih dari 30%, pohon masuk dalam kategori rawan tumbang dan perlu ditebang agar tidak membahayakan. Untuk memastikan pohon di perkotaan tegak dan tidak membahayakan dan tidak mudah roboh, pemilihan jenis pohon juga harus diperhatikan. 

Secara umum, kriteria pohon yang tetap dirawat harus mempunyai batang yang kuat dan akar tunggang atau sifat akarnya tidak merayap. Pemilihan jenis pohon harus disesuaikan dengan lokasi penanaman. Ruang terbuka hijau (RTH), jalur hijau atau bantaran kali membutuhkan jenis pohon yang berbeda.

Di jalur hijau, jenis pohon diupayakan merupakan pohon yang tidak memiliki buah yang bisa dimakan. Tujuannya, agar tidak menarik orang untuk memetiknya. Selain itu, pohon berbuah juga dikhawatirkan dapat menjatuhi kendaraan yang melintas di jalan.

"Kalau di RTH seperti taman tidak masalah ada pohon berbuah, karena space-nya lebih luas dan tidak ada aktivitas rutin orang lewat di situ," terang Firdaus.

Pohon di pinggir jalan diupayakan adalah tanaman yang berbunga indah. Kriteria lainnya adalah berdaun lebat, berbunga, batangnya cukup kuat dan perkaraannya tidak merusak struktur bangunan. Yang jadi pilihan, diantaranya adalah pohon spathodea, bungur, tabebuya, kamboja, dan lain-lain.

Ada juga jenis pohon yang harus disesuaikan karena kondisi tanahnya mengandung kadar air yang lebih tinggi. Di bantaran kali misalnya, maka jenis pohon yang ditanam seperti Flamboyan dan Loa.

Sepanjang Januari hingga Oktober 2021 ini, Distamhut DKI Jakarta telah melakukan pemangkasan sebanyak 87.779 pohon. Titik lokasi pemangkasan berada di ruang terbuka hijau di seluruh wilayah administrasi Kota Jakarta.

Frekuensi kegiatan pemangkasan lebih gencar dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober 2021, mencapai 27.921 pohon. Pasalnya, periode tersebut merupakan musim penghujan dan pohon lebih rawan tumbang saat terjadi hujan lebat yang diiringi angin kencang.

"Kegiatan pemangkasan dilakukan untuk mengantisipasi kejadian pohon tumbang pada musim penghujan," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Ivan Murcahyo kepada Validnews, Kamis (19/11).

Sementara itu, pada Januari hingga Oktober 2021 sebanyak 5.400 pohon telah dilakukan pengecekan kondisi kesehatan. Yang diperiksa mulai dari perakaran, kondisi batang, kemiringan hingga kondisi tajuk. Hal ini dilakuan untuk mengetahui kondisi kesehatan dari pohon, khususnya yang ada di jalur hijau.

Lantas, bagaimana jika ada warga menjadi korban pohon tumbang? Yang bersangkutan tetap peroleh haknya. Si individu, terang Ivan, bisa mengajukan klaim santunan asuransi pohon tumbang kepada Distamhut Jakarta. Klaim santunan asuransi tersebut berlaku untuk korban manusia, kerusakan kendaraan dan kerusakan bangunan. Besaran santunan asuransi maksimal Rp50 juta untuk korban meninggal dunia dan maksimal Rp25 juta untuk kerusakan kendaraan maupun kerusakan bangunan. 

Rencana Induk
Intensifnya kegiatan perawatan pepohonan di DKI, sudah dipaparkan oleh para pimpinan Distamhut. Namun, menurut Ahli Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga  itu belum menunjukkan keseriusan dari Distamhut DKI Jakarta dalam mengelola pepohonan.

Nirwono menyarankan agar Dinas ini segera menyusun rencana induk pengelolaan pohon. Rencana induk memuat rencana registrasi pohon, program pemeliharaan pohon, dan asuransi pohon untuk menjamin kesehatan pohon dan keselamatan warga jika ada yang tertimpa pohon.

Adapun program pemeliharaan pohon meliputi pemantauan, perawatan, pengobatan, pemangkasan, penyilaman atau penanaman baru, hingga penebangan jika sakit, mati atau hampir tumbang.

"Hingga saat ini belum banyak perubahan sampai dengan sekarang, meski saya sudah sampaikan hal itu ke berganti-ganti kadistamhut, sejak tahun 2000," ujar Nirwono saat berbincang dengan Validnews, Kamis (19/11).

Penanaman pohon juga harus dilakukan dengan selektif, disesuaikan dengan media tanam dan lokasi penanaman. Apa yang ditanam di taman, median jalan, bantaran kali, dan tepi pantai atau daratan tak sama. Pohon-pohon itu juga harus dirawat dengan profesional.

Karena tidak ada rencana induk pengelolaan pohon, ujar dia, pemantauan kondisi pohon tidak efektif. Akibatnya, masih ada kejadian pepohonan yang tumbang di Jakarta.

Rencana induk pengelolaan pohon juga memuat panduan perawatan pohon, termasuk teknik pemangkasan dan tenaga perawat pohon profesional. Nirwono mencontohkan, tenaga perawat pohon di luar negeri seperti Singapura bahkan harus memiliki sertifikat.

"Tanpa rencana induk, hasilnya pemangkasan pohon di Jakarta tidak terencana baik. Bahkan, terkadang dipangkas habis," tukasnya. 

Belakangan, peran pepohonan bukan lah didominasi unsur estetika. Penelitian membuktikan, pohon adalah salah satu penyerap dan penyimpan karbon yang efektif. Walaupun, pohon hanya bagian kecil dalam salah satu cara hadapi krisis iklim. 

Pepohonan yang berada di dalam kota juga dapat membantu untuk mengurangi polusi udara, menyejukkan kota, membantu regulasi air, dan memberikan ruang rekreasi bagi masyarakat kota. 

Di beberapa penelitian lain, keberadaan pohon dalam kota dapat berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan masyarakat perkotaan. 

Pada satu diskusi virtual, akhir April 2021, Kepala Distamanhut DKI Jakarta, Suzi Marsitawati menyampaikan, di Jakarta,  ada sekitar 4,7 juta pohon yang tersebar di lahan seluas 19.800 hektare (ha) serta 30% di ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Meski terbilang banyak,  Suzi mengakui itu belum lah cukup. 

Ibu Kota Jakarta butuh setidaknya 5,5 juta pohon. Menurut kalkulasi Distamhut, itu disesuaikan dengan idealnya persentase lahan. Tiap satu pohon diasumsikan mewakili ruang  36 meter persegi (m2). 

Nah jika Anda warga kota Jakarta dan suka dengan tanam-menanam atau lingkungan yang asri hijau, sangat terbuka untuk berkontribusi menyegarkan kota ini. Ayo, kita mulai menanam pohon di halaman masing-masing, setidaknya. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER