Selamat

Rabu, 22 September 2021

26 Juli 2021|20:34 WIB

Menkes: 63 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Disuntikkan

18,1 juta orang yang sudah mendapat suntikan dosis kedua

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImagePetugas memeriksa kesehatan peserta vaksinasi anak di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (26/7/2021). ANTARA FOTO/Irfan Anshori

JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebanyak sekitar 63 juta dosis vaksin covid-19 sudah disuntikkan. Terdiri dari 44,7 juta orang sudah mendapat dosis pertama, dan 18,1 juta orang yang sudah mendapat suntikan dosis kedua.

"Kami memberi prioritas vaksinasi ini berbasis risiko. Provinsi-provinsi yang kasus aktifnya tinggi akan kita berikan lebih banyak. Yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali," ungkap Budi dalam telekonferensi, Senin (26/7).

Dia mengatakan, seluruh provinsi di Jawa dan Bali juga mencatat kasus yang harus dirawat di rumah sakit dan kasus meninggal dunia paling banyak. Vaksin pun diprioritaskan untuk kelompok masyarakat lanjut usia dan yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Pemerintah terus mendatangkan stok vaksin agar kecepatan vaksinasi per hari dapat terus meningkat. Total vaksin yang diterima bulan ini mencapai 30 juta dosis, sedangkan yang akan diterima pada Agustus mendatang direncanakan sebanyak 45 juta dosis.

"Saya memahami semua daerah sekarang sudah semangat untuk menyuntikkan vaksin. Kami akan berusaha memenuhinya. Sampai sekarang, akhir bulan Juli, akan datang sekitar 8 juta vaksin Sinovac dan 4 juta vaksin AstraZeneca," ujarnya.

Budi menuturkan 45 juta dosis vaksin covid-19 yang akan datang bulan depan terdiri dari vaksin merek Sinovac, AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer. Pemerintah daerah diminta bersabar menunggu suplai vaksin tiba untuk didistribusikan ke setiap daerah.

Kebutuhan Oksigen
Selain vaksin, pemerintah juga melakukan pengadaan oksigen medis untuk rumah sakit maupun tempat isolasi terpusat. Diketahui bahwa kebutuhan oksigen medis melonjak sejak Hari Raya Idulfitri dari 400 ton per hari menjadi 2.500 ton per hari.

Budi mengungkapkan lonjakan ini membuat industri dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan karena kapasitas produksi hanya mencapai 1.700 ton per hari. Impor oksigen konsentrator dianggap sebagai cara paling mudah untuk mengatasi masalah ini.

"Jadi kami menghilangkan kebutuhan tabung yang besar-besar, kami menghilangkan kebutuhan transportasi logistik yang juga susah, kami juga menghilangkan kebutuhan pabrik-pabrik oksigen besar yang harus kita bangun dengan cepat," kata dia.

Setiap seribu alat oksigen konsentrator dapat menghasilkan sekitar 20 ton oksigen per hari. Indonesia sudah menerima donasi sekitar 17 ribu unit oksigen konsentrator dari luar negeri. Pemerintah sendiri berencana mengimpor sebanyak 20 ribu unit.

"Nanti akan kami distribusikan ke seluruh rumah sakit dan tempat isolasi agar orang yang membutuhkan oksigen, yang positif, bisa menghirup oksigen yang dihasilkan oleh oksigen konsentrator ini," imbuhnya.

Pemerintah juga memaksimalkan kapasitas ekstra dari pabrik-pabrik oksigen medis dalam negeri untuk memproduksi oksigen likuid. Serta kapasitas ekstra dari pabrik lain seperti pengolahan baja, pabrik pengolahan nikel, dan pabrik produsen pupuk.

"Mereka memproduksi oksigen di dalam negeri, itu nanti yang akan kita tarik dan kita akan distribusikan ke seluruh provinsi. Mudah-mudahan oksigen ini bisa kita distribusikan ke seluruh rumah sakit yang ada," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER