Kampung Hijrah, Semangat Ubah Citra | Validnews.id

Selamat

Jumat, 26 November 2021

09 Juli 2021|19:51 WIB

Kampung Hijrah, Semangat Ubah Citra

Bermula dari rasa gusar, para pemuda menaikkan citra kampungnya menjadi daerah kreatif

Penulis: Herry Supriyatna,

Editor: Leo Wisnu Susapto

Kampung Hijrah, Semangat Ubah CitraIlustrasi gerakan hijrah. Ist

TANGERANG – Satu unit kamera pengawas (closed circuit television/CCTV) terpampang di depan sebuah gang di RT 07, RW 04, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Lensa CCTV itu mengarah langsung ke satu lahan seluas lebih dari 70 meter persegi (m2). Di lahan ini berdiri delapan kamar kontrakan yang masing-masing seluas 3X3 meter persegi(m2).

Kisah panjang mengawali sebab kamera itu terpasang. Bermula dari kontrakan yang diawasi CCTV itu.

Warga setempat menyebutnya ‘Kamar Unus’. Dibangun oleh pemilik lahan, Pak Unus yang sudah lama tiada. Cucu almarhum kini mengelola kontrakan tersebut.

Namun, kontrakan Unus, menurut warga, jadi salah urus.   Kamar-kamar tak disewakan buat orang dari luar wilayah itu untuk tinggal dalam hitungan bulanan atau tahunan. Durasi sewa jadi lebih singkat; harian atau sekadar sejam.

Kebanyakan kamar disinyalir digunakan untuk kegiatan asusila penyewa dari luar wilayah itu. Awalnya, warga tak curiga. Namun, lama kelamaan, kegiatan di tempat itu terbongkar.

“Wilayah kami sudah sejak lama jadi zona merah karena hal itu,” tutur Ketua Rukun Tetangga (RT), Deny Hasan pada Validnews, Rabu (30/6).

Deny menguraikan, kondisi itu sudah lama terjadi. Sebelum dia menjadi Ketua RT. Lama juga warga mencoba menghalau kegiatan tak elok itu.

Beragam hal dilakukan, mulai dari menegur pemilik kontrakan, hingga menggerebek pasangan yang menyewa.  Ada yang membawa mereka ke RW ataupun kelurahan. Bahkan, sempat pula ada yang dibawa ke polisi.

Lama-lama, warga kesal sekaligus malu. Wilayah itu dikenal karena prostitusi terselubung. Warga, terutama kalangan muda, berupaya membuat gerakan perubahan. Gerakan itu ditargetkan mulai menunjukkan hasil pada 2020.

Kalau tidak ada hasil, lanjut Deny, wilayah itu diyakini tak akan peroleh bantuan pembangunan infrastruktur dari pemerintah.

Gagas, bahas ide, lalu lahir keputusan. Deny bersama anak-anak muda setempat mulai menggelar penggajian rutin.  

Hal ini merupakan upaya meredam niat anak-anak dan pemuda setempat agar tak tercemar asusila. Juga, sekaligus menjauhkan mereka dari ancaman mencicipi narkoba.

Pengajian berjalan. Kemudian lahirlah ide lain melibatkan semua warga.

Sekira Agustus 2020, Deny mengusulkan membentuk ‘Kampung Hijrah’, menghapus ‘Kamar Unus’ yang dikenal banyak orang akan wilayah itu.  

Gayung tak bersambut. Kegiatan asusila masih saja terjadi. Peminat kamar Unus juga disinyalir masih tinggi.

Kemudian warga bersepakat membentuk Badan Pengurus Masyarakat (BPM). Lalu, mereka menggaji petugas keamanan, serta membeli enam unit handie talkie (HT). Ada empat petugas keamanan untuk menjaga kampung pada malam hari.

Mereka harus mencegah orang yang menyewa Kamar Unus untuk bertindak asusila.

Malam dijaga, siang kebobolan. Warga putar otak lagi. Muncul ide membuat portal di sejumlah akses masuk ke Kampung Hijrah. Hasilnya, masih saja kebobolan.

Akhirnya di Kampung Hijrah dipasang internet dan CCTV yang tersambung ke handphone pengurus. Jika ada pasangan yang terpantau kamera, warga menggerebek dan menegurnya.

Hasil mulai ada. Sejak digagas Agustus 2020 hingga Oktober tahun yang sama, mereka yang bertamu ke Kamar Unus terus berkurang.

Pemilik kontrakan kini menyewakan kamar mereka pada pedagang keliling. Karena harga murah ditawarkan, selaras dengan kondisi bangunan yang seadanya.

Ide Untuk Berubah
 
Lepas dari masalah ini, warga menilai ada peluang lain dari lahan tidur seluas 2,2 hektare (ha) di sana.  Warga mengusulkan, lahan itu dikelola sendiri.

Diubah jadi lokasi ekowisata, dilengkapi panggung musik, taman baca, jalur lari, lokasi kemah, food court. Juga, ada ternak lele, dan lahan untuk bertani yang dikelola oleh kelompok wanita tani (KWT) dari Kampung Hijrah.

Niat itu coba diwujudkan. Meski kini masih terus berproses, warga Kampung Hijrah sudah memproduksi kerajinan lampu hias, yang diayomi komunitas Hijrah Art. Lampu hias dari pipa dipasarkan dengan harga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sesuai tinggkat kesulitan ukiran. Penjualan kerajinan tangan ini sudah sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Lampung dan Palembang.

Selain memproduksi lampu hias dari pipa, Hijrah Art juga membuat jam rakitan dan kotak rokok dari kayu. Adapun, modal awal pembuatan kerajinan tangan yaitu dari sumbangan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Uang terkumpul lalu dibelanjakan alat-alat produksi serupa kompresor, cat, dan peralatan lainnya.

Apa yang terjadi di kampung itu berimplikasi ke imej Kecamatan Pinang. Camat Pinang, Kaonang, beri apresiasi pemuda di Kampung Hijrah yang dinilainya juga sudah hijrah.

Dari sebelumnya melekat dengan kenakalan remaja seperti mabuk-mabukan dan kegiatan negatif lainnya, kini menjadi lebih baik.

"Kalau lokasi prostitusi saya memang tidak tahu. Tapi kalau lingkungan di sana dulu itu banyak teman dan anak muda yang mabuk, tidak kreatif. Itu memang benar," kata Kaonang kepada Validnews, Sabtu (3/7).

Menurut Kaonang, warga kampung itu kini lebih kreatif, dan lebih bisa berguna. Beberapa kerajinan tangan dari barang bekas buatan pemuda Kampung Hijrah pernah juara saat mengikuti perlombaan di tingkat kecamatan.

Meski sudah menjadi kampung dengan citra positif, Kecamatan Pinang melanjutkan   bantuan dan dukungan. Salah satu bantuan dari Kecamatan Pinang untuk Kampung Hijrah adalah berbagai macam buku bacaan. Buku-buku tersebut nantinya bakal dipajang di taman bacaan RT 07 RW 04.

Selain itu, Kecamatan Pinang juga memberikan pelatihan pada pemuda sekitar agar bisa menguasai berbagai macam keahlian.

"Kita juga bantu promosikan hasil-hasil karya warga Kampung Hijrah untuk bisa terjual melalui daring. Dampaknya lumayan, banyak pesanan dari promosi yang kami lakukan melalui daring tersebut," ungkap Pak Camat Kaonang.

Dia menegaskan, bantuan juga berbentuk share knowledge, bermitra, mendorong, bukan mengangkat.  Dengan upaya ini, menurut Kaonang, motivasi maju bisa lebih nyata. Banyak orang atau kampung yang difasilitasi barang-barang, seperti rak buku, tapi perpustakaannya tidak bergerak.

Hal ini terjadi karena, masyarakat kampung tersebut tidak mempunyai motivasi. Dukungan hanya berbentuk barang dan uang tidak serta-merta membuat suatu wilayah maju secara sumber daya manusia (SDM).

"Jadi kalau sudah dikasih tempat atau dana apakah ada jaminan suatu usaha bisa jalan? Tidak juga. Justru banyak kita kasih bantuan, tapi ternyata salah tempat, sehingga tidak berkembang," tutup Kaonang.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER