Selamat

Selasa, 21 September 2021

04 Juni 2021|20:59 WIB

Kurir COD, Dinanti Dan Dicaci

Tugas kurir hanyalah mengantarkan barang ke rumah pelanggan dan menjaga kondisi barang sebaik-baiknya

Penulis: Herry Supriyatna,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageIlustrasi pengiriman barang oleh kurir. Shutterstock/dok

JAKARTA – Aditama Deswandri (26) makin bingung usai berkoordinasi dengan atasannya via telepon. Perintah atasannya hanya satu; tunggu sampai si pelanggan mau membayar paket cash on delivery (COD) yang dikirimnya.

Atasannya tidak mau tahu sekalipun Adit mengaku diberondong makian oleh konsumen. Dia tetap dituntut bisa meyakinkan si penerima untuk segera membayar isi paket yang sudah diantar sebesar Rp150 ribu.

Sekali lagi, Adit coba menjelaskan kepada konsumen isi paket bukan tanggung jawab kurir. Namun bukannya makin paham, makian si penerima justru bertambah hebat. Bahkan Adit sampai sempat diteriaki penipu.

Tapi Adit bisa menahan diri. Dia tidak balik memaki lantaran memahami kekesalan si penerima paket yang merasa tertipu. Si penerima memang mendapati pesanan bajunya yang dikirim Adit dari penjual tak sesuai, baik ukuran maupun warnanya.

Mau tak mau Adit hanya bisa menunggu di depan rumah si penerima di kawasan Kampung Tapos, Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Padahal, paket lain yang harus dikirim di hari itu masih bejibun di motornya.

Untungnya, entah karena apa, tiba-tiba si penerima paket akhirnya mau membayar isi paket itu setengah jam kemudian.

"Tapi saya dikerubutin sama seluruh anggota keluarganya, sekitar lima orang lah," kata Adit, kurir JNE saat berbincang dengan Validnews, Senin (31/5).

Sayangnya, tidak semua kurir seberuntung Adit. Baru-baru ini saja, seorang kurir SiCepat berinisial R sampai diancam pria berinisial MDS (44) menggunakan samurai saat mengantarkan paket COD di kawasan Tangerang Selatan, Banten. Kejadian ini sempat viral di media sosial karena si kurir merekam momen tersebut melalui ponsel pintarnya.

Dalam video, MDS terlihat tak puas lantaran paket COD yang datang tak sesuai pesanannya. MDS memesan jam tangan, namun yang datang malah bungkus rokok kosong. Merasa ditipu, MDS memaksa meminta uang sebesar Rp85 ribu yang sebelumnya sudah diberikan kepada R dikembalikan. Tak tanggung-tanggung, samurai dikeluarkan untuk mengancam si kurir.

"Kadang memang ada yang seperti itu. Kelakuan pelanggan kadang suka seenaknya meski sudah dijelaskan soal isi barang," aku Adit.

Padahal, kesulitan yang harus dialami kurir tak hanya ancaman baik fisik maupun mental, dari pelanggan yang kecewa. Sebelum menemui pelanggan, Adit mengaku juga kerap dibuat mumet saat mencari lokasi rumah penerima paket. Sering dirinya menjumpai pelanggan yang sulit dihubungi atau nomornya tidak aktif. Kalau sudah begini, Adit terpaksa harus bertanya pada orang sekitar.

Promo Ongkir
Pada hari-hari biasa, Adit bilang sudah terbiasa mengantarkan 80–100 paket ke pelbagai alamat. Namun, beban hariannya akan makin berat saat sedang ada promo ongkos kirim dari marketplace.

Saat promo digelar, motornya pasti kelebihan muatan. Adit pun harus pulang malam. Adit sudah tak kaget lagi jika harus bekerja dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. 

Pernah Adit kebagian jatah mengantarkan 300 paket saat ada promo ongkos kirim sebuah marketplace. Demi ratusan paket sampai sesuai alamat, Adit terpaksa menarik gas motornya dalam-dalam.

Karena ada ratusan paket yang bertumpuk sedemikian rupa di motornya, 8 paket yang dibawanya akhirnya hilang di jalan. Ia panik. Betapa tidak, setelah dihitung, 8 paket tersebut bernilai Rp800 ribu.

"Waktu itu, paket yang saya bawa terbang karena lagi ngebut. Tiba-tiba sudah tidak kelihatan, eh ternyata hilang," cerita pria yang sudah menjadi kurir selama dua tahun ini.

Walaupun yakin paket itu terjatuh saat motornya melaju, pihak ekspedisi tempatnya bekerja tetap meminta Adit menggantinya dengan mekanisme potong gaji. Adit dianggap lalai menjalankan tugasnya. 

Karena kejadian itulah Adit dan teman-temannya kerap kesal kalau berlangsung program gratis ongkir dari marketplace. Sebab dia tahu, ia akan kelimpungan karena orang-orang mengirim paket pada hari yang sama.

Meski begitu, pria yang berdomisili di Ciawi, Bogor itu mengaku tetap bahagia menjalani profesi sebagai tukang antar paket. Baginya, mendapati pelanggan yang tersenyum saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri.

Rasa bahagianya ini pun akan berlipat ganda saat bertemu pelanggan yang baik hati. Adit pernah sumringah lantaran mendapatkan tip senilai Rp100 ribu dari seorang pelanggan.

"Kalau dikasih ya saya terima. Tip merupakan bagian yang menyenangkan untuk kurir paket seperti saya," akunya.

Adit mengatakan, status kurir sendiri sejatinya terbagi tiga. Pertama kurir yang terikat kontrak, kurir outsourcing dan kurir per paket. Kurir per paket dikatakan Adit mendapatkan uang berdasarkan banyaknya paket yang dia kirim ke pelanggan.

Meski statusnya hanya karyawan outsourcing, Adit tetap bersyukur. Sebab upahnya tak dibedakan dengan kurir yang berstatus lain.

Dianggap Tukang Tagih
Kurir lainnya, Wahyu (28), mengaku hanya bisa bersabar saat bertemu dengan pelanggan yang memakinya gara-gara paket yang diantarnya bermasalah. Ia mengaku kerap diperlakukan layaknya penagih hutang.

Kejadian tersebut dialaminya saat mengantarkan paket ke perumahan Cipondoh, Kota Tangerang, tahun lalu. Waktu itu, si pemilik rumah tidak merasa memesan paket yang dibawanya. Karena itulah, tubuh Wahyu sampai didorong-dorong untuk segera keluar rumah saat itu juga.

Meskipun perasaannya sudah campur aduk, bingung, kesal sekaligus sedih, Wahyu tetap coba bersikap sopan dan ramah kepada si pelanggan. Namun, saat itu, tetap perlakuan ke dirinya tidak berubah.

"Saya sudah sopan dan pelan-pelan, tiba-tiba orangnya bilang tidak jadi. Saya didorong-dorong, diusir-usir, kayak debt collector. Konsumennya bilang merasa tidak pesan dan langsung mengusir saya," kata Wahyu kepada Validnews, Rabu (2/6).

Seperti halnya pengalaman R dan Adit, dirinya juga pernah mendapati pelanggan yang tidak mau membayar, gara-gara isi paket COD tak sesuai keinginan setelah paket sudah dibongkar. Apesnya, meski sudah bersikeras meyakinkan si pelanggan bahwa itu bukan kesalahan pihaknya, konsumen tetap tak mau membayar biaya yang mencapai Rp200 ribu itu.

"Terus yang harus ganti sudah pasti saya, harganya sekitar Rp200 ribu. Saya berharap kejadian ini tidak saya alami lagi," ucap kurir dari perusahaan jasa pengiriman J&T ini.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo), Muhammad Feriadi mengingatkan, tak sepatutnya pelanggan memperlakukan kurir tak sebagaimana mestinya. Apabila barang atau isi paket tak sesuai pesanan, pelanggan seharusnya menghubungi penjual. Bukan malah memaki kurir.

Menurut dia, tugas kurir hanya mengantarkan barang ke rumah pelanggan dan menjaga kondisi barang sebaik-baiknya. Kurir tidaklah bertanggung jawab terhadap isi kiriman. Sekalipun barang itu tidak sesuai dengan yang dipesan atau tidak sesuai yang dijanjikan dengan penjual.

Uniknya, kasus sewenang-wenang terhadap kurir biasanya terjadi pada sistem pembayaran COD. Ia menyayangkan perlakuan tak mengenakan terhadap kurir yang belakangan marak terjadi. Selain itu, penjual juga harus bertugas mengedukasi masyarakat agar lebih memahami kalau terjadi hal-hal seperti ini.

"Tentu tidak menjadi ranahnya kurir, dan ini menjadi tanggung jawabnya si penjual. Si penjual harus mengedukasi pelanggan akan hal itu," kata Feriadi.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA