Selamat

Rabu, 22 September 2021

30 April 2021|18:08 WIB

Menag Minta Kemenag Daerah Tegakkan Prokes

Menag Yaqut respon munculnya klaster covid-19 dari jamaah salat tarawih di Banyumas

Penulis: Herry Supriyatna,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi ibadah tarawih pada masa pandemi. Antarafoto

JAKARTA - Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas meminta, jajaran Kementerian Agama (Kemenag) daerah untuk mengintensifkan sosialisasi dan edukasi pelaksanaan panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 yang berlangsung dalam situasi pandemi kepada masyarakat.

Permintaan ini untuk merespon munculnya dua klaster baru covid-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang diduga berasal dari kegiatan salat tarawih. 

“Kasus di Banyumas ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk jangan pernah lengah dalam menjalankan prokes (protokol kesehatan) demi terjaganya keselamatan jiwa bersama,” tegas Yaqut di Jakarta, Jumat (30/4).

Gus Yaqut menjelaskan, Kemenag sejak awal telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 04 Tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021. 

Edaran tersebut antara lain mengatur pengurus masjid atau musala dapat menyelenggarakan kegiatan salat fardu lima waktu, salat rarawih dan witir, tadarus Alquran, serta iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas masjid atau musala. 

Itu pun harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman 1 meter antarjamaah, dan setiap jamaah membawa sajadah atau mukena masing-masing.

Untuk kegiatan pengajian, ceramah, taushiyah, kultum Ramadan dan kuliah subuh, paling lama dengan durasi waktu 15 menit. Peringatan Nuzulul Quran di masjid atau musala juga harus dilaksanakan dengan pembatasan jumlah jamaah paling banyak 50% dari kapasitas ruangan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. 

Yaqut meminta pengurus atau pengelola masjid atau musala wajib menunjuk petugas khusus untuk mengawal penerapan protokol kesehatan. Dengan begitu, bakal diketahui jika ada jamaah yang sedang tidak sehat seperti halnya di Banyumas, jamaah tersebut tidak diizinkan masuk untuk menjaga jamaah lain. 

Selain memastikan jamaah menerapkan protokol kesehatan, katanya, petugas yang ditunjuk juga melakukan penyemprotan disinfektan secara teratur dan menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid atau musala.

“Kegiatan ibadah Ramadan di masjid atau musala tidak boleh dilaksanakan di daerah yang termasuk kategori zona merah dan zona oranye penyebaran covid-19 berdasarkan penetapan pemerintah daerah setempat,” kata dia.

Dia menegaskan, SE Menag ini sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang pengendalian penyebaran covid-19 pada masa Ramadan, termasuk nanti saat salat Idul Fitri. 

Untuk itu, dia meminta jajaran Kemenag daerah lebih mengintensifkan sosialisasi, edukasi, dan pembinaan baik kepada pengurus masjid atau musala maupun masyarakat umum. "Patuhilah protokol kesehatan serta berkoordinasi selalu dengan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19,” tutup Gus Yaqut.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA