Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|18:26 WIB

BRIN Ingin Akuisisi Pengetahuan Lokal Ditingkatkan

Kegiatan ini sudah dilakukan LIPI

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageAktivitas penelitian lapangan. ANTARAFOTO/Syifa Yulinnas

JAKARTA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko menginginkan, akuisisi pengetahuan lokal ditingkatkan. Pasalnya, masih banyak pengetahuan lokal belum digali lebih dalam, bahkan mungkin belum diketahui masyarakat luas.

"Kita memang memiliki banyak pengetahuan lokal yang tersebar di berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah, tapi belum pernah terdokumentasi. Karena budaya kita budaya lisan sejak zaman dahulu, seperti kita ketahui," ujar Kepala BRIN, Kamis (22/7).

Dia mengatakan akuisisi pengetahuan lokal ini menjadi salah satu program dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang baru berjalan dua tahun. Meski baru seumur jagung, tetapi program ini sudah mendapat dukungan pendanaan dari Bappenas.

Menurut Handoko, nilai penting program itu bukan hanya fokus melestarikan pengetahuan lokal. Melainkan juga untuk membuat pengetahuan lokal tersebut bisa diketahui dan dimanfaatkan para periset sebagai salah satu sumber riset kekinian.

Candi Borobudur, misalnya, memiliki salah satu relief yang bisa membantu penelitian terkait taksonomi. Dari pengetahuan ini mungkin dapat diketahui cara-cara baru mengembangkan tanaman lokal untuk mendapat hasil yang lebih baik.

"Itu penting sekali dan itu memberi petunjuk baru terkait dengan, misalnya, asal-usul dan sebagainya. Itu akan memberi inspirasi dan informasi yang sangat penting untuk mengeksplorasinya menjadi sesuatu yang baru," ungkap Handoko.

Di Papua, ada pohon pisang yang tingginya mencapai 17 meter dengan ukuran buah yang jauh lebih besar dari pisang umumnya. Contoh lainnya yaitu ada makna mendalam dari tari-tarian suatu daerah yang belum diketahui khalayak.

Program akuisisi pengetahuan lokal yang belum tergali atau diketahui ini dinilai akan merangsang setiap lapisan masyarakat untuk mendokumentasikannya. Tak hanya periset, akademisi, atau orang dewasa umumnya, tetapi juga bahkan anak sekolah sekalipun.

Dokumentasi itu bisa dalam bentuk tulisan atau teks maupun audiovisual seperti konten YouTube. Kemudian LIPI akan membeli lepas hak cipta dokumentasi tersebut dengan syarat bahwa dokumentasi dapat diakses secara terbuka oleh seluruh masyarakat.

"Masyarakat yang mengakses itu boleh mengedit, mengambil sebagian. Misalnya, guru-guru bisa mengambil video mengenai jamu di suatu daerah untuk bahan ajar di kelas. Jadi itu yang ingin dicapai dengan program akuisisi pengetahuan lokal ini," urai Handoko.

Dia juga sampaikan, saat jadi Kepala LIPI, akuisisi karya dokumentasi pengetahuan lokal ini bisa bernilai Rp20 juta. Jadi program ini disebut bisa memberi kesempatan penghasilan tambahan yang lumayan bagi masyarakat.

Handoko menuturkan dokumentasi ini akan menjadi database kumpulan pengetahuan lokal yang tidak hanya bisa diakses semua orang. Tapi juga menjadi salah satu bentuk kekayaan keanekaragaman yang memiliki nilai local competitiveness dari Indonesia.

"Bappenas saya tahu persis sudah berkomitmen untuk terus mendukung program ini. Setidaknya untuk tahun depan saya pastikan kami akan meningkatkan pagunya untuk program ini," tegas dia.

Nilai Tambah Ekonomi
Program Akuisisi Pengetahuan Lokal disebut sesuai dengan target utama jangka pendek dan menengah BRIN, yaitu untuk mendukung digital economy, green economy, dan blue economy. Ketiganya berbasis pada sumber daya alam dan keanekaragaman lokal.

Handoko menjelaskan keanekaragaman itu baik hayati, geografi, maupun seni-budaya. Jadi akan banyak peneliti yang terlibat untuk menciptakan nilai tambah ekonomi berbasis berbagai local competitiveness yang memang sudah dimiliki Indonesia sejak dulu.

"Jadi di era digital saat ini kalau kita punya database terkait dengan bahasa daerah, misalnya, mungkin akan ada startup yang bisa memanfaatkan database itu untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Jadi potensi itu sangat tidak terbatas," sebut dia.

Dia ingin riset berbasis pengetahuan lokal tidak selalu fokus untuk menghasilkan sesuatu yang konvensional. Tetapi harus menciptakan nilai tambah yang membuka peluang-peluang ekonomi kreatif yang baru dengan pemanfaatan teknologi.

"Tentu kita tidak melupakan, tidak menyingkirkan, keinginan kita untuk mencapai kemandirian teknologinya sendiri. Kita tetap juga ada fokus ke pesawat dan sebagainya, tetapi kita memang harus akui bahwa selama ini kita terlewat," ucap dia.

Para periset di Indonesia, menurut Handoko, selama ini kurang melihat potensi lokal yang sebenarnya sudah ada sejak lama. Indonesia dapat belajar dari Thailand yang mampu meningkatkan ekonominya lebih banyak berbasis pada sumber daya alam lokal.

Handoko menyatakan berbagai kebijakan riset dan inovasi Indonesia akan diubah dengan berbasis pengetahuan lokal. Diharapkan generasi muda terdorong untuk mulai mendokumentasikan pengetahuan yang ada di masing-masing daerahnya.

"Pengetahuan yang selama ini tersembunyi, mungkin ada di benak nenek-kakek, tetua-tetua di berbagai daerah, yang kami harapkan anak-anak muda di daerah itu bisa memunculkan, mendokumentasikannya, dalam berbagai bentuk termasuk multimedia sesuai era kekinian," ujar dia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER