Selamat

Rabu, 22 September 2021

24 Juli 2021|15:03 WIB

HAN, Momen Benamkan Nilai Antikorupsi Pada Anak

Cegah anak tidak terpengaruh untuk berbuat korup

Penulis: Herry Supriyatna,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi korupsi. Ist

JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menilai, Hari Anak Nasional (HAN) 2021 harus dijadikan momentum dalam membentengi penerus bangsa dengan nilai-nilai antikorupsi untuk masa depan Indonesia lebih cemerlang.

Menurut Firli, melindungi anak-anak Indonesia sejatinya bukan hanya tugas para orangtua dan keluarga semata, melainkan kewajiban segenap eksponen masyarakat. Setiap elemen bangsa seyogianya mengambil peran dalam proses 'asah asih asuh' anak-anak generasi masa depan bangsa.

"Agar mereka tidak terpengaruh dan siap menghadapi ragam persoalan bangsa, salah satunya korupsi dan perilaku koruptif yang telah berurat akar di negeri ini," kata Firli kepada wartawan, Sabtu (24/7).

KPK, kata Firli, menggunakan jejaring pendidikan formal maupun nonformal untuk menyemaikan nilai-nilai antikorupsi kepada anak-anak Indonesia sejak usia dini hingga dewasa, mulai dari taman kanak-kanak sampai peguruan tinggi.

Hal itu bertujuan untuk menumbuhkan dan membentuk karakter kuat serta integritas dalam diri setiap anak bangsa di Tanah Air, agar tidak terpengaruh korupsi maupun perilaku koruptif.

"Penting bagi kita untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai antikorupsi sedini mungkin kepada anak-anak, agar mereka dapat jelas melihat kelam dan sesatnya jalan korupsi dibalik tebalnya kabut surga fatamorgana," tegas Firli. 

Dengan selalu menjaga, merawat serta menumbuhkan nilai-nilai antikorupsi sejak usia dini hingga dewasa, ia yakin anak-anak di Indonesia akan memiliki paradigma baru dalam memandang korupsi sebagai perbuatan terhina, aib nan tercela, bukan budaya apalagi kultur warisan leluhur bangsa.

Dikatakan Firli, membangun dan membentuk anak-anak antikorupsi jiwanya adalah pendidikan kuat, karakter yang berkesinambungan, dan konsisten diterapkan sejak dini. 

Anak-anak sebagai bagian dari elemen masyarakat, adalah sasaran inti gerakan perubahan sosial budaya dan kultur masyarakat Indonesia. Agar, tak lagi melihat korupsi sebagai hal biasa yang dilakukan dalam setiap tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Anak-anak yang memiliki roh antikorupsi dalam jiwa dan raganya, memiliki peran sentral membangun budaya antikorupsi. Yakni, menjadi influencer untuk memengaruhi keluarga, teman, sahabat, lingkungan sekitar, hingga orang-orang yang baru dikenalnya agar meninggalkan perilaku koruptif.

"Kita harus memberikan pemahaman utuh kepada anak-anak bangsa sedari dini, bahwasanya korupsi bukanlah bagian dari budaya, warisan leluhur, tradisi dan kultur bangsa Indonesia. Korupsi adalah peninggalan ajaran sesat, yang menyesatkan arah dan tujuan berbangsa dan bernegara," pungkas Firli. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA