Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|17:43 WIB

Kompolnas Minta Kapolri Bekali Anggotanya Soal HAM

Beri pemahaman secara berulang agar bertindak lebih humanis

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi anggota Polri menangani unjuk rasa. ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga

JAKARTA - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan para pimpinan Polri lainnya untuk membekali anggotanya, pengetahuan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) saat mengamankan unjuk rasa.

Agar, emosi anggota kepolisian tidak mudah terpancing oleh peserta demonstrasi. Terlebih, anggota kepolisian yang mengamankan unjuk rasa, baru lulus pendidikan kepolisian.

"Penggunaan kekerasan boleh dilakukan ketika tindakan demonstran anarkis membahayakan nyawa polisi dan masyarakat. Jika tidak membahayakan, arahkan saja agar para demonstran bisa menyampaikan tuntutan secara damai," kata Anggota Kompolnas Poengky Indarti kepada Validnews, menanggapi aksi Brigadir NP yang membanting seorang pengunjuk rasa. Aksi itu pun viral di media sosial.  

Poengky sampaikan, pimpinan Polri perlu menanamkan pendidikan dan arahan secara berulang-ulang untuk menaati Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Standar san Prinsip HAM dalam pelaksanaan tugas Polri. 

"Perlu sering dipraktikkan di lapangan  dan perlu ada punishment jika dilanggar," tutur Poengky.

Tentang apakah oknum polisi yang membanting mahasiswa itu perlu di bawa ke persidangan, Poengky melanjutkan, tergantung dengan hasil pemeriksaan Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri. 

Dalam pemeriksaan itu, kata dia, Propam Polri akan melihat apakah ada tindak pidana yang dilakukan anggota kepolisian itu. Bila ada, penyelidikan peristiwa itu dilanjutkan oleh tim Reserse. 

"Anggota Polri itu tunduk pada tiga sanksi yakni, pidana, kode etik dan disiplin. Jadi, Tergantung hasil pemeriksaan Propam nantinya untuk mengetahui proses hukum apa yang digunakan," lanjut Poengky.

Untuk mengantisipasi kejadian itu berulang, Kompolnas menyarankan agar pimpinan Polri mempertimbangkan untuk menggunakan body camera bagi anggota yang bertugas di lapangan.

Sebelumnya, aksi membanting seorang pengunjuk rasa itu terekam dalam sebuah video dan beredar luas di media sosial. Dalam video, terlihat anggota polisi yakni Brigadir NP mengunci tubuh korban, lalu diangkat untuk kemudian dibanting ke lantai. 

Korban yang dibanting itu sontak tergeletak. Beberapa orang berseragam polisi kemudian menghampiri mahasiswa itu dan membantunya bangkit. 

Atas peristiwa ini, Kapolda Banten, Inspektur Jenderal (Irjen) Rudy Heriyanto pun meminta maaf secara langsung kepada korban dan kedua orang tuanya di Polresta Tangerang. Permintaan maaf juga turut disampaikan oleh Kapolres Tangerang, Komisaris Besar (Kombes) Wahyu Sri Bintoro.

Kapolres Tangerang menyampaikan, Brigadir NP tengah diperiksa oleh Divisi Propam Mabes Polri dan Divisi Propam Polda Banten. Menurutnya, Brigadir NP mengaku tindakanya yang dilakukannya bersifat refleks.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER