Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

01 Oktober 2021|20:48 WIB

Menakar Kesehatan Jiwa Si Penebar Tawa

Kekhawatiran tak bisa mengocok perut penonton, kerap jadi pemicu pelawak mengonsumsi narkoba, bahkan mengakhiri hidupnya

Penulis: Gisesya Ranggawari,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi seorang perempuan mengalami depresi. Ist

JAKARTA – Sekitar 2014, dunia dikejutkan dengan kabar meninggalnya Robin Williams, komedian sekaligus aktor di Amerika Serikat. Dia memilih menyudahi hidupnya sendiri. Belakangan, publik mengetahui alasan dari tindakan tersebut.

Depresi yang lama melanda, itu yang masyhur terdengar ke telinga khalayak. Namun, banyak yang tak percaya, mengingat mendiang kerap tampil ceria dalam setiap film dan di hadapan publik.

Nyatanya, Komedian Hollywood yang mengalami depresi tak cuma Robin Williams. Ada juga komedian dengan nama besar lain yang pernah atau tengah bergulat dengan depresi, misalnya Jim Carrey, Owen Wilson dan Ellen DeGeneres.

Di Tanah Air ada Tri Retno Prayudati alias Nunung yang mengidap penyakit gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan depresi. Sayangnya, ia memilih mengonsumsi sabu untuk mengatasi masalahnya tersebut.

Nunung bukan satu-satunya pelawak anggota Srimulat yang terlibat narkoba dalam mengatasi masalahnya. Sebelumnya ada Sudarmaji alias Doyok dan Polo yang ditangkap tahun 2000 silam. Lalu, pada 2007 Gogon juga mengalami hal serupa. Anggota Srimulat lain, Kabul Basuki alias Tessy juga terjerat kasus narkoba pada Oktober 2014.

Setelah itu, sederet selebritas penghibur juga terlibat narkoba. Sampai pada awal September 2021, komika Coki Pardede ditangkap saat mengonsumsi sabu di Tangerang, Banten. Pemilik nama asli Reza Pardede itu mengaku mengonsumsi sabu karena mengalami gangguan mental dan depresi.

Mengutip percakapan pria berusia 33 tahun ini di kanal YouTube Daniel Mananta Network, Coki berujar, setiap penonton memiliki standar humor berbeda-beda. Sehingga, dia harus bekerja keras untuk membuat orang lain tertawa.

"Capeknya luar biasa. Karena standarnya orang lain, standarnya bukan apa yang pengin lu omongin. Kalau tujuan lu untuk bikin orang lain ketawa, ya, itu tentang orang lain, itu bukan tentang lu," ungkap Coki.

Ironis memang. Profesi yang paling sering membuat orang lain tertawa justru paling dekat dengan tingkat depresi dan stres. Tuntutan harus selalu lucu menjadi soal. Padahal, kepribadian orang berbeda-beda. Juga tergantung situasi dan kondisi.

Menurut V Ando, G Claridge, dan K Clark dalam “Psychotic traits in comedians” yang dimuat di The British Journal of Psychiatry pada 2014, menyimpulkan tingginya tingkat gangguan klinis yang dialami komedian.

Penelitian itu menemukan, komedian seringkali memiliki dua kepribadian yang saling bertentangan. Yaitu, introverted-anhedonia (tidak mampu merasakan emosi senang) dan extroverted-impulsiveness.

Kepribadian tersebut membuat sebagian besar komedian pada kehidupan nyata sebenarnya cenderung lebih introvert dan memiliki emosi datar. Namun, mereka harus tampil sebagai pribadi extrovert dan impulsif untuk menyajikan humor lucu dan menghibur.

Pendeknya, sebagian besar komedian merupakan individu yang pencemas dan memiliki depresi. Persiapan materi komedi yang digodok juga bisa menjadi faktor lain yang menambah tekanan.

Ketua Umum PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia), Jarwo Kwat membeberkan, pelawak senior seperti dia saja, sampai pernah menyiapkan materi lawaknya selama tiga hari untuk satu kali pentas. Tak heran, depresi dan stres memang cukup rentan bagi komedian.

"Kalau menyiapkan materi sedang buntu stresnya luar biasa itu. Karena pelawak itu juga ada ilmunya untuk mengeluarkan peluru-peluru jokes-nya," ujar Jarwo kepada Validnews, Rabu (30/9).

Faktor lainnya, hasil setelah 'manggung' juga bisa memengaruhi banyak tingkat stres.

Jarwo lalu mundur jauh ke tahun 90-an, saat dia masih tergabung dalam kelompok lawak Diamor.

Pernah suatu ketika, saat dirinya melawak di sebuah diskotek, lawakannya garing. Lelucon yang dikeluarkannya pun mentah begitu saja. Tak ada gelak tawa penonton.

Untungnya, kondisi tersebut tak membuat teman Jarwo di kelompok yang sama ‘kena mental’. Sebaliknya, keadaan itu menohok buat dirinya.

Dia terus memikirkan keadaan itu. Tiga hari, dia ingat, sulit tidur. Asupan makanan ditolak lambung dan kembali keluar lewat mulutnya. Aktivitas juga kendur.

Beruntung, ujar dia, keluarga dan teman dekat memberikan semangat lebih pada dirinya dan Diamor. Jarwo lalu bangkit dan bisa bertahan menjadi komedian sampai saat ini.

Selain itu, lanjutnya, suasana di belakang panggung sebelum tampil juga bisa jadi faktor yang membuat komedian rentan stres. Jarwo yang sudah puluhan tahun ada di dunia lawak saja, mengaku masih merasakan hal itu sampai saat ini.

"Kadang-kadang saya juga stres saat naik panggung. Mual juga walaupun sudah pengalaman. Mungkin itu kali ya yang membuat banyak komedian stres," papar komedian dengan impersonate Jusuf Kala (JK) itu.

Jarwo mengungkapkan, meski banyak yang mengalami stress, keadaan itu tak dilihat publik. Komedian, lanjut dia, selalu dituntut tampil periang di hadapan publik. Kalau kata Jarwo, itu karena tanggung jawab dan totalitas di depan kamera.

Tak Percaya
Namun, banyak yang tidak percaya komedian kerap mengalami stres. Seperti ditunjukkan majelis hakim yang menangani perkara Nunung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada November 2019.

Salah satu anggota majelis hakim yang bernama Djoko Indiarto tidak percaya Nunung depresi. Menurut dia, Nunung yang cengengesan setiap hari karena melawak, tidak mungkin depresi. Padahal, Nunung sudah tiga tahun rutin ke psikiater.

Ironis memang, kedekatan komedian pada tingkat stres ini belum menjadi perhatian banyak pihak. Padahal, kecenderungannya negatif. Beberapa di antaranya justru mengalihkan depresinya ke penyalahgunaan narkoba.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Kasandra A. Putranto mengamini. Jika komedian barat yang mengalami depresi memilih mengakhiri hidupnya, komedian di Indonesia yang depresi cenderung memakai narkotika.

Budaya, khususnya persepsi sosial dan tradisi budaya mempengaruhi tingkat bunuh diri. Di Indonesia, stigma negatif terhadap bunuh diri cukup tinggi. Karena itu, tingkat bunuh diri di Indonesia cenderung rendah. Hal ini dikarenakan stigma sosial terhadap bunuh diri yang tinggi menjadi faktor protektif dari tindakan bunuh diri.

Kegiatan keagamaan juga menjadi faktor protektif pula terhadap tindakan bunuh diri. Kebanyakan masyarakat Indonesia meyakini satu agama, sehingga menjadi perlindungan bagi mereka untuk tidak melakukan tindakan bunuh diri.

"Jadi stres dan depresi yang dialami individu di Indonesia kebanyakan dialihkan pada tingkah laku menyimpang seperti penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang, dibandingkan melakukan tindakan bunuh diri," ujar Kasandra saat dihubungi Validnews, Selasa (29/9).

Ia menerangkan, berdasarkan pengamatan klinis, tingkat gangguan kejiwaan pada komedian cukup tinggi. Mereka cukup rentan mengalami depresi atau stres.

Hal ini didukung penelitian yang menunjukkan sebagian besar komedian memiliki kepribadian yang mirip, yaitu memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Nah, tingkat kecerdasan nyatanya memiliki hubungan dengan tingkat depresi.

Dalam penelitian tersebut, kata Kasandra, komedian juga ditemukan cenderung lebih mudah marah, curiga, dan tertekan dibandingkan dengan profesi lainnya. Hal ini dapat mendukung prevalensi yang lebih tinggi bagi komedian untuk mengalami depresi atau tingkat stres yang tinggi

Dari sisi psikologis, ada beberapa faktor yang membuat komedian rentan stres. Misalnya saja soal kreativitas. Untuk menjadi komedian, seseorang memerlukan tingkat kreativitas yang tinggi.

Elemen kreativitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan humor, serupa dengan karakteristik kognitif individu yang memiliki psikosis, baik itu schizophrenia maupun bipolar disorder.

"Maka, komedian menjadi rentan stress karena untuk menghasilkan humor, mereka memerlukan trait kreativitas yang serupa dengan karakteristik kognitif individu yang memiliki psikosis," jelas Kasandra.

Elemen pada trait psikotik tersebut mencakup moodiness, social introversion dan kecenderungan untuk berpikir lateral. Kemudian berpikir manic (manic thinking) yang dimiliki oleh individu dengan bipolar disorder, juga berperan dalam membuat ide-ide baru, original, dan menghasilkan humor.

Menurut penelitian awal yang beredar, individu dengan sisi kreatif memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami mood disorder yang berakar dari permasalahan biologis, khususnya bagian emosi pada otak. Meskipun, belum ada penelitian lebih lanjut terkait hal ini.

Selain itu, komedian memiliki trait kepribadian yang berlawanan. Yaitu, introverted anhedonia (ketidakmampuan untuk merasa puas) dan extroverted impulsiveness. Sedangkan aktor/aktris, memiliki trait extroverted dan openness.

"Sementara komedian memiliki trait introverted yang membuat mereka asosial dan sedikit tidak emosional," imbuh dia.

CEO, Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), Novrita Widiyastuti menyampaikan, memang sampai saat ini belum ada wadah atau lembaga khusus untuk mengurusi kesehatan mental komedian. Ia setuju, suatu saat nanti diperlukan wadah khusus untuk setiap profesi dalam menjaga mentalnya, termasuk komedian.

Dia meyakini betul, banyak komedian di luar sana yang sebenarnya stres dengan profesinya, namun tidak ada tempat mengadu. Pada saat yang bersamaan, ia dituntut selalu lucu di depan publik.

Menurut pemantauan secara random dari IHIK3, kebanyakan komedian yang mengalami stres atau depresi adalah pelawak yang mempersiapkan materi jokesnya sendirian. Kalau, disiapkan oleh tim maka akan mengurangi tingkat stres itu sendiri.

"Komedian yang menyiapkan sendiri materinya, tentu jadi lebih stres karena semua disiapkan sendiri. Dia juga harus banyak baca, seperti Komeng dia juga harus update dengan info terbaru," papar Novri kepada Validnews, Selasa (29/9).

Di luar itu, selama pandemi covid-19 kerentanan stres itu makin dekat. Maklum, pekerjaan untuk komedian bisa dihitung jari dalam satu tahun belakangan ini. Otomatis, cuan untuk bikin dapur ngebul makin tipis.

Belum lagi, perkembangan dunia entertainment membuka lebar pintu kesempatan buat orang yang asalnya bukan pelawak mencoba menjadi pelawak, tanpa pengetahuan melawak yang cukup.

Kata Novri, beberapa pelawak senior sempat meradang dengan kondisi tersebut. Bukan merasa tersaingi, tapi menurut mereka, melawak butuh ilmu dan formula yang paten. Apalagi melawak dalam sebuah group lawak.

"Intinya sebenarnya komedi itu ada ilmu dan formulanya. Mangkanya (tanpa ilmu yang cukup) sampai bisa ada yang stres dan depresi," tutur Novri. 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER