Dilema Biaya Karakter Maya | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

22 Oktober 2021|21:00 WIB

Dilema Biaya Karakter Maya

Permainan ‘game online’ bisa menjadi cuan. Tak sedikit juga yang menghabiskan uang.

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

Dilema Biaya Karakter MayaAtlet cabang olahraga Mobile Legends bersiap mengikuti turnamen Esport Piala Kemenpora RI 20 21 di Pusat Latihan Kota (Puslatkot) Esport. ANTARA FOTO/Irfan Anshori

JAKARTA – Pengaruh game online begitu kuat merasuk pikiran Indra Sakti Purba (28), warga Ciledug, Tangerang. Awalnya, dia tertarik mencoba melakukan yang anak-anak atau orang lain lakukan di sekitar dia tinggal. 

Indra tinggal di sebuah kawasan pemukiman. Hampir setiap tempat di kawasan itu, anak-anak hingga orang dewasa, berkumpul untuk bermain gim bersama-sama. Dia tak pernah melakoni itu. 

Satu waktu, dia mengunduh game online yang viral di kalangan anak muda, yakni Mobile Legend: Bang bang

Awalnya, dia hanya bermain saat berada di rumah. Namun, lama-kelamaan kepopuleran gim itu pun sampai ke tempat dia bekerja. Banyak rekan kerjanya memainkan permainan yang sama.

Kian hari dia kian nyaman memainkan gim. Bahkan, keseruan bermain gim menyulitkan dirinya untuk beralih aktivitas lain.  

Saban waktu, Indra ingin lebih keren saat bermain gim. Terlebih, banyak rekan kerjanya rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli hero atau karakter dalam gim itu. Indra pun mulai ikut-ikutan mengeluarkan sejumlah uang demi tujuan sama.     

Indra bercerita, sepanjang 2019, ia rela menyisihkan uangnya minimal Rp600 ribu per bulan untuk membeli sejumlah diamond di game Mobile Legend: Bang bang. Diamond tersebut merupakan alat transaksi jual-beli sejumlah hero dan skin hero dalam permainan Mobile Legend.

Sejak saat itu, Indra mulai rajin mengumpulkan hero beserta skin hero. Menurut dia, skin hero bisa mengangkat derajat karakter gim yang dimainkan. Karenanya, dia tak segan berbelanja. 

Di samping itu, ada kebanggaan dalam dirinya jika bisa menunjukan sesuatu yang beda pada hero miliknya saat bermain bersama rekan.

Cari Cuan
 
Sekian waktu terlewat, kian lama mendalami permainan daring itu, Indra tersadar. Ternyata, pengumpulan karakter dan tingkatan level gim yang dimainkannya bisa mendatangkan cuan. Dari kawan sepermainan, dia peroleh informasi. 

“Akun gim itu bisa diperjualbelikan,” begitu Indra dapat informasi dari temannya. 

Bagaimana dengan harga? Ternyata ini makin menggoda Indra. Akun gim bisa dijual seharga Rp3,5 juta.

Setelah jago memainkan gim, dia mulai membuat akun baru pada gim sama. Selang beberapa hari, dia buat lagi akun lain.  Begitulah hari-harinya. Karena sudah mahir, tak butuh lama bagi dia mengumpulkan sejumlah karakter beserta skin-nya.

Indra lalu menawarkan akun gim baru yang dia buat kepada teman-temannya. Begitu ada yang tertarik, dia buka harga akun gim itu seharga Rp1,5 juta. Lain hari, peruntungannya bertambah.

Namun, untuk mendapatkan cuan berjualan gim memang susah-susah gampang. Sebab, transaksi penjualan dilakukan secara daring. Terkadang, ada saja pembeli yang menipu tak membayar setelah diberikan ID akun game. 

“Kalau dilihat-lihat itu sudah murah. Kalau masalah jual beli akun bisa ada yang lebih mahal menjual. Tapi memang susah untuk kalau untuk menjual karena kadang ada yang menipu,” kata Indra, saat berbincang dengan Validnews, Jumat (21/10).

Makanya, Indra mengganti cara. Dia membuka jasa “joki”, memainkan gim dengan akun orang lain. Tujuannya, menaikkan level gim atau untuk mendapatkan item tertentu dalam gim. Jasanya pun dibandrol sesuai dengan paketan yang dibuatnya.

Paling mahal, dia membandrol harga Rp250 ribu per akun gim dengan capaian level Mythic pada gim Mobile Legend. Indra bilang, dalam dua hari dia bisa memainkan tiga akun hingga sampai ke level minimal Legend di gim itu.

“Kalau masalah untung dari gim begitulah mencarinya. Apalagi waktu dipecat dari kerja, kerjaan saya cuma main game saja,” kata Indra.

Interaksi
Indra sadar, selama bermain game online, dia kurang bergaul dengan teman-temannya. Bahkan, beberapa acara penting keluarganya pun sering terlewatkan. Sebab, saat bermain game online, dia hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya saja.  

Indra pernah mengalami level sukar bergaul ketika bertemu dengan orang baru. Belakangan, intensitas ini dia kurangi.

Irna Gayatri (29), warga Cawang, Jakarta Timur punya kisah berbeda. Dia tetap bisa mengatur waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman, baik di tempat kerja maupun lingkungan rumahnya.

Bedanya, Irna hanya membatasi diri bermain game online ketika menjelang tidur. Paling lama, dia hanya bermain game online selama dua jam saja. 

Bahkan Irna yang bekerja di salah satu tim esports ini memiliki pekerjaan banyak, dia bisa lupa dengan sejumlah gim yang dimainkannya.

“Ya kalau lagi malas-malasan di rumah. Barulah jam main game online lebih banyak sedikit,” kata Irna, saat berbincang dengan Validnews, Jumat (22/10).

Keinginan memainkan gim itu bisa dia tahan. Sejak 2017 saja, Irna kerap membeli aplikasi gim yang dia suka di laman tertentu untuk dimainkan di komputer miliknya.

Tak hanya itu saja, Irna juga memainkan sejumlah gim di gawai miliknya. Ada beberapa gim yang diunduhnya untuk dimainkan. Salah satunya, Love Nikki, One Punch Man, hingga Pokemon Unite. Beberapa gim itu menawarkan karakter atau kebutuhan fashion saat bermain.

Misalnya, saat memainkan gim One Punch Man, Irna pernah menghabiskan uang sebanyak Rp1,3 juta dalam beberapa hari untuk membeli karakter dalam gim itu. Kemudian, dia juga menghabiskan sejumlah uang untuk membeli sejumlah kostum pakaian saat memainkan gim Love Nikki.

“Ya dalam sebulan saya pasti mengeluarkan uang untuk game sekitar Rp300 ribu lah. Itu saya lakukan dari tahun 2020 sampai sekarang,” kata Irna.

Alasan Irna menghabiskan uang pun klasik. Dia hanya suka dengan beberapa karakter lucu dalam gim. Dia suka, bila karakter pada gim yang dimainkan itu berbeda dengan tokoh yang dimiliki orang pada umumnya.    

Pengaruh Gim
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani, menuturkan game online memiliki positif dan negatif untuk perubahan perilaku seseorang. Perubahan itu tergantung porsi para gamers memainkan permainannya.

Anna menguraikan sejumlah dampak positif. Misalnya, para pemain gim diajarkan untuk menentukan langkah yang harus dilakukan. 

Ada juga, game online yang mengajarkan praktik beberapa ilmu. Misalnya, fisika, kimia, dan biologi, tergantung jenis game online yang dimainkan.

Selain itu, ada juga beberapa game online yang dimainkan multiplayer atau bersama-sama, mengajarkan tentang cara bekerja sama. 

Menurut Anna, yang menjadi masalah ketika seseorang memainkan permainan daring itu secara berlebihan. Dampak negatif dari gim itu akan perlahan muncul. Contohnya, mengikuti untuk berkata kasar karena menirukan beberapa pemain saat bermain bersama.

“Jadi ini bisa mengurangi, sensitivitas orang terhadap hal positif. Jadi, cenderung berkata kasar. Namun, beberapa gim tidak begitu juga,” kata Anna.  

Waktu bermain berlebihan, bisa saja membuat orang menjadi kecanduan. Tingkatan kecanduan ini mengkhawatirkan. Sebab, dampaknya banyak. Utamanya, bisa membuat kontrol emosi seseorang menjadi tidak berkembang.

Hal itu membuat orang yang kecanduan permainan karakter bisa cepat tersinggung dan marah. Dampak negatif ini muncul karena waktu interaksi dengan orang lain di sekitarnya berkurang.  

Berbeda bila kecanduan game online itu dialami oleh para professional gamers. Sebab, mereka memiliki pelatih yang mengarahkan. Artinya, para professional gamers itu lebih bisa terhindar dari dampak buruk game online.

Ada banyak faktor yang membuat orang kecanduan bermain gim. Salah satunya, tak ada batasan waktu yang jelas dalam menggunakan gawainya. Karena itu, penggunaan smartphone pun menjadi tak terkontrol.  

Selain itu, suasana keharmonisan di keluarga pun menjadi faktor penting. Misalnya, para pemain gim tak bisa mengobrol dengan orang tua ataupun saudaranya yang lain. Ataupun, obrolan para pemain gim tak pernah didengar.

Mau tidak mau, suasana itu membuat game online menjadi pelarian. 

“Ada klien saya, dikasih handphone mahal ke anaknya. Anaknya, jadi ketergantungan dengan gadget-nya. Tapi itu kan terjadi, apabila tak ada batasan yang diberikan orang tua ke anak,” tutur Anna.    

Untuk mengatasi kecanduan ini, Anna menyarankan, para gamers harus berkomitmen untuk membuat batasan waktu bermain gawai yang jelas. Kemudian, mencoba membangun hubungan yang harmonis dengan keluarga.

“Kalau tidak bisa. Memang harus konsultasi ke psikolog. Jadi, jangan kemudian anak dihukum terus karena bermain gim,” tutup Anna. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA