Menggugah Peran Media Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

25 November 2021|20:37 WIB

Menggugah Peran Media Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan

Media harus untuk mengubah narasi pemberitaan yang lebih berperspektif pada korban

Oleh: Faisal Rachman

Menggugah Peran Media Cegah Kekerasan Terhadap PerempuanPara panelis dalam diskusi “Ubah Narasi: Peran Media dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan”, Kamis (25/11) dok. Ist

JAKARTA – Media massa dinilai memiliki peran yang krusial dalam mengampanyekan pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Di antaranya lewat peliputan yang berperspektif korban serta dalam mempromosikan norma positif yang mendukung pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

“Konten berita media dapat berkontribusi dalam menormalisasi kekerasan terhadap perempuan dan seksisme. Media memainkan peran penting dalam menyampaikan pesan kesetaraan gender,” ujar Jamshed M. Kazi, UN Women Representative and Liasion to ASEAN dalam diskusi daring bertajuk “Ubah Narasi: Peran Media dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan”, Kamis (25/11).

Diskusi yang digelar untuk memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan tersebut diselenggarakan Yayasan Care Peduli (YCP) bersama Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Acara ini bertujuan untuk membuka diskurus terkait peran media dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Bonaria Siahaan, CEO Yayasan Care Peduli menegaskan bahwa CARE memiliki visi untuk menciptakan dunia yang memberikan harapan, bersifat inklusif dan berkeadilan yang semua orang dapat hidup bebas dari kemiskinan, bermartabat dan memiliki rasa aman.  

"Kekerasan terhadap perempuan jelas bertentangan dengan visi tersebut, karena mana mungkin seseorang dapat hidup dengan aman dan bermartabat apabila masih mengalami kekerasan dan hidup di bawah ketakutan,” ucapnya.

Jamshed melanjutkan, pemberitaan media yang lebih bertanggung jawab dan lebih luas, mungkin tidak akan mengakhiri atau menyelesaikan masalah kekerasan terhadap perempuan. Pasalnya, hal ini membutuhkan keterlibatan dari seluruh masyarakat.

“Namun, peran media tetap penting untuk meningkatkan kesadaran, melawan misinformasi, menanamkan lebih banyak kepercayaan bagi para penyintas dan mendorong respons publik - terutama di antara pembuat kebijakan, akademisi, influencer, dan penyedia layanan,” lanjutnya.


Kekerasan Meningkat
Bintang Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memaparkan, sejumlah fakta dan data menyebutkan, 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan, non-pasangan, atau keduanya, setidaknya sekali dalam hidupnya. Serupa dengan kondisi global, 1 dari 3 perempuan Indonesia berusia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual atau keduanya dalam hidupnya.

“Indonesia yang aman bagi perempuan tidak akan tercipta tanpa dukungan dan sinergi dari seluruh pihak, khususnya media. Dalam hal ini, kami sangat berharap media bisa menjalankan kode etik pemberitaan yang ramah perempuan, serta mulai mengembangkan kebijakan media untuk mendorong pencegahan kasus kekerasan terhadap perempuan,” jelas Bintang.

Veryanto Sitohang, Komisioner Komnas Perempuan menambahkan, dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% (hampir 800% atau 8x lipat). Dalam kurun waktu 10 tahun (2010–2019), jumlah kekerasan terhadap perempuan tercatat sebanyak 2.775.042 kasus.

Artinya ada 760 kasus per hari atau 31 kasus per jam. Kemudian, sepanjang 2011-2020, tercatat kekerasan seksual di ranah privat dan komunitas 49.643 kasus. Menurutnya, fenomena kekerasan adalah seperti gunung es, dimana jumlah yang sebenarnya dapat lebih besar dari yang dilaporkan.

“Dapat diartikan juga bahwa dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan Indonesia jauh mengalami kehidupan yang tidak aman,” serunya.

Ia melanjutkan, kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi juga tercatat meningkat. Berdasarkan Catatan Tahunan 2021, pengaduan melalui Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan meningkat, menjadi 2.389 kasus, dengan catatan 2.341 kasus berbasis gender.

“Dari Januari hingga Oktober 2021, tercatat kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi sebanyak 4.711 kasus,” imbuhnya.

Selain itu, dalam data pengaduan langsung ke Komnas Perempuan, tercatat kenaikan yang cukup signifikan, yakni pengaduan kasus cybercrime 281 kasus (2018 tercatat 97 kasus) atau naik sebanyak 300%. Kasus siber terbanyak, berbentuk ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno korban.

 

Ubah Narasi
Dalam desakan kepada media untuk mengubah narasi pemberitaan yang lebih berperspektif korban, Veryanto bilang, peran media menjadi sangat strategis. “Kehadiran media dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan akan berkontribusi dalam mendekatkan hak korban atas keadilan, perlindungan dan pemulihan, khususnya melalui pengesahan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual," tuturnya.

Devi Asmarani, Co-founder dan Editor-in-chief Magdelene.co pun menyatakan, pemberitaan yang baik dan akurat dapat membantu menjadi katalis untuk perubahan yang positif dan membantu mengakhiri manifestasi dari sistem patriarki termasuk budaya perkosaan.

“Masih banyak pekerjaan rumah untuk memperbaiki kinerja media dalam hal ini,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, Cresti Fitriana, National Project Officer Communication and Information, UNESCO Jakarta, juga mempresentasikan informasi dan sumber bagi jurnalis dan media profesional dari publikasi "Pelaporan Kekerasan pada Perempuan: Panduan untuk Jurnalis". Hal tersebut mencakup standar bagi jurnalis dalam peliputan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Menurutnya, sekalipun pemberitaan tentang kekerasan berbasis gender telah cukup banyak, bahkan meningkat terutama sejak pandemi covid-19, namun ada hal yang dinilainya masih kurang diulas.

“Salah satunya adalah keterkaitan antara kekerasan terhadap perempuan dengan seksisme dan ketidaksetaraan gender. Kedua hal ini menjadi akar masalah masih terjadinya terhadap perempuan," tuturnya.

"Itulah mengapa tajuk pembahasan diskusi ini adalah "Ubah Narasi", dimana media sebagai potret dari kondisi sosial masyarakat mempunyai power yang sangat besar untuk menjangkau, mengedukasi dan membentuk opini yang diharapkan dapat mengubah perspektif akan kekerasan terhadap perempuan," tambah Bonaria.

Sementara itu, Lola Amaria, Produser Film dan Figur Publik mengatakan, di luar kekuatan media yang sangat signifikan, kita sebagai individu juga memiliki peran yang tak kalah penting.

“Dimulai dari diri sendiri, apa yang dapat dilakukan, kemudian dengan kelompok kecil dan di tempat kerja. Contohnya dalam pembuatan film, setiap kru dan artis yang bekerjasama dengan saya harus menyetujui kontrak kerja dimana terdapat pasal yang melindungi hak-hak perlindungan perempuan, termasuk sanksi jika terjadi pelanggaran," tegasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA