Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

30 April 2021|11:38 WIB

Diduga Jadi Mafia Kasus, Jaksa Agung Copot Sesjamdatun

Chaerul Amir terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang

Penulis: James Fernando,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageKantor Kejaksaan Agung Republik Indonesia. sumberfoto: googlemaps/dok

JAKARTA – Jaksa Agung, ST Burhanuddin mencopot Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun), Chaerul Amri. Dia dipecat karena diduga terlibat sebagai mafia kasus di lingkungan Kejaksaan Agung.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, kepada wartawan, Jumat (30/4). Leonard mengatakan, pencopotan itu dilakukan usai bidang pengawasan Kejaksaan Agung merampungkan hasil inspeksi.

Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) inspeksi kasus bidang Pengawasan Kejaksaan Agung, Chaerul Amri, terbukti melakukan pelanggaran disiplin pegawai negeri sipil (PNS). Jaksa pemeriksa menilai, Chaerul Amri terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang. 

“Ini hasil keputusan jaksa pemeriksa terkait penyalahgunaan wewenang,” kata Leonard.

Diketahui, pemecatan ini merupakan tindak lanjut dari Laporan Polisi No 1671/III/YAN 2.5/2021/ SPKT PMJ Tanggal 26 Maret 2021 dengan nama terlapor Natalia Rusli dan Chaerul Amir. Keduanya, diduga melanggar Pasal 378 KUHP.  Laporan itu dibuat oleh LQ Indonesia Lawfirm.

LHP itu, lanjut Leonard, menjadi pertimbangan diterbitkannya Keputusan Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor:KEP-IV-27/B/WJA/04/2021 tanggal 27 April 2021 tentang Penjatuhan Hukuman Disiplin (PHD) Tingkat Berat berupa pembebasan dari Jabatan Struktural terhadap pejabat ini.

Karena itu, tambah Leonard, berdasarkan Pasal 7 ayat 4 huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil maka jabatan Chaerul sebagai Sekretaris Jamdatun pun dicopot.

"Dua tahun sejak dikeluarkannya Keputusan tersebut, kepada yang bersangkutan dapat diangkat kembali dalam Jabatan Struktural setelah mendapat persetujuan tertulis dari Jaksa Agung Republik Indonesia," tambah Leonard.

Jaka Maulana, salah satu pengacara di LQ Indonesia Lawfirm mengatakan, kasus ini bermula ketika anak S, Christian Halim tersandung kasus infrastruktur dan ditahan di Polda Jawa Timur. Saat memproses kasus ini, SK bertemu dengan seorang pengacara bernama Natalia.

Dalam pertemuan itu, Natalia mengatakan bisa menangguhkan penahanan Christian. Namun, harus mendapatkan bantuan dari Chaerul. Di mana, saat itu, Chaerul masih menjabat sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda bidang Pidana Umum.

“Dari pertemuan itu, SK menyerahkan uang Rp500 juta dalam pecahan USD100 kepada Natalia,” jelas Jaka. 

Selang beberapa waktu, Natalia mempertemukan SK dengan Chaerul Amir. Namun keraguan SK pun timbul. Dalam pertemuan itu, keduanya meminta uang senilai Rp1 miliar dengan alasan tuntutan jaksa.

“Tapi SK menolak. Karena penahanan anaknya tak ditangguhkan. Makanya, dia meminta bantuan LQ Indonesia Lawfirm untuk melaporkan kasus ini ke polisi,” tandas Jaka.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA