Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

OASE

07 Juni 2021|21:00 WIB

Melatih “Turunan Serigala" Penyelisik Pidana

Bukan sembarang anjing bisa masuk satuan K-9. Ada yang bisa mencari korban bencana, bahkan melacak tindak pidana

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi K-9 Ditpol Satwa Mabes Polri. Sumberfoto: Validnews/James Manullang.

JAKARTA – “Find!,”  seru Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Harry Yunianto kepada seekor anjing ras German Sheperd di dekatnya.

Mendengar seruan itu, telinga Lilu, nama anjing tersebut langsung berdiri tegak. Empat kakinya sontak bergerak melangkah.

Dengan cepat, anjing ini masuk ke sebuah rumah kosong yang ditunjukkan. Dari luar, tampak dua jendela kecil di rumah itu. Cahaya matahari hanya kuat menerangi satu ruangan di depan. Itu pun tak terang.

Sampai di pintu masuk, Lilu tak bergerak. Seolah bersikap siaga. Lilu mengendus di depan pintu masuk.

Melihat Lilu diam, Harry mengulang perintah sama. Lilu lalu menuruti perintah dan bergerak masuk. Hewan ini mengendus seluruh sisi ruang pertama. Lilu tak bersuara. Hanya ekornya yang bergerak terus.

Lagi-lagi, di ruang kedua yang dia masuki, tak ditemukan yang dicari. Kemudian dia keluar dari ruang itu. Masuk ke ruang ketiga.

Ekor Lilu main cepat bergerak. Dia juga menggeram. Sikap beda dia tunjukkan ketimbang saat ada di dua ruangan sebelumnya.

Saat berada di satu titik, Lilu seakan tak mau beranjak. Berdiri mematung. Tak berapa lama, dia menyalak keras. Ekornya pun berkibas kencang.

Harry lalu mendekati Lilu di titik itu. Kemudian, dia melemparkan boneka atau yang disebuk ‘kong’ untuk mengalihkan perhatiannya.

Lilu menyambut ‘kong’ yang dilemparkan. Menjauh dari tempat dia menemukan sesuatu.

Harry lalu mengambil alih. Ia memeriksa apa yang diendus Lilu. Tumpukan barang diangkatnya satu-persatu. Hingga akhirnya, ditemukan benda terbungkus rapi dan ada beberapa lapis. Barang inilah yang diendus Lilu, zat yang mengandung narkoba.

Begitulah gambaran keseharian Lilu, anjing yang membantu tugas polisi. Kali ini, Jumat (4/6) siang di Ditpolsatwa Mabes Polri di Depok, Jawa Barat, Lilu dan Harry berlatih bersama. Tiap hari, empat jam mereka berlatih bareng, agar keduanya kian kompak menjalankan tugas.

Kekompakan keduanya sudah berbuah hasil. Salah satunya pada Januari 2021, Lilu menemukan gudang kecil tempat menyimpan 45 kilogram (kg) sabu-sabu di Lampung. Barang haram tersebut, bakal diedarkan di tempat hiburan malam di Jakarta.

Saat Lilu berlatih, di lokasi yang sama, seekor anjing German Sheperd all black tampak mengendus sesuatu dari sejumlah orang yang berjalan. Hewan ini mengamati tas yang dikenakan orang-orang tersebut.

Setelah dilepaskan oleh pelatihnya, anjing itu lalu mengarah ke satu orang. Dia lalu menyalak keras dan berusaha menarik tas yang dibawa orang itu.

Pelatih lalu mendekati anjing itu. Dia melemparkan “kong” agar si anjing menjauh dari orang itu. Setelah tas dibuka, ditemukan benda yang terbungkus rapih. Saat dibuka, ternyata ditemukan bahan-bahan untuk diracik menjadi bom.

Sebelum Tangkas
Harry bercerita, keterampilan Lilu tak didapat dalam waktu singkat. Begitu juga untuk anjing K-9 lain, dengan beragam kecakapan. Bentuk pelatihan pun tentu tak sama.

“Rata-rata anjing yang dilatih untuk kesatuan ini mulai dari umur delapan bulan hingga satu tahun,” tutur Harry pada Validnews, Senin (7/6).   

Dia menguraikan, Lilu datang ke tempat ini pada 2018. Latihan empat jam per hari diberlakukan selama tiga bulan pertama untuk menguatkan kemampuan Lilu melacak narkoba. Setelah masa itu, tetap empat jam porsi Lilu berlatih untuk menjaga dan mengasah kemampuannya.

Saat datang kali pertama, Lilu dan anjing lain diberikan waktu beberapa hari untuk adaptasi lingkungan. Pada tahap adaptasi itu, masing-masing pelatih menggunakan teknis play drive atau bermain bersama peliharaanya masing-masing.

Cara itu digunakan untuk melatih anjing pada umumnya. Namun, untuk K-9, anjing-anjing dikenalkan untuk menghafal bau.

Misalnya, di K-9 unit narkoba, pelatih mengenalkan bau zat yang mengandung unsur narkoba saat bermain dengan anjing muda. Ini terus diulang, hingga sang anjing menyukai bau narkotika tersebut.

Kemudian, anjing diajak main sambil diajarkan untuk mencari narkoba di tempat-tempat tertentu. Misalnya, di perkampungan atau perkotaan. Kemudian, di kendaraan-kendaraan yang bergerak. 

Karena latihan, kepekaan itu, lama-kelamaan terbentuk. Bila menemukan zat yang telah dihafalnya, anjing itu akan menggonggong sambil mencakar atau menggaruk-garuk tempat mencurigakan itu. 

Anjing juga dikenalkan bau-bauan yang dianggap bisa mengganggu penciuman. Seperti, bau durian, terasi dan sejumah bau menyengat lainnya. Latihan ini bertujuan agar K-9 tak salah mendeteksi.

Agresif, itu kata Harry bagi anjing-anjing di K-9. Agresivitas memang dibutuhkan untuk tugas yang diemban. Namun, buat si pelatih., agresivitas sebaliknya tak pernah ditunjukkan oleh anjing-anjing itu.

Meski demikian, selama 18 tahun menjadi anggota polisi, Harry juga pernah terluka luka akibat gigitan anjing. Paling sering, cakaran kuku tajam dari hewan ini.

“Begitulah kami. Dari melatih hingga memang benar-benar menyayangi K-9 kami masing-masing,” kata Harry.

Pencarian Korban
Kesatuan K-9 sendiri banyak ada di berbagai satuan kepolisian berbagai negara. Kesatuan ini  berawal dari bahasa ilmiah Yunani,  Canineae Familyae. Nama ini merujuk pada salah satu jenis keluarga serigala, yakni Canis, yang merupakan kelompok binatang buas bergigi tajam.

Mereka dicirikan memiliki taring, moncong yang senatiasa terbuka, dan susunan rahang belakang yang sanggup memotong daging. Dan anjing yang digunakan oleh unit K-9, adalah keturunan dari jenis serigala di atas yang telah mengalami evolusi secara genetis.

Bukan sembarang anjing bisa masuk dalam kesatuan K-9. Utamanya adalah jenis German Sheperd yang berfungsi untuk melindungi petugas, menyerang musuh dan mengendus keberadaan manusia serta obat-obatan terlarang. Ada juga jenis Belgian Malinose yang populer sebagai anjing penyerang yang handal dan menjaga keamanan petugas.

Bahkan, ada pula yang khusus untuk mencari korban bencana alam dan korban tindak pidana. Seperti, gempa bumi, tanah longsor hingga banjir.

“Banyak tahap saat melatih anjing itu hingga bisa diterjunkan untuk mencari korban bencana alam,” urai Brigadir Arif Tirtana, salah satu pelatih K-9 unit Search and Rescue (SAR) Dog.

Pelatih di unit SAR, mencekoki anjing untuk menghafal bau CO2. Pelatih meniup CO2 dalam sebuah plastik berukuran besar. Kemudian, plastik itu dibolongkan sedikit demi sedikit. Lalu, anjing mencium.

Proses mencari korban bencana dilakukan setiap latihan. Kemudian, CO2 dalam plastik itu dimasukan ke dalam beberapa media. Misalnya, sebuah kotak atau tumpukan lemari dalam ruangan. Tujuannya, agar anjing itu cepat menghafal dan menemukan bau CO2.

“Itu cara kami membuat K-9 bisa mencari korban bencana alam yang masih hidup dan tertimbun reruntuhan,” kata Arif.

Setelah K-9 dianggap menghafal bau CO2. Mereka akan menjalani simulasi pencarian orang di sebuah ruangan. Bila berhasil, anjing itu dinilai siap untuk operasional.

“Ini sedikit panjang, sekitar enam bulan lah latihannya,” sebut Arif.

Selain menyiapkan korban bencana alam yang hidup, K-9 Unit SAR juga menyiapkan anjing khusus untuk mencari korban bencana alam yang meninggal dunia. Anjing itu disebut sebagai Cadaver. Atau dalam istilah medis, adalah istilah mayat yang diawetkan.

Nah, proses pelatihan pencarian mayat ini lebih susah dibandingkan dengan unit lainnya. Arif menyebut, para pelatih harus menyiapkan sampel bau mayat. Biasanya sampel itu dimasukan ke dalam ampul atau wadah gelas bening.

Selain itu, ada juga beberapa benda yang telah dirakit oleh K-9 Unit SAR Mabes Polri itu. Misalnya, disatukan dalam kapas yang dimasukan ke dalam pipa kecil. Hal ini, untuk membuat bau yang ditimbulkan dari sampel itu keluar.

Setelah disiapkan, anjing itu dikenalkan bau mayat secara pelan-pelan. Menurut Arif, butuh satu tahun untuk membuat K-9 hafal dengan bau mayat itu.

“Kalau dilatihan memang pakai ampul cairan itu. Tapi pernah kami mintakan ke RS Polri untuk memberikan sampel agar sangat menyerupai bau mayat,” tambah Arif.

Arif mengakui, tugas K-9 Unit SAR bagian Cadaver itu sulit. Sebab, para anjing akan mencari mayat yang kadang tertimbun atau tertiban benda-benda lain. Apalagi, pencarian mayat itu dilakukan pada korban bencana alam. Misalnya, tanah longsor. K-9 harus kerja keras untuk menemukan korban meninggal dunia akibat tanah longsor.

Kerja Cadaver tak mudah karena bau jenazah yang tertimbun tanah sehingga tak mengeluarkan bau. Belum lagi, bila kondisi cuaca hujan. Bau mayat akan netral tersiram air.

“Karena itu saat latihan, K-9 Cadaver kerap dibawa ke tempat berlumpur dan berpasir. Agar terbiasa, meski celah uap itu sedikit,” tambah Arif.

Setelah siap operasional, Arif bilang, K-9 di unitnya harus siap setiap waktu. Misalnya  ada bencana lama, setengah jam setelah bencana terjadi, pihaknya telah siap untuk berangkat menuju lokasi bersama Basarnas.

“Unit SAR pencari korban hidup itu pasti langsung berangkat. Selang beberapa hari, cadaver baru berangkat untuk mencari korban meninggal dunia,” ucap Arif.

Breeder Belanda
Kepala Detasemen K-9 Ditpolsatwa Korsbhara Baharkam Polri, Komisaris Polisi, Tendri Wardi menuturkan, kesatuan itu memiliki 98 ekor anjing K-9 siap operasional. Puluhan ekor itu memiliki beberapa fungsi. Di antaranya, fungsi pelacakan umum, pelacak narkotika, bahan peledak, SAR. Terakhir, kriminal umum atau atau pengendalian massa.

Puluhan ekor anjing itu terdiri dari beberapa ras. Salah satunya, Belgian Malinois, German Shepherd. Lalu, jenis Pointer, Labrador, Retriever dan beberapa jenis lainnya.

Anjing ras itu, kata Tendri, diimpor langsung dari breeder anjing di Belanda. Tendri menyebut, tak ada alasan khusus, kenapa Polri memilih breeder dari Belanda untuk dilatih. Yang jelas, kata dia, saat ini Polri masih bekerjasama dengan breeder asal Belanda mengenai pengadaan anjing unit K-9.

“Dari Jerman atau Amerika Serikat juga kita pernah ambil. Kebetulan sekarang dari Belanda saja, makanya kita ambil dari breeder sana,” tutur Tendri, kepada Validnews, Senin (7/6).

Tendri menyebut, ada breeder di Indonesia. Namun, sejauh ini, anjing ras hasil ternakan di Tanah Air tak sehebat dari luar negeri. Dari beberapa kali percobaan, pekerjaan anjing yang dibeli dari breeder lokal tak maksimal.“Tapi sekarang ada beberapa yang kita sedang coba lagi,” tegas Tendri.

Tendri menjelaskan, anjing yang dikirimkan dari Belanda itu rata-rata berumur satu tahun. Di bawah setahun, hewan itu masih fokus untuk bermain. Sebelum dilatih,  anjing melakukan penyesuaian iklim selama tiga bulan. Setelah penyesuaian iklim, anjing itu baru dikenalkan ke pekerjaan mereka.

“Apakah itu pelacakan narkotik, bahan peledak, krimum dan SAR,” sebut Tendri. 

Dia juga merinci, empat jam latihan per hari terbagi dua jam di pagi hari. Sisanya, sore hari. Bila latihan melewati jam 10 pagi, cuaca panas membuat anjing tak fokus menjalankan perintah pelatihnya. Ini disebabkan mereka lebih sibuk mencari air untuk minum.

Saban harinya, sebelum latihan, para pelatih lebih dulu membersihkan kandang K-9. Kemudian, memandikan dan mengeringkan anjing itu.  Urutan selanjutnya adalah memberikan makanan yang dijatah 300 gram per hari. Biasanya dibagi menjadi dua kali makan atau tiga kali makan dalam sehari.

Bila dinilai siap bertugas, biasanya anjing itu akan menjalankan tugasnya selama delapan tahun. Setelahnya mereka akan pensiun. Pada usia lima hingga delapan tahun, saraf anjing mulai terganggu dan tak mampu lagi menjalankan tugasnya.

“Apalagi, anjing yang mencium bahan atau zat kimia, itu akan melemahkan kemampuanya. Makanya, setelah pensiun akan dijadikan anjing rumahan,” tutup Tendri.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA