Kisah Mereka Yang Terbatas Dan Menolak Menyerah | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

05 November 2021|21:00 WIB

Kisah Mereka Yang Terbatas Dan Menolak Menyerah

Butuh banyak perusahaan yang mau membuka kesempatan disabilitas berkarya. Gojek menjadi salah satu yang bisa dicontoh

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

Kisah Mereka Yang Terbatas Dan Menolak MenyerahIlustrasi kurir dalam jasa ekspedisi pengiriman barang. Shutterstock/dok

JAKARTA – Laju motor matik yang merayap pelan itu akhirnya berhenti di satu jalan di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Pengendaranya, Eko Saiful Nur Amin (35), mengenakan jaket hijau dari satu penyedia aplikasi ojek online. Helm yang dikenakan memiliki kelir senada dengan jaketnya.

Eko lalu mematikan mesin motor yang dikendarai. Pelan dia membuka helm kemudian menaruhnya di motor. Di bagian belakang motor, terpasang boks untuk menaruh barang. Ada pula sejumlah barang tersusun di jok bagian belakang saat itu.

“Istirahat dulu bang, nanti lanjut antarkan barang,” urai Eko membuka percakapan dengan Validnews, Kamis (4/11).

Eko adalah satu dari sekian banyak pengemudi ojek online (ojol) Gojek. Saban harinya dia mengantarkan barang, sebagai salah satu layanan Gojek. Keterbatasan fisik membuatnya tak memilih jasa mengantar penumpang.

Akibat kecelakaan lalu lintas saat menuju satu daerah di Jawa Tengah pada 2017, dia kehilangan tangan kanannya. Sempat, pada masa pemulihan dia bingung akan masa depan . Akan tetapi, Eko cepat tersadar. Dia harus bisa menapak hari-hari meski tak lagi memiliki anggota tubuh lengkap. Masa depan Eko tergantung bagaimana dia hadapi keterbatasan itu lalu berjuang.

Meski hanya dengan satu tangan, berbekal informasi dari berselancar di ruang maya, Eko mulai membongkar motornya. Pelan-pelan dia mengurut kabel gas. Memindahkan gas dan rem ke sebelah kiri dilakukan kemudian.

Modifikasi berhasil. Eko mencoba mengendarai dan mengendalikan motor dengan hanya mengandalkan tangan kiri. Eko yang bukan orang kidal, beberapa kali hampir jatuh dari motor.

Terus dia berlatih. Beberapa lama kemudian, mulai lancar berkendara. Hanya saja, dia masih juga belum merasa nyaman untuk mengendarai motor itu di jalan raya. Rekannya seorang montir kemudian turut membantu. Alhasil, sepeda motornya siap untuk dikendarai dengan baik.

Ditolak Jadi Ojol
Bulat tekad, dia lalu coba mendaftar menjadi pengemudi ojol pada pertengahan Januari 2018. Beberapa hari setelahnya, telepon genggamnya berdering. Satu perusahaan penyedia aplikasi ojek online menerimanya untuk menjadi mitra. 

Keesokan harinya, dia datang ke perusahaan itu. Gayung tak bersambut. Ketika datang dan melihat kondisi Eko, tawaran untuk bergabung hari sebelumnya berubah jadi penolakan. Tegas disebutkan, mereka tak bisa menerima Eko yang hanya punya satu tangan.

“Saya saat itu sudah siap untuk ditolak bang, meski kecewa sebenarnya,” papar Eko.

Gagal saat itu tak membuatnya padam harapan. Segera dia coba melamar untuk pekerjaan lain. Dia pun mendaftar untuk menjadi mitra Gojek. Dia mengaku banyak berdoa, agar kali ini Yang Mahakuasa memberikan jalan usahanya.

Dia mendatangi kantor Gojek yang kala itu terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Setibanya di sana, Eko heran, perlakuan karyawan di perusahaan itu berbeda dengan sebelumnya. Padahal, dia sudah lega, jika hal sama sebelumnya berulang.  

Saat melamar, pegawai yang mewawancarai dia bertanya, “Apakah saya bisa mengendarai sepeda motor? Saya jawab, iya bisa”.

Dia juga minta agar diberi kesempatan menjadi driver GoSend. Layanan antar jemput barang dari pelanggan Gojek. 

Singkat cerita, Eko diterima menjadi mitra. Usai wawancara, dia langsung menuju masjid terdekat.Dia mengucap syukur pada Tuhan, karena hari itu, doanya terkabulkan. Ada jalan pula bagi dia membantu ekonomi keluarga orang tua yang tinggal di Bekasi.

Eko pulang dengan helm dan jaket Gojek. Dia juga sudah memasang aplikasi Gojek di telepon selular (ponsel) miliknya. Sepanjang jalan pulang, Eko tak henti bersyukur.

Esok harinya, dia bersiap untuk bekerja. Aplikasi driver GoSend di telepon genggam pun sudah diaktifkan. Pria asal Jawa Tengah ini menunggangi kendaraan dengan pelan. 

Tak jauh melaju dari rumah, aplikasi GoSend di ponsel berbunyi. Ada yang meminta penjemputan sejumlah barang. Dia langsung menekan tombol pilihan siap menjemput dan mengantarkan barang kali pertama sebagai mitra Gojek. Mulai saat itu hatinya mantap melakoni pekerjaan baru ini. 

Sehari, dia bisa membawa pulang uang sekitar Rp150 ribu hingga lebih dari Rp200 ribu. Pandemi covid-19 tak memengaruhi pendapatannya. Bahkan, selama menjadi mitra, Gojek memperhatikannya selaku penyandang disabilitas. Setahun bergabung, Eko ditawari untuk mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) tipe D. SIM itu khusus untuk para penyandang disabilitas.

Eko lalu berbagi cerita pada teman senasib, penyandang disabilitas. Salah satu dari mereka menuruti sarannya untuk mencoba menjadi mitra Gojek. Pucuk dicinta, meski ditolak saat melamar kerja di sejumlah perusahaan, di Gojek tak demikian.  

Eko bercerita, temannya langsung diterima menjadi mitra saat mendaftar langsung. “Kalau cerita tentang Gojek, saya kadang hanya bisa banyak-banyak bersyukur saja,” cetus Eko.

Kepercayaan Kosumen
Bekerja dengan kondisi fisik tak normal memang tak gampang. Tak semua pengguna jasa Eko pengertian. 

Sebagian pelanggannya, tak percaya dengannya. Terlebih, bila barang yang akan diantar Eko merupakan barang yang gampang pecah atau pun barang penting.

Eko hanya bisa banyak bersabar. Dia terus berupaya meyakinkan para pelanggan. Kata-kata yang dia ucapkan sederhana; bertanggung jawab penuh atas seluruh barang yang diantar. Bahkan, dia siap untuk mengganti rugi apabila barang tersebut rusak atau hilang.

 Sejumlah pengemudi ojek online Gojek, tengah menunggu orderan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Validnews/James Manullang.  

 


 


Akan tetapi, ada juga pengguna jasa berhati baik. Mereka tak ragu membantu Eko. Ada yang ikut menaikan barang ke motor, mengikat. Bahkan, banyak yang memberikan tips kepadanya, meski dia tak berharap dan berusaha keras menolaknya. 

Bila barang yang akan diantar berukuran besar, Eko pun sopan minta pelanggan untuk membatalkan pengiriman. Eko sadar, dengan kondisi fisik seperti itu, dia tak mampu menopang barang yang berukuran besar. 

Kebanyakan pelanggannya memaklumi. Setelah dengan ramah Eko meyakinkan pelanggannya, bila membatalkan pengiriman, driver GoSend lain akan cepat menerima. Atau, dia menyarankan menggunakan layanan pengiriman instan di aplikasi Gojek agar barang cepat terkirim.

“Ya, yang penting saya memberikan penjelasan dengan ramah. Pelanggan pasti ngerti. Sampai ada yang enggak enak hati sama saya,” kata Eko.

Petunjuk
Kesempatan yang sama juga diperoleh Dedi Hardi (36), mitra Gojek penyandang disabilitas. Meski tak bisa mendengar dan berbicara, Dedi dipercaya oleh perusahaan Gojek untuk menjadi mitra pada layanan GoRide.

Menikah pada 2012, membuat Dedi harus bertanggung jawab pada keluarga kecilnya. Selama bertahun-tahun dia mencoba mencari pekerjaan dengan segala keterbatasannya. Memang, ada beberapa yang menerimanya bekerja.

Akan tetapi, tak pernah bertahan lama. Dia kerap disepelekan saat bekerja. Padahal, kemampuan yang dimiliki tak kalah dengan orang normal. Dedi terampil dalam bidang otomotif. Dia telaten membenarkan mesin mobil dan motor yang rusak. Dia beberapa kali dipecat hanya karena penyandang disabilitas. 

Pada awal tahun 2019, Dedi direkomendasikan temannya sesama tunarungu untuk mendaftar di Gojek.

Awalnya, Dedi tak percaya diri. Dedi takut, kekurangannya menjadi hambatan. Namun, temannya meyakinkan, pihak perusahaan tak memandang mereka sebelah mata. Akhirnya, Dedi pun memberanikan diri untuk mendaftar.

Cuma selang beberapa hari, Dedi pun dipanggil untuk datang ke kantor Gojek. Setibanya di sana, mereka berkomunikasi dengan tulisan. Pihak perusahaan hanya menanyakan apakah Dedi memiliki SIM C. Dedi pun menjawab dengan cara menulis di telepon genggam miliknya.

“Iya. Saya ada SIM C,” jawab Dedi, saat berkomunikasi dengan Validnews, dengan mengetik di telepon genggam miliknya, Kamis (4/11).

Dedi pun mengisi sejumlah formulir. Dia mengaku lega, karena pegawai Gojek yang melayani sangat sabar.  Petugas itu membantu mengisi formulir, meski makan waktu.

Pada hari yang sama, Gojek menerima Dedi sebagai mitra pengemudi GoRide dan GoFood. Secara khusus, Dedi menerima penjelasan dari pegawai Gojek beberapa standar opersional prosedur (SOP) sebagai pedoman bekerja.

Gojek tak memberikan pelatihan khusus. Namun, Dedi ingat akan pesan, keselamatan penumpang merupakan prioritas. Dedi menyanggupi menjaga pesan itu. Selang dua hari, dia memulai pekerjaannya sebagai pengemudi ojol.

Saat bekerja, Dedi menempelkan sebuah stiker pada helmnya. Stiker itu bertuliskan, "Saya tunarungu/tuli. Mohon kerja samanya. 20 meter sebelum belok: tepuk pundak saya. Belok kanan = tepuk pundak kanan. Belok kiri = tepuk pundak kiri. Berhenti = tepuk keduanya. Terima Kasih”.

Sebenarnya, Gojek juga menyiapkan secara khusus pesan bagi pelanggan yang memesan bahwa pengemudi ojol yang menerima order adalah penyandang disabilitas. Dalam hal ini, akan muncul keterangan di aplikasi pemesan, Dedi adalah tunarungu.

Pelanggan Dedi kebanyakan pengertian. Meski tak tersirat, respon yang diterimanya dari para pelanggan selalu positif.

Tak dapat dimungkiri, masih ada beberapa pelanggan yang takut dia bonceng. Ketakutan itu semisal, ada kendaraan yang melaju dengan kencang. Dedi yang bermasalah dengan pendengaran, tak bisa mendengar suara klakson kendaraan lainnya.

Namun, Dedi sudah mengantisipasi hal itu. Pertama, Dedi tak pernah melaju kencang. Lalu, dia selalu dia selalu berkendara di sebelah kiri jalan. Dedi pun selalu menengok ke belakang menggunakan kaca spion. Antisipasi itu, untuk meminimalkan adanya gangguan di jalanan.

Terkadang, pelanggannya pengertian. Bila ada, kendaraan yang membunyikan klakson, langsung menepuk pundak kiri Dedi beberapa kali. Dia pun meminggirkan kendaraannya ke tepi jalan dengan laju yang pelan.

Dedi menuturkan, setidaknya, ada 130 orang pengemudi GoRide penyandang disabilitas tunarungu di Jakarta. Mereka pun bergabung dalam komunitas sesama pengemudi Gojek.

“Kami itu tidak pernah ngebut. Jalan di pinggir-pinggir saja,” tulis Dedi, saat ditemui Validnews, Rabu (3/11).    

Selama menjadi mitra Gojek, Dedi bekerja mulai dari pukul 09.00 hingga 00.00 WIB. Kerja keras itu dilakukan Dedi untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia memiliki seorang putri yang baru masuk sekolah taman kanak-kanak.

Kebutuhan hidup keluarganya belakangan meningkat. Dia juga harus membayar uang sewa rumah di kawasan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Namun, kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.

Selama belasan jam bekerja Dedi membawa pulang uang berkisar Rp200 hingga di atas Rp300 ribu per hari. Tergantung, jumlah pelanggan yang menggunakan jasanya. Selama enam hari kerja dalam seminggu, Dedi mengatakan, bisa mengumpulkan uang paling sedikit Rp1,1 juta.

“Penting adalah semangat bekerja. Ada 130 orang tunarungu seperti saya di Gojek jumlah pendapatannya hampir sama,” terang Dedi.

Andita Rahma (30), warga Cipinang, Jakarta Timur, menceritakan pengalamannya ketika memesan GoRide. Selama menggunakan layanan Gojek, Andita baru sekali menemukan pengendara Gojek tunarungu.

Awalnya, Andita terheran-heran. Seorang tunarungu diberikan kepercayaan untuk bekerja di jalanan. Sebab, bisa saja, masalah pendengarannya bisa berisiko buruk di jalanan. Terlebih, bila ada kendaraan yang kencang.

Akan tetapi saat dibonceng, Andita baru memahami, driver Gojek tak pernah melaju dengan kencang. Sesekali dia melirik, angka kecepatan pada motor itu. Kecepatan motor itu, tak pernah melebihi dari angka 40 km/jam.

“Saya kagum. Meski tunarungu, dia masih punya semangat kerja,” tutur Andita, kepada Validnews, Kamis (4/11).

Untuk mengarahkan driver GoRide, Andita mengikuti anjuran yang tertera pada stiker yang menempel di helm berwarna hijau itu. Mitra Gojek itu juga bisa memahami aplikasi maps dengan baik. Karena itu, Andita tak perlu mengarahkan jalan dari wilayah Blok M ke kawasan Cipinang.

Hanya sesekali saja, Andita menepuk bahu sebelah kiri pengendara yang ditumpanginya. Itu pun, untuk mengingatkan ada beberapa kendaraan roda empat yang mengklakson ketika jalanan macet. Sepengalamannya, Andita merasa aman selama dibonceng, meski pengendaranya tunarungu.

“Paling mengarahkannya di dalam gang, biar lewat jalan pintas. Lalu, tepuk dua bahu untuk berhenti,” lanjut Andita.

Kesempatan
Gojek memang memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bergabung untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. SVP Corporate Affairs Gojek, Rubi W Purnomo mengatakan, sebagai perusahaan teknologi, Gojek berkomitmen untuk memberikan peluang yang sama bagi seluruh masyarakat.

Berdasarkan data Gojek, pada 2021 lebih dari 5.000 komunitas mitra driver Gojek berdiri secara independen. Beberapa di antaranya merupakan komunitas driver Gojek disabilitas. Di antaranya, Komunitas Elite Squad Fighter. Lalu, Komunitas Elite Terminator Tunarungu Indonesia

Komunitas itu bertujuan memupuk persaudaraan sesama pengemudi. Melalui komunitas itu, Gojek membimbing seluruh anggota yang disabilitas, untuk bekerja sesuai dengan standar operasional agar dapat memberikan pelayanan terbaik ke pelanggan. 

Saat ini, beberapa layanan Gojek khususnya roda dua maupun pengantaran barang, diisi oleh beberapa penyandang disabilitas. Untuk memudahkan komunikasi, Gojek menyediakan fitur chat atau menggunakan bahasa tubuh. Seperti menepuk bahu mitra untuk belok kiri dan kanan. Menepuk keduanya untuk berhenti.

“Gojek bangga dan menghargai mitra pengemudi yang tetap semangat memberikan pelayanan terbaik meski di tengah keterbatasannya,” kata Rubi, kepada Validnews, Kamis (4/11).

Kesempatan bagi para penyandang disabilitas ini, tetap mengutamakan faktor keselamatan bagi pelanggan maupun bagi mitra Gojek. Guna menjamin keamanan mitra maupun pelanggan, Gojek terus mengadakan pelatihan secara rutin.

Di antaranya, tutur Rubi, safety riding training yang diadakan secara offline maupun online melalui fitur Tips Pintar di aplikasi. Lalu, Bengkel Belajar Mitra (BBM). Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mitra berbagai bidang. Utamanya, berkaitan dengan pelayanan prima serta pengembangan diri.

Salah satu materi pelatihan BBM yang berhubungan dengan penyandang disabilitas adalah kelas bahasa isyarat yang telah diadakan di beberapa kota besar di Indonesia. Pelatihan itu menampilkan keterangan mitra penyandang disabilitas di aplikasi. 

Terhadap hal ini, pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati mengatakan, apa yang dilakukan Gojek patut menjadi contoh perusahaan lainnya. Gojek merupakan salah satu model usaha yang inklusif. Perusahaan memberikan kesempatan ke orang sesuai kompetensinya.

Dengan begitu, kesempatan kerja yang diberikan tak memandang masalah fisik. Artinya, tiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk berkembang, tumbuh dan berkarya. Langkah ini, sangat maju dibandingkan sejumlah perusahaan lainnya.   

Devie berpandangan, perusahaan Gojek menerjemahkan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dengan baik. Konstitusi memerintahkan untuk memberikan kesempatan bagi tiap individu untuk mandiri. Caranya, dengan memberikan kesempatan tiap orang termasuk penyandang disabilitas berkarir tanpa menjadikan masalah fisik sebagai tolak ukur.

“Sebenarnya pemerintah sudah memberikan contoh. Karena memang, sudah banyak kantor pemerintah memberikan kesempatan bagi tiap orang tanpa memandang fisik,” kata Devie, kepada Validnews, Kamis (4/11).    

Devie berharap, perusahaan Gojek menjadi contoh bagi perusahaan lainnya untuk mulai dan membuka kesempatan bagi para penyandang disabilitas. Terlebih, kesempatan itu diberikan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki tiap orang. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER